
__ADS_3
“ Pak, Bu, saya datang kemari hari ini sengaja ingin melamar putri bapak ibu karna saya dan Michelle berniat tidak ingin berpacaran lagi, melainkan menuju ke jenjang yang lebih serius” Eja mulai berbicara pelan tapi pasti, berharap kedua orang tua Michelle merestui mereka.
Michelle yang sedari tadi duduk dengan rasa gembira yang membuncah seketika khawatir kedua orang tua nya akan tidak mengizinkan keinginan mereka untuk bersatu. Ia pun mulai berdiri dan meninggalkan ruangan itu karna tak sanggup mendengarnya. Yah, logika dan perasaannya beradu sehingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih, namun satu hal yang ia yakini. Seorang pria datang menemui orang tuanya secara baik-baik, tidak mungkin tidak diterima dengan baik oleh keluarga nya. Hanya saja entahlah mungkin karena seperti tergesa-gesa, segalanya seperti sebuah mimpi. Michelle ingin terbangun dari mimpi itu dan berusaha menerima kenyataan apapun itu.
“Izinkan saya menikahi putri Bapak dan Ibu” Eja kembali memohon izin kepada kedua orang tua Michelle” tentu saja hal ini membuat Michelle semakin tak karuan. Ia tak menyangka lelaki tersebut benar-benar melamar nya di hadapan kedua orang tua nya, memohon agar Michelle bisa menjadi istrinya, pendamping hidupnya.
“Nak Eja, bukan bapak tidak merestui, tentu kebahagiaan Michelle adalah kebahagiaan kami, bukankah keputusan kalian sepertinya terlalu cepat?” Pak Ardi memejamkan matanya sejenak berusaha mencerna semuanya hingga masuk akal. Bu Nita pun tak ingin mereka salah langkah.
“Nak Eja, ibu pun bukan tidak ingin merestui, tapi pesan ibu adalah di masa-masa 3-5 tahun pernikahan adalah hal yang rawan. Sandang, pangan, papan adalah pilar-pilar keutuhan rumah tangga.”
__ADS_1
Begitu saja yang terdengar dari pembicaraan di ruang tamu depan, Michelle tak sanggup untuk mendengarnya lagi.
“Michelle, Eja mau pulang” kakaknya tiba2 membuyarkan lamunan Michelle.
“Oh ya, baiklah kak, makasi”
“Kamu yakin mau nikah sama dia?”
“Ya ampun Chell, ini tuh soal nikah, kakak harap kamu gak sembarangan pilih orang”
__ADS_1
“Hmmm” Michelle hanya mengangguk dan berlalu menuju ke ruang tamu.
“Chell, kakak pulang dulu ya, nanti malam kita ngobrol lebih lanjut”
“Iya kak hati-hati di jalan ya kak, telpon Michelle kalau sudah sampe rumah”
“Pak, Bu saya izin pamit. Terima kasih sudah mau menerima saya datang kemari”
Michelle mengernyitkan kening nya, bagaimana ini? Bagaimana hasilnya? Michelle bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan tak menentu berkecamuk menjadi satu. Bahagia, khawatir, takut, sedih, kini menyelimuti perasaan gadis mungil itu.
__ADS_1
Apa yang harus dilakukannya. Michelle bingung karena ingin tau bagaimana kelanjutan nya. Dan tentu saja orang tua nya pun memberitahunya langsung. Bahwa mereka menyetujui keputusan Michelle. Karena bagi mereka yang terpenting adalah kebahagiaan Michelle sendiri. Untuk urusan ke depan tentunya mereka sebagai orang tua tidaklah lepas tangan. Apabila akan ada masalah yang datang, tentulah mereka sebagai orang tua akan selalu sigap dan menjadi sandaran Michelle. Mereka pun akan mendidik Michelle sebagai seorang anak yang baik, istri yang taat dan patuh kepada suami. Walaupun mereka tau bahwa anak mereka itu satu-satunya cewek yang paling manja, terkadang sulit diatur, suka menang sendiri. Tetapi mereka paham bahwa Michelle akan sadar dengan sendirinya. Dan tentunya belajar bagaimana bersikap, sebagai seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu nantinya. Tak henti-hentinya Michelle diberikan nasihat yang panjang oleh mereka. Bahwa sebagai istri tentulah akan ada batasan terhadap orang tua, dimana ketika suatu masalah terjadi, sebagai orang tua tidak lah bisa untuk ikut campur atau ikut andil dalam suatu hubungan rumah tangga orang lain termasuk itu hubungan rumah tangga anak sendiri, tetapi apa yang diutarakan orang tua tentulah bukan suatu keburukan melainkan suatu kebaikan agar tidak begitu saja membuat hubungan rumah tangga hancur, terlebih jika memiliki anak. Orang tua akan selalu mengutamakan anak sehingga bila terjadi suatu masalah, maka anak-anak lah yang harus diperhatikan tanggung jawabnya. Oleh sebab itu, kesabaran dalam membina rumah tangga sangatlah penting. Itulah kunci kebahagiaan dalam berumah tangga. Misalkan saja adanya masalah yang benar-benar sepele, tentunya masalah itu janganlah dibesar-besarkan. Apalagi bila menyangkut masalah ekonomi, bersabar dengan berhemat tentulah penting, karena kebutuhan rumah tangga mulai dari makan, mandi, pakaian, juga pendidikan anak sangatlah penting. Apabila lelah dalam mengurus rumah tangga maka bersabar dalam hal pengertian, saling memahami, komunikasi kan dengan pelan-pelan dan jelas agar tidak menjadi suatu kesalahpahaman dan memicu pertengkaran. Adapun hal yang tidak kalah penting adalah mengenai hubungan mertua dan menantu juga ipar. Mertua adalah orang tua sendiri juga, begitu sebaliknya, maka tidak ada sebutan atau panggilan orang tua kamu, orang tua dia, kedudukannya adalah sama seperti halnya orang tua sendiri sehingga perlu untuk dihormati, disayang, dan dikasihi. Begitu panjang lebar mereka menasihati anak perempuan mereka satu-satunya itu. Hal ini mereka lakukan agar anak mereka ini tidaklah membuat kesalahan yang dapat memicu pertengkaran dalam berumah tangga apalagi sampai terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti perceraian. Karena bagi mereka hal itu sangatlah buruk bagi semua orang. Bagi mereka sendiri tentunya itu adalah sebuah tanda kegagalan mereka mendidik anak. Belum lagi stigma negatif orang tentang suatu perceraian. Bagi mereka anak adalah cerminan diri mereka sehingga mereka tidak ingin anak-anak mereka akan terjerumus ke arah yang salah. Rumah tangga memang tidak ada pendidikan nya di sekolah atau universitas, tetapi keluarga adalah tempat nya rumah tangga terbentuk, tanpa rumah tangga keluarga tidak terbentuk. Begitu sebaliknya keluarga tidak akan ada tanpa adanya rumah tangga. Hal ini lah yang membuat mereka terus mewanti-wanti anak mereka satu-satunya perempuan. Sebagai perempuan memang bukanlah sebuah minoritas, bukanlah sebuah kekurangan, melainkan sebuah kekuatan yang tanpa ada perempuan maka tidak akan adanya keturunan sehingga tidak terbentuklah sebuah keluarga maupun rumah tangga. Begitupun dengan laki-laki yang tanpa nya tentu sosok perempuan tidak akan merasa aman dan terlindungi. Oleh sebab itu, suami dan istri saling memegang peranan penting, dan tidak bisa dipisahkan, apalagi berdiri sendiri dengan kelebihan masing-masing tidak akan bisa saling melengkapi bahkan hanya menjadikan kekurangan satu sama lain. Suami adalah pakaian bagi istri begitu sebaliknya sehingga kelebihan dan kekurangan satu sama lain akan saling melengkapi dan saling mengisi.
__ADS_2