Pendekar Harimau Suci

Pendekar Harimau Suci
Hadiah Yang Terlambat


__ADS_3

Tie Berjanggut menatap aliran sungai dengan datar sambil berkata "Seperti halnya perasaan marah, sedih, bahagia, kecewa, iri hati, dan benci. yang semuanya merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari manusia "


"Keinginan ataupun ambisi juga sama, karena pada kenyataannya, setiap manusia terlahir dengan ambisinya masing-masing"


"Hanya saja, beberapa orang memiliki keberanian untuk mewujudkannya dan beberapanya lagi hanya memendamnya dalam hati sampai mereka mati "


"Jadi jika kau berpikir bahwa dunia akan memasuki era damai ketika manusia kehilangan ambisinya, maka kau berpikir dengan salah. karena jika manusia kehilangan ambisinya, maka mereka bukan lagi disebut manusia "


"Apakah artinya dunia tidak akan pernah bisa bertemu dengan kedamaian senior ?" Zhou Yu bertanya sambil menatap Tie Berjanggut


"Kedamaian ?" Tie Berjanggut tertawa kecil dan berkata "Kedamaian seperti apa yang kau maksud anak muda ?"


"Setiap orang memiliki penilaian sendiri tentang kedamaian, jika yang kau maksud adalah dunia tanpa adanya konflik, maka kau harus kecewa, karena apa yang kau harapkan tidak pernah ada "


"Jauh sebelum aku memutuskan untuk menetap disini, aku pernah mengunjungi banyak tempat di dunia ini, di antaranya, aku pernah mengunjungi tempat yang diakui sebagai tanah suci. tapi di tempat seperti itu sekalipun, konflik antara manusia selalu ada "

__ADS_1


Setelah itu, Tie Berjanggut berkata dengan bercanda "Lagi pula, bukankah adanya konflik itu bagus, jika dunia terlalu damai, kehidupan akan menjadi sangat monoton dan membosankan"


"Kehidupan yang membosankan lebih baik dari pada kehidupan yang diselimuti kegelapan dan kesedihan "Zhou Yu membalas dengan suara dalam


Tie Berjanggut menaikan alisnya, kemudian menghela nafas sambil menggelengkan kepala "Kehidupanmu sungguh berat anak muda, umumnya anak-anak seusiamu berpikir tentang dunianya sendiri, bukan dunia yang ditinggali oleh semua orang. Kau telah membebani dirimu sendiri dengan sesuatu yang tidak seharusnya kau tanggung "


"Aku berbeda " Zhou Yu berkata dengan suara rendah


"Aku tahu-!" Tie Berjanggut mengangguk penuh pengertian, kemudian berkata "Gadis disebelahmu pun tahu "


Feng Xue mengangguk setuju, setelah mendengar pernyataan Tie Berjanggut, jika bukan karena merasa pemuda bertopeng di sebelahnya berbeda dari pemuda pada umumnya


Setelah terdiam sejenak, Tie Berjanggut kembali melanjutkan "Tapi sekalipun kau berbeda, lalu bagaimana ?, kau tetap tidak bisa melakukan apapun, karena aturan hanya diciptakan oleh orang-orang yang kuat "


"Jika para dewa dunia persilatan tidak menginginkan perang, apa kau pikir perang skala besar ini akan terjadi ? "

__ADS_1


"Pada kenyataannya, tidak peduli seberapa besar situasi dunia persilatan bergejolak, perang besar tidak akan pernah terjadi tanpa persetujuan para dewa "


"Maka dari itu, jika kau ingin membuat perdamaian di dunia ini, maka jadilah kuat dan mencapai tingkat yang tidak terkalahkan"


"Dengan begitu, meskipun pada akhirnya kau tidak menemukan perdamaian yang datang dari hati seperti yang kau harapkan, tapi setidaknya kau menemukan perdamaian yang terlihat seperti yang kau inginkan, sekalipun semua itu karena ketakutan akan kekuatan "


Setelah mendengar pernyataan tersebut, Zhou Yu dan Feng Xue tercengang, seolah menemukan dunia baru


Namun Tie Berjanggut tidak peduli dengan tatapan tercengang keduanya


Ia kemudian merogoh jubah lusuhnya dan mengeluarkan tiga buah anak panah berwarna gelap


Tubuh anak panah sangat gelap dan memancarkan sensasi jahat, Bahkan hanya sekali pandang, panah tersebut memberikan kesan kuat kepada orang yang melihatnya


"Awalnya aku berniat bersantai sembari memberikan ketiga anak panah ini kepadamu, tidak di sangka kalian membicarakan sesuatu yang membuatku tertarik " Tie Berjanggut berkata sambil tersenyum ringan

__ADS_1


"Untuk apa semua ini senior ?" Zhou Yu bertanya dengan ragu


Tie Berjanggut tersenyum dan membalas "Anggaplah hadiah pertemuan kita yang terlambat "


__ADS_2