
__ADS_3
Hari ini Citra kembali ke apartemen Artha untuk menemui gadis resepsionis bernama Bella tersebut. Namun, ternyata gadis itu membolos kerja lagi, rekan kerjanya tidak ada yang mengetahui ke mana Bella pergi.
Citra mengingat keterangan teman kos Bella yang mengatakan jika gadis itu memiliki kekasih dan kekasih Bella adalah salah satu penghuni apartemen ini. Berdasarkan informasi tersebut, Citra menanyakan hal itu kepada Fina.
"Kalau soal pacar Bella saya tidak tahu, karena kami tidak akrab. Hanya saja — SOP di sini melarang kami untuk menjalin hubungan dengan penghuni apartemen atau sesama rekan kerja," jelas Fina.
"Kami sangat membutuhkan keterangan dari Bella tentang paket itu," desis Citra putus asa.
"Bagaimana jika Anda ke ruang keamanan saja? Di sana pasti ada rekaman CCTV, kalau Bella memang menginap di sini semalam, dia pasti terekam kamera, karena hanya penghuni apartemen memiliki akses langsung naik-turun menggunakan lift menuju basemen. Jadi kami tidak bisa melihatnya jika dia naik lift dari basemen."
"Bisa beri tahu di mana ruang keamanannya?" tanya Citra kemudian.
"Anda lurus saja di koridor ini, lantas belok kanan. Ada sebuah pintu besi di sisi kiri koridor di sana ruang keamanan," tutur Fina sembari menunjuk arah menuju ruang keamanan apartemen Artha.
"Boleh temani saya? Karena saya sama sekali belum pernah melihat Bella," pinta Citra pada Fina disambut dengan anggukan gadis itu.
"Eh, gue nemenin Iptu Citra dulu ke ruang keamanan bentar, ya." Dia meminta ijin pada rekan kerjanya, mereka berdua pun berjalan menuju ruang keamanan.
"Bella itu orangnya tertutup, dia jarang berbicara dengan kami," cetus Fina dalam perjalanan.
"Kami mendapat informasi dari teman kosnya, menurutnya kalau Bella sering menceritakan tentang kekasihnya yang juga merupakan penghuni apartemen ini."
Mereka pun tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan layar monitor dan mereka dihampiri oleh salah seorang dari petugas keamanan. "Ada apa, Fin? Orang luar tidak boleh masuk ke sini!" tegur petugas itu.
"Beliau ini ...."
"Saya Iptu Citra dari Polres Manggala," Citra menunjukkan tanda pengenalnya.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Kak Joey, Bu Citra mau lihat rekaman CCTV dua hari yang lalu pak. Waktu Bella off," jelas Fina kepada petugas keamanan bernama Joey tersebut mewakili Citra.
"Oh, Bella? Dia memang dua malam lalu tertangkap kamera lift, sepertinya dia naik dari basemen," tukas petugas bernama Joey itu.
Citra melirik Fina. "Bisa perlihatkan rekaman itu?" pinta Citra.
Joey mempersilahkan dia melihat rekaman CCTV tersebut, telunjuk Joey menunjuk sepasang muda-mudi yang memasuki lift dari basemen dua.
"Itu Bella, dia sepertinya pingsan," ujar Joey.
__ADS_1
"Lantas pria itu?"
"Sepertinya dia orang yang tinggal di lantai tujuh— kamar 711, orangnya sangat aneh," jawab Joey.
Fina mengernyit. "Bukankah pemilik unit 711 itu seorang wanita bernama Debora?" tanya resepsionis ini heran. Joey mengendikkan bahu.
"Apa kamu bisa mengidentifikasi penghuni kamar 711 itu?" tanya Citra lagi.
"Penghuni unit 711 tidak pernah terlihat, baik oleh tetangga unitnya, maupun kami para resepsionis." Kali ini giliran Fina yang menjelaskan.
"Ya, unit itu hanya sesekali di datangi, dan — beberapa waktu lalu, laki-laki ini juga terlihat menggendong seorang wanita. Namun kami tidak bisa melihat wajah wanita itu," imbuh Joey.
"Lagi pula, setiap ia datang, dia tidak pernah melepas masker dan juga topinya," lanjut Joey.
"O, iya, tadi pagi dia terlihat menggandeng tangan Bella untuk keluar dari kamar. Mereka bergandengan tangan sampai lift turun ke basemen."
"Ada rekaman CCTV di basemen?" tanya Citra lagi.
Joey menggeleng. "Tabiat buruk mendiang Valentino selalu membuat pihak keamanan kerepotan menghapus rekaman CCTV di basemen, jadi — perusahaan memutuskan untuk memasang CCTV palsu di basemen,"
Citra menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Terkadang anak-anak konglomerat itu suka bersikap seenaknya sendiri pada orang lain, lalu orang tua mereka menyelesaikannya dengan uang. Seakan uang bisa membeli segalanya untuk mereka dan membuat anak-anak manja itu mengira diri mereka kebal hukum.
"Apa di basemen tersebut tidak ada petugas keamanan?" Citra terus mencari celah agar mendapat titik terang.
"Sistem parkir kami sudah otomatis, lagi pula — gerbang parkiran basemen dua kami tidak seperti basemen satu. Parkiran itu tertutup hanya untuk penghuni VVIP dan hanya bisa dibuka oleh penghuni apartemen dengan kartunya," jelas Joey.
"Berarti tidak ada saksi di basemen itu yang melihat mereka," gumam Citra putus asa. Joey terlihat berpikir sejenak, ia pun serta merta menepuk keningnya.
"Mungkin pria dari lantai lima itu melihat mereka!" serunya. "Lift apartemen ini ada tiga buah, yang satu hanya sampai di lobby, dan dua lainnya sampai ke basemen. Kalau tidak salah lift kedua itu juga menuju basemen dua dari lantai lima, selisih waktu kedua lift itu hanya beberapa menit saja," imbuh Joey lagi.
Dia segera mencari rekaman yang menunjukkan kedua lift itu memang menuju ke lantai yang sama. Seorang pria berusia sekitar empat puluh delapan atau lima puluh tahunan tersebut, tampak keluar dari lift di basemen dua. Memang benar, selisih waktu mereka hanya tiga menit dengan Bella dan tersangka itu.
"Bisa minta informasi tentang orang ini?" tanya Citra pada Fina yang masih menemaninya. Fina mengangguk.
"Tolong rekaman CCTV itu di salin ke flashdisk ini! Saya akan ikut dengan Fina dulu," pinta Citra yang kemudian keluar ruangan mengikuti Fina.
Jemari lentik Fina dengan sigap mengetik sesuatu di keyboard komputernya dan tidak lama kemudian, suara printer terdengar sedang mencetak sesuatu.
"Namanya Pak Yusuf Danutirta, dia bekerja di sebuah media cetak. Kalau tidak salah pimpinan redaksi Harian Mentari, Bu," papar Fina.
__ADS_1
Setelah mendapat informasi itu, Citra kembali ke ruang keamanan untuk meminta salinan CCTV tadi lantas pergi menuju kantor Harian Mentari untuk bertemu dengan Pak Yusuf Danutirta.
----------------
Harian Mentari
Pria yang tadi ia lihat di rekaman CCTV itu, kini duduk berhadapan dengannya. Yusuf Danutirta, empat puluh delapan tahun, Pimpinan Redaksi Harian Mentari Manggala.
"Maaf Pak Yusuf, saya Iptu Citra dari Polres Manggala. Saya ingin mengkonfirmasi sesuatu dengan Anda." Citra membuka pembicaraan.
Pria ini memperbaiki letak kacamatanya. Rambut dan alisnya tampak sudah banyak yang beruban, aroma khas pomade yang menyengat pun tercium oleh indera penciuman Citra.
"Tentang apa itu?" tanya Pak Yusuf. Citra meletakkan beberapa foto di yang ia pegang ke atas meja lalu menyodorkan kepada pria ini.
"Apakah benar ini Anda?" tanya Citra sembari menunjuk salah satu foto.
Pak Yusuf terlihat mengambil foto tersebut dan mengamatinya, ia meletakkan kembali foto itu. Lalu melepaskan kacamatanya. "Benar, ini saya pagi tadi sewaktu akan berangkat ke kantor," jawabnya.
"Lalu, apakah Anda melihat sepasang muda-mudi ini?" tanya Citra lagi.
Pria itu kembali memasang kacamatanya dan memperhatikan foto yang ditunjuk Citra. Alis yang sudah beruban sebagian itu mengkerut, dia melirik Citra dengan ekor matanya.
"Sepertinya .... Ah, saya ingat! Mereka sepasang kekasih yang kelihatannya sedang bertengkar, karena saat saya menyalakan mobil, sang gadis tampak berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan kekasihnya itu," jelasnya.
"Mereka terlibat perkelahian?" Citra terus mencecar pria ini dengan pertanyaan.
"Lebih tepatnya seperti keributan antar kekasih. Biasalah kalau anak muda, terkadang di dalam hubungan suami-istri pun sering terjadi," sanggah Pak Yusuf.
"Ngomong-ngomong, apa ada masalah dengan mereka?" tanyanya penasaran.
Citra ragu untuk mengungkap alasan dia mencari Bella karena yang di hadapannya adalah seorang jurnalis, hal ini bisa jadi heboh sebelum di verifikasi kebenarannya.
"Ti—tidak, saya hanya ingin bertemu dengan gadis ini saja, untuk menanyakan sesuatu," elak Citra berbohong.
Namun — Citra lupa, firasat seorang jurnalis akan selalu tajam dengan sumber berita. Pak Yusuf tampak menaikkan alisnya, ia yakin ada hal besar dibalik pencarian petugas polisi itu. Mungkin bisa jadi berita utama minggu ini.
Benar saja, sepulang Citra, Pak Yusuf langsung memanggil semua stafnya untuk mengadakan rapat darurat. Ia ingin sebuah berita besar minggu ini, dia memerintahkan para jurnalisnya untuk standby di kepolisian dan juga mengikuti gerak-gerik Iptu Citra serta timnya. Tanpa ia pernah ketahui apa akibat dari berita yang akan dia suguhkan itu.
...****************...
__ADS_1
__ADS_2