SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH CERITA 2


__ADS_3

Markas SavedLived terdapat tujuh orang duduk saling berhimpitan. Geonesh berada paling belakang,. Geomenino berada di depan semuanya, wajahnya sedikit mirip Gomesh, kulitnya lebih terang dari lainnya. Ia tampak tenang di antar enam saudaranya.


"Kalian siapa? Kenapa kami dibawa ke mari?" tanya Geomenino.


"Duduk saja, tunggu ketua kami datang!" jawab salah satu pengawal.


Geomenino akhirnya diam, tak lama Virgou datang langsung mencengkram kerah leher pria yang duduk paling depan. Tubuh Geomenino terangkat ke atas, ia hanya bisa mencekal tangan pria yang seperti ingin membunuhnya itu.


"Apa yang kau inginkan pada putraku Bomesh?" tanyanya marah.


Muka Geomenino memerah, cengkraman tangan Virgou di kerahnya mencekik leher pria itu.


"Daddy!" pekik Lidya.


Wanita itu memeluk tubuh besar Virgou. Tentu saja pelukan anak perempuan yang menjadi pengobat hatinya itu mampu melemahkan cekikan nya. Geomenino terlepas, ia jatuh ke lantai dan terbatuk-batuk. Hanya Gorgon dan Geomitha yang langsung memeluknya sedang yang lain seperti ingin menyelamatkan diri sendiri.


"Katakan apa yang kau inginkan dari putraku?" tanya Virgou lagi.


"Bomesh bukan putra Gomesh?" tanya Gomash.


"Gomesh adalah saudaraku, jadi anaknya adalah anakku!" sahut Virgou.


Semua terdiam. Seorang asing mengaku saudara daru Gomesh yang mestinya saudara mereka.


"Mana mereka!" teriak seseorang dari pintu.


Semua menoleh. Sosok raksasa dengan wajah mengelam masuk dan tertuju pada satu wajah yang ia kenali, yakni Geonesh.


"Bangsat!" makinya kasar.


"Papa!" Lidya langsung memeluk pria raksasa itu.


"Nona, jangan ...," ujar Gomesh lemah.


Lidya malah mengeratkan pelukannya. Ia sangat paham akan kesakitan hati pria raksasa itu. Lidya pernah mengalaminya.


"Nona ...," ujarnya lirih.


Geomenino merasakan cinta besar yang dikeluarkan dari sosok wanita bertubuh mungil itu. Ia menatap pria yang tak pernah ia temui dalam hidupnya. Air matanya mengalir.


Geomenino ingat, ayahnya selalu bercerita tentang kehebatan kakaknya itu. Pria itu selalu ingin bertemu dengan sosok yang selalu diceritakan sang ayah.


Gomesh memeluk Lidya dengan hati hancur. Ia bukan tak ingat bagaimana perlakuan ayah dan ibunya. Adiknya yang banyak dan seorang kakak yang selalu menimpakan kesalahan pada dirinya.


"Kak!" panggil Geomitha.


"Kakak ingat aku?" tanyanya.


Air mata mengalir, Gomesh masih enggan mengingat saudara-saudaramya itu. Tapi ia sadar, semuanya masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kak Gomesh," panggil Geomenino dengan bibir gemetar.


Virgou membiarkan mereka. Ia memilih Gomesh menyelesaikan sendiri permasalahan dengan keluarganya itu. Ia meraih Lidya dan memeluknya, Virgou selalu senang mendekap tubuh anak perempuan dari paman yang dulu ia benci itu.


"Kau?"


"Aku Geomenino, Kak. Anak Papi dan Mami yang paling bungsu," jawab Nino dengan linangan air mata.


Gomesh terdiam, ia tak menyangka setelah kepergiannya dari rumah, ibunya masih menghadirkan satu adik lagi untuknya.


"Mami sakit-sakitan gara-gara kau Gomesh!" sela Geonesh langsung menyudutkan adiknya itu.


"Aku rasa tidak!" sahut Gometrio.


Semua adik menatap kerinduan pada kakak mereka. Gomesh yang selalu menjadi sasaran pukulan sang ayah melindungi mereka. Padahal tubuh Gomesh juga masih terlalu kecil untuk melindungi mereka.


"Kak, semenjak kakak pergi, Mami selalu masak banyak. Mami nungguin Kakak," cerita Gorgon.


Gomesh masih diam. Ia memandang semua adiknya, wajah-wajah mereka sedikit mirip terutama Gorgon yang begitu mirip dengannya.


"Papi selalu pulang larut, Mami menangis Kakak nggak ikut Papi pulang," lanjutnya dengan air mata.


"Mami selalu tidur di kamar Kakak," adu Georgina.


Satu tetes bening jatuh di pipi Gomesh. Ia memang sangat membenci ibunya terlebih ayahnya. Ia menggeleng tak percaya.


"Papi juga, tiap hari panggil-panggil kakak," lanjutnya.


"Kak pulang yuk. Kita mulai dari awal semuanya, Papi ingin memberikan warisannya untuk kakak," ujar Geomitha dengan mata menggenang.


"Kalian ke sini agar dia mau memberikan warisan itu bukan?"


Suara Gomesh datar dan dingin. Ia tak bergeming dengan semua mata yang memandangnya penuh kerinduan. Di balik sifat cuek mereka, tetapi sebenarnya semuanya saling menyayangi satu dan lainnya. Terbukti dari mereka mau mencari bersama satu saudaranya yang hilang. Geonesh hanya diam sendiri, ia masih egois. Baginya ia tak peduli apapun selain pulang dan menikmati apa yang menjadi hak nya.


"Baik, aku ikut agar semua dapat warisan tapi, aku tak mau sepeserpun dari harta orang tua kalian!" putus Gomesh.


"Memang Kakak nggak rindu kami?" tanya Georgina, ia menahan diri untuk tidak memeluk tubuh besar itu.


Gomesh diam mendengar pertanyaan dari salah satu adik perempuannya itu.


"Apa Kakak benar-benar tak merindukan dan menginginkan kami?" tanya Gometrio.


"Kakak sudah punya delapan belas keponakan loh!" lanjutnya dengan senyum lebar.


"Ini Kak, lihat ... ini namanya Bianca putriku yang pertama, ini Leonard yang kedua, yang ketiga Pedro ... hiks ... hiks!" ujarnya dengan air mata berderai memperlihatkan ponsel pada Gomesh.


"Aku punya tiga anak, Kak Gorgon punya lima anak, Kak Mitha punya empat, Kak Gomash punya dua, Kak Gina punya tiga anak dan kak Geonesh punya satu," jelasnya panjang lebar.


"Kakak ... huuuu .... huuuuu!" semua tak tahan akhirnya memeluk Gomesh.

__ADS_1


Lidya membekap mulutnya, Virgou memeluknya. Demian datang dan langsung ikut memeluk sang istri. Pria itu ikut diam mengamati semuanya.


Gomesh ikut menangis. Hanya Geonesh yang masih diam di sana menatap semuanya. Hancur semua hasutannya selama ini pada adik-adiknya. Ia tak bisa menghilangkan sosok yang selalu berdiri di depan ketika sabuk sang ayah melayang menghantam tubuh kecil Gomesh yang melindungi semua saudaranya.


Akhirnya Gomesh membalas pelukan adik-adiknya. Terutama pada Geomenino, adik yang tak pernah ia lihat sama sekali.


"Dik!"


"Kak!"


Keduanya berpelukan sambil menangis. Gomesh menyeka air mata semua adik-adiknya. Mereka bergayut manja pada pria raksasa itu. Gomesh menatap kakak laki-lakinya.


Geonesh membuang muka, ia masih malu mengakui kesalahannya. Ia tak mau mengakui jika dirinya juga merindukan Gomesh. Ia malu jika ia sangat menyayangi adiknya, tetapi ia tak mau mengakui itu, ia kakak yang begitu egois dan jahat.


"Apa kau masih membenciku karena kelahiranku menjadi kunci lahirnya semua adik?" tanya Gomesh pada sang kakak.


"Mestinya, aku yang disayang Papi dan Mami, hanya aku!" ujar Geonesh.


"Jika aku bisa memilih. Aku tak mau dilahirkan oleh ayah dan ibumu berengsek!" maki Gomesh.


"Kak!" peringat semua adiknya.


"Tolong jangan katakan itu!" sahut Geomenino.


"Aku bahagia dilahirkan dan memiliki kalian sebagai saudaraku!" lanjutnya.


"Kak, aku mau ikut Kakak!" ujarnya. "Aku nggak mau harta Papi!"


"Dik, kalau kau di sini, kakak gimana?" tanya Gometrio bingung.


Semua mengangguk, mereka tak mau kehilangan lagi salah satu saudaranya.


"Kita pindah di sini saja dan biar Kak Geonesh menikmati sendiri harta Papi!" usul Gomash.


"Iya, kita bisa minta Kak Gomesh jadi pemilik perusahaan sementara kita di sini sampai kita menjadi warga negara! Kalaupun yak bisa, anak-anak kita bisa!" ujar Georgina semangat.


Gomesh diam. Ia tak menyahuti rencana adik-adiknya itu.


"Lagi pula anak-anak masih kecil-kecil juga dan belum bersekolah!"


"Tapi bagaimana dengan suami dan istri kalian?" jawab Gometrio.


"Ya kita ceraikan saja. Toh itu perusahaan atas namaku!" sahut Geomitha santai.


bersambung.


weleh ... malah mau ikut sama Gomesh semua.


next?

__ADS_1


__ADS_2