My Disable Husband

My Disable Husband
Bab 17


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Masih di dalam area kampus tempat di mana Zee Hayfa Zeira menuntut ilmu. Wanita cantik itu nampak keluar dari kantin kampus tempatnya belajar. Dengan sebuah tas ransel di pundak, Zee nampak memainkan ponselnya, mencoba menghubungi Nadira yang hari ini tak masuk. Entah kemana dia, sejak pagi tidak ada kabar.


Zee berdecak kesal. Sebenarnya mata kuliahnya sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Tapi ia begitu malas untuk pulang. Untuk kembali ke rumah membosankan itu dan bertemu dengan suaminya yang banyak mengatur itu. Ditambah lagi tak ada kendaraan yang bisa ia tumpangi. Bagaimana caranya ia pulang. Ia malas memesan taksi online dan harus menunggu lama. Emang susah kan, kalau nggak ada kendaraan?!


Zee melangkahkan kakinya menapaki koridor kampus seorang diri. Berniat untuk mencari Angga dan meminta tolong untuk diantar pulang. Angga pasti mau. Dia kan pacar kesayangan Zee, pikir wanita itu.


Wanita muda itupun mengayunkan kakinya dengan pasti menapaki koridor kampus. Namun tiba tiba...


Zee menghentikan langkahnya. Dilihatnya disana, sekumpulan pemuda nampak asyik berbincang di sebuah bangku. Empat orang pria dan satu orang wanita nampak asyik tertawa bersama sama. Tangan si wanita bahkan dengan berani merangkul pundak salah seorang pria yang terlihat paling tampan diantara yang lainnya itu.


Ya, itu adalah anak anak Great Mates. Angga, Shaka, Dave, Rio, dan Kimmy. Hanya Leo sang drummer yang tak berada di tempat itu. Entah kemana perginya.


Zee nampak menatap kesal ke arah sekumpulan pemuda itu. Dengan wajah tak bersahabat, istri dari Dewangga itu nampak mendekati anak anak Great Mates.


"Angga!" Ucap Zee tanpa senyuman. Kedatangan wanita bersuami itu pun sontak menghentikan tawa dan candaan para anak muda tersebut. Kelima anggota Great Mates yang rupanya sama sama menuntut ilmu di kampus yang sama itu menoleh ke arah Zee Zee. Kimmy bahkan nampak memutar bola matanya, seolah tak begitu suka dengan kedatangan wanita berkulit putih itu.


"Baby...." Ucap Angga.


Zee melirik ke arah Kimmy dengan tatapan mata judesnya. Si vokalis baru itu bahkan tak mau menjauhkan tangannya dari pundak Angga. Padahal jelas jelas ada Zee sang kekasih di situ.


"Angga, anterin aku pulang, yuk!" Ucap Zee.


Angga diam. Ia perlahan menegakkan posisi duduknya sambil menoleh ke arah rekan rekannya. Kimmy mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"Aku nggak ada barengan pulang. Dira nggak masuk!" Ucap Zee.


Angga menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. Laki laki itu kemudian bangkit, mendekati sang kekasih lalu tersenyum. Tangannya kemudian tergerak menyentuh pundak Zee Zee yang kini diam menatap paras tampan itu.


"Baby, sorryyy banget. Aku nggak bisa nganterin kamu pulang hari ini. Aku harus latihan sama anak anak. Kamu kan tahu sendiri, seminggu lagi kita harus manggung di event ulang tahun SMA Internasional. Kita harus serius latihannya, Sayang. Ditambah lagi kan vokalis kita baru. Masih perlu adaptasi. Maaf, ya..." Ucap Angga.

__ADS_1


Zee menghela nafas panjang sambil memutar bola matanya malas. Ini salah satu sifat Angga yang tak ia sukai. Laki laki itu selalu menomor duakan dirinya dibandingkan teman teman band nya. Membuat Zee pun tak jarang dibuat cemburu oleh kebiasaan Angga itu. Apalagi kalau pria itu sudah dikelilingi fans wanitanya. Langsung lupalah Angga kalau sudah punya pacar.


"Jangan ngambek dong, Sayang. Kan ini juga demi Great Mates. Ngertiin dong, Zee. Aku janji, besok aku antar kamu pulang. Kalau perlu, paginya aku jemput. Oke?" Ucap pria itu menghibur kekasihnya.


Zee menghela nafas panjang.


"Terserah kamu lah!" Ucap Zee Zee.


Angga tersenyum. "Ya udah. Kalau gitu, sekarang aku antar kamu ke depan. Aku cariin taksi buat kamu, ya..." Ucap laki laki itu lagi.


Zee tak menjawab. Ia hanya menampilkan senyuman terpaksa. Angga menggerakkan tangannya mengacak acak lembut pucuk kepala sang kekasih. Keduanya pun lantas pergi meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan dengan anak anak Great Mates.


**********


Sepanjang perjalanan di dalam taksi yang Zee Zee tumpangi. Wanita itu nampak kesal. Bisa bisanya Angga enggan mengantarkan dirinya barang sejenak hanya demi teman teman band nya! Benar benar menyebalkan. Angga dari dulu tidak pernah berubah. Tapi kok ya si Zee sampai begitu cinta matinya sama pria itu!


Zee turun dari kendaraan roda empat itu. Dengan wajah yang ditekuk dan tanpa senyuman, wanita itupun masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucap salam.


Namun tiba tiba....


Buughh....


"Anj......!" Zee setengah mengumpat. Sebuah sapu tiba tiba terlempar ke arahnya yang baru saja tiba itu.


Zee menatap ke arah depan, tempat di mana seorang pria tampan nampak berdiri dengan bantuan tongkat di sana dan menatap angkuh ke arahnya.


"Apaan sih lo, Dewa?!" Tanya Zee ngegas sambil membawa sapunya.


"Darimana?" Tanya Dewa tenang tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Ngerakit bom!!! Ya kampus lah!! Lo nggak lihat gue bawa tas?!" Jawab Zee dengan nada tinggi.


"Bukannya harusnya kau sudah pulang sejak dua jam lalu? Kemana dulu? Kenapa kau tidak bisa diajak kerja sama? Apa perlu ku rantai dulu kakimu biar kau bisa menurut?!" Tanya Dewangga.


Dada Zee naik turun. Dia sudah kesal dengan Angga, eh... sekarang baru sampai rumah sudah harus berhadapan dengan Om Om pincang yang menyebalkan ini.


"Kok lo bisa tahu sih jadwal kuliah gue? Tau darimana, lo? Lo mata-matain gue, ya? Iya?! Ngaku lo!" Ucap Zee dengan mata melotot.


Dewa tak menjawab. Ia hanya berdecih. "Kau pikir kau sepenting itu?" Tanyanya.


"Nggak usah banyak omong! Aku sudah masak dan membersihkan seisi rumah ini. Sekarang tugasmu, cuci piring, cuci baju, sapu halaman. Yang bersih. Kau boleh makan dulu jika kau lapar. Aku tidak mau kau pingsan karena kelelahan!" Ucap Dewa.


Zee melotot.


"Astagaaaa....!!! Lo nggak liat kaki gue baru setapak nginjek nih keramik rumah. Lo udah ngasih gue kerjaan segini banyak! Gue capek, Dewa!! Gue baru pulang kuliah...!!!!" Ucap Zee menggema sambil membanting sapu di tangannya.


"Kau pikir aku tidak lelah? Suami pulang kerja bukannya bisa langsung istirahat, masih harus masak. Dan kau sebagai istri bukannya langsung pulang malah kelayapan. Siapa suruh?!" Ucap Dewangga tak mau kalah.


Zee kesal. Ia mengepalkan tangannya sambil menghentakkan kakinya ke lantai guna menyalurkan emosinya. Ingin sekali rasanya ia mengangkat rumah ini dan membenturkannya ke kepala Dewangga.


"Nggak usah banyak tingkah! Makan, lalu cuci piring dan lakukan tugasmu!" Ucap Dewangga tegas sembari berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Dasar Om Om tua! Suami durhaka! Suami ikan terbang! Nyiksa istri yang menderita! Gue sumpahin, lo mati keranda lo kebalik pas diangkat, jasad lo anyut di kali, nyangkut di pohon, kuburan lo kesamber petir, kebanjiran! Dewa sintingggg....!!!!" Pekik Zee nyaring mengucapkan sumpah serapahnya yang sama sekali tak dijawab oleh Dewangga.


Laki laki itu kemudian berbalik badan, menatap tajam ke arah Zee Zee yang membuat wanita itu nampak kesal namun sedikit menciut karena sorot mata suaminya.



__ADS_1


__ADS_2