
__ADS_3
Siang menjelang sore. Saat jam menunjukkan pukul dua siang. Laki laki tampan itu turun dari mobil kawannya dengan bantuan tongkatnya.
"Thanks ya, Bro!" Ucap Dewa pada Akbar.
"Sip!" Jawab pria berusia tiga puluh enam tahun yang berprofesi sebagai sebagai guru matematika itu.
Akbar pun berlalu pergi. Dewa lantas mengayunkan kakinya mendekati pintu rumah yang terlihat sepi itu. Laki laki itu diam sejenak. Ia kemudian menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan, menoleh ke belakang. Mini Cooper milik Zee sudah tidak ada di halaman. Apakah mobil itu sudah diambil oleh mertuanya? Atau Zee sedang keluar dengan mobil itu? Pikir Dewangga.
Laki laki itu menghela nafas panjang. Ia kemudian kembali berbalik badan. Membuka pintu yang tak terkunci itu lalu masuk ke dalam rumah.
Lagi, Dewa diam. Diamatinya ruangan itu. Laki laki berjambang tipis itu kemudian berjalan mendekati meja ruang tamu. Ia menggerakkan tangannya, menyapu permukaan meja rendah itu dengan satu jarinya. Berdebu. Apa rumah ini tidak dibersihkan sejak pagi? Pikir Dewangga.
Dewa kembali mengayunkan kakinya dengan bantuan tongkatnya menuju dapur rumah tersebut. Piring piring kotor bekas sarapan masih berada di tempat yang sama. Belum tersentuh.
Dewa menghela nafas panjang. Gini amat punya istri bocah ingusan. Harusnya ketika ia sudah menikah, ia bisa pulang kerja langsung beristirahat di rumah yang bersih dan nyaman. Bukankah itu hal yang diharapkan tiap laki laki setiap kali merasa lelah sepulang dari mencari nafkah? Lah ini? Jangankan beristirahat. Melihat rumahnya berantakan saja ia sudah panas duluan!
Dewa kembali menarik nafas panjang. Ia harus banyak banyak sabar menghadapi istri kecilnya yang seolah tak henti henti menguji kesabarannya itu. Laki laki itu kemudian mengayunkan kakinya lagi dibantu tongkatnya. Ia berjalan menuju satu satunya kamar yang berada di rumah tersebut.
Ceklek...
Pintu terbuka. Dilihatnya disana, wanita muda itu nampak tiduran dalam posisi tengkurap di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Suara sesenggukan sisa tangisan wanita itu sesekali terdengar dari sana.
Dewa diam. Rupanya Zee masih berada di rumah. Itu artinya mobil milik Zee sudah di bawa pulang oleh Tuan Danu. Sepertinya istri kecilnya itu baru saja menangisi mobil kesayangannya. Dasar bocah! Pikir Dewa.
Dewa berjalan mendekati ranjang. Emosinya sedikit mereda dengan sendirinya kala melihat sang istri menangis. Laki-laki itu kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, tepat di samping Zee masih asyik menggeser geser layar ponselnya sambil sesenggukan. Laki laki itu melepaskan kancing kemeja di ujung lengannya, kemudian menggulungnya hingga ke siku.
__ADS_1
"Apa yang kau tangisi?" Tanya Dewa tanpa menoleh.
Zee tak menjawab. Ia seolah pura pura tuli.
Dewa menoleh, diam. Ia kemudian menggerakkan tangannya lagi membuka kancing kancing kemejanya.
"Kau menangisi mobilmu?" Tanya Dewa.
Zee melirik sekilas ke arah Dewa dengan sorot mata sinis, kemudian kembali asyik dengan ponselnya.
"Ayolah, Zee. Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Kita sudah berumah tangga sekarang. Sudah kubilang, kalaupun pernikahan ini terjadi tanpa ada cinta diantara kita, setidaknya jadikan rasa cintamu kepada ayahmu sebagai landasan dasar pernikahan kita," ucap Dewa.
Zee menoleh. Wajahnya nampak kesal.
"Dan gue harus ngorbanin kebahagiaan gue sendiri untuk itu?!" Tanya Zee.
Zee tak menjawab.
"Begini saja, kita buat perjanjian. Kita jalani pernikahan ini selama tiga bulan. Kita berperan selayaknya suami dan istri. Kamu melakukan tugas kamu sebagai seorang istri, dan aku melakukan tugasku sebagai seorang suami. Kita berperan seperti selayaknya pasangan pada umumnya. Jika dalam waktu tiga bulan kau tidak bahagia, maka aku akan melepaskanmu," ucap Dewa.
Zee diam.
"Jujur, Zee. Usiaku sudah sangat matang, aku tidak ingin bermain main dengan pernikahan ini meskipun sebenarnya aku juga tidak begitu tertarik denganmu. Jika kau merasa terbebani, aku tidak bisa memaksamu. Tapi setidaknya, aku minta, bisalah untuk mencoba sedikit berusaha. Berusaha menjalani kehidupan rumah tangga ini bersamaku sebentar saja. Jika memang setelah tiga bulan kita bersama kau masih belum bisa menerima pernikahan ini, maka aku tidak akan menahanmu lagi," ucap Dewa.
Zee masih tak bergerak.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Dewa.
Zee Zee mendongak.
"Deal?" Tanya Dewa kini sembari mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
"Tapi gue nggak mau disentuh!" Ucap Zee.
Dewa tersenyum simpul. "Aku tidak akan memaksamu jika memang kau tidak mau," ucapnya.
Zee diam lagi. Sepersekian detik kemudian, wanita itu nampak mengangguk.
"Oke! Gue setuju!" Ucap Zee Zee menyambut uluran tangan pria itu.
Dewa tersenyum. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya yang sudah terlepas dari Zee itu dan hendak mengacak acak lembut pucuk kepala wanita tersebut, namun Zee Zee nampak mengelak tanpa berucap sepatah katapun. Dewa mengurungkan niatnya, lalu menarik kembali tangan itu.
Dewa meletakkan kemeja yang sudah terlepas dari badannya itu di atas ranjang.
"Kau mau makan apa? Biar ku pesankan," ucap Dewa.
Zee diam. "Gue mau spaghetti, lo punya duit?" Tanyanya kemudian.
Dewa berdecih.
"Aku tidak semiskin itu, bodoh!" Ucapnya. "Aku akan pesankan makanan untukmu. Sekarang aku mau ke dapur dulu," ucap pria itu yang kemudian bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari kamar itu dalam kondisi bertelanjang dada.
__ADS_1
Zee Zee hanya diam menatap punggung kokoh dengan goresan tato yang tak sedikit itu. Entah mengapa, kini seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya setelah mendengar ucapan Dewa yang menjanjikan akan melepaskannya jika setelah tiga bulan Zee masih belum bisa menerima pernikahan ini. Kalau dipikir pikir, Dewa ini baik sekali. Entah benar benar sabar, sok sabar, atau bodoh. Laki laki itu masih bisa diam dan tenang menghadapi Zee sang pemberontak.
...----------------...
__ADS_2