
__ADS_3
20:00
"Silahkan, Kakak. Selamat menikmati!" Suara itu mengalah dengan merdu dan ramah dari mulut seorang pelayan Cafe di sana. Zee Zee nampak berbinar. Ia tersenyum melihat meja yang dipenuhi dengan berbagai makanan lezat itu.
Ya, sejak sore Zee Zee dan Dewangga menghabiskan waktu bersama setelah berbelanja berbagai kebutuhan dapur dan rumah tangga tadi. Pria dengan salah satu kaki yang berfungsi dengan normal itu kemudian mengajak Zee Zee untuk singgah ke bioskop sejenak guna menonton film favorit Zee Zee. Setelah puas, rupanya Dewa juga tak langsung mengajak istrinya pulang. Laki laki itu kemudian mengajak sang istri untuk singgah di sebuah cafe dan makan malam disana sebelum pulang ke rumah.
Entahlah, hari ini Dewa baik. Setelah beberapa hari sempat membuat Zee jengkel dengan berbagai tuntutan dan peraturan yang ia buat, hari ini Dewa sedikit memanjakan Zee Zee sejak sore sampai malam ini.
Dewangga menatap tenang ke arah sang istri. Senyuman simpul khas dirinya terbentuk melihat Zee yang nampak begitu berbinar sejak tadi.
"Kau suka?" Tanya Dewangga. Zee yang kini nampak memasukkan makanan ke dalam mulutnya itu nampak tersenyum simpul, mengangkat satu alisnya pertanda mengiyakan ucapan suaminya.
"Tumben lo baik ama gue?” tanya Zee Zee.
Dewa mengangkat satu sudut bibirnya. "Aku memang tidak sejahat yang kau pikir, Zee. Aku hanya berusaha merubah kebiasaan burukmu dan membimbingmu menjadi wanita yang lebih dewasa. Dan aku akan selalu memberikan apresiasi untuk semua usahamu," ucap Dewa.
Zee diam. Ia menatap sang suami sambil mengunyah makanannya. Laki laki itu nampak tersenyum samar dan tenang.
"Kenapa? Kau mulai menyukaiku?" Tanya Dewa.
Zee berdecih sambil mengangkat satu sudut bibirnya. Senyuman nakal terbentuk dari bibir Dewa.
"Segera habiskan makananmu. Setelah ini kita pulang. Ini sudah malam, kau besok harus kuliah," ucap Dewangga.
Zee hanya mengangguk. Sepasang suami istri itupun lantas melanjutkan santap malam mereka di sebuah cafe di kota itu. Ditemani lantunan lagu yang mengalun merdu dari para penyanyi cafe di sana.
Tak berselang lama, sepasang suami istri itu selesai dengan santap malam mereka. Keduanya lantas bergegas meninggalkan tempat itu untuk segera pulang ke rumah diantar supir keluarga Tuan Adiawan, ayah Dewangga.
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan antara sepasang suami istri itu. Baik Dewangga maupun Zee Zee, semua hanya diam tanpa melakukan perbincangan. Dewa yang sejak tadi bersikap tenang itu sesekali melirik ke arah sang istri secara diam diam. Wanita itu sejak tadi tak bersuara. Hanya diam menatap ke luar jendela tanpa berucap sepatah katapun.
Lima belas menit perjalanan, mobil pun sampai di sebuah rumah sederhana kediaman Dewangga dan sang istri saat hujan kembali membasahi bumi. Sang supir turun dari kursi kemudinya. Membukakan pintu untuk putra majikannya, lalu membantu sepasang suami istri itu untuk membawa barang barang belanjaan mereka ke dalam rumah.
"Semua sudah saya taruh di meja makan, Tuan," ucap sang supir.
Dewangga tersenyum. "Makasih, Pak."
"Sama sama, Tuan. Kalau begitu, saya pamit dulu. Mari..."
Dewangga pun mengangguk. Sang supir berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Seperginya sang supir.
"Kunci pintunya. Setelah itu bantu aku memasukkan barang barang belanjaan kita ke kulkas!" Titah Dewangga.
"Oke!" Jawab Zee singkat.
__ADS_1
Wanita itupun menuruti perintah suaminya. Ia kemudian berjalan menuju dapur rumah itu setelah mengunci pintu utama rumah tak bertingkat tersebut.
Zee mendekati Dewangga yang berada di depan kulkas dapur itu. Wanita itu diam mengamankan lemari pendingin yang nampak penuh sesak dengan berbagai sayuran, buah, dan bahan bahan pokok itu.
"Dewa..." Ucap Zee.
"Hmm..." Jawab Dewangga.
"Ini kulkas masih penuh. Katanya tadi abis?!" Tanya Zee.
Dewa menoleh. "Aku bilang yang habis beberapa, bukan semuanya. Lagipula kau tahu apa soal ini?" Tanya Dewa sembari kembali memasukkan beberapa kaleng sarden ke dalam sebuah lemari di atas meja dapur.
"Masukkan sayurannya. Agar kita bisa cepat istirahat!" Titah Dewangga.
"Iya, iya! Bawel! Lagian lu nggak bosen apa tiap hari makannya sayuur mulu! Udah kek kambing lo!" Gerutu Zee.
"Kalau kau tidak bisa diam, kau yang ku imat dan ku masukkan ke dalam kulkas!" Ucap Dewa kemudian.
Zee berdecih.
Sepasang suami istri itupun kembali sibuk dengan aktivitas mereka. Tak berselang lama, keduanya pun selesai memasukkan semua barang belanjaan mereka ke dalam tempat masing masing.
"Sudah selesai. Sekarang saatnya tidur," ucap Dewangga.
Zee tak menjawab. Ia berjalan terlebih dahulu menuju kamarnya di ikuti Dewangga di belakangnya.
Zee menoleh.
"Lo ngapain disini?" Tanya Zee Zee.
Dewa tak langsung menjawab. Menatap datar ke arah istrinya. "Tidur, lah? Menurutmu?"
Zee menipiskan bibirnya. "Dewa, dari sore lo udah baik ama gue. Bisa nggak kalau baik itu jangan tanggung tanggung? Sekarang giliran lo tidur di luar, biar gue tidur disini. Di luar ujan, Dewa. Dingin! Lo nggak kasihan apa lihat gue kedinginan di sofa?!" Tanya Zee sedikit protes.
"Yang memintamu tidur di sofa siapa?" Tanya Dewa. Zee diam.
"Aku tidak akan tidur di tempat lain selain ranjang ini." Tambah pria itu sambil menatap sang istri dengan sorot matanya yang khas.
Zee berdecak kesal. Dengan cepat ia meraih selimut dan bantalnya lalu bangkit dari ranjang, bersiap untuk tidur di ruang televisi seperti biasanya.
Dewa hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah sang istri. Zee Zee pun melangkah mendekati pintu kamar. Namun saat hendak keluar, tiba tiba....
.
.
__ADS_1
Duuuaaarrrr.....!!
"Aaanjjj.....!!" Zee terjingkat. Ia reflek mengumpat. Petir menyambar dengan suara menggelegar. Wanita itu kaget sekaget-kagetnya.
Dewa yang melihat reaksi sang istri hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Masih mau tidur di luar?" Tanya Dewa.
Zee diam. Ia menoleh ke arah sang suami. Jujur saja, sebagai seorang wanita manja ia memang takut dengan suara petir.
Zee nampak bingung di depan pintu kamar. Sedangkan suara petir yang tak begitu kencang masih terdengar saling bersahutan.
Dewa mengulum senyum kemenangan. Ia memposisikan tubuhnya di atas ranjang dengan punggung tersandar di sandaran tempat tidur. Dilipatnya kedua tangan bertato itu di depan dada sambil menatap Zee dengan sorot mata khas seorang Dewangga.
Zee menarik nafas panjang. Dengan terpaksa ia kemudian menutup pintu kamar itu. Dewa mengangkat dagunya tanpa melepaskan senyumannya. Wanita itu mendekati ranjang. Berdiri tepat di samping suaminya.
Alih alih naik ke atas ranjang, Zee justru memilih untuk menggelar selimutnya di atas lantai kamar, tepat di samping ranjang dan menggunakan selimut itu untuk alas tidurnya.
Dewa berdecih sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau bodoh sekali? Dikasih tempat nyaman untuk tidur malah memilih tidur di lantai," ucap Dewa.
Zee tak menjawab. Ia memilih meringkuk membelakangi ranjang besar itu. Dewangga kemudian memposisikan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimutnya. Suasana mulai hening. Zee mencoba untuk memejamkan matanya di tengah hawa dingin yang menyeruak lantaran tak ada selimut yang menutupi tubuhnya. Satu satunya selimut sudah ia gunakan sebagai alas tidur.
Tik... Tik... Tik...
Suara jarum jam terdengar sangat jelas. Berbaur dengan suara gemericik air langit yang mengguyur bumi.
Sepuluh menit sudah berlalu. Zee Zee belum bisa tidur. Matanya tak bisa terpejam. Tempatnya berbaring sangat tidak nyaman.
Lagian salah sendiri sih, Zee. Udah ada ranjang empuk, selimut tebal, bantal guling, dan boneka gede bertato, eh...malah milih tidur di lantai🙈
Wanita itu berdecak kesal. Ia kemudian mengubah posisinya yang semula miring menjadi terlentang. Namun...
Deeeghh....
Zee mematung. Kepala Dewa melongok dari ranjang, berada tepat di atas kepalanya. Sorot mata keduanya bertemu. Laki laki itu tersenyum ke arah wanita cantik tersebut.
"Selamat malam, Sayang. Kalau kedinginan naik aja. Kamu akan selalu punya tempat yang nyaman selama bersamaku. Tinggal kamu aja. Mau atau enggak," ucap laki laki itu.
Dewa tersenyum. Ia kemudian menarik kepalanya. Mengubah posisi tidurnya, merebahkan tubuh itu di atas ranjang lalu mulai memejamkan matanya.
Zee diam tak bergerak. Wanita itu nampak berdecih sambil samar samar mengulum senyum malu mendengar ucapan laki laki itu.
__ADS_1
__ADS_2