
__ADS_3
Anto melambaikan tangan kearah Citra dan menghilang di balik gebang Sekolah Dasar. Sebelum kembali ke Medan, mamanya memutuskan untuk menyekolahkan Anto agar dia memiliki pendidikan formal.
Kedua orangtuanya sedikit tenang karena Citra tidak lagi berada di rumah sendirian. Selain itu, ada Christian juga yang tinggal satu kota dengan anak mereka.
Ponsel di dashboard mobilnya tiba-tiba berbunyi. Deretan nomer asing muncul di layar. Citra menjawab panggilan telepon itu.
“Halo.”
“Saya pemilik mobil Lancer yang Anda tabrak, ke mana saya harus mengirimkan tagihan perbaikan mobil saya?” Nada ketus itu terdengar dari sambungan telepon. Ternyata pria pemilik Lancer yang ia tabrak beberapa hari yang lalu.
“Kirim saja ke kantor saya di Polres Manggala.”
“Baik! Saya akan membawa tagihan itu ke sana.” Suaranya masih saja ketus. Citra sebenarnya kesal pada orang tersebut.
Namun, dialah yang bersalah karena menabrak mobilnya. Wajah pria paruh baya pemilik Lancer itu, sangat familiar di dalam ingatan inspektur wanita ini. Dia yakin sekali pernah bertemu dengan orang tersebut di suatu tempat. Hanya saja ia lupa di mana.
Rush itu baru saja berbelok masuk ke dalam gerbang kantor saat matanya menangkap sedan Lancer merah parkir di pelataran parkir Polres. “Dasar, bapak-bapak pelit! Dia benar-benar datang membawa tagihan itu ke sini, padahal bisa saja ia menyuruh kurir.” Citra menggerutu sambil memarkir mobilnya.
Setelah mobilnya parkir sempurna, ia turun dan mencari pemilik sedan tersebut. Seorang perwira polisi yang kebetulan berpapasan dengannya mengatakan kalau ada pria sedang menunggu di depan ruangan reskrim.
Citra pun segera ke sana. Benar saja, orang itu sedang duduk di bangku depan ruangan reskrim. Di tangan pria tua itu memegang amplop putih, isi amplop itu sudah Citra pastikan adalah tagihan bengkel. Haris menarik tangannya sebelum pria tersebut menyadari kedatangan Citra.
“Sejak tadi dia mencari komandan. Itukan pria yang kita temui saat menyusuri sungai tempat Anto ditemukan, Ndan.” Haris setengah berbisik. Matanya sesekali melirik ke arah orang yang ia maksud.
Citra akhirnya ingat, dia adalah pemancing yang kebetulan mereka temui di tepi sungai. Tangannya menepuk pundak Haris. Ia berterima kasih pada inspektur dua itu karena sudah menyegarkan ingatannya.
Citra pun berjalan mendekat ke arah pria tersebut. Entah kenapa, ia merasakan hal yang janggal dan membuat dirinya merasa tidak nyaman dengan pria ini.
“Selamat pagi, bapak ....” Citra sengaja menggantung ucapannya agar orang ini memperkenalkan dirinya.
“Hendrawan. Dokter Hendrawan spesialis bedah tulang.” Ternyata pria pemilik sedan merah itu seorang Dokter dan bernama Hendrawan. Dia spesialis bedah tulang.
“Saya Iptu Citra—”
“Ya, ya, ya. Saya tahu. Anda adalah polisi yang membuat suara berisik sehingga saya sama sekali tidak bisa memperoleh seekor ikan pun.” Lagi-lagi nada menggerutu yang keluar dari mulut pria tua itu.
__ADS_1
Ia mengulurkan amplop putih yang sedari tadi dipegangnya. “Ini tagihan bengkel saya, dan saya harap Anda segera melunasinya!”
Setelah mengatakan itu, ia pergi tanpa permisi dan membuat Citra merasa sangat jengkel. Memiliki pendidikan tinggi ternyata tidak menjamin attitude seseorang. Gelar Dokter itu sangat tidak cocok disematkan kepadanya.
Haris tiba-tiba muncul di belakang Citra. Ia membuat ekspresi lucu dengan menaikkan kedua ujung matanya menggunakan jari sembari berkata, “Aku rasa pasiennya akan semakin sakit jika ditangani Dokter seperti dia.”
Citra memukul bahu Haris dengan amplop putih tadi. “Kembali bekerja!”
“Siap Komandan!” Haris menegakkan badan dan memberi hormat lalu kembali ke ruangan. Citra mengekor di belakangnya.
Di dalam ruangan, ia membaca kembali berkas-berkas pembunuhan para tunawisma yang terjadi akhir-akhir ini. Bayangan tunawisma tua di terowongan itu tiba-tiba berkelebat di benaknya, bagaimana bisa dia berpikir jika wajah Dokter tadi mirip dengan tunawisma tersebut.
Jemari Citra dengan lincah mengetik kata kunci di mesin pencarian. Ia mengetik nama Dokter Hendrawan. Beberapa artikel dan profil orang bernama Hendrawan muncul.
Sebuah berita menarik perhatiannya. Tentang kasus pemerkosaan seorang gadis yang melibatkan tunawisma sebagai tersangka.
Gadis tersebut merupakan anak dari pasangan Dokter ahli bedah tulang dan ahli ginekologi. Nama sang ayah adalah Hendrawan Kartasasmita, yang merupakan Dokter bedah tulang di rumah sakit Bhayangkara. Setelah peristiwa pemerkosaan tersebut, keluarga ini menghilang.
Mungkin dikarenakan privasi atau melindungi mental sang korban, tidak ada satupun foto keluarga tersebut yang di-ekspos ke media.
...----------------...
Ruang kerja itu masih sangat berantakan. Bara terlihat sedang tertidur dengan posisi duduk di belakang mejanya. Dia sampai tidak menyadari jika Haris dan Jaka masuk ke ruangannya.
Kedua polisi itu saling bertukar pandang. Mereka baru melihat sisi kacau Dokter forensik ini. Padahal mereka butuh bantuan Bara untuk mencari informasi tentang Dokter Hendrawan.
“Ada perlu apa kalian ke sini?” Suara Bara terdengar tepat saat mereka berbalik akan keluar. Jaka menoleh dan melihat Bara bangkit dari posisinya.
“Maaf Dokter—”
Bara mengibaskan jarinya. “Panggil aku Bara saja. Dokter hanyalah profesiku.”
Ia lalu mengambil segelas air putih dari dispenser. Bara menyingkirkan berkas-berkas kasus yang memenuhi sofa ruang kerjanya dan mempersilahkan kedua rekan Citra itu duduk.
Haris dan Jaka duduk berhadap-hadapan. Sementara Bara memilih berdiri dan bersandar di sisi meja kerjanya.
__ADS_1
“Lantas, apa keperluan kalian?”
“Iptu Citra meminta kami untuk menyelidiki tentang mantan Dokter ahli bedah tulang rumah sakit ini.” Jaka menyodorkan selembar foto yang dia ambil ketika mereka mengikuti Dokter tua tersebut.
Dahi Bara mengernyit, selama bertugas di sini, belum pernah dia bertemu dengan pria yang ada di foto ini. Apa mungkin dia Dokter senior yang resign sebelum aku bekerja di sini? batinnya jadi bertanya-tanya. Kalau Citra sudah meminta rekannya menyelidiki seseorang, itu berarti dia merasakan kejanggalan.
“Apa orang ini ada hubungannya dengan kasus para tunawisma yang sedang kalian selidiki?” Bara mengembalikan foto yang sedari tadi ia pegang.
“Kami tidak tahu. Iptu Citra hanya meminta kami menyelidiki latar belakang orang ini.” Jaka menjawab pertanyaan Bara dengan nada bingung.
Bara berpikir, mungkin pihak administrasi memiliki informasi tentang orang yang Jaka dan Haris selidiki. Dia lalu mengantar mereka ke kantor administrasi. Berkat statusnya sebagai Dokter di rumah sakit ini, ia bisa dengan mudah mengakses data pegawai di sini.
Aneh. Tidak ada nama Hendrawan di antara Dokter ahli bedah rumah sakit ini. Bara mencari sekali lagi dan hasilnya tetap nihil.
“Apa informasi Citra akurat? Aku tidak menemukan sama sekali nama Hendrawan di daftar Dokter yang bekerja di sini.”
Jaka memandang Haris. Mungkin dalam benak mereka terbersit satu pertanyaan yang sama, tentang apa hubungan sosok Hendrawan dengan kasus mereka.
Yaris merah itu meluncur pelan membelah panas kota Manggala. Siang ini begitu terik. Bahkan pendingin mobil Jaka tidak mampu mengalahkan panas.
Dia mematikan AC mobilnya dan memilih membuka jendela. Haris ikut membuka jendela dan menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Jari Haris mengetuk-ngetuk dashboard.
Melihat hal itu, Jaka yang sedang mengemudi jadi sedikit terusik. “Kenapa, Ris?”
“Eh, tidak apa-apa. Aku hanya masih penasaran kenapa komandan menyuruh kita untuk menyelidiki latar belakang Dokter Hendrawan.” Haris menghembuskan asap rokoknya dengan kasar.
Mereka berdua kembali terkurung kesunyian di tengah bising suara klakson kendaraan siang itu. Jaka memutar DVD milik Guns n Roses. Lagu berjudul 'november rain' tersebut kontras dengan cuaca panas kota Manggala.
Haris memainkan ponselnya dan iseng mencari artikel tentang Dokter Hendrawan. Tidak seperti dokter-dokter ahli lainnya yang profil mereka berseliweran jika dicari dalam mesin pencarian, dokter yang satu ini sangat misterius. Tidak ada satupun tentang dirinya yang muncul.
Setelah melalui kepadatan jalanan kota, Yaris merah Jaka memasuki pelataran parkir Polres. Mereka kembali ke unit tanpa membawa hasil apapun.
“Lapor, Komandan! Nama Dokter Hendrawan tidak ada dalam daftar dokter yang bekerja atau pernah bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara!” Jaka melaporkan hasil penyelidikan mereka.
Citra masih yakin dokter itu berkaitan dengan benang merah kasus pembunuhan ini. Bagaimana cara ia bisa menemukan latar belakang Dokter Hendrawan. Sementara data tentang dirinya tidak bisa diakses di manapun.
__ADS_1
...****************...
__ADS_2