
__ADS_3
Hasil pertandingan segera keluar
Mode survival
Tingkat kesulitan Hard
Status completed
Hadiah
100.000 exp
1000 standar emblem
1000 magic dust
10000 battle poin
1 skill poin
2 status
Bonus pengurangan waktu 50%
Total hadiah
150.000 exp
1500 standar emblem
1500 magic dust
15000 battle poin
1 skill poin
3 status poin.
Seketika Martin, Roy dan Vina naik 3 level menjadi level 8.
"Mari kita bahas nanti" sebelum Roy dan Vina berkomentar Martin langsung menyela yg membuat mereka memahami sesuatu.
Segera Vina dan Roy menatap Rena dan temannya.
"Kalian bertiga istirahatlah di kamar ku, ini sudah malam kalian pasti lelah." Martin menunjuk ke arah sebuah bangunan berbentuk segitiga yg terbuat dari papan kayu dan di tutupi oleh dedaunan yg berfungsi sebagai pintu.
"Lalu di mana kamu tidur?" tanya Rena karena hanya ada tiga bangunan yg bisa di sebut kamar.
"Tentu saja di kamar sebelah bersama wanita seksi ini." balas Martin sambil mengedipkan matanya pada Vina yg di balas dengan senyuman menggoda olehnya.
__ADS_1
Seketika mata Rena melebar dan pipinya tiba tiba mengembung. "Kenapa tidak wanita berkumpul dengan wanita dan pria dengan pria."
Sebelum Martin menjawab, Rena kembali berkata. "Karin dan Sofi, aku dengan tante ini dan kamu bersama om sangar ini"
Seketika alis Vina meninggi. "Seperti kata mu Martin, penciumannya memang seperti anjing"
"Apa maksud mu lampir?" Rena bertanya dengan nada kesal.
"Oohhh Martin sempat berkata jika kamu pasti bisa menemukannya karena kamu memiliki penciuman seperti anjing." Balas Vina dengan tatapan mengejek.
Rena langsung mengalihkan perhatiannya pada Martin, tapi sayangnya Martin sudah tidak ada lagi di posisinya.
Saat kembali melihat Vina, dia juga sudah menghilang secara misterius dan hanya Roy yg tersisa.
Melihat tatapan Rena, Roy hanya mengangkat bahu tak berdaya. "istirahatlah, ini sudah malam jangan mengejar mereka berdua karena yg satu punya kemampuan gerak cepat dan yg satu punya kemampuan menghilang."
"lalu bagaimana dengan om?"
"kekuatan otot" Roy mulai berpose binaraga yg membuat ketiga gadis itu menjadi geli dan segera masuk kedalam kamar.
"Ternyata otot juga memiliki kemampuan menenangkan seseorang" Kata Roy dengan penuh rasa bangga.
***
Di sebuah danau kecil di dekat rumah pohon.
Martin berendam dengan santai sambil menatap bulan cerah yg menyinarinya.
"Berhati hati saja dengan belut yg suka menggali lubang" Martin menjawab dengan nada bercanda.
Mendengar itu Vina tertawa kecil sebelum melepas semua pakaiannya dan bergabung dengan Martin.
"Membiarkan belut menggali lubang dapat menghilangkan stress, apa kamu tertarik untuk mencoba." tanya Vina dengan nada menggoda sambil mendekati Martin.
Wajah cantik dengan lekuk tubuh yg indah serta dada yg montok tidak mungkin gagal membuat pria tergoda kecuali pria itu seorang gay.
"Kamu terlihat seperti sekretaris simpanan bos bos berduit." jawab Martin sambil tertawa kecil.
Seketika wajah Vina terlihat agak sedih sambil menyandarkan punggungnya di dada Martin.
"Aku dari dulu sangat ingin menjadi seorang penembak jitu setelah menonton banyak film tentang kehebatan penembak jitu, tapi semua tidak semudah itu. Bekerja dengan negara bukan tentang seberapa hebat kemampuan mu, tapi seberapa banyak koneksi yang kamu miliki."
"Apa ini tentang diri mu?" Tanya Martin sambil memberi pijatan lembut pada bahu Vina.
"Bisa kamu masukan belut itu kedalam lubang"
"Baiklah"
Segera keadaan menjadi sunyi untuk sesaat sebelum air yg tenang tiba tiba mulai bergelombang secara konstan.
__ADS_1
"Akhirnya demi mendapatkan koneksi agar bisa masuk kedalam pasukan penembak jitu, aku rela melakukan apapun."
"Tapi hingga saat ini semua hanya janji janji palsu."
"Seminggu sekali atau lebih, aku berjuang di atas ranjang mereka. berbagai pose, kostum dan segala jenis permainan sudah pernah kulakukan."
"Sendirian melawan 3 orang atau kadang di temani istri anak buah mereka yg masih baru menikah."
"Membayangkannya membuat ku merinding, siap yg mau istri mereka di pakai orang lain." Martin tiba tiba berkomentar.
"Mari kita bahas yg lain" Vina dengan cepat mengubah posisinya.
Sekarang mereka saling berhadap-hadapan dengan kedua tangan Vina yg di kaitkan di leher Martin.
Mata mereka saling menatap satu sama lain sebelum Vina dengan agresif mencium bibir Martin.
"Umurku 27 Tahun dan belum pernah memiliki seorang kekasih" kata Vina dengan nada rendah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Martin.
"Aku 22 tahun, tapi sudah memiliki calon istri. Tapi aku bahkan tidak tahu nama dan rupanya."
"Katakan saja kamu tidak menginginkan wanita kotor seperti ku"
"Aku berkata yg sesungguhnya"
"Anggap saja aku wanita simpanan mu, datanglah pada ku jika kamu sedang menginginkannya."
"Terdengar seperti sebuah transaksi bagiku"
"Aku yakin kamu tidak akan menolakkan"
"Pria bodoh yg akan menolak"
"hmmm" Tubuh Vina sedikit bergetar dan dia mengencangkan pelukannya pada Martin.
"Ada apa?" tanya Martin.
"Aku keluar" jawab Vina dengan cepat.
"Begitu cepat" Martin sedikit terkejut.
"Ini sudah lebih dari 15 menit dan belutmu dari tadi terus menerus menghantam ujung lubang ku"
"Lalu"
"Teruskan sampai belut mu muntah"
"lubangnya mulai menghisap"
"He he he... sebentar lagi belut mu akan muntah"
__ADS_1
"Tunggu sampai kamu keluar untuk yg kedua kalinya."
"Aku akan menjadi budak mu jika itu terjadi"
__ADS_2