
__ADS_3
06:30 Pagi.
Dewa keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi. Dengan mengenakan celana panjang dan jaket yang membalut tubuhnya, pria yang berprofesi sebagai pengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas bertaraf internasional di kota itu kemudian mendekati meja makan, tempat di mana sang istri kecil sudah berada di sana dengan beberapa lembar roti, secangkir kopi, satu gelas susu, serta beberapa botol selai di atas meja. Sekolah tempat Dewa mengajar memang tidak pernah memberikan peraturan khusus perihal pakaian guru. Membuat laki laki itupun tidak perlu repot repot mengenakan seragam ataupun pakaian formal lainnya. Yang penting sopan.
"Wow! Kamu yang nyiapin ini?" Tanya Dewangga sambil mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja makan, tepat di samping Zee Zee.
Zee yang asyik dengan ponselnya itu kemudian menoleh ke arah Dewa dengan sorot mata malas.
"Menurut lo?!" Tanyanya sinis.
Dewa tersenyum manis. Sedikit kemajuan sudah Zee Zee tunjukkan pagi ini.
"Makasih, Sayang," ucapnya kemudian.
Zee berdecih. "Jangan panggil gue sayang!"
Laki laki itu tak peduli. Ia meraih secangkir kopi hitam buatan Zee Zee lalu mengamati air hitam itu sejenak. Dewa mengulum senyum. Kopi terlalu encer dan bening bagi Dewa. Entah seberapa sedikit takaran kopi yang Zee Zee masukkan. Membuat Dewa jadi sanksi untuk meminumnya.
"Kenapa?" Tanya Zee yang berada di samping Dewangga kala menyadari gerak gerik sang suami yang tak langsung meminum kopi buatannya.
Dewa menoleh, lalu tersenyum lucu tanpa berucap sepatah katapun.
"Nggak usah takut, nggak ada sianidanya!" Ucap Zee Zee.
Dewa tersenyum lagi sambil manggut-manggut. Padahal bukan itu yang ada di pikiran pria tersebut. Ia lebih memikirkan rasa dari minuman yang kini berada di tangannya itu.
Dewa menarik nafas panjang. Ia kemudian mulai menyeruput kopi buatan istrinya itu. Dan...
Gleeekk....
Benar saja. Terlalu manis. Hanya ada rasa gula di sana. Kopinya sama sekali tak terasa. Dewa memejamkan matanya. Siksaan yang cukup menyebalkan namun harus ia tahan di pagi yang cerah ini. Yah, anggap saja ini adalah bentuk niat baiknya menghargai usaha sang istri untuk membuatkannya kopi.
"Kenapa?" Tanya Zee polos.
__ADS_1
"Hmm?" Tanya Dewa sambil menoleh dan mencoba menampilkan senyumannya.
Zee diam. Menatap penuh selidik ke arah sang suami.
Dewa kemudian tersenyum. "Nggak apa apa. Kopinya manis. Makasih, ya," ucapnya. "Tapi lain kali, gulanya nggak usah banyak banyak. Nanti ku tunjukkan takaran kopi yang pas."
Zee tak menjawab. Dewa menyeruput kopi rasa gula itu lagi. Ia kemudian menoleh ke arah segelas susu putih di hadapan Zee Zee. Itu juga susu buatan istrinya. Warnanya juga bening. Tak kental selayaknya susu pada umumnya. Lebih mirip air bekas mencuci beras🙈
"Susunya kenapa nggak diminum?" Tanya Dewa.
Zee diam. Ia lantas menyibikkan bibirnya sambil menggeliat. "Nggak ada rasanya," jawabnya kemudian.
Dewa berdecih lalu terkekeh. "Terus kenapa nggak ditambahin susu?" Tanyanya.
"Seberapa? Gue kan nggak ngerti...!" Rengek wanita itu.
Dewa menggelengkan kepalanya sambil menampilkan senyumannya.
"Ambil susunya!" Titahnya kemudian.
"Sebenarnya apa yang kau pelajari selama sembilan belas tahun hidup di bumi, sampai sampai cara bikin susu saja kau tidak bisa," ucap Dewangga sambil menyendokkan beberapa sendok bubuk susu itu dan memasukkannya ke dalam gelas susu sang istri kemudian mengaduknya.
"Nggak usah mulai, deh. Nggak usah ngata-ngatain gue!" ucap Zee.
"Aku tidak mengata-ngataimu. Aku hanya bertanya. Di usiamu yang sudah setua ini kau kalah pintar dari banyak bocah di luar sana!" ucap Dewangga.
Zee mengangkat satu sudut bibirnya. Ia sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Dewangga. Membuat Dewa pun menghentikan pergerakannya menatap paras cantik dengan popo chubby itu.
"Bodo amat! Weeekkk....!" jawab Zee sambil menjulurkan lidahnya di akhir kalimatnya.
Dewa tak menjawab. Ia mengangkat satu sudut bibirnya melihat ekspresi balita besarnya itu. Dasar bayi. Kadang ngeselin, kadang gemesin, jadi pen gigit! Eh.....ðŸ¤
Dewangga menyodorkan susu di tangannya.
__ADS_1
"Sudah, minumlah!" Ucap Dewangga setelah selesai dengan aktifitasnya. Ia kemudian meletakkan box susu bubuk itu di atas meja. Zee menjauhkan wajahnya dari sang suami. Ia kemudian meraih segelas susu hangat itu lalu menenggaknya.
"Enak?" Tanya Dewangga.
Zee diam sejenak, lalu mengangguk samar.
"Lumayan ," jawabnya. Namun diam diam senyuman terbentuk dari bibir mungil yang masih menempel pada gelas itu. Racikan susu Dewangga sangat pas di mulutnya.
Dewa berdecih. Tangannya tergerak hendak mengacak acak rambut panjang Zee Zee, namun wanita itu menolak. Membuat Dewa pun kembali menarik tangannya dari sana.
"Ya sudah. Makanlah! Keburu siang!" Titah pria itu kemudian.
Dewa kemudian meraih satu botol selai kacang di sana dan mengoleskannya pada selembar roti tawar yang sudah Zee sediakan.
"Oh ya, hari ini aku harap kau tidak berulah lagi. Langsung pulang kalau sudah selesai kuliah. Kita tidak punya pembantu, jadi kita harus membersihkan rumah yang sudah terlalu kotor ini bersama sama nanti siang," ucap Dewa.
Zee tak menjawab. Wajahnya acuh. Ia asyik dengan santap paginya.
"Nanti kita bagi tugas. Harusnya bersih bersih rumah itu pagi hari. Tapi karena bangunmu selalu telat, ya sudah. Tidak masalah. Bersih bersihnya siang saja. Okey?" Tanya Dewangga.
"Hmm..." Jawab Zee cuek sambil memainkan ponselnya.
Dewa mengangguk. Ia kembali menyantap rotinya.
"Hari ini kau berangkat dengan siapa?" Tanya Dewa lagi.
Zee diam. Ia kembali menggigit rotinya yang sudah tidak utuh itu. Wanita itu nampak menggelengkan kepalanya. Sejak tadi ia memang sudah kesal lantaran Nadira tidak bisa dihubungi. Padahal biasanya tiap pagi ia selalu berangkat ke kampus bersama wanita itu.
"Kalau tidak ada yang menjemputmu, kau bisa berangkat bersamaku. Kita searah, kan? Itupun kalau kau mau" Ucap Dewa sambil menoleh ke arah Zee. Dimasukkannya sepotong roti di ujung garpu itu ke dalam mulutnya.
Zee diam. Ia nampak menghela nafas panjang. Padahal sebenarnya ia tak mau berangkat bareng Dewa. Gengsi lah! Tapi gimana? Dira tak bisa dihubungi. Malas juga kalau harus pesan ojek ataupun taksi online. Ia tak suka menunggu!
"Zee..." Ucap Dewa lagi seolah menunggu jawaban dari wanita itu.
Zee Zee menghela nafas panjang, lalu berdecak kesal. Wanita itu kemudian mengangguk. Dewa mengulum senyum. Laki laki itu lantas kembali memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. Santap pagi sepasang suami istri itupun terus berlanjut sebelum keduanya berangkat menuju ke kampus dan sekolah bersama sama.
__ADS_1
__ADS_2