The Murderer

The Murderer
BAB 24 - Kematian Angelica (Revisi)


__ADS_3

Andrian bermaksud memeriksa keadaan Angelica, tapi ia hanya menemukan jasad dingin tak bernyawa yang sedang terbaring dengan mata terbuka di atas ranjang. Dia pun segera memanggil petugas polisi yang seharusnya berjaga di depan pintu kamar Angelica ini, karena ketika dia datang, tidak satupun dari mereka yang berjaga di sana.


"Lihatlah! Dari mana kalian!?" hardik Andrian marah sembari menunjuk jasad Angelica.


Salah satu dari mereka memanggil bantuan melalui walkie talkie, sudah dua kali mereka kecolongan dan kali ini pembunuh itu benar-benar menghabisi nyawa Angelica dengan rapi tanpa diketahui siapapun.


Citra datang tergopoh-gopoh bersama Banyu Aji dan Faisal. Ketika melihat seseorang yang datang bersama dengan Citra dan Faisal, raut wajah Andrian berubah — ia seperti pucat pasi dan tidak nyaman dengan kehadiran Banyu Aji di sana.


Ekor mata Banyu Aji melirik Andrian penuh misteri dan itu membuat Andrian beringsut pergi, tapi langkahnya di tahan oleh Citra. "Anda mau kemana dokter Andrian?" tanya Citra.


Andrian berhenti dan ia pun menoleh ke asal suara. Matanya bersitatap dengan iris hazel milik Citra.


Sorot mata itu, pasti ia sangat mencurigaiku saat ini, lirih Andrian dalam hati. "Saya hanya ingin memberi ruang pada petugas forensik." Dokter ini akhirnya memilih untuk berdusta kepada Citra.


Ia terus melirik ke arah Banyu Aji, walau rekan Citra itu tersenyum padanya, Andrian tetap merasakan aura yang tidak enak dari orang tersebut.


"Bisa Anda jelaskan kronologi kejadian ini?" tanya Citra pada Andrian.


"Saya bermaksud memeriksa keadaan Angelica, tapi ketika saya masuk, kondisinya sudah begini," papar Andrian. Alis Citra naik sebelah, ia terlihat jelas jika dia tidak mempercayai keterangan dari orang di hadapannya itu.


"Bagaimana mungkin seorang pembunuh masuk sedangkan ada dua penjaga di depan pintu?" cecar Citra sembari merapikan ikatan rambutnya.


"Mungkin lebih baik jika Anda menanyakan hal tersebut kepada anak buah Anda. Karena saya juga heran ketika saya tidak menemukan satu orang penjaga pun di depan kamar Angelica."


Bara menoleh pada mereka, dia menunjuk ke arah goresan di telapak tangan dan punggung Angelica. "Luka goresan di kulit setiap korban dibuat dengan cermat, kedalaman dan tekanan yang ia berikan pada semua korban itu sama dan dia sudah pasti sangat ahli dalam menggunakan pisau bedah," papar Bara sembari terus mengambil foto jasad Angelica.


Seisi ruangan serempak menoleh ke arah asal suara pintu yang dibuka dengan kasar. Pak Freddy tampak berdiri ditopang tongkat tunggal, istrinya terlihat berusaha menahan tubuh sang suami agar tidak terjatuh dengan menopang tubuhnya di bibir pintu.


"A — Angeli ...." Bu Winda tidak meneruskan kata-katanya dan langsung menangis keras.


"Dasar kalian para polisi yang tidak kompeten!" bentak Pak Freddy dengan suara bergetar karena menahan amarahnya.


"Maaf, Pak. Kami sudah teledor," sahut Faisal berusaha menenangkan walikota itu.

__ADS_1


"Teledor katamu!? Ini bukan teledor, tapi memang kalian tidak becus dan lalai!" maki Pak Freddy. Mereka sangat memahami rasa sakit yang pria ini rasakan. Pasangan suami-istri itu — hanya memiliki Angelica sebagai anak mereka, bukan rahasia umum lagi jika mereka berdua sangat menyayangi putri angkatnya.


Bu Winda akan mendekati jasad putrinya, tapi dilarang oleh petugas, Banyu Aji pun mendekati wanita yang sudah mulai menua itu sembari berusaha menenangkannya. "Kami pastikan akan menangkap pembunuh itu segera!" ujar Banyu Aji kepada Bu Winda dan berharap wanita ini sedikit lebih tenang.


Walau tidak lagi menangis meraung, Bu Winda masih terisak-isak. Banyu aji mengusap pundak ibu walikota ini. "Tenang, Bu. Kami pastikan akan menangkap pelakunya." Lanjutnya tetap berusaha menghibur Bu Winda


Mata Pak Freddy memicing melirik Banyu Aji dengan sinis. "Kalian hanya besar mulut! Pada akhirnya kalian membiarkan Angelica meregang nyawa!" hardik Pak Freddy putus asa.


Ruangan itu menjadi sunyi, hanya suara kamera dan lampu blitz kamera forensik yang silih berganti terdengar. Citra, Faisal dan Banyu Aji seperti kehabisan kata-kata, kali ini — hati Citra campur aduk dengan kejadian ini. Sudah di pastikan Pak Freddy akan menjadi korban juga nantinya.


“Pak Walikota, maaf jika boleh saya sarankan, Bapak dan Ibu lebih baik mencari tempat aman lebih dulu ...."


"Kamu menyuruh saya lari dari psikopat gila itu?" potong Pak Freddy emosi.


"B—bukan begitu, Pak! Kami hanya khawatir dengan keselamatan Anda," sanggah Citra.


"Jika ia ingin membunuhku, bunuh saja aku! Jangan melukai orang-orang yang aku cintai!" teriaknya, "Aku akan menunggunya datang, kita lihat saja aku atau dia yang akan mati terlebih dahulu!"


----------------


Menjadi seorang dokter forensik bukanlah cita-cita Bara, sebenarnya ia ingin menjadi ahli bedah, hanya saja — dia tersesat dalam tujuannya. Andrian adalah teman seangkatan Bara sewaktu kuliah, tapi mereka tidak cukup akrab, bertegur-sapa pun jarang mereka lakukan. Bara menghela napas berat dan ia kemudian mulai memeriksa jasad yang sudah dingin tersebut.


"Bara!" suara itu membuat Bara kaget dan nyaris menjatuhkan pinset yang sedang ia pegang.


"Astaga! Kamu memang hobi mengagetkan orang!" gerutunya kembali berkonsentrasi pada mayat Angelica.


Faisal hanya cengar-cengir. "Bar, kamu lihat inspektur dari Polda yang tadi datang bersama kami?" tanya Faisal.


"Hmm ...." Bara berdeham menjawab pertanyaan Faisal, ia tidak menoleh ke arah lawan bicaranya sama sekali.


"Aku kok merasa curiga sama dia."


Alis Bara naik walau masih tidak menoleh. "Curiga karena apa?" Ia bertanya singkat.

__ADS_1


"Dia sedang berusaha membuat Iptu Citra kesulitan sepertinya."


"Maksud kamu?"


"Entahlah ...."


"Kalian sedang membicarakan saya?" Tiba-tiba suara berat milik Iptu Banyu Aji terdengar di belakang mereka. Bara menegakkan tubuhnya dan berbalik melihat Banyu Aji, dia tersenyum tipis sementara Faisal menunduk merasa tidak enak.


Banyu Aji tertawa terbahak-bahak, ia menepuk pundak Faisal. "It's ok, wajar kamu khawatir dengan atasanmu. Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang membuat atasanmu untuk dipecat, saya justru ingin kasus ini cepat selesai."


Faisal merasa lengkungan tipis di bibir Banyu Aji itu mengandung makna yang bias, dan yang aneh adalah Faisal seperti kenal dekat dengan Banyu Aji. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu.


"O iya, penyebab kematiannya apa?" tanya Banyu Aji pada Bara.


Bara menunjuk jasad itu dengan pulpen yang terselip dari tadi di sela cuping telinga kanannya. "Dari hasil pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda kekerasan dan mati lemas. Namun dari pemeriksaan dalam tidak ada tanda kelainan, dan kami juga sudah bawa sampel yaitu untuk melakukan pemeriksaan racun, tapi saat ini dugaan sementara saya adalah dia tewas karena dibekap bantal," jelas Bara.


Banyu Aji menganggukkan kepala beberapa kali. Ia ikut memeriksa luka-luka luar Angelica, kemudian jarinya menunjuk pada goresan khas 'Si Tangan Tuhan'.


"Ini?"


"Goresan itu sama seperti jasad-jasad sebelumnya. Beberapa jasad tertentu memiliki goresan berupa kutipan ayat Alkitab, sedangkan salib terbalik itu selalu muncul di setiap jasad, kecuali Andre."


"Seperti laporan visum yang sudah kami serahkan ke divisi satreskrim — jasad Kinanti, Johan, Valentino dan Angelica memiliki goresan tersebut. Sedangkan Cecilia hanya memiliki salib terbalik di telapak tangannya," Bara menjelaskan sedikit detail kepada Banyu Aji yang belum lama menangani kasus ini.


Faisal terus memperhatikan Banyu Aji. Namun ia kembali tertunduk ketika orang itu menoleh ke arahnya, tak lama kemudian — Banyu Aji mengajak Faisal kembali ke kantor. Dengan patuh inspektur dua ini mengikuti perintahnya.


"Bukankah itu wajar jika seseorang yang menyimpan dendam begitu lama, dengan brutal. menghabisi musuhnya?" gumam Banyu Aji ketika berjalan di koridor rumah sakit. Mendengar ucapan Banyu Aji barusan, membuat Faisal terkesiap. Bukankah dia itu petugas kepolisian, apakah pantas dia membenarkan sebuah peristiwa pembunuhan?


Ia menjadi sedikit takut pada Iptu Banyu Aji, sejak awal pertemuan mereka — Faisal sudah merasa tidak nyamAn dengan inspektur dari polda ini. Ada tekanan yang Faisal rasakan dalam tiap tatapan Banyu Aji padanya.


Malam ini hujan deras mengguyur kota Manggala, di depan rumah megah milik Pak Walikota, sedan civic hitam berhenti dan pengemudinya mengamati rumah tersebut dari dalam mobil. Charles, ia mengarahkan kaca spion ke wajahnya dan bercermin, sudut bibirnya naik — dia tersenyum dan lebih tepatnya menyeringai, ia menarik resleting dan memakai hoodie jaketnya, serta masker hitam yang sedari tadi ia pegang.


Psikopat ini turun dari mobil dengan tenang, ia ingin secepatnya menyelesaikan urusan mereka dengan pria paling berkuasa di kota Manggala tersebut, karena jika ditunda lagi, Bumi bisa saja mengacaukan rencana yang telah ia susun bersama seseorang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2