
__ADS_3
Hampir dua minggu Mina di rawat di rumah sakit. Dan hari ini akhirnya ia bisa pulang. Kondisinya sudah pulih total. Hanya saja masih ada lecet sedikit di wajahnya. Sedangkan Dira masih, kondisinya memang sudah jauh lebih baik. Tapi masih harus tinggal beberapa hari lagi di rumah sakit. Gadis itu masih harus rawat jalan.
Mina sudah menemui sahabatnya tersebut. Dira juga adalah salah satu saksi kuat di persidangan Dian. Wanita itu di hukum delapan tahun penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana terhadap Mina dan bayinya. Juga di jerat denda sebesar delapan milyar rupiah dengan kasus penggelapan uang. Foster harus berterimakasih pada Laya karena menemukan kejanggalan di aliran dana yang masuk pada rekening Dian. Ternyata diam-diam wanita itu mencuri uang perusahaannya.
Foster, Mina dan keluarga mereka bisa bernapas lega sekarang. Meski begitu Foster tetap ketat menjaga keamanan istrinya. Mengingat pengalaman yang sudah terjadi sebelumnya. Pria itu pun sudah memutuskan akan kerja dari rumah beberapa bulan ke depan, sampai Mina melahirkan. Ia ingin menemani sang istri. Rapat-rapat penting dikantor, ia serahkan Matthew.
"Pelan-pelan," gumam Foster membantu Mina berbaring di kasur. Mereka sudah berada di rumah tercinta mereka.
"Nggak apa-apa kak Foster, aku udah kuat. Bisa sendiri." ucap Mina. Tatapan Foster menajam.
"Dengerin suami kamu, sweety."
Mina tertawa. Suaminya ini makin hari makin protektif. Tapi Mina bahagia karena Foster yang teramat sangat perhatian padanya. Pokoknya suami idaman deh.
Foster ikut berbaring disamping sang istri. Tangannya mengelus-elus kepala istrinya lembut sambil tersenyum. Pria itu bersyukur karena Tuhan tidak mengambil Mina dan bayi mereka darinya.
"Masih ada yang sakit?" gumam pria itu bertanya. Mina menghadapnya.
"Nggak. Aku udah sepenuhnya sehat. Kak Foster nggak usah khawatir. Aku dan bayi kita sangat sehat sekarang, kan papanya jagain terus."
Foster tertawa pelan. Senang rasanya mengingat dirinya akan segera menjadi ayah. Tangannya lalu memegangi perut Mina yang mulai membuncit dan kepalanya berpindah ke bagian itu.
"Kamu harus tumbuh sehat ya anak papa sama mama." katanya menatap perut istrinya kemudian mengecupnya singkat. Ia menatap Mina lagi penuh cinta.
"Kamu bener-bener udah sehat? Udah kuat?" tanyanya lagi.
"Kak Foster kenapa sih, dari kemaren nanyanya itu terus. Iya aku udah sehat suamiku." lama-lama Mina jadi gemas sendiri.
"Berarti boleh dong?" kali ini Foster tampak semangat, menatapi istrinya dengan wajah berbinar-binar.
"Boleh apaan?"
"Minta jatah."
__ADS_1
Mina melotot. Oh, pantesan dia ditanya sudah sudah sehat dan kuat dari kemarin. Ada maunya ternyata. Mina tidak menjawab, hanya terus menatap suaminya lama.
"Nggak deh, aku belum kuat kalau untuk itu." kata Mina sengaja. Ia mengulum senyum begitu melihat Foster langsung berubah cemberut.
"Udah dua minggu lebih loh aku tahan-tahan, sweety. Memangnya kamu nggak kasian?" tak lama kemudian pria itu berkata manja.
"Bisa ya?" Foster meminta lagi dengan sabar. Biasanya kalau mau dia tidak akan bertanya lebih dulu, malah langsung menyerang dengan buas. Tapi sekarang, mengingat istrinya yang tengah mengandung dan baru saja sembuh, ia memilih menahan diri. Tidak akan sembarangan menyerang istrinya dulu. Itu sebabnya hari ini ia bertanya karena tubuhnya sudah gatal untuk menyatu lagi dengan perempuan tercintanya.
"Mm, ya sudah. Pelan-pelan ya tapi." Mina luluh juga akhirnya. Ia tidak tahan melihat sikap manis suaminya. Kasihan juga kalau tidak di ikuti kemauannya.
Foster tak menunggu waktu lama mendorong pelan tubuh Mina ke kasur lagi begitu mendapatkan lampu hijau. Ia menindih istrinya. Tangannya memainkan seluruh wajahnya.
Mina menutup matanya saat merasakan tangan Foster menyentuh pelipisnya, mata, hidung, bibir dan tertawa pelan saat sang suami mencubit pipinya gemas.
Foster lalu melepaskan pakaian yang menutupi tubuh indahnya dan melucuti pakaian istrinya juga. Kini keduanya sama-sama polos. Foster kembali menindih tubuh Mina. Juniornya yang sudah mengeras menyentuh perut istrinya membuat Mina menahan napas, menahan gairah.
Foster mengecup bibir Mina, wanita itu tersenyum.
"Aku sangat merindukanmu," gumam Foster.
Pria itu mencium bibir istrinya lagi dan Mina menerima ciuman itu. Perlahan sampai akhirnya saling menuntut. Lidah keduanya saling bertaut, saling berbelit dan mengecap.
Bunyi decapan itu terdengar, hingga menambah hasrat bercinta pada keduanya.
Tangan Foster bergerak di seluruh tubuh Mina. Menggapai bukit kembar yang paling dia suka. Mina menggeliat, memberikan reaksi atas sentuhan itu.
"Eungh ..." desis Mina saat mulut Foster menggigit pu t ingnya. Gelap kabut gairah terlihat jelas di matanya.
Foster mengecap, menggigit dengan sangat liar hingga membuat tubuh Mina bergetar, apalagi jarinya sudah menyentuh pusat kenikmatan sang istri. Memainkan titik yang paling sensitif dengan gerakan yang begitu sensual.
"Ouch ... ahhh ..." Mina mend e sah kuat.
Kenikmatan beruntun itu membuatnya hampir meledak. Tapi Foster malah menghentikan dengan sengaja, mengeluarkan jarinya dari liang kenikmatan Mina. Tentu Mina mengerang kesal menatap suaminya.
__ADS_1
"Kamu kesal?" Foster menggodanya.
"Menurut anda?" siapa sih yang tidak kesal kalau sudah dipuncak, sebentar lagi akan keluar tapi tidak jadi.
Foster tertawa. Senang sekali mengerjai istrinya.
"Sabar sweety, kamu akan tetap mendapatkannya. Aku hanya menggodamu tadi."
"Tapi aku kesal kak ahhh ..."
Jari Foster kembali masuk. Gerakannya lebih liar dari tadi.
"Kau ingin yang begini?" Foster mempercepat temponya, Mina mengangguk. Tangan Foster bergerak dengan sangat cepat sampai tubuh Mina dan tempat tidur itu bergoyang-goyang.
"Aaahh ... Arghhh ... sshh ..." akhirnya gelombang kenikmatan itu menggulungnya.
Mata Mina merem-melek, merasakan kedutan dibagian intinya yang begitu menggigit. Dia memandang sayu suaminya, ini terlalu nikmat. Ia masih menikmati orgasme dasyat yang memenuhi tubuhnya namun Foster kembali menghujamnya dengan memasukkan milik pria itu dan bergerak di sana, tidak membiarkan Mina beristirahat.
"Ouch ahhh ... ssshh ..." desis Foster.
"Kau terlalu nikmat, sweety. Mmph ..." erangan pria itu tertahan. Lambat laun hujamannya makin cepat. Keluar masuk dalam lubang yang entah sudah berapa kali ia masuki itu. Ia tidak bisa menghitung jumlahnya karena sudah terlalu banyak.
Namun Foster sama sekali tidak bosan. Malah ingin terus. Tentu karena keduanya menggunakan hati, sama-sama melakukannya karena cinta.
"Ahhh .. ahhh ..." Mina menarik rambut Foster. Pelepasan itu menerjang keduanya. Kepala mereka berkunang-kunang. Foster puas, akhirnya dia bisa melakukan itu lagi dengan istri tercinta.
"Kau sungguh membuatku kehilangan akan sehatku, sweety." gumam pria itu berbisik pelan ditelinga istrinya dengan napas terengah-engah. Mina tersenyum bahagia.
"Kak Foster puas?"
"Belum. Aku ingin lagi."
Pria itu kembali memasukan kejantanannya. Mereka selesai setelah beberapa ronde.
__ADS_1
__ADS_2