Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 65


__ADS_3

Matthew bermain dengan sangat liar. Lidahnya mendesak masuk dan memainkan bagian itu seperti mengisap ice cream.


"Ahh ..." Iren meremas kuat rambut Matthew, sungguh luar biasa rasanya. Pantas saja Foster dan Iren sampai melakukannya tiap hari. Ternyata memang seenak itu. Apalagi melakukan dengan laki-laki yang sukses membuatnya gugup setengah mati dan jantungnya berdebar-debar kencang. Rasanya lain.


Iren memang sudah biasa bercinta. Tapi malam ini, ia seperti seorang perawan yang merasa tidak berdaya di depan lawan mainnya. Ia tiba-tiba menjadi bodoh, membiarkan Matthew mengambil alih permainan dan mengobrak-abrik bagian intinya dengan cara yang laki-laki itu mau. Dalam hal ini Matthew cukup brutal, tapi dia suka.


"Aahh ... aghh ... Ssshh ..." cairan kental keluar dari dalam tubuh wanita itu dan ditelan habis oleh Matthew. Iren malu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, merasakan sensasi permainan Matthew yang begitu hebatnya, membawanya pada orgasme yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ya. Orgasme kali ini sangat berbeda. Iren berani bilang beda dari sebelum-sebelumnya karena dulu, mantan kekasihnya jarang membuat dia orgasme. Lelaki itu hanya sibuk dengan kenikmatannya sendiri dan jarang membuatnya mendapatkan pelepasan. Bahkan pria itu selalu egois, hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Sampai sekarang Iren masih tidak percaya kenapa ia bisa bersama dengan laki-laki semacam itu. Setelah berpikir berulang kali, ia malah merasa menyesal sudah berpacaran dengan laki-laki macam begitu.


Matthew berdiri dan kembali mengecup bibir Iren. Tangannya bermain di pucuk merah muda yang berbentuk seperti kacang itu. Memelintirnya dengan gerakan sensual.


"Matt ..." Iren menahan tangan Matthew. Ia merasa geli, terlalu geli.


"Kenapa?"


"Istirahat seben ... ahh ..." pria itu sudah mengemut buah dada Iren lagi, memainkan p u ti ng nya dengan lidah, kemudian menyesapnya kuat-kuat. Ia tidak mendengarkan permintaan wanita itu. Satu jarinya menerobos masuk di bawah sana. Iren menatap kaget pria itu, hingga Matthew merasa wanita itu tidak nyaman dan akhirnya berhenti sesaat.


"Kau tidak suka aku memasukan jariku? Ingin berhenti dulu?" ia bertanya dengan lembut dan berhati-hati.


Iren menggeleng. Tidak suka? Astaga itu sangat enak, dia sudah gila kalau merasa tidak suka dan menolak. Tadi ia hanya kaget saja akibat mendapat serangan tiba-tiba dari atas dan bawah. Bukan berarti ia tidak suka.


"Jadi?" Matthew bertanya lagi. Pria ini juga. Iren menatapnya kesal. Masa sih sudah seperti ini lelaki itu masih terpikir untuk berhenti karena merasa menyakiti Iren. Kayaknya laki-laki seperti Matthew ini hanya ada satu persen dari seratus persen laki-laki yang ada di dunia. Memang baik, namun kadang membuat lawan mainnya kesal.


Iren lalu menggapai tangan Matthew dan mengarahkan ke va ginanya.


"Bermainlah sesukamu, buat aku terbang." gumam gadis itu dengan mata sayu. Matthew tersenyum bahagia.


Kali ini dua jarinya langsung masuk mengobok-obok milik Iren. Tangannya yang bebas menggosok-gosok kuat k li toris wanita itu dengan ibu jarinya.


"Ahh ... Ya ya ... A ... Aku mau keluar Matt ... " Iren men de sah kuat, meremas punggung Matthew, Matthew menggerakkan jarinya maju mundur dengan cepat, sampai badan Iren bergoyang-goyang di atas meja.

__ADS_1


"Sshhh ..." untuk kesekian kalinya wanita itu merasakan pelepasannya. Napasnya tersengal-sengal. Matthew puas merasakan cai r an cinta Iren yang keluar memenuhi tangannya. Wanita itu menggelinjang hebat.


"Sekarang kita lanjutkan di kamar." ujar Matthew kemudian menggendong tubuh polos Iren.


"Aku sudah begini, tapi kau masih berpakaian lengkap." ucap Iren dalam perjalanan mereka masuk kamar. Ia merasa keberatan. Matthew tertawa pelan.


"Memangnya kau sangat ingin lihat aku telan jang?" godanya. Iren berdecih.


"Aku sudah pernah lihat lelaki telanjang. Bukannya sama saja?"


"Beda. Kau akan lebih menyukai tubuhku." kata Matthew dengan percaya dirinya. Iren tertawa.


"Kau sangat percaya diri. Memangnya punyamu sebesar apa?" tanpa sadar Iren meremehkan Matthew. Bukan sengaja, ia tahu milik pria itu memang besar karena ia pernah memegang dan memainkannya. Tapi memang belum keluar semua waktu itu dari dalam celananya, dan waktu itu dia sedang mabuk jadi tidak melihat baik-baik.


Matthew membuangnya ke kasur begitu mereka sampai dikamar.


"Matt?" Iren kaget. Matthew tertawa.


Ia membuang kemeja ke sembarang tempat. Lalu menurunkan celananya.


Kini pria itu berdiri polos dihadapan Iren, tanpa sehelai benangpun. Iren menelan ludah. Tubuh Matthew sangat bagus. Itu bukti dari pria itu yang selalu menjaga tubuhnya dengan rajin berolahraga. Dan ....


Mata Iren jatuh ke benda panjang yang sudah berdiri tegak di depannya. Jelaslah benda itu jauh lebih besar dibandingkan dengan punya mantan kekasihnya.


"Bagaimana, kau puas?" tanpa sadar Iren menganggukkan kepala. Lagi-lagi Matthew tertawa. Jelas sekali dimatanya wanita itu canggung, mungkin juga kaget melihat ukurannya yang menyerupai buah mentimun tersebut. Matthew melangkah mendekati tempat tidur.


"Kau mau bermain di sini sebentar?" tawarnya. Ia masih ingat sentuhan Iren waktu itu, dan ia ingin hari ini wanita itu memanjakan miliknya lagi, karena waktu itu tidak sempat keterusan akibat kebodohannya sendiri.


Iren maju ke ujung kasur. Dengan perlahan tapi pasti tangannya menggapai milik Matthew.


"Eumph ..." pria itu mengerang. Tangan Iren mulai bergerak naik turun. Semakin lama semakin cepat hingga Matthew mau gila rasanya.

__ADS_1


"Yes ..."


"Ahhh ..."


Matthew membuka mulutnya lebar-lebar begitu Iren mengganti tangan dengan mulutnya. Rasanya berlipat-lipat kali lebih enak. Wanita itu sangat pandai membuatnya merasa ingin terbang. Ia menggapai rambut Iren, menekan kuat kepalanya agar miliknya makin masuk ke dalam mulutn Iren dan ...


"Ohhh ..." Matthew mengerang kuat begitu merasakan pelepasan pertamanya.


Pria itu kembali mendorong Iren hingga terlentang di tempat tidur dan menindih tubuhnya.


"Kau siap?"


Ketika Iren mengangguk, Matthew langsung mengarahkan miliknya ke lubang Iren dan mulai masuk dengan perlahan di sana. Iren meremas punggung pria itu. Milik Matthew sangat besar jadi ia masih harus membiasakan diri. Begitu milik Matthew masuk semuanya ke dalamnya, Iren memekik kecil. Ia merasa sesak dan penuh.


"Ahh ..."


"Kau masih sangat sempit, sayang ..." ucap Matthew parau. Ia tahu Iren memang tidak perawan lagi, tapi ia tidak peduli. Karena perasaannya sungguh tulus, karena ia sangat menyukai kepribadian Iren yang mandiri, dewasa dan sangat keibuan. Ia suka semuanya dari wanita itu.


"Aku akan mulai bergerak." lalu pinggul pria itu bergerak mengikuti irama. Awalnya lembut, makin lama makin kasar, suara-suara khas orang bercinta memenuhi ruangan itu.


"Matt ... Aku ... Aku ..."


"Keluar sama-sama ..."


"Ohh ... mmmph ..." Iren merasakan cairan Matthew memenuhi rahimnya. Mereka orgasme bersama. Keringat memenuhi seluruh badan mereka. Matthew bahagia, amat bahagia karena akhirnya bisa memiliki wanita yang selama ini hanya bisa ia mimpikan.


"Aku mencintaimu." gumam lelaki itu mengecup singkat kening Iren. Detik itu juga Iren terpaku. Seperti ada milyaran kupu-kupu di perutnya yang membuatnya merasa bahagia.


Iren sadar,


Pengakuan Matthew membuatnya bahagia. Sepertinya dia juga memiliki rasa yang sama pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2