Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor
Bab 13


__ADS_3

Serelah hari itu. Bak di telan bumi, Elvano menghilang tanpa jejak. Mereka tidak pernah bertemu lagi. Bahkan membahas pekerjaan saja tidak ada. Elvano dan Isyana sama-sama menjauhkan diri mereka masing-masing.


Karena mulai merasa bahwa perasaan mereka salah. Mereka sudah memiliki pasangan hidup masing-masing. Tentu, perbuatan mereka begitu bejat dan terlarang, walaupun hanya sekedar ciuman. Sangat membuat frustasi kedua nya.


"Mas Iqbal, maafkan Isyana mas...Isyana gak bermaksud untuk berkhianat."


Air mata Isyana terjatuh diatas layar ponsel yang tertera gambar pernikahan nya bersama Iqbal. Rasa bersalah begitu mendalam. Membuatnya dilema dengan perasaan cinta yang mulai tumbuh untuk Elvano.


Begitu pun juga dengan Elvano yang berusaha melupakan perasaan nya terhadap Isyana. Bayang-bayang wanita itu hampir setiap malam bermain-main di kepalanya. Meskipun terkadang dia mengalihkan nya dengan panggilan video yang dia lakukan bersama sang anak, untuk melepaskan rindu juga. Berada jauh dari Nino, jagoan kecil nya yang sangat berharga tentu tidaklah mudah.


Hari ini, matahari nampak menyembunyikan cahayanya di balik awan putih yang tebal. Udara dingin menusuk hingga pori-pori wajahnya. Membuat seorang wanita yang tengah berdiri di lobby hotel bergidik kedinginan.

__ADS_1


Isyana menggunakan setelan musim dingin yang sengaja dia bawa. Sweeter bulu yang tebal berwarna putih, leging hitam, serta syal hitam yang terlilit menutupi leher jenjangnya.


Pelayan hitel membukakan nya pintu mobil taksi yang berhenti didepan nya. Isyana masuk setelah berterima kasohbpada pelayan tersebut. Taksi pun mulai melaju membelah jalanan kota menuju lokasi terbaru untuk even perusahaan Elvano.


Di sepanjang perjalanan. Isyana menyandarkan tubuhnya, menatap malas kearah jendela. Pikiran nya melayang menerawang keberadaan Elvano. Dimana pria itu pergi beberapa hari ini dia menghilang. Tapi, dia juga merasa ini jalan terbaik untuk menjauhkan mereka beberapa waktu. Agar perasaan ini tidak semakin dalam.


Satu jam dua puluh lima menit berlalu dengan cepat. Taksi yang ditumpangi Isyana trlah membawanya kesebuah daerah yang sudah mulai bersalju. Sebuah resort mewah yang berada di puncak. Sejak semalam salju sudah mulai turun di daerah itu.


"Tempat ini sangat cocok, El pasti menyukainya," gumam nya tersenyum.


Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, mengatur berbagai hal untuk even nanti. Isyana berkeliling resort itu. Dia terpukau dengan kereta gantung yang dia lihat menuju puncak gunung. Diatas sana terlihat ada sebuah mansion. Isyana berjalan kearah stasiun kereta gantung itu.

__ADS_1


"Maaf nona, apa ada yang bisa saya bantu?" kata petugas yang berjaga di stasiun kereta gantung itu, menggunakan bahasa mereka.


"Saya mau naik keatas sana, ke mansion itu," tunjuk Isyana ke arah mansion diatas sana, yang juga menjawab dengan bahasa yang mereka mengerti.


"Sekali lagi saya minta maaf, nona. Tapi cuaca sedang tidak baik...ada perkiraan bahwa nanti malam akan turun badai salju di daerah ini," jawab petugas itu dengan wajah khawatir.


"Saya akan turun sebelum jam 7 malam, saya janji. Saya harus melihat mansion itu, karena saya ingin menjadikan nya sebagai kantor sementara." Isyana berusaha membuat petugas itu berubah pikiran.


Lama dia berdiam, seperti menimbang-nimbang sesuatu. Yang sampai pada akhirnya dia mengangguk. Isyana tersenyum puas, akhirnya petugas itu mau.


"Tapi sebelum jam tujuh nona harus segera turun, ok! Saya menjaga stasiun ini sampai jam 8 malam."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih. Saya janni akan turun sebelum jam 7 malam," ucap Isyana berjanji seraya melirik arlojinya yang menunjukan pukul setengah enam sore. Dia yakin akan sempat turun sebelum jam 7 malam.


__ADS_2