
__ADS_3
Martin membuka menu gift dan mencoba mengirimkan Hero Tigret pada Roy.
(Menghabiskan 20.000 BT untuk memberi hadiah Hero pada Roy, apa anda setuju?)
Martin berpikir sejenak sebelum menekan tidak.
Bagi Martin Hero Tigret tidak terlalu cocok untuk Roy, jadi dia segera membuka menu shop dan membeli 4 Hero baru yaitu Gatot kaca, Lesly, Uranus dan Xavier.
Dalam sekejap, Martin menghabiskan 100rb BT untuk membeli empat Hero ini dan sekarang dia akan menghabiskan 40Rb BT lagi untuk mentransfer Hero Gatot kaca pada Roy dan Hero Lesly pada Vina.
Martin tidak terlalu peduli menghabiskan banyak Battle poin karena dia ingin tahu apa yg akan terjadi jika dia mengirimkan kedua Hero ini pada Roy dan Vina.
Setelah beberapa saat Roy dan Vina tiba tiba terkejut sambil menatap Martin.
"Apa kata sistem?" tanya Martin yg langsung di jawab oleh Vina.
"Martin mengirimkan hadiah sebuah tamplet Hero Lesly, menerima akan secara otomatis mengubah kelas pemula menjadi kelas penembak jitu dan semua skill serta pengetahuan Hero akan menjadi dasar pengembangan berikutnya. item Hero akan secara otomatis di simpan di dalam inventori. Terima atau tidak?"
Tapi sebelum Martin sempat bereaksi, tanah tiba tiba bergetar.
"ha ha ha... Martin, kamu yg terbaik.... kita akan menjadi sahabat sejati selamanya." tentu saja itu Roy yg tanpa basa basi langsung menerima Hero yg di berikan oleh Martin.
Terlihat tanah di depan Roy membentuk sebuah retakan memanjang sejauh 10 meter seperti pola petir akibat skill satu yg baru saja dia aktifkan.
"Lihat sarung tinju emas ini" Roy mengeluarkan senjata yg di dapat dari Hero Gatotkaca yg berupa glove emas dengan bentuk kepala singa.
"Ini gaya pria sejati..."
"inilah yg disebut otot..."
"kekuatan otot...."
"Diamlah otak otot..." Vina langsung membentak Roy dengan kesal.
__ADS_1
"Jangan marah nenek sihir, ayo kita lihat bagaimana punya mu" balas Roy dengan tatapan sedikit menghina.
Mendengar itu Vina mengendus kesal dan segera menerima Hero yg di berikan oleh Martin.
Tidak ada hal istimewa yg terjadi selain Vina menutup matanya sesaat sebelum kembali membuka matanya.
Seketika Vina menghilang dan sesaat berikutnya Vina muncul di depan Roy dan langsung menendang selangkangannya.
"sial...." Roy langsung berguling di tanah sambil menutup selangkangannya.
"Lain kali jangan mengagetkan orang" kata Vina yg tersenyum puas setelah menendang Roy.
"Dasar nenek..." saat Roy ingin mengutuk Vina, sebuah moncong senapan langsung menempel di mulut Roy yg membuatnya terdiam.
"Katakan lagi dan kepalamu akan meledak seperti semangka" ancaman Vina membuat Roy segera menggelengkan kepalanya.
Melihat ini Vina langsung mengalihkan perhatiannya pada Martin. "Dari awal aku merasa kamu mengetahui sesuatu, tapi hal yg kamu berikan bisa di bilang sebuah kecurangan. Aku tidak tahu apa kamu terlalu polos atau kamu mempercayai kami berdua, tapi jika berita ini sampai tersebar kamu akan dalam bahaya."
Martin mengangguk. "Aku tahu dan aku siap menanggung resikonya."
Martin mengangguk dan berkata. "Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melakukan itu, karena aku belum tahu cara mengisi ulang biaya yg di kenakan untuk membeli dan mengirimnya pada kalian."
"Aku tidak akan mencari tahu apa itu, tapi katakan saja jika kamu sudah tahu cara mengisi ulang biaya tersebut. Aku berjanji akan membantu mu membayarnya." Vina berkata dengan tegas.
"Jangan lupakan aku, pria sejati selalu membalas Budi dan aku juga berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini. Sahabat sejati harus saling melindungi, benarkan" Roy juga ikut menambahkan.
"Ya ya, katakan saja sesuka mu" balas Vina yg terlihat masih sedikit kesal.
"bah, mentang mentang memiliki senjata. tunggu sampai otot otot ini naik level"
Vina langsung mengangguk. "Lakukan dengan cepat agar aku memiliki sasaran tembak untuk latihan, mumpung peluru senapan ini tidak terbatas jadi akan lebih menyenangkan memiliki sasaran tembak yg tidak mati dalam sekali tembak."
Vina membelai senapan yg ada di tangannya yg langsung membuat tubuh Roy kembali menegang.
__ADS_1
"Baiklah, hentikan dulu perselisihan kalian dan katakan apa saja yg kalian dapatkan dari Hero yg aku kirim." Martin segera menyela yg dengan sigap di jawab oleh Vina.
"Semua equipment Hero tersebut, skill pasif yg langsung aktif, pengetahuan dan juga tiga skill aktif yg hanya bisa di gunakan setelah membayar dengan skill poin."
"Setiap skill aktif memiliki 5 level, jadi butuh 15 skill poin untuk memaksimalkan semua skill aktif."
Martin mengangguk mendengar penjelasan Vina. "apa kamu juga mendapat celana dalam Lesly."
Vina mengangguk sebagai jawaban.
"coba tunjukan pada ku"
Dengan tatapan aneh, Vina mengeluarkan celana dalam merah dengan renda bermotif mawar di setiap sisinya.
Martin dengan cepat mengambilnya dan mencium aroma celana dalam tersebut.
"Jadi ini bau Lesly" kata Martin.
"Wanginya seperti mawar segar" tambah Roy yg entah kapan sudah ada di sebelah Martin.
"Kalian..." Vina yg melihat ini memiliki wajah yg memerah dan segera merampas celana dalam yg ada di tangan Martin.
"Ehem... mari kita pikirkan rencana selanjutnya, karena kekuatan tempur sudah ada sekarang kita harus membuat camp sementara sebelum melakukan aktifitas perburuan untuk meningkatkan level." Martin segera mengalihkan pembicaraan tapi tatapan sinis Vina masih dapat terlihat yg membuat Martin merasa tidak nyaman.
"Ayo kita cari pohon besar dan tinggi, lalu kita buat rumah pohon di atasnya sebagai camp sementara kita." Roy dengan cepat mengajukan pendapat yg membuat Vina dan Martin terkejut.
"Apa aku salah?" tanya Roy yg melihat tatapan Martin dan Vina.
"Tidak, hanya saja aku terkejut otak mu tiba tiba berfungsi" balas Vina di tambah dengan anggukan Martin yg membuat Roy merasa canggung.
"Rumah pohon adalah impian setiap pria sejati"
segera Vina menghela nafas. "aku pikir otakmu mulai bekerja, baguslah jika itu masih di penuhi oleh otot."
__ADS_1
Martin hanya bisa mengangguk mendengar kata kata Vina.
__ADS_2