
__ADS_3
Fei Yang berdiri diam tak bergeming seluruh tubuhnya di selimuti energi pedang merah biru yang berputar-putar mengelilingi tubuhnya.
Meski tanah di sekitar tempatnya berdiri bergetar hebat hingga Tanak retak retak, Fei Yang tetap bersikap tenang.
Hingga akhirnya tempatnya berdiri meledak terbuka lebar, dari dalam tanah merangkak keluar seekor semut raksasa.
Fei Yang baru melayang di atas udara menatap tajam kearah semut raksasa di bawah nya.
Semut raksasa ini berwarna emas berkilauan sama seperti semut kecil yang tewas di tangan Fei Yang sebelumnya.
Bedanya cuma ukuran tubuh semut ini sangat mengerikan.
Kini Fei Yang yang terlihat seperti semut di hadapan mahluk raksasa, yang merupakan ratu dari para semut tadi.
Begitu keluar dari dalam tanah mahluk itu langsung menyemburkan cairan kuning menembaki Fei Yang yang sedang terbang di udara.
Fei Yang menghindari semburan itu terbang kesana kemari sambil melepaskan tebasan pedang merah biru ke seluruh tubuh semut raksasa itu.
"Trangggg,..Trangggg,..Trangggg,..
Trangggg,..Trangggg,..Trangggg,..
Trangggg,..!!"
Bunga api berpijar setiap pedang Fei Yang bertemu dengan cangkang kulit semut itu yang keras.
Suara memekakkan telinga juga terdengar memenuhi sekitar tempat pertarungan tersebut.
Semut itu selain menggunakan semburan cairan berwarna kuning, yang bisa melelehkan apapun, yang terkena percikan semburan tersebut.
Dia juga menggunakan sepasang capit besarnya untuk mencapit tubuh Fei Yang yang melayang di sekitar tubuhnya.
Sambil terus menerus menyerangnya, tidak berhasil menembus pertahanan kulitnya.
Kini Fei Yang mulai bergerak menebas putus sambungan kaki semut itu.
Semut yang berkaki banyak dan berukuran lebih kecil, satu persatu berhasil di tebas oleh pedang Fei Yang yang tajam.
Perlahan-lahan semut itu mulai limbung, karena penopang tubuhnya banyak yang hilang di babat Fei Yang.
Bahkan salah satu capit semut itu juga sudah terlepas dari tempatnya di babat Fei Yang.
Melihat situasi yang kurang beres, dan instingnya berbisik padanya, Fei Yang bukan lawan yang bisa dia jadikan mangsa.
Dengan raungan marah, semut itu tiba-tiba menyemburkan cairan emas memenuhi udara yang turun bagaikan hujan.
Setelah itu semut raksasa langsung kembali masuk kedalam tanah melarikan diri dari tempat itu.
Fei Yang memutar sepasang pedangnya bagai kitiran sehingga seluruh cairan terhalau tidak ada yang bisa menembus pertahannya.
Tapi setelah cairan itu hilang, Fei Yang baru sadar, ternyata semut itu sudah hilang hadapannya.
Fei Yang menghela nafas kecewa, dengan hilangnya semut tersebut, kelak bila pasukan kerajaan Song dan kerajaan Tay Li hendak melewati tempat ini.
Bahaya besar sewaktu-waktu bisa mengincar mereka semua.
__ADS_1
Fei Yang melayang turun di hadapan Zhao Heng dan Wei Wen dengan ringan.
"Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita.."
ucap Fei Yang cepat.
Zhao Heng dan Wei Wen mengangguk lalu mereka mengikuti Fei Yang meneruskan perjalanan melewati tanah lapang yang berantakan.
Karena di mana mana terlihat retakan tanah yang menganga lebar.
Melewati lapangan terbuka tersebut mereka bertiga kembali memasuki hutan liar dan terus bergerak kearah selatan.
Saat memasuki hutan selanjutnya hari perlahan-lahan mulai gelap.
Fei Yang mengumpulkan kayu bakar yang cukup banyak ingin membuat api unggun yang besar.
Agar saat hari gelap tidak ada mahluk buas, yang berani datang menyerang mereka.
"Saudara Fei Yang, bila kita menyalakan api unggun, apa posisi kita tidak akan jadi di ketahui oleh mata mata lawan..?"
ucap Zhao Heng berpendapat.
Setelah dia melihat Fei Yang mengumpulkan kayu bakar hendak membuat api.
Fei Yang otomatis menghentikan kegiatannya dan berpikir ucapan Zhao Heng sangat masuk akal.
"Kakak Zhao benar, kalau begitu sebaiknya malam ini kita beristirahat di atas pohon saja."
"Tapi tidur di atas pohon juga ada resikonya, bila tidurnya lasak, kalian akan terjatuh kebawah.."
"Akibatnya akan sulit di katakan bila sampai terjatuh.."
"Bagaimana bila tubuh kita di ikatkan ke dahan pohon,..?"
tanya Wei Wen yang takut dirinya beneran terjatuh kebawah, saat sedang tidur enak di atas pohon.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Bisa aja, tapi bila sewaktu waktu ada mahluk yang bisa terbang, bisa melata, bisa memanjat pohon datang menyerang."
"Bagaimana kamu akan meloloskan diri,..?"
tanya Fei Yang sambil menatap kearah Wei Wen.
Mendengar pertanyaan Fei Yang gadis itu tertegun, dan sedikit pucat wajahnya,
Saat dia terbayang, ada mahluk yang akan menyerangnya, di atas pohon di mana tubuhnya sedang terikat tidak bisa bergerak.
Fei Yang tersenyum lebar menatap Wei Wen dan berkata,
"Itu cuma seandainya, tidak mungkin bisa kebetulan seperti itu, jadi tenang saja.."
"Tak perlu ketakutan sampai sebegitu nya.."
"Tapi bagaimana bila benar terjadi ?"
__ADS_1
tanya Wei Wen panik.
"Aku gak mau tubuh ku saat sedang terikat, dirayapi oleh binatang melata menjijikkan itu.."
"Ihhh,..! menjijikkan amit amit,..!"
jerit Wei Wen dengan tubuh sedikit mengigil ketakutan.
Fei Yang tersenyum lebar melihat reaksi Wei Wen, dia bukan nya kasihan tapi malah semakin tertarik untuk menakut nakutinya.
"Kamu tenang saja, ular itu tidak akan menyerang bila kamu diam tidak bergerak.."
"Tapi kalau kamu bergerak mengagetkan nya, tentu dia akan mematuk mu.."
"Jadi kamu cukup diam saja, biarkan tubuhnya yang licin dingin merayapi seluruh tubuh mu, bila dia sudah puas, dia juga akan pergi dengan sendirinya.."
Mendengar ucapan Fei Yang, Wei Wen langsung menggeleng gelengkan kepalanya, wajahnya seperti akan menangis.
"Katanya ingin berpetualang, berpetualang ya harus siap dengan hal hal seperti ini.."
"Berpetualang dan rekreasi jelas berbeda, tidak bisa kamu samakan.."
ucap Fei Yang santai, sambil membalikkan badannya menahan tawa.
Melihat hal itu, Zhao Heng menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Adik Wen kamu jangan terlalu khawatir, adik Yang hanya menggoda mu saja.."
"Dia ada di dekat kita, dan tentunya dia tidak terikat, bila kita dalam masalah tak mungkin, dia hanya tinggal diam saja.."
Wei Wen mengangguk cepat dan kembali tertawa riang, lalu dia langsung berlari melompat ke punggung Fei Yang nemplok di sana dan berkata,
"Aku mau lihat sekali ini kamu lari kemana..ha..ha..hi..hi..!"
"Rasakan..!"
ucap nya sambil melingkarkan tangannya mencekik leher Fei Yang dari arah belakang.."
"Uhuk,..Uhuk,..!"
Fei Yang yang tercekik langsung terbatuk-batuk.
Fei Yang langsung berpikir cara agar Wei Wen sendiri yang melepaskan cekikikan nya.
Akhirnya sambil tersenyum Fei Yang berkata,
"Adik Wen,.. kamu gak malu bermain seperti ini.."
"Benda mu itu sudah sudah gak kecil loh."
Mendengar ucapan Fei Yang, Wei Wen langsung melompat turun dari menunjuk kearah Fei Yang, dan berkata dengan marah,
"Kau dasar cabul,.. memalukan.."
Tapi Fei Yang hanya menanggapinya dengan tertawa keras.
__ADS_1
Menjelang malam mereka bertiga, sudah duduk setengah berbaring di dahan pohon yang besar dan kuat.
Baru menjelang tengah malam, muncul ribuan pasang mata bercahaya merah, sedang diam diam mengawasi mereka.
__ADS_2