
__ADS_3
Sorenya, ketika Mina tertidur, Foster keluar. Pria itu menemui detektif kenalannya. Ia tentu tidak lupa pada penjahat sialan yang sengaja menaruh cctv tersembunyi untuk merekam mereka. Bagaimanapun caranya Foster akan berusaha menemukan sih pelaku.
"Kau bisa melacak orangnya?" tanya Foster pada lelaki berambut kecoklatan di depannya. Rahangnya tegas dan tampak berwibawa. Namanya Garra Raslan. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Foster. Mereka sebaya. Dulu satu SMA tapi terpisah ketika lulus. Masing-masing mengambil jalannya sendiri-sendiri demi cita-cita.
Gara melihat video yang diberikan Foster dengan saksama. Wajahnya sangat serius.
"Bisa, tapi aku membutuhkan waktu."
kata pria itu kemudian.
"Berapa lama?
"Paling cepat sebulan. Tapi kalau lama, bisa lebih dari tiga bulan."
Foster berkacak pinggang seraya berpikir. Satu bulan saja menurutnya sudah lama, apalagi tiga bulan. Tapi Garra adalah salah satu detektif terbaik negeri ini. Kalau dia cari yang lain, jawaban mereka mungkin sama.
"Apa beberapa minggu terakhir kau pernah menyinggung seseorang?" tanya Garra. Foster menggeleng.
"Bagaimana dengan istrimu?"
Foster kembali berpikir. Lalu ia teringat Dian. Tapi rasanya tidak mungkin wanita itu sampai melakukan hal senekat ini. Foster masih ragu.
"Ada seseorang yang tidak menyukainya. Tapi aku tidak yakin ini perbuatan wanita itu. Aku sudah mencari tahu, hari itu wanita tersebut terus berada dikantor, dan selalu menghabiskan waktu dengan mamaku."
"Maksudmu Dian?" Garra menebak-nebak. Ia juga kenal Dian. Mereka pernah SMP bersama. Terus terang Garra sendiri tidak terlalu menyukai wanita itu karena Dian terkenal ratu bully di sekolah dulu.
"Mm." Foster mengangguk.
"Karena pelakunya belum ketahuan dan kita tidak tahu apa motif-nya yang sebenarnya, aku sarankan kau dan istrimu berhati-hati. Sekarang ini, akan lebih baik menjaga keamanan kalian."
Foster setuju.
"Aku sudah mempekerjakan beberapa pengawal di rumah. Mereka akan terus mengawasi istriku." ujarnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Kau tahu aku pandai bela diri sejak muda kan?" Garra tertawa. Lelaki itu memang tidak pernah berubah. Dari dulu selalu percaya diri.
__ADS_1
"Oh ya, aku dengar istrimu masih kuliah. Aku pikir kau menyukai wanita dewasa yang setara denganmu." seingat Garra, Foster memang menyukai wanita yang dewasa. Ia jadi penasaran seperti apa perempuan yang bisa menaklukkan seorang pria dingin seperti Foster.
"Kau tidak akan pernah tahu siapa jodohmu. Bisa saja kau memiliki wanita impian, menentukan tipe seperti apa yang kau inginkan, tapi saat kau menemukan orang yang benar-benar membuatmu jatuh hati, kau akan melupakan semua kriteria yang kau tentukan itu. Percayalah."
Garra tertawa pelan. Benar sih. Tidak ada yang pernah tahu seperti apa jodoh kita nanti.
"Jadi, kenapa tidak datang ke pernikahanku? Setahuku undanganku sudah sampai ditanganmu." Foster bertanya.
"Maaf, hari itu ada kasus penting yang harus kutangani jadi tidak bisa menyempatkan diri hadir. Kapan-kapan aku akan bertamu ke rumahmu, sekalian melihat seperti apa wanita pilihanmu itu." balas Garra. Ia memang harus mencari waktu, penasaran sekali dia ingin melihat istri Foster.
"Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu waktumu lagi. Aku pulang dulu. Jangan lupa hubungi aku kalau kau berhasil melacak orangnya." Foster lalu beranjak pamit dari kantor Garra.
Beberapa bawahan Garra yang perempuan memandangi Foster dengan tatapan memuja.
"Dia yang pebisnis itu kan? Aku tidak percaya akan melihatnya di sini."
"Ternyata dia dan atasan kita saling kenal."
Garra mendengar mereka bergosip dari dalam ruangannya. Suara orang-orang itu cukup kencang jadi bisa sampai ke telinganya. Pria itu hanya menggeleng-geleng. Dasar tukang gosip.
***
"Kemana istriku?" ia bertanya pada salah satu pelayan di dapur.
"Tadi di jemput nona Iren tuan, katanya mau mengajak nyonya makan malam."
mendengar jawaban pelayan itu, barulah Foster bernapas lega. Ternyata bersama Iren. Ia pikir ke mana. Di culik atau apa.
"Bagaimana dengan makan malam ini tuan?" tanya pelayan itu kemudian.
"Kalian makan saja." ujar Foster lalu berbalik pergi. Tentu para pelayan yang bertugas di dapur tersebut langsung bersorak senang.
Foster melangkah keluar rumah sambil menelpon Iren. Pria itu berjalan menuju garasi. Begitu telponnya di angkat, ia langsung bicara.
"Mina bersamamu?"
"Ya. Aku membawanya makan di restoran kesukaan kami."
__ADS_1
"Kirimkan alamatnya padaku. Aku akan ke sana sekarang juga.
Tiiitt ...
Lalu panggilan terputus. Iren memandangi ponselnya dengan ekspresi aneh, lalu menatap Mina.
"Suami kamu itu sedikit gila. Baru sejam aja kamu nggak di rumah sudah dia cari. Posesif sekali." kata Iren. Mina tertawa. Memang kak Foster selalu begitu akhir-akhir ini, apalagi kalau dia tiba-tiba hilang tanpa memberinya kabar.
"Lupakan kak Foster. Lanjutkan cerita kakak, jadi kakak sudah berpacaran dengan kak Matthew?" Mina bertanya dengan antusias.
"Menurut kamu gimana? Apa kami cocok?"
"Cocok sekali." sang adik mengangguk kuat. "Kak Matthew orangnya baik, humoris, bertanggung jawab, sudah begitu gantengnya nggak ada duanya lagi. Dan udah suka kakak dari lama." lanjut Mina. Iren menatap adiknya dengan mata menyipit.
"Kamu tahu dari kapan?"
"Beberapa minggu lalu. Kak Foster yang cerita."
Oh. Ternyata Foster tahu juga. Iren saja yang terlalu bodoh.
"Kakak yakin kalau suami kamu dengar kamu puji Matthew kayak tadi, dia bakal cemburu berat. Kamu tahu kan dia posesif banget sama kamu." ucapnya sambil tertawa. Mina ikutan tertawa.
"Mina," suara itu sontak membuat Iren dan Mina melirik ke orang yang kini berdiri dekat mereka.
Paul ...
Iren menatap lelaki itu, lalu menatap Mina. Mina tampak sedikit canggung melihat lelaki yang memanggilnya.
"Paul," gumam Mina. Ia ingat terakhir kali ia bicara dengan laki-laki itu di tempat yang sama. Restoran ini. Lelaki itu sedikit kurus. Tidak begitu bersemangat. Seperti ada banyak pikiran.
"Aku dengar kau sudah menikah?"
Mina tersenyum, mengangguk. Ia memang tidak sempat mengundang pria itu. Sebulan terakhir ini dia juga jarang sekali ke kampus, jadi mereka belum pernah bertemu lagi.
"Selamat atas pernikahanmu."
"Terimakasih.
__ADS_1
"Oh ya, aku masih ada urusan. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama, aku harap kau bahagia dengan keluarga barumu. Aku pergi dulu." ucap Paul lagi. Ia menatap ke arah Iren sebentar lalu berbalik pergi. Mina masih menatap seniornya tersebut dengan tampang penasaran. Kenapa dengan pria itu? Apa dia lagi ada masalah? Dan ... apa maksudnya perkataannya tadi? pria itu akan pergi?
"Aku tidak suka kamu menatap pria lain seperti itu loh, istriku." lalu suara Foster menyadarkan Mina. Ia menatap Mina dengan tampang cemburu, mengundang tawa Iren. Mina sendiri hanya menyengir lebar.
__ADS_2