Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Seorang Pangeran dari Surga


__ADS_3

“Chell, kamu jadi ketua nya ya, aku janji kamu gak bakal repot, aku nya yang bakal kerja di belakang kamu, jadi kamu gak usah takut”Rico memberikan semangat kepada Michelle yang entah kenapa membuat Michelle tak bisa menolak lagi. Begitulah polos nya Michelle selalu menolong orang tanpa tau risiko yang akan diterima.


“Oke deh kalo begitu” Michelle cuma bisa mengangguk pasrah.


“Lagian semua persiapan sudah aku lakukan loh. Kamu cukup memberikan kata sambutan saja.” Besok kamu cuma tampil cantik dan jadi kebanggaan kita semua”. Lagi-lagi Michelle mengiyakan tanpa pikir panjang. Michelle memang cantik dengan tubuh yg berisi, mata bulat, bibir mungil, hidung mancung, dan rambut panjang nya yang bergelombang, mampu menaklukkan seluruh pria yang bertemu dengan nya.


Kali ini angkatan SMA Michelle akan mengadakan reuni dari angkatan pertama sampai terakhir.


Tibalah hari yang akan mengubah nasib nya Michelle untuk seumur hidupnya.


“Ma, Pa, Michelle pergi dulu ya” hari ini pagi2 sekali Michelle datang ke sekolahan nya untuk menghadiri acara reuni angkatan nya. Michelle tidak gugup melainkan memikirkan apakah semuanya akan berjalan lancar tanpa ada satupun gangguan.


Prok prok prok. Semua orang bertepuk tangan yang meriah sebagai tanda dimulainya acara. Ternyata Michelle menarik perhatian seorang pria yang berusaha memotret nya dalam setiap kesempatan. Inilah calon istriku pikirnya.


Setelah acara sudah selesai, Michelle berusaha membantu teman-temannya mengangkut hadiah untuk anak panti asuhan yang diajak ikut dalam acara tersebut tanpa menyadari datang nya seseorang.


“Michelle, bapak pulang dulu ya, nanti jadi kan ketemu sama anak bapak” Kepala sekolah mereka ternyata memiliki kehendak pada Michelle yang ditanggapi Michelle dengan senyuman.

__ADS_1


“Ohhhh iya pak, siap deh pak, Michelle seneng banget dengernya” Michelle tidak dapat menolak, ya begitulah Michelle yang selalu patuh dengan orang tua maupun yg lebih tua. kemudian pria paruh baya itu pergi sambil melambaikan tangan.


“Michelle, kamu mau dijodohkan dengan anak Pak Sauji ya? “ Rico mencuri dengar percakapan mereka dan tanpa pikir panjang sudah tau maksudnya.


“Iya tuh gara-gara kamu nih yang bikin aku ketemu pak Sauji di depan, ngobrol ya panjang banget sampe ya gitu mau ditemuin sama anak nya”


“Wah aku gatau bisa sampe gitu, maaf ya Chell, padahal aku mau daftar duluan nih jadi pacar kamu”


“Yaaa kali jadi yang ke-100” Michelle menanggapi dengan bercanda ke Rico. Dia tau Rico mendekatinya dari dulu, mungkin sampai sekarang masih, tapi begitulah Michelle kalau ngomong ya apa adanya dan tidak pernah berbohong.


“ ya gapapa kalo kamu mau” Rico menambahi dan merasa kesempatannya mungkin akan tiba saat ini. Michelle tidak menanggapinya.


“ aku kesana dulu ya Chell, nanti aku bantu lagi”


“Ya gapapa Co, Bantuin dulu gih sana”


Kini Michelle seorang diri dan mulai menyusun apa-apa yang perlu dibawa anak panti asuhan, tetapi Michelle tidak menyadari ternyata sedari tadi ada yang menunggu dan memperhatikannya dari luar pintu.

__ADS_1


Merasa ada yang akan masuk, Michelle pun tak segan-segan meminta bantuan untuk mengangkat barang-barang itu ke luar.


“Sayang tolong Bantuin kakak ya angkut barang ini ke luar...... astaga maaf ya kak, saya gak sadar kalo yang saya ajak bicara adalah kakak tingkat” Michelle merasa ceroboh sekali dengan ucapan nya. Biasanya dia akan minta tolong adik tingkat dengan panggilan sayang, karena begitulah Michelle tidak ingin terkesan menyuruh-nyuruh orang padahal ia berasal dari keluarga mapan.


“Maaf mungkin pacar nya di luar..” lelaki ini terlihat gagap sekali ketika tau mungkin Michelle sudah ada yang punya.


“Maaf kak, saya belum ada pacar, saya kira tadi adek tingkat, maaf ya kak sekali lagi” kini Michelle terduduk malu dengan perbuatan nya.


“Ayo sini kakak bantu” tanpa sengaja tangan nya menyentuh tangan Michelle.


Michelle tertegun seorang kakak tingkat akan menolong nya, terlebih lelaki itu tinggi, putih, tampan sekali seperti lelaki impian nya.


Setelah mereka mengantarkan anak panti asuhan kembali pulang, Michelle dan lelaki itu berpisah begitu saja sampai selesai acara.


Michelle mulai terbayang-bayang dengan wajah lelaki itu, dan tak henti-henti nya melihat HP nya. Ya di hape itu ada grup sekolah nya dan tentu lelaki itu ada di dalam grup wa sekolah nya.


Faeyza Nurcahyo itulah namanya. Michelle tertegun dan mulai mengetik sesuatu untuk memulai tapi ia urungkan.

__ADS_1


Hmmmm, bukan kah akan termasuk gadis murahan yang akan berinisiatif duluan pikirnya. Akhirnya ia mengurungkan niat itu dan menutup ponsel nya. Ting ting. Hape nya berbunyi. Ia pun segera melihat hape nya, dan benar-benar tidak menyangka bahwa lelaki yang ada di enak nya itu yang memberikan sinyal duluan kepadanya. Michelle bingung harus bagaimana, ia berulangkali merangkai kata yang ingin dikirim nya melalui hape nya, tetapi berulang kali juga ia menghapusnya. Ia tidak tau harus bagaimana menyikapinya duluan, terlebih hatinya berdegup kencang tak karuan. Ia benar-benar bahagia dan saking bahagia nya, ia tidak mampu berpikir dengan jelas apalagi untuk berpikir logis. Ia ingin segera membalas pesan dari laki-laki itu. Tapi ia juga ingin agar teks pesan yang dikirimnya tidak bersifat agresif atau apapun itu yang penting ia ingin terlihat biasa saja agar perasaannya tidak terlalu terlihat jelas. Berulangkali ia menghela napas mencoba mengatur degup jantung nya. Berulang kali juga ia menghela napas karena bingung dengan teks pesan nya. Dan akhirnya ia pun memberanikan diri mengirim pesan kepada laki-laki itu. Ia berharap agar laki-laki itu pun segera membalas pesan nya. Dan yah benar saja. Pesan nya pun dibalas. Betapa senangnya Michelle karena laki-laki yang ada dibenaknya itu pun membalas pesan nya. Ia berharap ini bukan lah mimpi, dan tentunya ia sangat berharap bahwa hal ini terus dapat berlanjut sehingga mereka bisa lebih mengenal satu sama lain. Dan lebih dekat lagi tentunya, melebihi hubungan kakak dan adik tingkat, melebihi hubungan pertemanan apalagi persahabatan. Yah ia berharap laki-laki itulah pelabuhan terakhirnya. Perasaan lelah menjalin hubungan yang tidak jelas dengan orang lain membuat Michelle cukup untuk mengakhiri masa-masa remaja nya. Ia ingin menjadi seorang istri apalagi menjadi seorang ibu. Ia ingin membangun rumah tangga yang harmonis sehingga ia bisa memberikan kebahagiaan tersendiri untuk orang tua nya, ya memberikan cucu-cucu yang bisa menjadi teman untuk orang tua nya di kala tua.


__ADS_2