My Disable Husband

My Disable Husband
Bab 14


__ADS_3

Pagi menjelang saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


Sinar mentari perlahan mulai menampakkan sinar teriknya. Nyanyian pagi burung burung itu terdengar merdu seolah mengajak para umat manusia untuk segera bangkit dan memulai aktivitas pagi mereka.


Di dalam kamar milik sepasang suami istri itu. Zee Zee nampak menggeliat di atas ranjang empuknya. Tangan itu tergerak semakin erat memeluk benda yang sejak semalam berhasil menghangatkan tubuhnya. Ah, akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak setelah beberapa hari harus rela tidur di sofa yang sangat jauh dari kata nyaman. Memang benar kata Dewa, ranjang lebih hangat dari pada sofa. Apalagi ditambah dengan memeluk guling seperti ini. Nyaman sekali rasanya. Mana baunya wangi sekali. Sangat maskulin, enak dipeluk, seperti bau-bau pria dewasa yang memabukkan.


Zee menggeliat. Tangan lentiknya bergerak mengusap usap permukaan gulingnya.


"Tahu gini dari kemarin aja gue minta tidur disini. Pantesan si Dewa nyenyak banget tidurnya. Kasurnya nyaman banget. Mana wangi, lagi..." Gumamnya dengan mata terpejam.


Wanita itu kemudian menggerak gerakkan kepalanya. Hidungnya mengendus semerbak aroma yang menenangkan. Wanita itu bahkan tersenyum kala aroma itu masuk menusuk ke dalam lubang hidungnya.


Zee yang masih setengah tidur itu menggerak gerakkan kepalanya. Mencari sumber aroma nikmat yang sejak semalam memanjakan indera penciumannya itu. Hingga tiba tiba...


"Kok...?" Zee nampak berfikir dalam kondisi mata terpejam. Sesuatu yang sepertinya sejenis bulu menari nari di pucuk hidungnya. Membuatnya berfikir keras di tangah tengah tidurnya.


"Apaan nih?" Batinnya


Tangan lentik itu bergerak. Meraba raba permukaan guling miliknya itu.


"Ini apa?" Gumam Zee seorang diri kala telapak tangannya menyentuh sejenis benda kecil mirip tombol, tapi empuk. Ditekan tekannya, lembut, ada bulu bulu dikit di sekitarnya. Ini apa, ya?


Kakinya yang mengapit si guling juga ia gesek gesekkan. Bentuknya kok aneh? Batinnya. Permukaan pahanya nampak sesekali menabrak sebuah benda keras menonjol disana. Seperti ada sesuatu yang.................


Degghh...


Zee terdiam. Perlahan ia membuka matanya.


Seett...


Netra yang masih setengah mengantuk itu kini nampak terbelalak. Ia melotot. Sekumpulan bulu hitam terpampang nyata di hadapannya. Zee perlahan menjauhkan kepalanya dari benda itu. Dilihatnya di sekitar bulu bulu itu. Sebuah lengan besar dan dada bidang di penuhi tato nampak terpampang dengan jelas disana. Tangan lentiknya kini bahkan nampak bertengger manja di atas dada itu. Sedangkan satu kakinya juga naik ke atas pangkal paha seorang pria yang kini nampak memejamkan matanya dengan tenang.


Deeggghhh..


Zee mengangkat kepalanya.


Itu Dewa! Laki laki itu tidur di sampingnya. Zee bahkan memeluknya. Dan dengan bodohnya ia mendusel di bawah ketiak pria cacat itu.


Wanita itu membuka mulutnya. Lalu....


.


.


.


.


"Aaaaaaakkkkkkhh...!!!" Wanita itu memekik dengan suaranya yang melengking. Ia reflek bangkit dari tidurnya, memundurkan tubuhnya sambil mendorong badan tegap milik Dewangga. Membuat pria yang masih asyik dengan mimpi mimpi indahnya itupun sontak kaget dan terbangun. Dewa menoleh ke arah Zee Zee. Wanita itu kini duduk di pojok ranjang sambil memeluk bantalnya.

__ADS_1


"Apasih, Zee?!!" Tanya Dewa kesal sambil mengucek matanya. Pria itu bangkit dari tidurnya dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Lo ngapain disini?!!" Bentak Zee Zee kesal.


Dewa tak langsung menjawab. Ia yang masih sangat kaget itu nampak menarik nafas panjang dan diam, memaksa kembali ingatannya yang masih jalan jalan entah kemana. Laki-laki itu kemudian menoleh.


"Menurutmu apa?" Tanyanya yang masih terlihat kesal. Ia menatap datar ke arah balita besar yang sering tantrum itu.


"Kok lo disini?! Kan semalem lo udah setuju buat gantian! Gue tidur di sini lo tidur di luar!" Ucap Zee protes dengan suara ngegas.


"Kapan?" Tanya Dewa tanpa dosa.


"DEWAAAAAA.......!!!" Ucap Zee melengking sambil menggerak gerakkan kakinya menendang udara.


"Apaaaa..?!" Tanya Dewa yang mulai tenang.


"Lo udah janji semalem....!!" Rengek Zee.


"Kapaan?"


"Semaleeeemmm....."


"Aku tidak pernah membuat janji seperti itu!"


"Lo janji semaleeeemmm.....!!!"


Zee membuang nafas panjang dengan mulut yang terbuka.


"Lagipula untuk apa aku tidur di luar. Ini kan kamar kita," tambah Dewa.


Zee menipiskan bibirnya. Ia nampak kesal.


"Lo jebak gue!" Ucapnya.


"Aku tidak pernah menjebakmu! Lagipula apa salahnya jika kita tidur bersama? Kita kan suami istri. Dan lagi, semalam kau sangat nyenyak. Mungkin aroma tubuhku terlalu menenangkanmu, sampai sampai kau tidak lepas memelukku semalaman," ucap Dewa kini dengan sorot mata yang mulai menggoda.


"Sumpah, ya. Kesel banget gue ama lo! Gue cekek lu lama lama!" Ucap Zee.


Dewa berdecih sambil terkekeh. Ia menatap wanita itu dengan tatapan mata tajam dan nakal khas seorang bad boy kelas kakap. Laki laki itu menarik nafas panjang, kemudian meringsut, membuat Zee semakin awas.


"Dimana mana yang dicekik itu perempuannya. Bukan laki lakinya," jawab Dewa.


Zee mengeratkan giginya kesal.


Dewa menggaruk garuk ujung hidungnya. "Tapi bukan hanya dicekik, sih. Ditampar juga bisa. Dibanting, diiket, dijambak, diludahin. Banyak...! Mau coba?" Tanya Dewa lagi dengan sorot matanya yang khas menatap ke arah sang istri.


Zee nyengir geli.


"Sumpah, lo jijik banget! Mesum tau nggak lo! Kek ngerti aja!" Ucap Zee.

__ADS_1


Dewa berdecih.


"Nggak usah sok merasa paling nakal, kamu. Aku bahkan sudah melakukan dosa besar saat kamu masih ngompol!" Ucap Dewangga.


Zee makin bersungut.


"Aku hanya lumpuh di satu kaki, Zee. Bukan impoten," tambah Dewa sambil menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi Zee.


"Nggak usah pegang pegang! Gue bakar lu ya!!" Gertak Zee sambil menampik tangan kekar itu.


"Wow!" Jawab Dewa dengan mata nakalnya.


Zee menatap kesal ke arah sang suami.


"Minggir lo! Gue mau mandi!" Gertak Zee.


"Nggak mandi bareng? Tubuhku penuh ilermu. Apalagi dada dan lenganku," jawab Dewa.


"DEWAAAAAAAAAA.......!!!!"


"Apa, Sayaang...?" Jawab Dewa.


"Ngeselin lo!" Ucap Zee makin kesal namun justru terlihat lucu di mata Dewangga. Laki laki itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum melihat ulah istri kecilnya itu.


Zee diam sejenak dengan sorot mata menatap jengkel ke arah Dewangga. Ia kemudian meremas sweaternya di bagian dada. Ia kemudian menarik kerah kain itu lalu melongokkan kepalanya ke dalam sana seolah ingin memastikan bahwa br* nya masih terpasang dengan aman.


Dewa mengulum senyum lucu. Zee melirik ke arah laki laki itu.


"Ngapain lo senyum senyum?!!" Bentak Zee yang justru terdengar lucu di telinga Dewa. Wanita itu kemudian menggerakkan tangannya lagi. Ia sedikit meringsut membelakangi Dewangga, lalu menyentuh celananya, menarik karet pinggangnya, memastikan jika celana d*lamnya juga masih aman disana.


Dewa memalingkan wajahnya, memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya, menahan agar tawanya tak pecah melihat aksi nyeleneh bocah ingusan itu.


Zee kembali menatap tajam ke arah Dewangga.


"Minggir lo! Gue mau mandi! Awas ya lo berani macam macam pas gue tidur! Gue santet ubun ubun lo!" Ancam Zee.


Dewangga tak menjawab. Ia sudah setengah mati berusaha menahan tawanya. Zee kemudian turun dari ranjang itu dengan wajah kesal sambil terus menggerutu. Tiba tiba....


Suuuiitt.....suuuiiitt....


Dewa bersiul saat Zee tengah berdiri di sampingnya hendak mengenakan sendal kodoknya. Sorot mata pria itu menatap nakal ke arah tengah pangkal paha mulus yang hanya berbalut celana super pendek itu.


"Dewaaa...!!!!!" Pekik Zee Zee lagi sambil menutupi bagian sensitifnya dengan kedua telapak tangannya.


Dewa tak menjawab. Ia hanya fokus pada gundukan segitiga di tengah paha yang berbalut kain itu. Zee Zee risih sendiri. Dengan cepat ia meraih kaos oblong milik Dewangga yang tergeletak di atas lantai, lalu menggunakannya untuk menutupi wajah pria tampan itu sambil memukulnya kesal. Dewangga tergelak. Zee Zee lari ke dalam kamar mandi sambil terus menggerutu, mengumpat sang suami dengan kesalnya tanpa henti.



__ADS_1


__ADS_2