
__ADS_3
Bu Edo pelayan yang berada di rumah ayahnya, berjalan menghampiri Isyana yang tersenyum sejak masuk dari pintu.
“Apa kabar, Bu.” Isyana menyapa Bu Edo dengan ramah.
“Alhamdulilah, saya baik Bu,” jawab Bu Edo dengan sungkan.
“Tolong siapkan kue ini di piring, terus bawa ke kamar ayah ya, Bu.” Isyana melangkahkan kan kaki nya menaiki anak tangga pertama. Tapi langkahnya terhenti dan ia segera menoleh ke arah Bu Edo.
“Oh iya ... yang itu simpan saja di dalam lemari es, nanti aku makan,” ucap isyana menunjuk kotak kue yang berwarna merah.
Cklek.
Perlahan Isyana masuk kedalam kamar sang ayah. Dia menatap sendu ranjang sang ayah dari kejauhan. Aroma cairan infus yang disuntikan ke tangan kiri ayahnya, membuat hidung Isyana berkedut menciumnya.
“Ayah, Isyana datang,” sapa Isyana seraya tersenyum.
“Sya, kamu sudah datang,” ucap Pak Germian yang berbinar menatap kedatangan anaknya. Dia pun meletakkan buku yang dia baca ke atas nakas.
Isyana mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Menatap sendu ayahnya yang kini sedang duduk bersandar di atas ranjang. Di usapnya dengan lembut tangan ayahnya yang terpasang selang infus.
“Bagaimana kabar ayah, maaf Syana baru bisa datang lagi hari ini ... kerjaan Syana menumpuk semingguan ini,” ucap Isyana.
“Ayah baik-baik saja, Sya. Kamu jangan terlalu sering nengokin ayah ... mending waktumu buat suami saja yang terpenting, biar hubungan kalian semakin langgeng, ajak Ikbal liburan Paris, London, Italia, Atau Swiss. Bahkan ayah rela menghabiskan uang ayah hanya untuk kalian berdua, agar kamu selalu bahagia, Sya,” tutur sang ayah. Isyana tertegun mendengarnya.
“Bagaimana aku bisa bahagia jika Mas Ikbal sudah memiliki wanita lain yang dia cintai ... begitu juga denganku, selama apapun ku hidup bersama mas Ikbal tidak akan membuatku bahagia, Ayah. Karena yang aku cintai orang lain,” batin Isyana.
Membuat air matanya tidak bisa terbendung, dan akhirnya menetes ke wajahnya. Isyana memalingkan wajahnya mengusap air mata nya. Isyana tidak mau sang ayah melihat kesedihan nya.
Tok tok tok.
Bu Edo masuk membawakan sepiring brownis coklat kesukaan ayahnya. Isyana tersenyum dan meraih piring berisi brownis tersebut. Bu Edo lalu kembali meninggalkan mereka.
“Bagiku ayahlah yang terpenting nomor satu,” ucap Isyana.
“Kamu ini, masih saja bilang begitu ... sekarang kamu itu sudah punya suami! Seharusnya kamu memanjakan suamimu bukan ayah,” sahut ayahnya.
“Sudahlah, jangan membicarakan hal lain lagi. Lihat ini aku sudah membelikan brownis kesukaan ayah,” ucap Isyana mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Isyana suapi ya,” lanjutnya. Seraya menyendok bagian brownis lalu mengarahkan nya pada sang ayah.
Pak Germian pun tersenyum. Dari sejak ibunya meninggal, Isyana menjadi sangat protectif padanya. Pak Germian sadar kalau sikap Isyana seperti itu karena dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang lagi.
Sambil mengobrol dan bercanda tawa. Isyana melepaskan penat pikiran nya yang dia rasakan selama beberapa hari ini. Apalagi saat ketahuan nya bahwa Ikbal telah berselingkuh. Rasanya Isyana sudah tidak bisa hidup berdampingan dengan Ikbal.
Walaupun dia juga sudah tidak mencintai Ikbal lagi. Tapi Isyana tetap tidak terima bahwa Ikbal berselingkuh menggunakan uang hasil kerja keras sang ayah mendirikan perusahaan. Ikbal juga sudah membuktikan bahwa dia tidak taghu terima kasih, jika bukan karena sang ayah, mungkin sampai sekarang Ikbal tidak menjadi orang besar seperti saat ini.
Saat ayahnya tertidur. Isyana menangis sambil menggenggam tangan sang ayah.
“Apakah ini karma ku? Karena aku juga sudah berani bermain api, ayah? Aku sudah mengkhianati Mas Ikbal lebih dulu ... bahkan sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya, walau sekuat apapun aku mencobanya.”
“Maafkan aku, ayah. Aku sudah menjadi seperti ini,” ucap Isyana.
Isyana pun keluar dari kamar sang ayah dengan tisu ditangan nya.
“Bu Isyana, ada apa?” tanya Bu Edo saat melihat air mata di wajah Isyana.
“Tidak apa-apa, saya hanya sedih melihat kondisi ayah,” jawab Isyana seraya mengusap air matanya menggunakan tisu dan tersenyum dengan paksa.
Isyana pun segera turun ke lantai bawah. Dia berjalan ke arah dapur. Tangan nya meraih teko air putih yang ada di atas meja makan. Lalu menuangkan nya kedalam gelas dan meminumnya sampai habis.
“Saya siapkan makan malam dulu, Bu,” ucap Bu Edo.
“TIdak perlu, saya mau makan kue yang tadi saya bawa,” jawab Isyana.
“Bisa tolong ambilkan?”
“Baik, Bu.” Bu Edo pun mengambil kotak kue yang di simpan di dalam lemari es tadi. Kemudian menaruhnya di meja tepat di depan Isyana. Setelah itu dia meninggalkan Isyana sendiri.
Isyana membuka kotak kue berisi brownis tiramitsu kesukaan nya. Sudut bibirnya tersenyum saat ada secarik kertas di dalam kotak itu. Ia pun mengambil kertas tersebut.
“kapan dia sempat menulis ini? Elvano kamu memang penuh dengan kejutan,” ucapnya dengan semu merah di pipinya.
“Berusaha melupakan kenangan hanya akan menyakitimu, lebih baik menatap ke depan mungkin saja kenangan itu akan terulang dan membuatmu semakin bahagia dari sebelumnya.” Isyana membaca isi kertas itu. Dan berhasil membuatnya tertegun.
“Sejak kapan dia sepuitis ini ... El jangan buat aku jadi egois lagi, karena jika itu terjadi mungkin kali ini aku tidak akan melepaskan mu,” tutur Isyana menatap brownis tiramitsu di depan nya sambil tersenyum.
__ADS_1
Saat hendak menyendok brownis tersebut. Isyana teringat kepada Ikbal. Dia pun segera mengirim pesan kepadanya. Kalau malam ini dia akan menginap dirumah sanng ayah. Tidak perduli di jawab atau tidak, Isyana hanya ingin memastikan ponsel Ikbal aktif. Akan tetapi pesan nya tidak centang dua, berarti Ikbal mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu. Isyana tahu pasti Ikbal sedang bersama seliingkuhan nya sekarang.
Setelah memakan brownis yang dibelikan Elvano. Isyana masuk kedalam kamar nya. Membersihkan diri sebelum istirahat.
Keesokan paginya.
Isyana tengah duduk di meja makan sambil menyesap teh herbal dan memakan roti lapis. Dira mengirim Email ke ponsel Isyana. Dia pun segera mengecek isi email tersebut. Tatapan Isyana seketika menajam setajam mata elang. Ternyata isi email tersebut adalah foto-foto kegiatan yang dilakukan Ikbal seharian kemarin.
Isyana tersenyum menyeringai. “Tidak puas di apartemenku, bahkan kini mereka bercumbu di dalam mobilku ... menjijikan sekali!”
“Morning, sayang!” Beberapa saat kemudian Ikbal datang untuk menjemput Isyana. Lalu menyapa dan langsung mengecup kening Isyana.
Isyana menghela nafasnya dan menatap jengkel Ikbal. “Aku harus mandi kembang tujuh rupa, bisa kena sial karena dia mencium dahiku,” batin Isyana menggerutu.
“Bu Edo, ini sup tulang kesukaan ayah ... tolong di berikan kalau ayah mau makan ya,” ucap Ikbal tersenyum ramah pada Bu Edo.
Melihat sikap Ikbal yang berakting seolah dia menantu yang baik. Membuat Isyana muak dan kehilangan nafsu makan. Dia pun beranjak dan meninggalkan makanan nya.
“Sayang, kamu masih marah sama aku? Soal kemarin?” tanya Ikbal saat di perjalanan ke kantor Isyana.
Isyana menoleh menatap Ikbal dan hanya diam menatap bagian belakang mobilnya. Lalu kembali mengalihkan pandangan nya keluar jendela.
“Mereka sudah mengotori mobil ku!” maki Isyana di dalam hati.
“Lagi pula itu salahmu,” celetuk Ikbal.
Isyana seketika menoleh dengan tatapan sarkas. “Salahku?”
Ikbal mengangguk wajahnya seperti tanpa bersalah.
Isyana mengepalkan tangan nya. “Yang rusak itu mobil kamu! Lagipula rusak bukan karena aku, kenapa jadi aku yang salah?”
“Salah kamu karena melawan apa kata suami, milikmu adalah milikku juga ... apa salahnya meminjamkan ku mobil,” ucap Ikbal santai sambil menatap kearah jalanan.
“Aku beli mobil itu pakai uang ku sendiri, uang hasil kerja kerasku. Siapa bilang itu juga milikmu!” Isyana tidak bisa menahan dirinya lagi. Ikbal sudah sangat keterlaluan.
“Sudahlah, aku harus bertemu klien pagi ini ... aku tidak mau karena pertengkaran ini kerjaan ku berantakan,” ucap Isyana.
__ADS_1
Isyana menghela nafasnya pelan dan mengatur nafasnya. Berusaha tetap tenang dan tidak melanjutkan pertengkaran nya dengan Ikbal. Karena percuma Ikbal tetap tidak mau kalah dan bersikeras bahw semuanya adalah kesalahan Isyana.
To be continued...
__ADS_2