
__ADS_3
20:30.
Mini Cooper berwarna kuning kombinasi hitam itu nampak memasuki halaman rumah sederhana kediaman Dewangga Bima Caturangga.
Seorang wanita muda berparas imut dengan pipi cubby itu nampak turun dari kendaraan yang dibawanya. Sebuah mobil mewah miliknya diambil dari kediaman sang ayah sepulang kuliah tadi. Gadis bersuami berusia sembilan belas tahun itu kemudian melangkah menuju pintu utama rumah tak bertingkat tersebut. Tanpa mengucap salam ataupun sejenisnya, wanita itu membuka pintu tersebut kemudian masuk ke dalamnya.
"Ekkhhmm...." Suara deheman itu berhasil membuat Zee Zee menghentikan langkah kakinya. Dilihatnya disana, di ruang tamu, pria dewasa dengan beberapa tato di tubuhnya itu nampak duduk di sana dengan kaki lurus di atas sofa. Sebuah laptop nampak berada di pangkuannya, sedangkan sebuah kacamata berlensa bening nampak bertengger manis membingkai mata tajamnya.
"Darimana kamu?" Tanya Dewa tanpa menoleh.
"Kuliah lah!" Ucap Zee.
Dewa menghentikan pergerakannya. Ia menoleh ke arah sang istri kecil yang masih kekanak-kanakan itu.
"Kamu tahu ini jam berapa?" tanya Dewa.
Zee tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jam dinding yang tertempel di sana.
"Setengah sembilan," jawab Zee santai.
"Jam berapa kamu pulang kuliah?" Tanya Dewa.
Zee menghela nafas panjang. "Setengah sebelas! Kenapa sih?" Tanya wanita itu malas.
"Lalu ke mana saja kamu sepuluh jam ini? Kenapa tidak langsung pulang?" Tanya Dewa.
"Ya gue mampir dulu lah ke rumah Papa. Gue ambil mobil!" Ucap Zee Zee.
Dewa mengernyitkan dahinya. Ia menutup laptopnya, menatap sang istri dengan sorot mata penuh tanya.
"Ambil mobil?" Tanyanya.
"Iya..." Jawab Zee.
"Siapa yang suruh?" Tanya Dewa.
__ADS_1
"Ih, apasih?! Ya nggak ada yang nyuruh. Mobil juga mobil gue ini," ucap Zee.
"Kau tidak izin padaku, Zee!" Ucap Dewa.
"Astaga, Tuhan. Apaan sih lo?! Cuma mobil doang! Gue butuh mobil buat pergi pergian. Gila aja lo, gue hidup berdua ama lo tanpa kendaraan!" Ucap Zee.
"Zee, kamu itu sekarang istriku! Apa yang kamu lakukan, harusnya atas dasar persetujuanku. Kamu nggak bisa seenaknya ambil mobil kamu tanpa minta pendapatku dulu!" Ucap Dewa.
"Ih! Sok penting banget jadi orang! Itu mobil punya gue. Dibeliin pake duit bokap gue. Mau gue ambil kek, gue tinggal kek, gue buang kek, gue lempar, gue hanyutin sekalian, suka suka gue! Nggak usah sok ngatur! Pernikahan ini terjadi bukan atas kemauan gue. Gue terpaksa nikah sama lo, dan lo tau itu. Kita hidup satu rumah itu cuma buat nyenengin orang tua kita, itu kan yang lo bilang kemarin? Jadi nggak usah ikut campur dan sok mimpin gue, karena gue nggak butuh!!" Ucap Zee keras.
Hal itu membuat Dewa cukup kesal mendenganya. Seumur hidupnya, walaupun ia cacat, ia masih dihormati. Ia masih dihargai sebagai seorang pengajar dengan berbagai prestasi dan kejayaan pada masanya dulu. Baru kali ini ada seorang bocah ingusan yang berani berkata keras padanya. Sungguh, sekarang ia tahu kenapa Tuan Danu begitu yakin untuk menikahkan Zee Zee dengannya.
Dewangga menarik nafas panjang. Pria itu lantas meletakkan laptop nya di atas meja. Dengan tenang, ia meraih tongkat yang tersandar tak begitu jauh dari tempat duduknya itu lalu bangkit.
Zee diam menatap pergerakan Dewa yang kini berjalan ke arahnya dengan bantuan tongkat itu.
"Aku harap kau bisa lebih menjaga sikapmu jika berhadapan denganku!" Ucap Dewa yang kini berdiri tepat di hadapan Zee. Ia berucap dengan tenang. Suaranya pelan, namun seolah memiliki karisma tersendiri yang membuat Zee mendadak bisu. Kedua pasang mata itu saling terkunci. Zee mematung di hadapan suaminya dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada.
"Aku yakin, kau hanya anak nakal, bukan kurang aj*r. Aku harap kau tidak terus terusan bertingkah seperti ini. Karena jika sampai aku habis kesabaran, jangankan kau, orang tuaku saja dulu menyerah menghadapiku,"
"Aku adalah suamimu. Terlepas dari bagaimana perasaanmu padaku dan alasan pernikahan kita yang sudah sangat sering kau ucapkan itu, aku tetap imam keluarga dalam pernikahan kita. Kau... wajib berbakti kepadaku."
"Mulai hari ini, aku minta, izin dulu sebelum melakukan apapun. Kita memang tidak saling mencintai, tapi setidaknya hargai aku sebagai laki laki pilihan ayahmu. Dan hargai juga pernikahan kita yang disaksikan langsung oleh Tuhan!" Ucap laki laki itu. Zee tak bergerak.
"Terserah jika kau tidak menyukaiku. Tapi sebagai seorang wanita yang terlahir dari keluarga terhormat, aku harap kau bisa sedikit saja menjaga sikapmu. Ayahmu sudah menitipkanmu padaku. Jadi selama belum ada talak yang jatuh dari mulutku untukmu, maka kau masih tanggung jawabku. Dan kau, wajib untuk mematuhi uncapanku, suamimu!" Pungkas Dewa dengan tegas tanpa membentak.
"Aku memang diam, Zee. Tapi aku bukan orang bodoh. Jangan sampai apa yang kau lakukan ini memancing amarahku. Karena aku yakin kau pasti akan menyesal," tambahnya.
Kedua pasang mata itu saling beradu. Ada sesuatu yang berbeda yang terpancar dari seorang Dewangga. Terutama dari sorot mata dan gestur tubuh serta gaya bicaranya. Membuat Zee tak berani lagi menjawab ucapan pria itu. Zee tak berkutik. Ia dibuat mematung di hadapan laki laki setengah lumpuh itu.
"Sudah malam. Kunci pintu dan matikan lampu. Tidurlah, besok aku akan meminta orang untuk membawa mobilmu kembali pulang!" Ucap Dewa yang kemudian melangkahkan kakinya melewati sang istri.
Zee membuka mulutnya. Ia berbalik badan, lalu mengikuti langkah kaki sang suami dari belakang sambil terus menggerutu.
"Dewa, kok lo gitu sih? Itukan kendaraan buat gue kalau pengen pergi pergi. Buat kuliah! Lo kan nggak ada mobil. Kalau kita mau kemana mana gimana? Repot!" Ucap Zee yang tak mendapatkan respon apapun dari Dewa.
__ADS_1
Laki laki itu masuk ke dalam kamarnya, mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu melepas kaosnya.
"Dewa, lo denger, kan? Kalau nggak ada mobil kita bingung kalau mau pergi pergi! Ini rumah juga jauh dari tetangga!" Ucap Zee.
Dewa mendongak menatap istrinya. "Kita tidak akan pergi pergi. Aku tidak suka dengan perempuan yang suka kelayapan. Kalau kau butuh sesuatu kita bisa pesan secara online. Kalau kau mau kuliah, kau bisa berangkat bersamaku. Pulang, kau bisa naik taksi. Kalau ada kebutuhan mendesak ada ojek online, taksi online, dan lainnya."
"Aku mengajakmu tinggal bersamaku di rumah yang sederhana ini, bukan karena aku miskin ataupun pelit, salah satu tujuannya adalah agar kau bisa hidup lebih sederhana. Jauh dari teman teman toxic-mu dan menjauh dari pergaulanmu yang liar itu! Sesuai dengan pesan yang ayahmu titipkan padaku! Aku harap kau paham, apa tujuanku tidak mengizinkanmu membawa mobil milikmu ke rumah ini!" Ucap Dewa dengan tegas yang membuat Zee lagi lagi tak berkutik.
Wanita itu nampak menipiskan bibirnya menahan kesal. "Kok lo kolot banget sih?!" Ucap Zee kemudian.
Dewa memposisikan tubuhnya di atas ranjang tanpa memperdulikan ucapan istrinya.
"Aku tadi memintamu mengunci pintu dan mematikan lampu. Apa sudah kau lakukan?" Tanya Dewa seolah mengabaikan ucapan Zee Zee.
Zee makin kesal. Ia mengepalkan tangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ingin sekali rasanya ia meninju wajah pria di hadapannya itu.
"Kalau belum, segera lakukan, lalu tidur! Ini sudah malam. Mama mungkin akan datang kemari besok pagi. Aku harap kau tidak bangun kesiangan!" Ucap Dewa sembari menggerakkan tangannya menarik selimut tebalnya disana.
"Bodo amat!" Ucap Zee semakin kesal. Dengan segera, ia menyambar sebuah bantal serta satu selimut yang terlipat disana kemudian berjalan menuju pintu keluar kamar itu.
"Zee, tunggu!" Ucap Dewa membuat Zee menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah laki laki itu.
Dewa yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang itu nampak tersenyum tipis nan menggoda sembari mengusap usap sisi kosong ranjang disampingnya.
"Ranjang lebih hangat daripada sofa," ucapnya.
Zee nyengir geli.
"BOO...DOO....A...MAAAAAAAAT! Nggak usah mesum lo ama gue! Lo pikir gue tertarik apa tidur seranjang ama lo?! Sorry ya, selera gue tinggi!" Ucap Zee yang kemudian berbalik badan dengan gerakan centil paripurna kemudian berlalu pergi dari tempat itu sambil terus menggerutu.
Dewa berdecih melihat aksi istri kecilnya itu.
"Setinggi apa sih seleramu?" Gumam pria itu sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
__ADS_2