
__ADS_3
Akhirnya berkas perkara Bara dilimpahkan ke kejaksaan dan hari persidangan pun telah ditetapkan.
Hari ini adalah sidang pertama untuk kasus pembunuhan berantai itu, Bara terus dicecar dengan pertanyaan yang menuduh, meskipun berulang kali ia membantah, tapi bukti tetap menunjuk kepadanya.
Sidang yang berlangsung cukup lama itu akhirnya berakhir juga, Bara dikembalikan ke sel tahanan, pengacaranya tidak bisa berbuat apa-apa. Di dalam sel itu Bara terus memikirkan cara bagaimana membuktikan dirinya tidak bersalah.
"Bara, kamu ada pengunjung!" ujar sipir penjara. Bara bangkit dari tempatnya duduk, dia mengikuti sipir itu ke ruang besuk. Ternyata di sana ada Faisal dan Citra, mereka berdua memandang Bara dengan rasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Melihat raut wajah kedua rekannya itu, Bara tersenyum getir. "Aku yang ditahan, kenapa wajah kalian yang menderita?"
"Dasar. Kamu masih sempat untuk bercanda!" cibir Citra kesal.
"Kami akan berusaha mencari bukti kalau kamu tidak bersalah. Bersabarlah!" pinta Faisal.
"Aku tahu, kalian pasti akan mempercayaiku," tukas Bara dengan suara tenang.
Faisal dan Citra tersenyum tipis, meskipun dalam hati mereka bimbang harus percaya bukti-bukti yang ada di depan mata ataukah pertemanan mereka bertiga sejak pertama menghadapi kasus ini. Namun mereka ingin menegakkan keadilan, jika memang Bara difitnah, maka mereka harus menemukan orang itu sebelum jatuh korban lain.
Setelah berbincang cukup lama, mereka berdua pun meninggalkan Bara yang kemudian di bawa kembali ke dalam selnya.
"Bagaimana jika Bara benar-benar pelaku pembunuhan berantai itu?" desis Citra dan Faisal hanya bisa diam. "Bagaimana jika kita juga salah tangkap?"
Mereka berdua pun keluar dari pelataran parkir lapas dengan rush hitam milik Citra. Mobil itu tidak langsung menuju ke arah kantor, melainkan ke apartemen milik Bara, Faisal dan Citra berharap ada sedikit celah untuk membuktikan jika Bara tidak bersalah.
Citra masih ingat, ketika hari penculikan Angelica, Bara berada di ruang autopsi bersamanya, tapi itu tidak bisa menjadi bukti kuat, karena bisa saja ia menyuruh orang menculik Angelica. Kemudian saat kematian Valentino — dia berada di kantor sendirian dan tidak ada yang bisa bersaksi untuknya.
Mereka kembali masuk ke apartemen Bara dan menggeledah lagi tiap sudutnya. Lalu mereka menemukan sebuah foto tiga anak laki-laki berusia sepuluh tahun dan salah satunya adalah Raka, foto itu diambil di panti asuhan Benedict.
Bara, Bumi, Raka, tiga nama itu tertulis di belakang foto yang mereka temukan barusan.
"Bumi ... Bumi ... bukankah—" Citra membuka digital memo di ponselnya, dia pernah mencatat keterangan tentang Bumi dari mendiang Suster Grace.
"Bumi adalah anak laki-laki yang saudara perempuannya meninggal, saudara perempuannya bernama Senja. Gadis kecil berusia delapan tahun itu meninggal karena demam disebabkan infeksi," tutur Citra sembari memandang Faisal.
"Apa hubungan Bara dengan Panti Asuhan Benedict?" Faisal bertanya heran.
Citra menggeleng tidak yakin. Apakah Bara juga anak panti itu? Aku harus mengkonfirmasi kembali tentang hal ini kepada Bara besok. Foto itu dia masukkan ke dalam saku dengan diam-diam, sudah dipastikan besok Bara harus menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam benak Citra.
Pagi ini, Citra sudah duduk menanti Bara, tangannya memegang selembar foto yang mereka temukan kemarin di apartemen dokter itu. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kepala Citra dan Bara harus menjawab semuanya.
Ketika pintu terbuka, Citra menengadah menatap Bara tanpa berkedip, pria ini duduk berhadap-hadapan dengan dia sekarang. Citra menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya perlahan, dia sedang menyusun beberapa pertanyaan yang harus ia dapat jawabannya saat ini juga.
__ADS_1
Ia pun meletakkan foto yang mereka temukan di apartemen Bara ke atas meja, kening Bara sontak berkerut, wajah pria ini terlihat sangat terkejut dengan foto yang dibawa oleh Citra.
"Dimana kamu mendapatkan foto ini?!" tanya Bara kasar.
"Berarti kamu tahu tentang foto ini?" Citra mencecar Bara, tapi dia terdiam. Sepertinya dia menyesal karena emosinya yang meledak tiba-tiba tadi, saat melihat foto kenangan bersama Raka dan Bumi itu. Padahal foto itu hilang ketika hari ayahnya ditemukan tewas.
"Jika kamu ingin kami bantu, kamu harus jujur. Ceritakan apa hubunganmu dengan mendiang Raka, saudara kembarku dan juga panti asuhan Benedict!" tegas Citra.
"Aku tidak ingin mengatakan apapun!" Bara berdiri dan meminta sipir mengantarnya kembali ke dalam sel.
Dia meninggalkan Citra yang termangu sendiri di dalam ruangan itu. Misteri tentang Bara dan Bumi membuatnya sangat bingung, Citra ingin Bara menceritakan hal yang ia ketahui. Setidaknya untuk membuktikan jika bukan Bara yang melakukan pembunuhan, melainkan Bumi.
Citra kembali ke kantor dan membongkar kembali file kasus suster Grace. Benar saja, ia menemukan data Bara di antara berkas anak-anak panti asuhan, dokter itu ternyata di bawa ke panti asuhan ketika berusia sepuluh tahun karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, kemungkinan foto tersebut diambil ketika dia belum lama masuk ke panti itu.
Dia pun kemudian mencari data tentang Bumi juga, tidak banyak yang tertulis di sana — hanya ada beberapa keterangan tentang kapan Bumi dan adik perempuannya masuk ke panti asuhan itu,serta tanggal dia diadopsi oleh pasangan psikiater bernama Agustina dan James. Tertulis juga di dalam dokumen tersebut, jika Bumi mengalami gangguan jiwa setelah terguncang saat kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki yaitu Senja.
Pasangan psikiater yang mengadopsi Bumi adalah psikiater yang juga menangani konseling Bumi pasca kematian Senja, mereka memutuskan untuk mengadopsi Bumi setelah dia juga kehilangan Raka, sahabatnya. Sebab, James dan Agustina takut, jika Bumi akan menjadi lebih parah kalau dibiarkan seperti itu.
Tubuh Citra limbung, ternyata dugaannya benar, Bara memiliki kaitan dengan panti itu. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah dia sedang dijebak ataukah dia memang menjadi kaki tangan?
Sejauh ini yang mencurigakan adalah, TKP pembunuhan itu sangatlah bersih, tanpa jejak. Satu hal lagi, jika goresan itu dilakukan oleh orang yang ahli dalam menggunakan pisau bedah, bukannya setiap hari Bara membedah jasad-jasad di ruang autopsi?
Pencarian Citra membuat dia menemukan satu fakta yang menempatkan dirinya kembali dalam dilema, antara perasaan bahwa Bara tidak bersalah dan sedang dijebak, atau Bara memang kaki tangan yang bertugas untuk membereskan lokasi kejadian perkara.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya sedang memeriksa sesuatu," jawab Citra gugup. Mata Banyu Aji menyipit, ia seperti curiga dengan gerak-gerik rekannya ini.
Aku harus menemukan anak yang bernama Bumi ini untuk mendapat titik terang tentang Bara, gumam Citra dalam hati. "Aku permisi dulu!" pamitnya kepada Banyu Aji.
Banyu Aji menatap punggung Citra dengan tatapan penuh arti, di bibirnya tersungging segaris senyum misterius. Ia melirik file yang tadi Citra baca dan kembalikan ke dalam rak lagi.
Suara ketukan pulpen di atas meja mengusik ketenangan Faisal, ia melirik Citra yang terlihat sangat gusar.
"Kenapa, Ndan? Kelihatannya komandan ada yang sedang dipikirkan?" Tangan Citra memberi isyarat kepada Faisal untuk mendekat.
"Tolong kamu cari tahu tentang psikiater bernama Agustina dan James, yang pernah menjadi konseling anak di panti asuhan Benedict ...." bisik Citra.
"Untuk apa, Ndan?" tanya Faisal tidak mengerti.
"Lakukan saja! Dan tolong jangan sampai ini bocor. Apalagi sampai Iptu Banyu Aji tahu!"
Faisal mengangguk dan segera melaksanakan perintah komandannya, ia pun beranjak untuk penyelidikan, tapi ketika hendak pergi, Banyu Aji memergokinya. Langkah Faisal terhenti.
"Mau kemana kamu di jam kerja?" tanya Banyu Aji.
__ADS_1
"Sa—saya mau ke—"
"Saya minta Faisal ke apotik untuk membelikan saya aspirin, saya sedang tidak enak badan hari ini," jelas Citra. Lalu mengibaskan tangannya menyuruh Faisal cepat pergi. Meskipun Banyu Aji menatap mereka berdua dengan tatapan curiga.
Faisal segera pergi, ia tidak mengerti kenapa Iptu Citra memerintahkan dia mencari orang-orang yang tidak terkait dengan kasus ini. Dia bingung harus memulai dari mana mencari kedua psikiater ini. Kemudian dia memutuskan untuk memulai dari rumah sakit dan klinik bersama.
......................
Akhirnya — setelah seminggu melakukan pencarian, ia menemukan alamat rumah pasangan psikiater tersebut. Namun sayangnya, ketika ia mengunjungi alamat tersebut, dia hanya menemukan sebuah rumah besar yang sudah ditumbuhi lumut, rumah itu kelihatannya sudah lama kosong.
Faisal celingukan mencari seseorang untuk ia bertanya tentang pemilik rumah ini. Kemudian seorang pria yang sudah tua keluar dari rumah di sebelah rumah kosong itu.
"Maaf, saya petugas kepolisian, saya ingin mencari tahu tentang pemilik rumah ini," ujar Faisal.
Pria tua itu menatap Faisal curiga dan membaca tanda pengenalnya. Setelah memastikan pria di hadapannya itu benar-benar petugas polisi, ia kemudian berubah menjadi sedikit ramah.
"Pasangan psikiater itu tiba-tiba menghilang. Entah mereka pindah kemana dan tidak ada yang melihat ataupun tahu kepindahan mereka," jelas pria tua itu.
"Maksud Anda?" tanya Faisal tidak mengerti.
"Ya, mereka tiba-tiba hilang begitu saja." Penjelasan pria tua ini sama sekali tidak membantunya.
"Tapi, setahu kami, mereka memiliki seorang anak laki-laki yang mereka adopsi dari panti asuhan, saya lupa nama anak itu. Apalagi dia tidak pernah terlihat di lingkungan ini karena kuliah di luar kota, kalau tidak salah — gosipnya dia juga mendaftar di kepolisian. Entah dia sudah jadi polisi atau belum," tutur pak tua itu lagi.
Faisal terkejut mendengar jika anak angkat pasangan psikiater itu adalah calon perwira polisi. Entah kenapa dia merasa penasaran dengan kondisi di dalam rumah tua ini — Faisal pun memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam rumah tersebut.
Dia menjadi lebih terkejut lagi ketika gerbang rumah ini tidak terkunci, sepertinya rumah ini tidak ditinggalkan pindah oleh pemiliknya. Kakinya terus melangkah dengan hati-hati memasuki halaman rumah itu, setibanya di depan pintu masuk — ia terkejut karena pintu rumah itu terbuka dengan mudahnya, aroma pengap pun menusuk indera penciuman Faisal.
Perabotan di dalam rumah ini sudah banyak yang rusak. Terlihat sekali jika rumah ini sudah kosong bertahun-tahun lamanya. Sarang laba-laba ada di tiap sudut ruangan, Faisal mengambil ponsel dan menyalakan senter.
Jantung Faisal berdegup kencang saat berada di dalam, cahaya senter itu menerpa tiap sudut rumah yang sudah dipenuhi sarang laba-laba itu. Jika memang penghuni rumah ini pindah, kenapa mereka tidak menutup perabotan mereka? Apakah karena begitu tergesa-gesanya pergi sampai mengunci pintu rumah pun mereka lupa, Faisal membatin dalam hati.
Ruangan itu cukup gelap dan penuh sarang laba-laba, Faisal terus masuk sembari menyingkirkan sarang laba-laba yang menghalanginya, suara derit di bawah kakinya membuat ia curiga dan dia pun mengetuk-ngetuk lantai yang ia injak. Suara itu seperti dia sedang mengetuk pintu kayu, hal tersebut membuat Faisal curiga.
Dia pun berjongkok dan menyinari bagian lantai tadi dengan senter. Benar saja, sebuah pintu kayu tertutup karpet lusuh dengan gembok yang terpasang pada kunci pintu tersebut. Faisal memberanikan diri membuka pintu itu, ia melihat anak tangga yang menuju ruang bawah tanah.
Entah kenapa, rasa penasarannya terus menuntun dia untuk masuk ke dalam, ternyata — ruangan bawah tanah itu lebih gelap dari gudang di atas. Ketika tiba di dasar — Faisal menyapu ruangan dengan cahaya senter, kemudian dia tiba-tiba menjatuhkan senternya karena ia terkejut dengan apa yang dia lihat di dalam ruang bawah tanah itu.
Di luar rumah psikiater tersebut, pengendara SUV hitam yang sedang mengamati dari kejauhan, orang ini sudah mengikuti Faisal sejak lama. Jarinya menekan deretan angka di ponselnya dan tak lama kemudian terdengar nada sambung.
"Ya, ini saya ... target sudah masuk ke dalam rumah itu ... rencana terakhir akan segera dilaksanakan." Setelah memutus sambungan teleponnya, orang tersebut melajukan SUV hitam itu meninggalkan rumah James dan Agustina.
...****************...
__ADS_1
__ADS_2