Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 63


__ADS_3

Kira-kira lima belas menit kemudian mobil Foster sampai di rumah orangtua Mina. Mereka janjian ketemu di rumah saja karena lebih privat. Mama Mina dan papanya sudah setia menunggu di ruang tamu.


Begitu Mina dan lelaki itu muncul, mereka langsung direcoki dengan belasan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang terus-terusan membuat kepala Mina penuh. Mereka diomeli, di nasehati dan masih banyak lagi. Tapi Mina tentu hanya diam mendengar, kan mereka memang sudah salah dari awal. Kak Foster apalagi. Siapa suruh mau main-main dengannya.


"Jadi sekarang kita tinggal bikin pesta pernikahan? Mama pengen pestanya meriah. Mama pengen orang-orang tahu Foster dan Mina adalah suami istri yang sah." mamanya Mina bersuara setelah mengomel panjang lebar. Biar bagaimanapun Mina adalah putri kesayangannya. Dia ingin para putrinya memiliki pernikahan yang meriah. Waktu Iren kan hanya nikah kontrak, jadi tidak sah dan hanya di hadiri keluarga. Sekarang orang-orang harus tahu.


"Tapi nggak usah undang banyak orang ma, aku malu." ucap Mina.


"Kenapa harus malu? Kamu malah harus senang sayang,"


"Besok kita ke butik buat fitting baju pengantin. Minggu depan pesta pernikahannya diadakan." putus mama Mina langsung.


"Foster," wanita tua itu melirik Foster.


"Iya tante?"


"Kamu hubungin orangtua kamu nanti,"


"Baik tante."


"Ya sudah begitu saja. Papa dan mama harus balik ke kantor lagi." kata papa Mina sambil melirik jam tangannya.


"Foster, kamu jagain Mina baik-baik ya. Kasih dia makanan yang bergisi. Dia masih hamil muda, jadi harus perhatikan kesehatannya baik-baik. Jangan sampai kecapean juga." Foster mengangguk lagi ke mama sang istri.


Lalu pasangan suami istri tua itu beranjak pergi. Meninggalkan sih pasangan baru.


Foster menarik Mina hingga kepalanya bersandar di dada bidang pria itu. Lega rasanya karena wanita itu kini resmi menjadi istrinya. Memang pernikahan mereka terkesan aneh dan tidak biasa. Tapi tidak apa-apa, karena Foster amat mencintai perempuan yang dia nikahi ini.


"Kamu lega juga nggak?" gumam Foster mengelus-elus punggung Mina.

__ADS_1


"Lega kenapa?"


"Karena kita sudah menikah. Karena orangtua kita sudah tahu. Walau harus diomeli panjang lebar dulu, tapi mereka setuju dengan pernikahan ini." Mina tertawa kecil, kemudian mengangguk. Benar sih.


Kalau di ingat-ingat, ia memang sudah memulai hubungan aneh dengan laki-laki yang awalnya ia tahu berstatus sebagai kakak ipar, dan akhirnya kini menjadi suaminya. Ia juga tengah mengandung anak mereka sekarang.


Sampai sini hubungan mereka baik-baik saja, Mina bahagia. Apalagi kak Foster selalu memanjakannya. Ia berharap akan terus seperti ini. Walau nanti akan ada pertengkaran yang biasa terjadi dalam kehidupan berumah tangga, tapi ia berharap hubungan mereka akan bertahan sampai selamanya, sampai maut memisahkan. Ia berharap cinta dihati mereka makin kuat.


"Kak Foster,"


"Mm?"


"Malam ini tidur di sini aja ya?"


"Terserah kamu."


"Kan tadi kamu baru makan, kok minta di masakin sih? Aku belum pernah masak Mina, nggak pernah sentuh alat-alat masak. Kalau kamu mau makan nanti aku beliin saja ya?" tawarnya. Mina menggeleng.


"Aku pengen makan masakan kak Foster, titik." Foster melotot lebar, perempuan ini kenapa sih. Kok tiba-tiba memintanya begini? Ngidam? Tapi sekarang masih terlalu cepat dia ngidam. Dia kan baru hamil bulan pertama.


"Tapi aku nggak bisa masak sweety," Foster tidak bisa membayangkan bagaimana rasa makanannya nanti kalau dia benar-benar masak. Ketika ia menatap mata Mina, wanita itu balas menatapnya dengan wajah puppy eyes, jelaslah dia gemas. Tidak tega jadinya menolak permintaan perempuan yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut. Tapi dia lelaki itu benar-benar tidak bisa masak. Bagaimana dong?


"Pleasee ..." lagi-lagi Mina menampilkan puppy eyes-nya ke Foster. Oh ya ampun, kenapa istrinya bisa seimut ini sih.


"Kamu beneran mau makan makanan aku?" 


Mina mengangguk. Foster memutar otak. Oh iya, Matthew! Ia menyerukan nama lelaki itu dalam hati. Matthew jago memasak. Minta bantuannya saja.


"Ya udah, kalo gitu kamu tunggu dikamar ya, aku coba masakin sesuatu buat kamu." gumam Foster.

__ADS_1


"Caranya? Aku tahu loh yang mana makanan restoran sama yang bikin sendiri." Mina menatap pria itu dengan mata menyipit. Foster terkekeh, lalu mencubit pipinya gemas.


"Iya-iya istriku. Suamimu ini akan berusaha belajar masak sendiri demi istri tercintanya ini." katanya penuh cinta.


"Tapi caranya gimana? Kak Foster kan nggak bisa masak tadi kakak bilang."


"Udah tunggu aja sana. Banyak cara kok. Suami kamu ini sangat pintar. Cepat masuk kamar sana." lelaki mendorong pelan Mina hingga wanita itu mau tak mau berjalan menuju kamarnya.


"Aku nggak bisa liat ya? Bantuin kupasin bumbu gitu?" Mina menoleh kebelakang sebentar, memberi Foster tawaran.


"Nggak. Nanti makanannya nggak jadi-jadi kalo kamu dekat-dekat. Bisa aku yang makan kamu nanti." goda Foster.


"Ya udah aku tunggu di kamar aja." sambung Mina lalu dengan langkah  cepat ia melanjutkan perjalanan ke kamarnya.


Foster tertawa gemas. Sesaat kemudian ia menelpon Matthew untuk meminta tutorial memasak.


                                  ***


Di apartemennya, Matthew masih tak habis-habis heran dan menggeleng-geleng kepala sekaligus tertawa lucu. Ia baru habis memberikan tutorial masak pada Foster lewat video call. Lucu sekali. Ini pertama kalinya Foster menelponnya hanya untuk meminta dia ngajarin tutorial masak, demi istri   tercinta yang ingin makan masakannya.


Matthew masih tidak menyangka Foster akan menurut sekali pada Mina. Mina sungguh merubah seorang laki-laki sedingin Foster. Matthew akan cerita ke Iren nanti.


Ngomong-ngomong kemana wanita itu? Sekarang sudah hampir jam delapan malam. Matthew sudah tidak tahan melihatnya. Ia tidak tahan menyentuh setiap inci dari tubuh indah Iren.


Matthew tersenyum, akhirnya. Setelah bertahun-tahun menyukai wanita itu diam-diam, hari ini datang juga. Mungkin ia akan seperti Foster nanti. Bucin pada Iren, kakak kandung dari istrinya Foster. Memikirkan Foster yang akhirnya bisa menikahi wanita yang dia cintai, Matthew pun jadi ingin cepat-cepat menikahi Iren. Tapi ia tahu, walau Iren mulai membuka diri padanya, belum tentu wanita sudah menerimanya. Apalagi menikah.


Pria itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Sesaat kemudian ia mendengar langkah seseorang berhenti di depan pintu apartemennya. Matthew tersenyum dan melangkah perlahan ke pintu depan.


                                   

__ADS_1


__ADS_2