My Disable Husband

My Disable Husband
Bab 18


__ADS_3

Beberapa jam kemudian. Saat sore menjelang...


Dewangga nampak mengotak atik laptopnya. Akhir akhir ini ia memang dibuat cukup sibuk lantaran sekolah tempat Dewangga bekerja dalam waktu dekat akan mengadakan sebuah event ulang tahun. Pihak sekolah berencana untuk membuat sejumlah kegiatan, salah satunya adalah pentas musik yang akan menghadirkan sebuah band yang 'katanya' tengah digandrungi oleh para kawula muda.


Mau tak mau, sebagai bagian dari sekolah itu, Dewa pun harus ikut sibuk karenanya. Meskipun ia kurang begitu tahu siapa saja pengisi acara tersebut, lantaran semua dipilih berdasarkan polling dari para siswa siswi disana. Dewa hanya ikut bantu bantu saja. Ia terlalu malas untuk ikut mengurusi hal semacam itu.


Dewa kini nampak duduk di ruang televisi dengan sebuah laptop di hadapannya. Sesekali ia nampak menyeruput secangkir kopi buatannya yang berada di atas meja. Ketika ia tengah sibuk dengan aktifitasnya. Tiba tiba...


Buughh.....


Tubuh sintal itu terhempas, jatuh ke atas sofa panjang tepat di samping Dewangga. Laki laki itu menoleh. Dilihatnya disana, Zee nampak meringis. Dengan sebuah botol minum yang ia ambil dari dalam kulkas, wanita itu nampak sesekali menyeka keringatnya. Sepertinya ia kelelahan sehabis mencuci piring, mencuci baju, dan menyapu halaman.


Padahal piring kotor yang ia cuci tak begitu banyak. Mencuci baju juga pakai mesin cuci. Sedangkan halaman yang ia bersihkan juga tak seberapa luas. Tapi memang dasarnya Zee tak pernah kerja berat, membuat hal hal yang bagi sebagian orang ringan pun terasa begitu berat untuk putri semata wayang Tuan Danu itu.


Dewa diam menatap sang istri. "Kenapa?" Tanyanya.


Zee tak langsung menjawab. Ia membuka botol minum ditangannya, sedikit mendongakkan kepalanya, lalu menenggak minuman itu untuk menghilangkan dahaganya.


Dewangga diam menikmati pemandangan di hadapannya. Leher putih mulus nan jenjang berhias bulir bulir keringat yang indah. Beberapa helai rambut hitam menempel disana. Air yang masuk ke dalam kerongkongan itu juga membuat permukaan leher itu bergerak gerak. Dewa tanpa sadar sedikit membuka mulutnya. Sorot matanya berubah nakal, selaras dengan otaknya yang mulai membayangkan hal hal yang nikmat😝


Zee selesai dengan minumnya. Ia menutup kembali tutup botol itu dan meletakkannya di atas meja. Tangan putih itu kembali tergerak, mengumpulkan rambut panjangnya dalam satu genggaman tangan. Ia kemudian mengikat rambut panjang itu tepat di samping Dewangga.


Lidah pria itu bergerak menyapu area dalam mulutnya serta bibirnya. Dalam gestur tubuh yang tetap tenang, otaknya sepertinya mulai ternodai pikiran pikiran kotor melihat pemandangan yang istrinya sajikan itu. Laki laki itupun diam diam mengangkat satu sudut bibirnya.


"Capek banget gue!" Ucap Zee. Wanita itu belum selesai dengan aksinya. Ia menarik kerah kaosnya, melongokkan kepalanya ke dalam sana lalu meniupi area dadanya guna mengurangi hawa panas yang kini menderanya.


Dewa mengangkat satu sudut bibirnya.


"Itu karena kau belum terbiasa. Nanti kalau sudah biasa juga nggak akan secapek ini," ucap Dewa.


Zee menoleh. "Lo nggak punya niat cari pembantu gitu?" Tanyanya kemudian.


Dewangga yang masih dalam posisi diam menatap Zee itu nampak mengangkat dagunya.


"Untuk apa?" Tanyanya kemudian.


"Ya...buat beresin rumah lo lah! Daripada kita capek capek beresin rumah sendiri tiap hari, ya kan? Mending cari pembantu! Lagian lo kan juga nggak miskin miskin amat, kan? Nggak usah terlalu ngirit deh!" Ucap Zee.


Dewangga mengangkat satu sudut bibirnya mendengar ucapan wanita itu. Zee kembali menenggak minumannya.


"Kau mau aku mempekerjakan pembantu?" Tanya Dewangga.

__ADS_1


Zee menoleh, masih dalam posisi bibir yang bersentuhan langsung dengan bibir botol. Ia kemudian mengangguk.


Dewa tersenyum simpul.


"Aku bisa saja mempekerjakan pembantu untukmu," ucapnya kemudian. "Aku juga bisa memberikanmu kendaraan untukmu bepergian," tambahnya. Membuat Zee pun sedikit terkejut dibuatnya. Wanita itu nampak berbinar. Ia buru buru menyudahi minumnya.


"Beneran?" Tanya Zee bersemangat.


Dewa tersenyum, lalu mengangguk.


"Tapi setelah kita berhasil melewati tiga bulan pernikahan kita. Asal kau masih bertahan menjadi istriku dan bisa menunjukkan kepadaku bahwa kau adalah istri yang baik untukku, maka aku akan meratukanmu!" Ucap Dewa.


Zee nyengir, lalu melengos.


"Malas sekali, Yang Mulia. Putri cantik, anggun, lucu, menggemaskan dan baik hati ini sudah sangat bosan berada di istanamu yang membosankan ini. Saya mau pulaaaanggg.....!!" Ucap Zee dengan gaya songong, centil, dan menyebalkannya.


Dewa hanya berdecih sambi tersenyum memalingkan wajahnya melihat aksi sang istri.


Zee Zee bangkit dari posisi duduknya. "Dah, ah. Gue mau mandi! Males gue ngomong ama lo. Nggak menarik!" Ucap wanita kemudian.


Dewa tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan wanita itu. Sedangkan Zee kini nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam satu satunya kamar yang berada di rumah itu.


"Sorry, Zee. Baru sempet bales."


"Lagi sibuk. Ada apa?"


Zee menghela nafas panjang.


"Darimana sih lo dari pagi nggak ada kabar? Kenapa nggak ngampus hari ini?" Tanya Zee melalui pesan singkat.


"Capek!" Jawab Nadira singkat.


"Capek ngapain lo? Kek kerja aja lo!" Jawab Zee Zee.


"Capek pacaran! Wkwkwkwk...."


"Anjir! Ngapain aja lo ama cowok lo ampe nggak masuk hari ini?" Tanya Zee mulai curiga sekaligus kepo.


"Biasa..." Jawab Nadira.


Zee nyengir.

__ADS_1


"Sumpah, ya! Awas aja lo kalau sampai lo bunting..!" Tulis Zee.


"Aman, kok. Hehehe..." Jawab Nadira.


Zee menghentikan aksi berbalas pesannya sejenak. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, urung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Ra," tulis Zee lagi.


"Apa?" Tanya Nadira.


"Gue mau curhat!" Balas Zee


"Soal apa? Suami lo? Ada apa lagi?" Tanya Nadira.


"Bukan soal dia. Tapi ini soal Angga," tulis Zee.


"Hmmh...ada apa lagi? Coba cerita ama gue!"


Dan, Zee pun mengeluarkan semua uneg-uneg dan keluh kesahnya pada sang sahabat yang selalu menjadi tempat curhat terbaiknya itu. Ia menceritakan tentang Angga yang seolah tak pernah berubah sejak dulu. Selalu mementingkan teman-teman dan bandnya dibandingkan dirinya. Padahal Zee hanya minta diantar pulang sebentar saja, tapi Angga menolak. Sebenarnya Zee cukup makan hati menghadapi sikap Angga yang satu ini. Laki-laki itu sering sekali melakukan hal semacam itu. Mengabaikan kekasihnya hanya demi kesenangan dan hobinya sendiri. Sedangkan Zee Zee tak suka seperti itu. Ia maunya diperhatikan dan dimanja. Sesuai dengan sifat dan karakter Zee yang memang anak manja. Namun sepertinya Angga tidak peka.


Berulang kali hal semacam itu terjadi selama dua tahun lamanya. Zee sering protes dan marah, namun ujung-ujungnya ia hanya bisa memaafkan ketika Angga mengiba.


Ya, mungkin Zee sudah terlanjur cinta buta pada pria itu.


Nadira mendengarkan dengan seksama keluh kesah sahabatnya yang dikirim melalui voice note itu. Wanita itu tak memberikan respon apapun sampai akhirnya Zee selesai dengan topik pembicaraannya. Setelah Zee puas berkeluh kesah,


"Zee, ada sesuatu yang mau gue kasih tunjuk sama lo," ucap Nadira.


"Apa?" Tanya Zee Zee.


Diam sejenak. Nadira tak langsung membalas pesan dari Zee.


Lalu....


Ting....


Sebuah pesan berupa foto masuk dari Nadira untuk Zee Zee. Wanita itu kemudian membuka pesan tersebut. Dan....


Deegghhh....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2