
__ADS_3
"Kau itu ..." Foster mencubit pipi Mina gemas. Gadis itu sudah dipindahkan di kamar pasien VIP, Sesuai dengan permintaan Foster. Sebenarnya dokter sudah membolehkan gadis itu pulang karena kondisinya tidak mengkhawatirkan lagi. Tapi Foster masih khawatir Mina tiba-tiba kambuh, jadi ia memutuskan gadis itu menjad pasien di rumah sakit itu semalaman.
"Auww ... Sa .. Sakit kak," rengek gadis itu. Sifat manjanya keluar dengan natural.
"Masih tahu sakit hm? Bagaimana kalau aku tidak pulang hari ini, siapa yang akan tahu jika terjadi sesuatu denganmu? Kau bisa mati mengenaskan." Foster tak berhenti-berhenti mengomeli Mina. Rasa khawatirnya berubah menjadi rasa jengkel. Padahal ia sudah mengingatkan gadis itu jangan makam sembarangan, tapi masih saja dilanggar.
Mina langsung merinding ngeri mendengar kalimat Foster. Mati mengenaskan? Ihh, amit-amit.
"Mulai besok, kau akan makan semua makanan yang aku atur. Paham?" kata Foster lagi. Mau tak mau Mina mengangguk. Biar deh. Daripada laki-laki itu ngomel terus.
"Ya sudah, sudah waktunya kamu tidur." pria itu membantu Mina berbaring dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut rumah sakit.
VIP memang beda. Mina merasa kamar pasien VIP ini empuk sekali, wangi dan sangat bersih. Kalau kamarnya begini sih seminggu pun dia akan betah jadi pasien. Infusnya sudah di buka, jadi ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Tutup matamu, tidurlah. Aku akan menemanimu di sini." gumam Foster masih setia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan gadis itu.
Mina menutup matanya, dalam hati ia merasa bahagia. Ini pertama kalinya ia lihat sifat lain dari kakak iparnya yang ternyata begitu hangat. Memang beberapa kali Foster bersikap lembut padanya, namun malam ini ia benar-benar bisa merasakan ketulusan lelaki ini.
Saat Mina terbangun di pagi hari, ia melihat kakak iparnya ketiduran sambil membenamkan kepalanya di atas perut gadis itu. Pergerakan Mina ikut membuat laki-laki itu membuka mata. Gadis itu merasa kondisinya sudah pulih total.
"Sudah bangun?" Foster merenggangkan tangan kemudian melirik ke arlojinya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan membelikanmu sarapan." katanya.
Mina melihat pria itu keluar dari ruangan tersebut lalu senyum-senyum sendiri. Beruntung sekali jadi laki-laki itu, bangun saja tetap ganteng, tidak perlu malu keluar pagi-pagi begini di tempat umum. Ia baru mau turun dari kasur ketika dokter laki-laki yang kemarin bersama dua perawat muncul dari balik pintu. Gerakan Mina terhenti.
"Pagi dok, suster." sapanya. Mereka membalas sapaannya dengan senyuman ramah. Kemudian sih dokter mendekati Mina dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana, kau sudah merasa baikan?" tanya dokter itu. Mina mengangguk.
"Aku akan memberimu obat lambung sekali lagi. Suster, " dokter itu berbalik ke perawat yang berdiri dibelakangnya, salah satu dari mereka maju dengan baki kecil berisi suntikan. Sih dokter mengambil benda itu dan menyuntik Mina.
"Setelah suamimu mengurus administrasi kau sudah boleh pulang." ucapan tersebut kontan membuat Mina kaget. Suami? Ya ampun, pasti karena pertanyaan kak Foster tentang dia hamil atau tidak, jadinya mereka malah mengira keduanya adalah pasangan suami istri. Mina hanya bisa mengangguk dengan senyuman canggung. Biar deh mereka mengira begitu, lagipula setelah ini ia tidak akan bertemu mereka lagi.
"Kalau begitu, kami keluar." kata dokter itu lagi tersenyum ramah.
Tiga mahluk tersebut berpapasan dengan kak Foster di depan pintu masuk. Mereka berbincang sebentar sebelum mereka lanjut pergi. Di tangan kakak iparnya, ia memegang kantong plastik yang di yakini Mina berisi makanan.
"Aku membelikanmu bubur, makan dulu. Setelah ini kita pulang." gumam Foster. Pria itu kembali duduk di kursi tepi ranjang dan mulai menyuapi Mina. Awalnya Mina sedikit ragu, lama-lama ia menerima suapan Foster. Dia tidak suka bubur, namun mau bagaimana lagi, kebanyakan orang sakit atau yang baru baik sakit makanannya itu.
"Kak Foster nggak ke kantor?" tanyanya kemudian.
"Nanti siang. Aku harus mengurusmu dulu. Kau harus cepat sehat, dengan begitu kita bisa bermain lagi." Foster memandangi Mina sembari tersenyum nakal. Namun Mina belum konek, gadis itu malah kebingungan.
__ADS_1
"Main apa?" ucapan polos itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Permainan yang akan kau suka. Olahraga di atas ranjang," kalimat terakhirnya di ucapkan Foster ditelinga Mina, tak lupa meniup pelan bagian itu, sengaja menggodanya. Wajah Mina merah seketika. Ternyata itu maksud kakak iparnya.
Sudah seminggu lebih Foster dan Mina tidak bertemu langsung, selama itu pula pria itu tidak menjamah tubuh Mina. Miliknya sudah gatal, namun ia berusaha menahan diri karena gadis itu sakit.
"Aku akan mengurus administrasi dulu, setelah itu kita pulang." gumam Foster mengusap pipi Mina lalu keluar lagi.
_____________
"Abang?"
Foster membalikan badan. Seorang wanita cantik berusia dua puluh enam tahun menyapanya dengan semangat dekat bagian administrasi. Namanya Mariam, adik kandung Foster.
"Abang kok di sini? Abang sakit?" Mariam mengamati Foster dan mencari tahu apakah lelaki itu sakit atau tidak, namun ia tidak mendapatkan apa-apa.
"Bukan aku, bagaimana denganmu? Kenapa di sini?" Pria itu balik bertanya.
"Bukan apa-apa, aku hanya menemani temanku saja. Semalam dia baru melahirkan, pacarnya tidak bertanggung jawab dan kabur entah kemana, jadi aku berbaik hati menemaninya. Dia sangat kasian." cerita Mariam membuat Foster merasa kehidupan temannya itu sangat menyedihkan. Dan laki-laki yang menghamilinya betul-betul brengsek.
"Narita Wegu!"
__ADS_1
"Bang, nanti kita ngobrol lagi ya. Aku mau urus keperluan temanku dulu." kata Mariam lalu berjalan meninggalkan Foster. Pria itu melirik sang adik sebentar, mengedikan bahu, lalu pergi dari situ.
__ADS_2