
__ADS_3
Para petugas di kantor polisi terheran-heran melihat kondisi Dian. Wajah wanita itu pun sudah tidak jelas lagi akibat dipenuhi luka-luka. Pandangan mereka berpindah-pindah dari Garra ke Mariam, dan ke perempuan yang sudah tak berbentuk itu lagi.
Mariam sedikit menjauh dari Dian, ngeri berdiri di dekat wanita tersebut karena tampangnya yang sudah sangat mengerikan. Tak lama kemudian petugas medis di penjara tersebut datang mengambil alih Dian.
"Dia sih pelaku penculikan itu?" tanya Aldo rekan kerja Garra yang kebetulan ada di situ juga. Garra mengangguk.
"Terus siapa yang memukulinya sampai seperti itu?" tanya Aldo lagi. Beberapa rekan kerja mereka sudah kembali ke tempat masing-masing, mengerjakan tugas mereka.
"Kakakku." Mariam yang menyahut mewakili Garra. Aldo menatapnya.
"Kakakmu? Kau siapa?"
"Adik dari kakakku." sahut Mariam tidak jelas. Sikapnya sangat amat santai, walau ia tahu yang bicara di depannya sekarang mungkin adalah detektif sama kayak Garra. Ya tidak mungkin cleaning service kan?
"Siapa kakakmu?"
"Orang yang membuat wanita tadi babak belur." Aldo membuang napas kasar. Jengkel dia lama-lama bicara dengan perempuan tidak jelas di depannya ini.
"Maksudku siapa namamu!" katanya ketus. Mariam malah tertawa. Ia kadang suka membuat orang lain kesal kalau responnya lucu seperti pria yang berdiri di depannya.
"Ohhh, namaku ..."
"Dia Mariam, adik teman lamaku." potong Garra lalu memiringkan kepala menatap gadis itu.
"Jangan main-main lagi. Ini kantor polisi, bukan tempatmu main-main anak nakal. Pulang sana." ucap pria itu menyentil dahi Mariam pelan lalu berjalan memasuki ruangannya yang terpisah dari orang-orang itu. Aldo sampai heran seorang Garra yang jarang berinteraksi dengan lawan jenis bahkan sesama rekan kerjanya yang perempuan, malah memperlakukan gadis asing itu berbeda dari perlakuannya ke lawan jenis. Aldo bisa melihat seperti ada ketertarikan dari seorang Garra terhadap gadis bernama Mariam ini.
Gadis itu sendiri, bukannya mendengar perkataan Garra, malah mengikuti lelaki itu memasuki ruangannya. Aldo sempat menahan dan melarangnya tapi Mariam tetap bersikeras masuk. Dan disinilah dia sekarang, duduk manis di kursi depan meja kerja Garra.
Lelaki itu duduk dihadapannya. Matanya sibuk di depan komputer. Pasti ingin membuat laporan penangkapan Dian, menurut Mariam. Mariam duduk diam dengan kedua tangan menopang dagu dan pandangan yang terus tertuju ke Garra. Mengamati keseluruhan wajah pria itu.
"Gaya rambutnya, mata, hidung, bibir, rahang, garis wajahnya, semuanya adalah tipeku. Perfect." gumamnya, pandangannya tak lepas sedikitpun dari lelaki yang duduk di hadapannya. Tentu Garra bisa dengar. Lelaki itu dibuat tidak fokus. Ia menghentikan pekerjaannya sebentar dan menatap balik Mariam.
"Bukankah sudah kubilang pergi. Kenapa masih di sini?" Garra menatap Mariam lekat.
__ADS_1
"Aku ingin melihatmu. Aku baru sadar makin tua kamu makin tampan. Kau punya pacar?" balas Mariam blak-blakan.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena kalau kau belum ada pacar, aku ingin mendaftar jadi pacarmu. Bagaimana?"
Garra terdiam sebentar, lalu tergelak.
"Kau bukan tipeku. Pergilah, jangan menggangguku." katanya kemudian. Mendengar itu Mariam langsung berdiri sambil berkacak pinggang di depan pria itu.
"Kenapa? Aku cukup tinggi, langsing, cantik, imut, baik, lucu, ramah, kaya dan masih perawan. Memangnya tipemu seperti apa?" Garra melongo, tercengang mendengar kata-kata gadis itu. Suara Mariam cukup keras. Untung tidak kedengaran sampai diluar. Kalau tidak, Garralah yang akan merasa malu bukan main.
Dari dulu Garra tahu Mariam bukanlah sosok perempuan pendiam dan kalem yang gampang diatur. Gadis itu adalah sosok blak-blakan, ceroboh dan hobi membuat onar. Tapi kalau bicara jujur, Garra memang lebih menyukai tipe yang seperti Mariam ini. Ia sengaja bilang Mariam bukan tipenya karena saat ini dirinya memang belum ada keinginan berpacaran.
Apalagi mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama. Mereka harus saling kenal lebih dekat dulu. Karena kalau sudah pacaran, Garra pasti akan berpikir serius sampai tahap selanjutnya. Tidak mau main-main lagi. Kalau melihat sikap Mariam, gadis itu memang hanya sekedar mau main-main dengannya. Tidak, Garra tidak mau yang seperti itu. Meski ia tidak mengelak pernah menyukai gadis itu dulu. Ya, seperti Mariam yang pernah mengagumi pria itu diam-diam, Garra pun pernah diam-diam menyukai gadis itu.
"Katakan seperti apa tipemu?" tuntut Mariam lagi.
"Tidak mau, sebelum kau bilang seperti apa tipemu, titik!"
"Mariam, jangan main-main lagi. Pulanglah."
"Aku tidak main-main. Aku memang ingin kau jadi pacarku."
"Aku tidak ingin pacaran sekarang." bukannya sedih, mata Mariam justru berbinar-binar.
"Artinya kau tidak ada pacar? Aku masih punya kesempatan dong?!"
Garra menghembuskan napas, gadis ini benar-benar. Ia lalu berdiri dari kursi dan menarik lengan Mariam menuju pintu keluar.
"Aldo!" ia memanggil Aldo. Tangannya terus memegang lengan Mariam. Sedang Mariam terus menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya dengan senyum-senyum senang. Beberapa petugas di situ sampai menatapnya aneh.
"Iya bos?" Tak hitung lama Aldo sudah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
"Antarkan gadis ini pulang."
"Aku? Bos tapi ..." Aldo keberatan. Ia sudah terlanjur jengkel pada Mariam.
"Antarkan saja." kata Garra tegas lalu pandangannya turun ke Mariam.
"Dia yang akan mengantarmu. Pekerjaanku masih banyak." ucapnya.
"Oh ya, apa kau tahu kira-kira berapa lama Dian di hukum?" Mariam bertanya.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Aku takut kalau hukumannya ringan, ia akan kembali bertingkah pada saat dia bebas. Aku tidak mau dia mengganggu keluargaku lagi. Kira-kira kau bisa di sogok agar bisa menghukumnya seumur hidup dalam penjara tidak? Kalau bisa aku akan bilang pada kakakku agar langsung membayar biaya sogokan."
"Puffft ..." Aldo tertawa. Astaga, berani-beraninya gadis ini menyogok petugas kepolisian terang-terangan. Detektif besar seperti Garra lagi.
Sementara Garra langsung menoyor kepala Mariam hingga gadis itu menatapnya jengkel.
"Aduh, jangan bikin calon pacarmu kesal dong." jengkel Mariam. Aldo sampai tercengang. Baru sekarang ia menemukan perempuan aneh ini.
"Jangan berpikiran macam-macam. Tunggu sidang dan terima keputusan hakim. Aldo, antarkan dia pulang sekarang."
"Baik. Ayo."
Mariam manyum, tapi hanya sepersekian detik gadis itu tersenyum lagi.
"Bye-bye, calon pacar." serunya kemudian mengikuti langkah Aldo yang sudah berjalan lebih dulu.
Garra menggeleng-geleng lalu tersenyum. Dasar Mariam. Sudah lama pria itu hidup dalam ketenangan, dan gadis konyol itu tiba-tiba hadir lagi dalam hidupnya. Namun bukannya terusik, Garra terlihat menikmati. Mariam sosok gadis yang ceria, bisa menghidupkan suasana. Apalagi kalau berhadapan dengan seorang Garra yang sangat serius.
Calon pacar?
Garra tak berhenti-berhenti tersenyum mengingat kata-kata itu.
__ADS_1
__ADS_2