My Disable Husband

My Disable Husband
Bab 13


__ADS_3

Malam menjelang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Suara guyuran air hujan yang turun sejak sore kini makin deras terdengar. Hawa dingin menusuk tulang. Suara angin yang menerpa dedaunan juga menambah horor suasana di malam ini.


Di dalam kamar tak terlalu luas milik sepasang pengantin baru itu, laki laki berjambang tipis yang berprofesi sebagai seorang pengajar itu kini nampak sibuk di dalam kamarnya. Mengecek beberapa tugas dari anak didiknya yang akan ia bagikan besok pagi.



Ceklek...


Pintu kamar terbuka. Wanita cantik dengan sweater hitam dan hotpants hitam itu masuk ke dalam kamar tersebut sambil membawa secangkir coklat hangat di tangannya.



Dewa tak menoleh. Wanita itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu mendekati jendela yang terbuka di sana dan menutupnya. Malam ini benar benar dingin. Angin berhembus sangat kencang. Cocok buat tidur lebih cepat.


Zee dengan luka di kaki dan pipi yang sudah membaik itu kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Diraihnya cangkir berisi coklat hangat itu. Zee memegangnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa hangat dari permukaan cangkir itu seolah menyebar ke tangannya dan tubuhnya.


Ia kemudian menatap ke arah sang suami yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Dewa," ucap Zee.


"Hmm..." Jawab laki lak itu tanpa menoleh.

__ADS_1


"Hari ini kita gantian, ya. Lo tidur di luar," Ucap Zee meminta "Badan gue sakit semua, anjir. Tiap hari tidur di sofa mulu!"


Dewa tak menjawab. Ia masih sibuk dengan kertas kertas di atas meja itu.


Zee menyeruput coklat panasnya.


"Dewa! Lo denger gue nggak sih?" Tanya Zee lagi.


Dewangga menghentikan pergerakannya. Pria yang kini nampak mengenakan kacamata lensa bening itu menoleh ke arah sang istri yang begitu cerewet.


"Tidurlah!" Titah laki laki itu singkat.


"Boleh, nih?!" Tanya Zee.


Zee mengulum senyum. Dewangga menyetujui permintaannya. Tanpa buang buang waktu, Zee lantas kembali menyeruput minumannya hingga habis. Akhirnya ia bisa tidur di ranjang juga. Dia pasti akan sangat nyenyak menyelami mimpi mimpinya yang indah di malam ini. Mana lagi hujan lebat, pula. Ah, enaknya!! Batin Zee.


Secangkir coklat panas habis tak bersisa. Zee meraih sebuah headset di atas nakas. Mencolokkannya di salah satu lubang ponselnya lalu mengenakan dua kepalanya di telinga.


Zee menarik selimutnya. Ia kemudian memposisikan tubuhnya miring menghadap tembok, membelakangi Dewangga yang masih sibuk di meja kerjanya. Zee mulai memutar musik dari ponsel miliknya. Ia pun mulai memejamkan matanya, bersiap untuk tidur dengan nyenyak malam ini.


.......

__ADS_1


23:45 tengah malam.


Dewangga melepas kacamata beningnya. Pria itu menggeliat, menarik tubuhnya ke belakang, meregangkan otot otot punggung nya yang terasa kaku. Meja di hadapannya sudah rapi. Pekerjaannya sudah selesai. Kini ia harus bergegas tidur, agar besok bisa bangun pagi untuk pergi bekerja.


Dewangga meraih tongkatnya, lalu bangkit dari posisi duduknya dan mendekati ranjangnya. Laki laki itu kemudian diam saat sudah sampai di samping tempat tidur luas itu. Dilihatnya disana, istri kecilnya nampak terlelap dengan posisi tubuh terlentang. Satu ranjang dipenuhi tubuhnya. Kedua tangannya terbuka, begitu juga kakinya. Guling berada di atasnya. Ponsel disampingnya menyala dengan headset yang sudah terlepas dari telinga.


Dewa berdecih sambil tertawa kaku melihat pose gadis muda itu. Ia juga nampak menggelengkan kepalanya. Diamatinya tubuh molek itu. Paha mulus nan putih itu terekspos dengan sangat jelas. Perut rata itu juga sedikit terlihat akibat sweater yang tersingkap.


Dewa mengangkat satu sudut bibirnya. Ia kemudian menyandarkan tongkatnya di samping nakas. Ia duduk tepi ranjang itu, lalu melepaskan kaos putihnya. Ia memang terbiasa tidur tanpa baju.


Dewa meraih ponsel milik Zee yang masih menyala itu beserta headsetnya lalu meletakkannya di atas nakas. Dewa mengangkat kakinya naik ke ranjang. Zee Zee menggeliat dalam tidurnya. Mengubah posisinya yang semula terlentang kini menjadi miring menghadap ke arah Dewa, sedangkan matanya masih terpejam.


Dewa diam dan tenang. Tak ada reaksi tersenyum atau apapun. Ia kemudian meraih selimut, menariknya dan menggunakannya untuk menutupi tubuhnya dan sang istri. Dewangga kemudian memposisikan tubuhnya tidur di samping Zee Zee dengan kedua tangan yang dilipat dibelakang kepala sebagai bantal. Laki laki itu kemudian memejamkan matanya. Bersiap untuk beristirahat di malam hari ini. Namun tiba tiba....


"Emmgghh..." Zee Zee menggeliat. Wanita itu kembali meringsut. Udara malam ini memang sangat dingin. Mungkin Zee juga merasakannya. Gadis itu meringsut mendekatkan tubuhnya pada sang suami seolah mencari kehangatan. Kini Zee nampak meringkuk, bersembunyi di bawah ketiak suaminya. Matanya masih terpejam. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya yang sedikit menganga. Wanita itu tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.


Dewa mengangkat satu sudut bibirnya.


"Kau kedinginan, istriku sayang?" Ucapnya.


Ia kemudian mengubah posisi tubuhnya menjadi miring menghadap sang istri. Ditariknya lagi selimut itu makin naik hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya dan Zee Zee hingga hanya menampakkan kepala mereka. Dewa kemudian menggerakkan tangannya, memeluk tubuh sintal wanita itu dengan hangat, lalu mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Malam pun berlanjut. Dilewati oleh sepasang suami istri yang untuk pertama kalinya tidur seranjang meskipun tidak melakukan aktivitas lebih.


__ADS_2