
__ADS_3
Di kediaman Foster, semua anggota keluarga Mina langsung mendatangi rumah Foster dan Mina begitu mendengar kabar tentang hilangnya Mina. Mereka panik.
"Bagaimana, sudah dapat kabar dari polisi?" tanya mama Mina. Wanita tua itu masih menangis. Iren terus menenangkannya. Ia juga khawatir sekali, namun berusaha tenang di depan orangtuanya.
Foster?
Pria itu sudah seperti orang linglung sejak tadi. Iren dan Matthew yakin kalau terjadi sesuatu pada Mina, Foster bisa gila. Matthew lah yang paling bisa berpikir normal sekarang ini.
"Sudah saya bilang batalkan semua meeting hari ini! Jangan hubungi saya dulu!"
Papa Iren membentak bawahannya di telpon. Pria tua itu terlihat kesal sekali. Bagaimana tidak kesal coba kalau di situasi begini orang-orang itu terus mengganggunya. Ia tidak tahu di mana keberadaan putri bungsunya sekarang, sudah panik, lebih dibuat stres lagi oleh telpon-telpon itu.
Suasana berubah hening. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kemudian ponsel Foster berbunyi. Tanpa melihat panggilan dari siapa, Foster langsung mengangkatnya.
"Halo,"
"Kakak,"
Itu suara adik perempuannya, Mariam.
"Ada apa Mariam?" nada suara Foster tidak bersemangat. Bukan telpon adiknya yang dia tunggu. Tapi kabar istrinya.
"Sepertinya aku melihat istri kakak bersama teman lama kakak, aku lupa namanya. Ah, yang sekarang kerjanya jadi detektif-detektif itu. Dia baru saja membawa istri kakak masuk ke dalam rumah sakit. Aku tidak mungkin salah lihat kan?"
Mariam sebenarnya memang ingat nama laki-laki itu, dia pura-pura lupa saja di depan Foster. Dulu waktu kakaknya SMP, pria itu sering main ke rumah mereka. Mariam pernah menjadi penggemar berat pria itu diam-diam dulu, masa dia lupa namanya sih. Tapi karena lelaki itu dulu agak nyebelin jadi ia memutuskan tidak menjadi penggemar pria itu lagi.
"Garra? Garra bawa Mina ke rumah sakit?!"
suara keras Foster membuat yang lain berdiri dari duduk mereka.
"Rumah sakit mana?"
"Examin Hospital."
"Dengar Miriam, kau ikut masuk. Aku akan segera ke sana. Tunggu kami di rumah sakit!"
__ADS_1
"Baik."
Lalu panggilan terputus. Foster menatap mertuanya.
"Adikku melihat Mina di bawah ke rumah sakit temanku." ucap Foster. Ia tahu Examin Hospital adalah rumah sakit milik keluarga Garra. Ia tidak tahu bagaimana Mina bisa bersama pria itu, tapi mengingat pekerjaan Garra sebagai detektif, mungkin pria itu kebetulan menemukan istrinya.
"Ya sudah, ayo cepat ke sana!" ujar papa Mina.
_____________
Examin Hospital
Mina sudah mendapatkan perawatan terbaik. Garra sengaja memberikan kamar VVIP untuk kenyamanan perempuan itu.
"Rawat dia baik-baik, kalau ada apa-apa segera hubungi saya."
"Baik tuan Garra." jawab perawat yang bertugas.
Setelah merasa semuanya beres, Garra berbalik keluar. Di depan pintu kamar itu langkahnya terhenti begitu melihat seorang gadis berjalan ke arahnya. Wajahnya tampak familiar dari jauh.
Garra mengernyitkan dahi. Ia ingat wajah itu. Benar, itu Mariam adiknya Foster. Mereka memang belum pernah bertemu lagi setelah bertahun-tahun, tapi Garra masih ingat wajahnya. Tapi kenapa gadis itu di sini?
"Ehem." Mariam berdeham begitu sampai di depan Garra. Gadis itu sedikit gugup. Sudah lama tidak bertemu, laki-laki itu makin mempesona. Tapi sikapnya masih cuek seperti dulu, menyebalkan.
"Emm, kau masih ingat aku?"
Garra menatap gadis itu datar. Ia tertawa dalam hati. Mariam masih seperti dulu, tidak berubah sedikitpun.
"Maaf nona, anda siapa ya?"
Garra pura-pura tidak kenal. Lucu saja melihat gadis ini. Dari kecil ia selalu dibuat tersenyum oleh kelakuannya. Dulu Mariam terkenal gadis nakal yang suka berbuat ulah di sekolah. Kenakalan remaja biasa yang masih wajar dan tapi kadang bikin gemas keluarganya. Entah sekarang masih sama atau tidak, namun di mata Garra gadis itu masih sama. Hanya umur dan badannya saja yang berubah.
Mariam mendengus pelan. Kesal juga karena pria di depannya tidak mengingatnya. Tapi bodoh amatlah, istri kakaknya lebih penting sekarang
"Lupakan saja. Tidak penting juga aku bilang siapa aku. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana perempuan di dalam sana bisa bersamamu?"
__ADS_1
Mariam langsung masuk ke dalam kamar melewati Garra. Pandangannya lurus ke Mina yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang. Matanya membulat penuh. Ia heran saat melihat wajah kakak ipar lebih muda darinya itu penuh luka.
"Kenapa dengannya? Kok tubuhnya bisa luka-luka begini?" Mariam berbalik menatap Garra. Laki-laki itu masuk lagi.
Garra penasaran apa hubungan gadis itu dengan wanita yang baru saja ia selamatkan.
"Kau kenal dia? Aku menemukannya di hutan. Keadaannya sangat parah tadi." ucap Garra.
"HUTAN?!" Mariam berteriak, sontak membuat telinga Garra dan dua suster di dalam kamar itu sakit. Tapi Mariam tidak sadar suara kencangnya mengganggu mereka. Ia lebih peduli dengan keadaan kakak iparnya.
"Kenapa kakak iparku bisa sampai ke hutan? Siapa orang gila yang berani menyakitinya seperti. Astaga, lihat wajah cantiknya jadi rusak. Tapi dia tidak apa-apa kan?" Gadis itu kembali berseru.
Alis Garra terangkat. Kakak ipar? Berarti wanita yang dia selamatkan ini adalah ...
"Wanita itu istri Foster?"
giliran Mariam yang menatapnya sambil menyipitkan mata. Ucapan lelaki itu membuktikan dia masih kenal Mariam. Berarti pria itu hanya berakting di depan tadi. Tuhkan, dasar nyebelin.
"Hm, dia istri kakakku, namanya Mina." ketus gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut. Wajahnya tampak jengkel. Garra ingin tertawa tapi dia tahan. Tidak berbaik tertawa di depan pasien yang sakit. Tapi dunia ini memang kecil. Ia tidak menyangka wanita tidak berdaya yang dia temukan adalah istri dari sahabat lamanya.
Garra ingin bicara lagi namun terhenti sesaat karena seseorang menghubungi Mariam.
"Kak Foster, kakak sudah sampai? Mina di rawat di di bangsal VVIP kamar nomor ..."
Mariam menatap Garra
"Delapan." ucap Garra seolah tahu maksud tatapan Mariam.
"Kamar nomor delapan." Mariam berkata di telpon lagi. Setelah itu pembicaraan mereka terputus.
Gadis itu lalu menatap Garra.
"Kakakku, dia sudah di sini. Tunggu kakakku saja baru kau jelaskan kronologi yang terjadi." ucapnya menjelaskan. Garra mengangguk. Pandangan mereka beralih ke Mina. Wanita itu masih tidak sadarkan diri. Namun keadaannya normal. Hanya terlalu lelah saja. Mariam mendesah berat, kenapa saudari iparnya bisa sampai kena sial begitu ya.
"MINA!"
__ADS_1
Lalu terdengar suara kencang dari luar kamar berlari masuk ke dalam.
__ADS_2