
__ADS_3
Pablo menatap sosok cantik di depannya. Dua tahun sudah ia menunggu dan belajar untuk memperbaiki diri. Netra hijaunya menelisik dalam netra pekat di depannya. Wajah Aisyah merona. Akhirnya perjodohan masa lalunya mendapat sinar terang. Lutfhi menolak poligami dan menentang keras keputusan Husni.
“Jadi apa adinda ingin saya peristri? “ tanya Pablo tegas.
“Iya Mas!” jawab Aisyah tegas.
Dua tahun lamanya mereka menahan semua perasaan. Tidak mudah bagi keduanya menjalani ta’aruf. Banyak sekali guncangan terlebih Husni membuat perkara yang hampir mencoreng nama baik pesantren.
Air mata mengiringi perjalanan cinta keduanya. Bukan hanya Pablo, tetapi juga Fabio juga harus melewati ujian yang tak kalah beratnya.
“Aku hampir menyerah jika saja Allah tidak menegurku dengan keras waktu itu,” ujar Pablo.
“Mas,” cicit Aisyah.
Pablo sangat ingat, ia hampir membunuh Husni. Jiwa mafianya nyaris bangkit jika saja ia tak melihat derai air mata wanita yang ia cintai dan ucapan istighfar yang keluar dari mulut gadis itu.
“Kita menikah kua dulu yuk!” ajak pria itu tak sabaran.
“Mas!”
Pablo tertawa lirih, sungguh kelakuan mereka ditatap ribuan santri yang ada. Mereka senang ibu mereka mendapat kebahagiaannya.
“Alhamdulillah ... setelah badai dua tahun. Kini ada pelangi yang menghiasi,” ujar salah satu Santri.
“Dek Salma ... kau tau aku dan Pablo seperti saudara kembar walau tanpa pertalian darah?” Salma mengangguk.
“Jadi apa Adek bersedia menikah di kua dulu baru pesta besar-besaran?” tawar Fabio lembut.
“Saya mau Mas,” jawab Salma dengan suara bergetar.
Luka sayatan di pipi Fabio menandakan betapa cinta pria itu begitu dalam. Pria itu bertarung layaknya singa ketika Salma hendak diculik oleh paman jauhnya. Sang paman tak rela jika perjodohan dibatalkan secara sepihak.
“Maaf mas ...” Salma terisak melihat luka sayat yang begitu kentara di pipi pria itu.
“Apa kau berubah pikiran setelah melihat aku cacat Salma?”
“Tidak Mas!” jawab gadis itu tegas.
“Aku menyesal karena luka itu karena aku,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Semua santri menangis, tentu mereka ikut dalam kejadian menegangkan itu. Di mana seratus orang memakai pakaian hitam membawa obor hendak membakar tempat di mana mereka menimba ilmu agama.
Tentu saja kejadian itu sangat cepat. Virgou dan pengawal savelived langsung bergerak mencomot dalang kericuhan. Fabio bertarung dengan pria yang mengaku sebagai tunangan masa kecil Salma.
Walau terluka akibat kecurangan yang dilakukan, tetapi pria itu tersungkur tak sadarkan diri setelah dipukul telak oleh Fabio. Salma menangis dan hampir memeluk Fabio jika saja pria itu tidak merentangkan tangannya menghentikan langkah gadisnya.
__ADS_1
“Aku rela bahkan jika nyawa ini melayang untuk membela kebenaran Salma!” tekan Fabio tegas.
Salma mengingat bagaimana ia difitnah sedemikian rupa. Kehadiran Fabio dan Pablo membuat dua ustadzah cantik itu dikatai berzinah karena adanya dua laki-laki dewasa di sana.
Walau akhirnya tak terbukti dan terbantahkan, Salma dan Aisyah dibersihkan namanya oleh dua orang yang mencelakai mereka.
“Baiklah, kami akan membawa ayah untuk melamar kalian berdua. Apa sudah siap?” Salma dan Aisyah mengangguk.
Fabio dan Pablo pulang, mereka sudah hafal delapan juz melebihi ekspetasi dua ustadzah itu. Salma memeluk adiknya, keduanya bertangisan begitu juga para anak santri.
“Terima kasih anak-anakku, terima kasih mau bersama kami di sini. Tanpa kalian kami pasti akan jadi debu,” ujar Salma terharu dengan semua anak-anak yang tetap bersamanya walau bahaya datang dan mengancam jiwa mereka.
Fabio dan Pablo menuju mansion Herman. Hari ini Virgou membebaskan keduanya karena akan khatam al-qur’an. Butuh waktu dua puluh menit mereka semua sampai di sana. Keduanya turun dan masuk setelah memberi salam.
“Fabio, Pablo?” Khasya menyambut mereka setelah memberi salam.
Mansion Herman sedikit sepi, Satrio ditugaskan Virgou bersama Gomesh keluar kota. Dimas berada di kamarnya tengah mengaji bersama Dewa dan Dewi. Dimas berusia sembilan belas tahun sedang duo De sudah berusia delapan belas tahun.
“Masuk dan duduklah,” suruh Khasya.
“Kalian puasa kan?” keduanya mengangguk.
“Inshaallah Bunda,” jawab Pablo menarik dua sudut bibirnya.
“Alhamdulillah kalau begitu. Sebentar lagi semua datang,” kekeh wanita itu.
“Uh ... masyaallah panas banget!” seru Kaila mengipas badannya dengan tangan.
“Hai babies ... apa kalian puasa?” tanya Fabio.
Chira langsung minta pangku pria tampan itu, padahal bekas luka di pipi pria itu sangat kentara, tetapi tak membuat bayi cantik itu takut.
“Apah ... Siya siyum utana ya,” tawar bayi cantik itu langsung mengecup luka Fabio sebelum mendapat jawaban dari pria itu.
Fabio tersenyum, hatinya menghangat. Berada di tengah keluarga atasannya membuat ia memiliki keluarga. Tak lama Herman datang dan duduk bersama para pria. Maghrib sebentar lagi tiba. Waktunya berbuka sebentar lagi.
“Kita bicarakan nanti ya,” ujar Herman.
Fabio dan Pablo mengangguk. Virgou hanya mengikuti pria yang ia junjung itu. Bart sudah lama berdamai jika Herman menjadi orang pertama yang dicari semua pria jika untuk mengatasi masalah mereka.
“Alsh buta buasa don!” pekik bayi itu sudah kehausan.
“Sabar sayang ... sebentar lagi ya ...,” ujar Maria menenangkan bayi galak itu.
Akhirnya adzan berkumandang, Rio yang menyuarakan adzan. Semua anak ribut ingin berbuka. Saf gemas karena mereka sebenarnya sudah berbuka puasa dari tadi.
__ADS_1
"Kalian ini!"
"Alhamdulillah Halun full!' ujar bocah itu tersenyum.
"Kamu hebat sayang!" puji Widya lalu mengecup putra dari kakak iparnya itu.
"Yang puasanya Full Abah belikan sepeda!" janji Darren.
"Holee!" seru semua bayi bersorak.
"Beunel ya Apah!' sahut Lilo menunjuk kelingkingnya.
Darren menautkan kelingkingnya pada kelingking Lilo.
"Abah janji, insyaallah!"
Semua sholat Maghrib berjamaah, kali ini Fabio diminta sebagai imam. Selesai maghrib, mereka makan bersama.
"Jadi kalian hendak melamar dua ustadzah cantik itu?" tanya Remario tak percaya.
"Iya Tuan, kami sudah memintanya dan mereka setuju," jawab Pablo tersenyum.
Hal itu membuat para perusuh langsung berdiskusi. Tentu saja ingin memberikan persembahan yang terbaik.
"Pati pita buasya Ata'!" ujar Fael tak setuju.
Fael dan Angel berpuasa padahal mereka beda keyakinan. Justru dua bayi itu yang lebih kuat puasa dibanding Arsh.
"Sayang ... kan kalian bisa nggak puasa!" ujar Saf gemas.
Wanita itu mengingat bagaimana Domesh dan Bomesh berpuasa nyaris full dibanding Harun yang paling kecil diantara semuanya.
"Pototna Alsh bawu banyi!' tukas bayi tampan itu tak peduli.
"Memang mau nyanyi apa Baby?" tanya Maria tersenyum lebar.
"Ladhu pandut Ommy!' jawab Arsh semangat.
"Tu beunayis ... beunayis tuh talna lindu. Tuh beulduta ... duta tuh talena lindu ...," Arsh langsung menyanyikan lagu dangdut.
"Dimanapun teringat padamu ... dimanapun ada bayanganmu ... di setiap langkah ku ingat wajahmu kekasihku ...." sahut Dewi menyambung lagu itu.
bersambung.
Selamat berbuka puasa Readers. ba bowu 😍
__ADS_1
next?
__ADS_2