SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BERITA DUKA


__ADS_3

Sabtu pagi, hujan mengguyur deras dari tadi malam. Banjir mulai menggenangi beberapa ruas ibukota. Bahkan sekolah meliburkan kegiatan mengajarnya karena banjir yang menggenangi. Begitu juga sekolah Ella dan Adiba serta lima puluh anak angkat Bart.


Kini semua berada di mansion Bart. Gisel ingin dimanja oleh kakeknya itu.


"Grandpa," rengek wanita itu mendusel di dada Bart.


"Ada apa sayang?"


"Mommymu telepon sayang," tiba-tiba Leon datang.


Patricia menangis melihat perut putrinya yang sudah besar. Dari pernikahan sang ibu, Gisel mendapat sepasang adik kembar yang kini seusia Radit. Sekitar enam tahun.


"Sister!" pekik bocah yang mirip sekali dengan sang ibu.


"Hai kids!" sapa Gisel.


Tentu mereka harus mengenal semua saudara mereka. Bahkan dengan anak-anak Meita semua kenal walau tidak akrab.


"Sayang, aku harap itu adalah bayi terakhir milikmu," ujar Patricia khawatir.


"Iya Mom, aku memang sengaja ingin punya anak lagi karena Fathiyya tidak mau dipanggil bayi," sahut Gisel sedih.


Patricia tertawa mendengarnya. Walau mereka jarang berkumpul bersama. Tapi, baik Gisel dan David selalu berhubungan baik dengan ibu mereka.


"Mana Baby Chira dan Baby Aarav?" tanya Patricia antusias.


Dua bayi bermata gelap, membuat wanita itu gemas. Belum lagi bayi-bayi lainnya.


"Kapan-kapan kita berkumpul sayang," pinta wanita bermata biru itu.


'Iya Mommy, suatu saat kita kumpul bersama ya," ujar Gisel.


Sambungan telepon berakhir. Gisel mengembalikan ponsel ayahnya.


"Bagaimana sayang. Apa masih rindu dengan ibumu?" Gisel menggeleng.


'Aku sudah punya ibu juga Daddy," jawabnya lembut.


Najwa di sana harus menurunkan Fael yang sudah bersama dengan pajangan di bufet. Rupanya bayi itu terinspirasi dari kakaknya Arsh.


"Inih ... Ael auh udut sisipu!" pekik bayi tampan itu.


Rupanya bayi mau tujuh bulan itu memaksa bicara. Fael digendongan Najwa, Arsh pun memanjat bufet dan melakukan hal sama dengan adik yang beda tiga bulan saja dengannya itu.


"Inih aypi ... utut mama Alsh!" ajaknya.


"Baby ... jangan di situ sayang!" Terra mengambil bayi montok itu dengan gemas.


Rupanya kelakuan dua bayi itu menjadi pelopor semua bayi menaiki bufet dan ikut menjadi pajangan di sana.


"Babies!' keluh Lastri.


Wanita itu membayangkan dua putrinya akan jadi seperti apa. Tapi kakek dan neneknya malah membiarkan Zaa dan Nisa berulah seperti kakak mereka.


"Mama Alsh au di pasanan!' pinta Arsh pada Terra.


"Nggak boleh Baby, nanti kalau kena kaca bagaimana?" larang Terra.


"Sintilin laja pasanana Mama!" sahut Bariana memberi saran.


Terra cemberut. Kean yang memang iseng memindahkan semua keramik yang menjadi hiasan di sana. Remaja itu meletakan Alia. Bayi itu takut.

__ADS_1


"Hiks ...."


"Baby, jangan bawa Baby kesana!" peringat Herman.


Kean langsung mengambil Alia. Ia meletakkan Gino di sana, balita itu memang sama besar dengan bayi yang berusia satu tahun.


"Ata'!" Gino sedikit takut.


"Harus berani Baby!" ujar Kean.


Lalu bayi lain dibantu naik ke bufet dan duduk di sana. Kean memfoto mereka dan mengunggahnya di laman sosmed miliknya.


"Babies!"


Caption lucu dan langsung dibanjiri komentar. Banyak netizen mengatakan jika perbuatan Kean sangat tidak layak.


"Masa anak disamain kek pajangan. Memang mau dijual apa?" cuitan salah satu netize nyinyir.


"Kean, take down gambarmu!" perintah Gabe kesal.


Kean sedikit cemberut, tapi ia menurut perkataan salah satu pamannya itu. Semua bayi diturunkan. Gomesh mendatangi Virgou dan membisikkan sesuatu.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" seru pria sejuta pesona itu..


"Apa kau yakin dengan berita ini?" tanyanya memastikan.


"Benar Tuan. Apa saya perlu beritahu Tuan Zhein?" tanya Gomesh.


"Sepertinya harus begitu!" sahut Virgou.


Zhein yang sibuk mengawasi para bayi yang baru tiga bulan itu dipanggil oleh Gomesh. Karina sangat yakin akan ada berita tidak baik.


"Jangan bercanda Gomesh!" sahut Zhein nyaris berteriak.


"Nyonya ... ibu dari Gino baru saja meninggal dunia," jawab Gomesh sangat pelan.


Kanya dan Karina menutup mulutnya. Zhein menatap Gomesh tak percaya.


"Nyonya Weni meninggal akibat gagal fungsi hati," lapor Gomesh lagi.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" ujar Zhein.


Bart dan lainnya yang ikut mendengar mendadak sedih. Gino menatap semua orang dewasa. Balita itu seakan tau sesuatu yang buruk sedang terjadi.


"Baby, kemari sayang!" pinta Zhein.


Takut-takut Gino mendekati pria itu. Zhein merengkuh tubuh kecil keponakannya itu.


"Papa," cicit Gino lirih.


"Baby, ibumu sudah tiada Nak ... ibumu sudah tiada," ujar Zhein dengan suara bergetar.


Gino mematung dan mendorong tubuh besar yang memeluknya. Balita itu. Matanya bulat memandang wajah Zhein.


"Mama dudhah menindal?" tanya balita itu lirih.


"Iya sayang, Mama Gino udah meninggal dunia!"


Satu tetes bening menetes di pipi Gino.


"Hiks ... huuuu ... uuuu ... Mama .... Mama ... hiks!"

__ADS_1


Zhein kembali memeluk Gino. Balita itu baru saja menjadi seorang piatu. Semua anak langsung mengerubungi Gino.


"Ata' ... Mama Weni dudhah eundat lada?" tanya Lilo.


Gino hanya mengangguk. Air mata menjadi perwakilan jawabannya. Lilo, Seno, Verra dan Dita langsung murung.


"Mama pita patalan meunindal judha eundat ya?" tanya Verra lirih.


"Pial laja meunindal, pial pita eundat teumbali ladhi pama Mama," celetuk Seno.


"Janan nomon dithu Baby!' peringat Harun.


"Peunel Ata' ... Eno tatut talo Mama peumbuh tewus pita palit pama Mama. Pita piputulin ladhi! Eno eundat pawu!" seru bayi tiga tahun itu.


"Ilo judha eundat mawu palit pama Mama. Talo binta matan Mama balah-palah!" sahut Lilo.


"Matan aza tamuh teulzana! Sali uan syana!" lanjutnya meniru sang ibu yang memarahinya.


Virgou mengepal tangan erat. Pria itu malah bersyukur salah satu perempuan jahat itu meninggal dunia.


"Janan nomon dhitu Ilo!" peringat Della.


"Ella pulu Papan Fafan yan masatin matanan pita," lanjutnya.


"Pita balah eundat teunal Mamak pama Papak," sahut Firman.


"Sebulut papapun ipu wowan lolan puwa pita," sahut Della bijak.


"Atuh nayis pas Papak meunindal," ujar Firman.


"Talian basih beuluntun tawu lolan puwa. Atuh eundat pawu wowan puwa tuh tayat pa'a," celetuk Ari.


Semua orang tua tentu sedih mendengar hal itu. Andoro memeluk Ari. Batita itu menangis pilu dan memancing tangisan bayi lainnya.


Jenazah Weni dimakamkan. Gino menolak menengok wajah sang ibu untuk terakhir kali.


"Kenapa sayang. Dia ibumu. Dia butuh doamu," ujar Jac.


"Pial Papa. Dhino udah lupa wajah Mama tayat pa'a," jawab balita itu.


Jac sedih mendengarnya. Pemakaman dilakukan saat itu juga. Sementara keadaan Sista dan Sania belum juga ada perkembangan yang berarti.


Meninggalnya Weni membuat tuntutan jaksa bertambah. Dari tujuh tahun penjara menjadi dua puluh tahun penjara dipotong masa tahanan.


"Aku kira disanksi hukuman mati!" gerutu Haidar kesal mendengar keputusan hakim perihal penambahan hukuman.


Gino dan semua adik-adiknya dalam pelukan Lidya. Lima bocah beda usia memang masih mengalami trauma.


"Jangan khawatir sayang. Ada Mama Iya di sini!" ujar wanita hamil itu.


"Biya ... janan tuwatil ... Mama Fifiya basti meulinduni pita!" ujar Al Bara menenangkan Gino.


"Kok Fifiya sih?" tanya Lidya bingung.


"Ipu Mama tata Papa Molalio pilan pita nanat Fifiya!" sahut Al Bara.


"Papa!"


bersambung.


Et dah ... nanat fifiya.

__ADS_1


Baby Gi, yang sabar ya sayang.


Next?


__ADS_2