
__ADS_3
Tiga hari Arfhan dirawat di rumah sakit. Beberapa guru menjenguk keadaan bocah pemberani itu. Della, Alia dan Firman dibawa Virgou ke mansionnya agar Arfhan dapat pulih cepat.
"Kau berani sekali Nak," puji salah satu guru.
"Saya hanya bergerak sesuai insting Bu guru. Papa Gomesh akan terluka oleh Paman saya yang jahat itu. Jika terjadi, saya akan merasa bersalah seumur hidup," jelas Arfhan gamblang.
Bocah delapan tahun itu memang bergerak sendiri untuk melindungi pria besar yang tak sadar jika ada bahaya mengancam. Arfhan tak mau ada yang dilukai akibat menolongnya. Akhirnya guru-guru pergi. Arimbi datang bersama beberapa dokter melihat luka tusuk yang telah dioperasi.
"Lukanya memang cukup dalam dan merobek otot besar. Nanti tangan kamu diterapi ya biar gerak dengan sempurna," jelas Dokter.
Arfhan hanya mengangguk pasrah, ia sudah tau keputusannya menolong papa dari temannya itu akan mencelakakan dirinya.
"Nggak apa-apa, kamu pasti bisa," ujarnya menenangkan diri sendiri sambil mengelus lengannya yang sedikit mati rasa.
"Coba gerakan sholat ah," ujarnya menggerakkan tangannya.
"Uuuh," keluhnya.
"Sayang ... jangan dipaksa ya," ujar Arimbi mengelus kepala Arfhan.
"Kalo nggak dipaksa nanti lemah Dok," sahut Arfhan tak memperdulikan rasa sakitnya.
"Iya sayang, tapi nggak perlu kuat-kuat geraknya. Pelan-pelan aja, Allah tau kok. Apa lagi kalau kamu geraknya dari hati," ujar Arimbi memberi pengertian.
Akhirnya, Arfhan mengikuti saran dari dokter yang merawatnya. Arimbi memang menangani sendiri kepulihan bocah itu.
"Apang!" pekik Della dan Alia.
Tiga bayi masuk, ada wajah lain yang dilihat oleh Arfhan. Dua wanita cantik tersenyum padanya. Tiga adiknya langsung diletakkan di sisinya.
"Sayang ... terima kasih. Aku Mommy Maria, kau menyelamatkan suami dan putra-putraku," ujar wanita itu lalu mencium lembut kening Arfhan.
"Halo sayang, aku Mommy Puspita, kau juga telah menolong putraku,"
Tak lama Gisel pun datang bersama Budiman. Gisel menciumi Arfhan dan sangat kagum dengan keberanian bocah lelaki itu. Tak butuh waktu lama ruang rawat eksklusif itu penuh dengan manusia dewasa.
"Nanti kamu tingga sama Mommy ya," ujar Puspita mengelus kepala Arfhan.
"Emang boleh?" cicit Arfhan.
"Tentu saja. Darahmu sekarang mengalir darahku. Kau adalah putraku,. Black Dougher Young!" sahut Virgou begitu bangga.
"Halo sayang, aku Bart. Aku sekarang adalah buyutmu," ujar Bart memperkenalkan diri.
"Pokoknya kamu sekarang adalah bagian keluarga kami!" tekan Budiman.
Netra Arfhan berkaca-kaca. Ia menatap tiga adiknya. Baik Della, Alia dan Firman diurus olehnya semenjak ia datang bersama Paman yang kini entah di mana. Ayah dan ibunya meninggal dunia, Jono merupakan adik dari ayah Arfhan membawanya ke kota ketika berusia tiga tahun.
Batita itu langsung mendapat tugas membersihkan rumah Paman dan bibinya bekerja malam entah apa pekerjaannya Arfhan tak tau. Satu tahun tinggal Bibinya hamil dan melahirkan anak perempuan yang diberi nama Della, lalu tak lama Firman hadir lalu terakhir Alia.
"Jadi kamu yang menamai adik-adikmu sayang?" tanya Terra dengan mata bulat.
"Iya Tan ...."
__ADS_1
"Panggil Mama sayang," potong Terra.
"Iya Ma, Arfhan sendiri yang menamai adik-adik. Paman dan Bibi hanya memanggil mereka anak cewek dan anak laki,"
Jam besuk sudah usai. Kini Gomesh yang menunggui bocah itu. Tiga adiknya dibawa kembali oleh Virgou.
"Apa adik-adik nggak nyusahin Pa?" cicit Arfhan bertanya.
"Nggak sayang ...," jawab Gomesh menenangkan Arfhan.
"Arfhan udah bisa pulang lusa, lukanya sudah dilepas benangnya. Tinggal terapinya aja," ujar dokter ketika melihat perkembangan Arfhan.
Sedang di mansion Virgou. Della, Alia dan Firman jadi pusat perhatian termasuk Harun, Azha, Bariana, Arion dan Arraya.
Usia Della yang sama dengan Maryam, Aisya, Fatih, Al dan El Bara, Fathiyya, Aaima dan Arsyad mulai bergosip.
"Della, tamuh tatana dali pumah tumuh ya?" Della mengangguk.
"Piya, tatana pedithu," jawab Della.
'Memana tumuh pa'a Ata'?" tanya Maryam.
"Eundat pahu, panya pama Ata' Tean deh," sahut Harun.
"Ata' Tean ... Ata'Tean!" pekik Arsyad.
"Apa Baby," sahut Kean.
"Oh tempat kumuh itu tempat yang jorok dan sesak, di sana nggak ada air bersih, sampah menggunung dan banyak lagi," jawab Kean.
"Oh pisa pipilan pempat selet lah ya!" sahut Bariana.
"Iya Baby, tempat jelek," jawab Kean.
"Mama Papa tamuh teumana?" tanya Aaima.
Della menggeleng tanda tak tau.
"Tamih pahuna Ata' Fafan yan lulusin tamih," jawabnya.
"Sadhi tamuh eundat bunya Mama pama Papa ... suma bunya Ata' Fafan?" tanya Al Bara.
Della mengangguk, Firman memang belum mengerti apa-apa, bayi itu bahkan belum bisa bicara, terlebih Alia yang masih delapan bulan.
"Assalamualaikum!" salam Nai, perempuan yang masih gadis tapi sudah menikah dua minggu lalu itu datang membawa banyak makanan.
"Wa'alaikumusalam sayang," sahut Terra.
Perempuan cantik itu disambut oleh semua anak-anak terlebih apa yang ia bawa. Langit tentu bersama Satrio, kemarin pria itu sedikit ngambek karena ditinggal begitu saja.
"Mas nggak ajak-ajak!" rajuknya.
"Salah sendiri nggak nyusul!" sahut Satrio saat itu.
__ADS_1
"Jadi ibu dari tiga anak malang itu meninggal karena over dosis?" tanya Kanya sedih sambil menatap Della dan Firman. Sedang Alia digendong oleh Remario.
"Kalian jadi anakku saja ya!" pinta pria itu tentu dengan bahasa Inggris.
"Enak saja, mereka sudah jadi anak-anakku, darahku mengalir di darah mereka!" ujar Virgou.
Alia kini dalam rengkuhan pria sejuta pesona itu. Sedang Bariana yang mendengar penyebab kematian ibu dari saudara barunya mendatangi Della dan Firman.
"Wah ... pahu tah, Mamanya Della penindal talna voveltosis woh!" ujarnya memberitahu.
"Popelsosis?" tanya Azha sampai mengerutkan keningnya.
"Woltel Sosis pitutan matanan!" sahut Aisya sok tau.
"Pa'a Mama Della penindal talena matan panyat woltel Sosis?" tanya Aaima.
"Sejat tapan woltel pisa puwat wowan meunindhal Ata'?" tanya El Bara tak percaya.
"Pitu Yuyut pilan bedithu!" ujar Bariana menunjuk Kanya.
"Pa'a tamuh pahu teunapa Pibumu meunindhal Della?" tanya Arraya.
Della menggeleng, bayi cantik dan kurus itu tidak tau ibunya meninggal, ia tau ibunya pergi dan tak pernah pulang lagi begitu menurut yang ia dengar.
"Pidat pa'a-pa'a," sahut Ari menenangkan saudara barunya itu.
"Pamu pasih tuntun talena pasih lada yan lulusin ... watu atuh pitindhal beudithu aja pi belatan delopat!" lanjutnya sedih.
Arimbi langsung mencium Ari. Tentu wanita yang masih gadis itu tau jalan cerita Ari ditemukan.
"Sayang jangan bicara sedih-sedih lagi ya," ujarnya.
"Piya Mbule Limbi!" sahut semua anak.
"Eh ... teunapa eundat panya Mbule Limbi sowal woltel yan pisa peumpunuh banusiya!" ujar Arsyad terilhami.
"Soal apa?" tanya Rimbi bingung.
"Pitu woh Pulet ... Mama Della yan meunindhal talna woltel sosis!" sahut El Bara begitu yakin dengan ucapannya.
Arimbi menganga, ia mencerna lama perkataan bayi yang mestinya dia panggil keponakan itu.
"Wortel sosis ... sejak kapan ada makanan itu?" desisnya bertanya.
Arimbi menatap suaminya yang juga menggeleng tak tau. Semua anak menanti jawabannya.
"Mbulet ... pa'a ipu soselsosis?" tanya Fathiyya tak sabaran.
Bersambung.
Lah ... kenapa jadi nama makanan ya? 🤦
next?
__ADS_1
__ADS_2