
__ADS_3
Pagi-pagi sekali keluarga Mina kembali ke rumah sakit. Mereka melihat Mina sudah sadar. Mamanya langsung menghambur memeluknya, Iren juga.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga." kata mamanya.
"Mama, kak Iren." Mina menangis. Bahagia sekali ia masih bisa melihat mereka lagi. Foster berdiri disamping ayah mertuanya, membiarkan Mina melepas rindu dengan mama dan kakaknya.
"Bagaimana penyelidikan dari detektif kepolisian teman kamu itu? Mereka sudah menangkap pelakunya?" tanya papa Mina dengan suara pelan namun nada bicaranya tegas dan sangat berwibawa.
"Aku dengar mereka telah menangkap dua orang laki-laki. Ada satu wanita lagi yang mereka sekap. Kemungkinan itu adalah teman Mina. Mina cerita padaku semalam kalau ia diculik bersama temannya. Tapi pelaku aslinya adalah Dian, salah satu karyawan dikantorku. Sekarang masih dalam pencarian." jawab Foster. Lelaki tua disampingnya itu memiringkan kepala menatapnya.
"Karyawan kantormu?"
"Mm, maafkan aku. Aku yang bersalah, tidak cepat mengetahui niat jahatnya. Aku tidak berpikir dia akan sampai senekat ini." Foster menunduk bersalah.
"Sudahlah, jangan salahkan dirimu sekarang. Percuma. Lebih baik cepat temukan dia dan berikan hukuman yang seberat-beratnya. Jerat dia dengan pasal penculikan dan pembunuhan berencana. Papa tidak mau manusia yang kelakuannya seperti binatang itu hidup tenang setelah menyakiti putri kesayangan papa seperti itu." Kata lelaki tua itu. Foster mengangguk. Setelah itu ayah mertuanya mendekati Mina. Mina sudah jauh lebih ceria dan tambah terhibur lagi karena semua keluarganya begitu perhatian. Ia juga dengar, keluarga Foster akan datang membesuknya nanti.
Walau sekujur tubuhnya masih terasa sakit, tapi Mina seolah melupakan rasa sakitnya karena bahagia mengetahui semua orang menyayanginya. Suaminya apalagi. Kak Foster tidak pernah beranjak dari sisinya sampai sekarang.
"Kamu mau makan apa? Bilang ke mama."
"Nanti setelah kamu sembuh, kakak ajak kamu liburan.
"Papa juga mau dong. Liburan ke mana?"
"Ya udah kita liburan bareng aja semua."
Foster ikut tersenyum. Merasa lega karena istrinya dibanjiri kasih sayang. Beberapa saat kemudian, anak buahnya menelpon. Ia sudah menunggu dari semalam. Ingin mendengar kabar baik. Karena Foster sudah tidak tahan lagi memberi pembalasan ke perempuan gila itu.
__ADS_1
"Halo, bagaimana? Dia sudah bangun? Baiklah. Tunggu aku di sana. Awasi dia baik-baik." kata Foster lalu menutup telpon.
Ia memandang ke istrinya yang masih berbincang-bincang dengan keluarganya. Foster lalu mendekat.
"Sweety," panggilnya. Mina dan yang lain sama-sama menoleh.
"Aku harus balik mandi dan ganti baju sebentar, kamu sama kakak dan mama kamu dulu ya. Sebentar aja." katanya meminta ijin.
"Ah benar, aku baru sadar dari kemarin penampilanmu sudah begini. Pantas ketampananmu sedikit berkurang." timpal Iren sengaja meledek. Itu karena dari kemarin Foster sangat tegang dan panik. Mereka semua memang panik, tapi pria itulah yang paling panik di antara mereka. Iren tahu itu.
"Iren, jangan ngomong gitu ih sama ipar kamu. Masih ganteng kok mantu mama." Iren hanya tertawa pelan. Apalagi melihat ekspresi Foster yang menatapnya dengan raut wajah jengkel.
"Foster pergi aja. Mina biar mama sama Iren yang temenin sampai kamu kembali." kata sang mama. Foster mengangguk kemudian menatap Mina lagi. Ia sebenarnya ingin mengecup kening Mina sebelum pergi tapi tidak leluasa karena ibu mertuanya dan Iren sangat melekat pada sang istri. Akhirnya Foster membatalkan niatnya.
"Aku pergi dulu." katanya menatap ke satu titik. Tentu saja ke istrinya. Mina menganggukkan kepala.
"Pa, ma, Iren, aku pergi dulu." Pria itu tak lupa pamitan ke yang lain juga setelah itu berbalik pergi.
Tak butuh satu jam Foster sampai di tempat anak buahnya menyekap Dian. Lelaki itu berjalan penuh amarah. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengetat. Yang terpancar di wajahnya hanyalah kemarahan yang menghujam dirinya. Emosi yang berapi-api untuk menyiksa wanita yang sudah menyakiti istri tercintanya.
Begitu memasuki gedung tua itu, Foster langsung menatap tajam wanita yang sedang duduk terikat di kursi. Rahangnya kembali mengeras, pria itu melangkah perlahan mendekati Dian. Wanita itu menelan ludah, wajahnya memancarkan ketakutan sempurna.
Suara geraman Foster yang tertahan sanggup membuat Dian merasa ketakutan setengah mati.
"Kenapa kau melakukannya? Apa salahnya, apa salah istriku?" suara rendah Foster terdengar amat menakutkan ditelinga Dian.
"KAU MENYIKSA ISTRIKU, KATAKAN APA SALAHNYA, BRENGSEK!"
__ADS_1
Karena tak tahan menahan emosinya, Foster berteriak. Teriakannya memenuhi seluruh penjuru gudang. Anak buahnya pun sampai terkejut dibuatnya. Mereka belum pernah lihat bos mereka semarah ini.
"Bos, kami menemukan video ini ketika memeriksa ponselnya." kata salah seorang anak buah Foster. Lelaki itu menyerahkan ponsel Dian,
Foster membuka video berdurasi sekitar empat puluh menit yang menampakan dirinya dan Mina yang sedang bergulat panas di atas ranjang. Anak buahnya menjauh. Mereka secara tidak sengaja sudah ikut menonton video percintaan bos mereka dengan sang istri, tentu saja mereka was-was takut kalau-kalau mereka akan ikut kena amukan sih bos, walau tidak sengaja menonton.
Hening sesaat. Lalu terdengar tawa keras Foster.
BRAKKK!!!
Sesudah itu Foster melempar kuat ponsel Dian hingga hancur berkeping-keping. Foster kembali menatap Dian dengan tatapan membunuh. Wajah Dian pun sudah sangat syok akibat rasa takutnya. Ia takut Foster akan menyakitinya, ya pria itu pasti akan membalaskan dendam sang istri.
"Fo ... Foster, aku minta maaf. Aku khilaf, aku tidak sadar kenapa aku melakukannya. Mungkin waktu itu aku sedang kerasukan, maafkan aku Foster, maafkan aku. Tolong jangan apa-apakan aku, pleasee ..." ucap Dian memohon.
Namun percuma. Foster sudah berada di ambang kebencian terhadap wanita ini. Ia membungkuk dan meraih rahang Dian, menekannya kuat sampai Dian meringis kesakitan.
"Cctv di kapal itu adalah ulahmu, kau juga sengaja menculik dan menyiksa istriku, sengaja membuat Mina meminum obat penggugur kandungan untuk membunuh bayi kami. Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"
Dian menelan ludah. Foster menatapnya dengan wajah penuh kebencian. Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Katakan, bagaimana caramu memukuli istriku."
"BICARALAH SIALAN!" dengan kasar Foster mendorong kursi Dian hingga terbalik ke lantai? Wanita itu meringis kesakitan. Foster memberi kode ke anak buahnya dengan tatapannya. Mereka langsung mengerti dan mengangkat kursi sekalian dengan orangnya.
Foster sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah ketakutan Dian.
"Kau kesakitan? Tapi ini belum seberapa dari rasa sakit yang di alami oleh istriku. Rasa sakit yang sebenarnya harusnya seperti ini."
__ADS_1
Lalu dengan sekali sentak Foster membuka ikatan Dian dan menarik kasar tubuh wanita itu, membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai seperti orang kesetanan. Bahkan Dian tidak mampu lagi untuk sekedar bicara. Darah segar keluar dari kepalanya. Dia oleng sebentar tapi tidak pingsan. Foster tidak berhenti di situ saja, pria itu sudah hilang akal sehat ketika melihat Dian. Lalu ia mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya dan menancapkannya dengan kuat ke paha Dian. Membuat wanita itu makin tersiksa.
"Aahhhh ...." wanita itu berteriak kesakitan. Rasa sakit luar biasa ia rasakan di kepala dan bagian kakinya. Ia tidak menyangka seorang Foster bisa sekejam ini.
__ADS_2