
__ADS_3
Sudah tujuh bulan berlalu sejak Eja meninggalkannya sendirian tanpa kabar. michelle tinggal di apartemen milik presdir nya di Bermingham Residence. Seluruh kebutuhannya benar-benar tercukupi. Apalagi setiap bulan ia menerima SMS yang mengabarkan bahwa setiap bulannya Eja sealu men-transferkannya uang Sebanyak tiga juta per bulan. Michelle tidak bisa menolak pemberian itu, ia masih menghargai Eja sebagai suaminya. Ia tau bahwa suaminya sangat bertanggung jawab kepadanya. Apakah karena cinta? Entahlah, Michelle berharap bahwa suaminya benar-benar mencintainya. Ia hanya bisa menghela nafas panjang dengan kelakuan suaminya. Kini ia memutuskan untuk cuti dari kantornya dan pulang ke rumah orang tua nya.
Thomas dan Michelle sedang duduk berdua dan terlihat mereka sedang membicarakan hal serius.
“Pak, saya izin dulu dari kantor karena kehamilan saya sudah masuk usia delapan bulan. Tetapi kalau bapak mau memberhentikan saya, saya akan terima karena sebenarnya saya berniat pulang ke rumah orang tua saya.”
“Michelle, suami kamu pergi entah kemana. Bukankah akan menjadi pikiran orang tua mu kalau kamu pulang dengan keadaan sudah hamil besar.” Thomas mencoba meyakinkan Michelle untuk tetap berada di sisinya.
“Bapak tenang saja, saya akan kembali secepatnya karena pak Thomas akan melakukan tes DNA bukan? Saya hanya butuh sosok orang tua yang bisa merawat bayi saya, karena saya belum berpengalaman sama sekali. Bapak mohon mengerti maksud saya.”
“Baiklah kalau begitu, saya akan tunggu kamu pulang dan kita akan memastikannya begitu semua urusan selesai.” Michelle pun undur diri dan bersiap-siap pulang. Tatapan nanar dari Thomas hanya bisa melihat wanita pujaannya pergi menjauh. Ia ingin agar wanita itu selalu di samping nya. Michelle andai kamu tau kalau aku benar-benar telah jatuh hati padamu. Akankah ada kesempatan untuk ku bisa bersamamu? Thomas menghela nafas panjang. Mungkin ia termasuk orang yang sukses dengan kehidupan sempurna, entah mengapa ia merasakan kehampaan pada hidupnya dengan lubang besar yang menganga, berharap akan diisi dengan cinta nya. Haruskah ia hidup seperti ini? Thomas tidak lah pengecut, tetapi ia hanya tau batasan dan bagaimana menghargai wanitanya. Yah, Thomas tak akan pernah menyentuh apalagi menyakiti perasaan wanita nya. Andai wanita itu berada dalam genggamannya, ia akan merasakan kehidupan yang sempurna. Begitulah cinta dalam diam yang ia rasakan. Pedih nya karena tak bisa memiliki, rindu yang menggelora hanya bisa ia coba padamkan sekuat tenaga, tetapi ia tak bisa lebih lama lagi bersabar. Tak terasa air mata nya pun jatuh. Seorang lelaki gagah dan sempurna ternyata memiliki kekurangan akan sosok cinta. Michelle aku benar-benar mencintaimu. Thomas sesenggukan menangis meratapi kepergian wanitanya. Bukan karena ia khawatir wanitanya tidak kembali. Tetapi ia tau, bahwa Michelle tak akan mudah meninggalkan sesosok lelaki yang telah menjadi suaminya. Alangkah brengsek nya Thomas bila memaksa Michelle meninggalkan suaminya. Andai aku bisa mendapatkan penggantimu, mungkin luka ku tak akan sebesar ini. Thomas menyeka air matanya dan mencoba bangkit dari keterpurukannya. Biarlah waktu yang menyembuhkannya batin nya ikhlas dengan semua yang terjadi. Hanya anak nya lah yang ia harapkan bahwa janin tersebut ialah miliknya, teman hidupnya.
“Mama, papa, Michelle pulang”
“ ya ampun anak mama kenapa sendirian? Mama Eja sayang?”
__ADS_1
“Eja kerja di China loh ma hampir 6 bulan ini, dia tidak bisa berlama-lama di kota ini.”Michelle berbohong lagi, entah sudah berapa kali ia berbohong. Ia tak ingin kedua orang tuanya tau akan masalah mereka.
“Ya ampun kok mama gak tau ya.”
“Iya kok gak ngasih tau papa dan mama?”
“Iya buru-buru karena mereka kekurangan orang pa, jadi langsung pergi karena langsung harus kerja besok nya”
“Ayok makan dulu kamu sudah capek-capek. Kamu tau kan kalau habis ini kita harus kontrol ke dokter. Mama pengen liat kamu dan bayi kamu sehat terus. Dan juga semua perlengkapan persalinan dan perlengkapan cucu mama sudah mama siapkan semua. Kamu hanya fokus untuk melahirkan saja ya nak, jangan terlalu khawatir.”
“Bagus anak mama memang pintar dan cucu mama ini pasti akan sama pintar nya dengan anak mama” Bu Nita mengelus-elus perut Michelle dengan penuh kasih sayang. Entah mengapa Michelle benar-benar merasakan kasih sayang orang tuanya tidak pernah habis untuknya. Ia ingin mencurahkan segala isi hati nya mengenai masalahnya, unek-unek nya, tetapi ia bersikeras tidak ingin menambah pikiran kedua orang tuanya. Tak terasa air mata mengalir di sudut pipinya.
“Loh kok nangis? Anak mama manja bener ya kalo hamil” Bu Nita menyeka air matanya. Michelle tak dapat berbohong padanya, Bu Nita merasakan beban anak nya begitu berat, lalu dipeluknya Michelle dengan penuh kasih. Bu Jita tidak akan berbicara jika anaknya tidak ingin bercerita, ia tak ingin membuat luka Michelle terbuka lebar kembali walau ia tak tau apa masalah anaknya. Ia yakin anaknya sedang dalam kondisi tidak baik. Ia hanya berharap anaknya bisa dapat hidup tegar hari ini dan sampai nanti.
“Ayo makan, nanti makanan nya dingin” pak Ardi mencoba untuk tidak terbawa suasana. Ia pun yakin anak nya tertimpa masalah yang mungkin tidak bisa ia utarakan, tetapi ia akan selalu menjadi tempat kembali anak-anaknya. Ia tidak akan meninggalkan anak-anaknya dan rela melindungi jiwa raga nya untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
“Bu Michelle, yang ini kepalanya ya Bu, yang ini Monas nya, jadi bisa dipastikan bahwa anak ibu laki-laki ya .” Michelle tersenyum lebar karena ia benar-benar menantikan seorang anak laki-laki yang akan menjadi pelindung nya kelak.
“Yang ini air ketuban nya, bagus ya, cuma agak keruh saja, Bu Michelle banyak-banyak minum ya biar air ketuban nya ga keruh.” Michelle mengangguk seakan tak percaya dengan penjelasan dokter.
“Yang ini tali pusat nya ya Bu. Tali pusat nya ada dua nih Bu, lahiran nya tinggal menunggu hari saja Bu, tetapi kalau masih ada tali pusar nya kita lakukan sectio caesar (sc) ya Bu” Michelle dan Bu Nita kaget.
“Jadi lahirannya kapan ya dok?”
“Bisa kapan aja Bu, hari ini juga bisa, Bu Michelle sudah boleh bersalin karena usia kehamilan sudah 38 minggu.”
“Yauda dok hari ini aja dok, gapapa sc aja”
“bagaimana dengan Bu michelle ? Apakah setuju? “ Michelle sedikit bengong, tak menyangka akan segera lahiran. Tetapi ia percaya kepada mamanya. Apapun pilihan mamanya ia tidak akan pernah kecewa. Michelle hanya sedikit menyesal memilih Eja sesuai dengan pilihan nya. Tapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu.
“ya dok saya setuju”
__ADS_1
__ADS_2