
__ADS_3
Tangan kecil Anto menggenggam erat tangan Citra. Dadanya begitu penuh, hingga sesak karena bahagia. Seumur hidupnya, Anto tidak pernah bermimpi bisa memiliki keluarga seperti ini.
“Selamat datang di rumah, Anto.” Citra berbalik menatap ke arah bocah tersebut, sekarang dia sudah bukan gelandangan lagi. Anto resmi diadopsi oleh orang tua Citra.
Bocah itu memeluk erat polisi yang telah menjadi dewi penolongnya ini. Tatapannya beralih kepada Adi dan Rita. “Terima kasih, Pak Adi, Bu Rita.”
Senyum mereka berdua mengembang melihat kebahagiaan yang polos di raut wajah Anto.
Citra membuka pintu dan membiarkan Anto menghambur masuk ke dalam rumah yang tidak pernah berani diimpikannya itu. Baik Citra, Adi maupun Rita hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat Anto berkeliling di dalam rumah sembari berdecak kagum. Sesekali ia menatap Citra dengan tatapan malu-malu karena merasa sangat udik.
Suara televisi terdengar dari ruang keluarga. Adi berkali-kali mengganti saluran televisi karena semua media sedang memberitakan tentang politik dan juga kasus yang sedang ditangani Citra.
“Warga Manggala sedang merasa tidak aman. Setelah pembunuhan berantai yang melibatkan dua petugas kepolisian, saat ini kota Manggala kembali menghadapi teror pembunuh berdarah dingin. Keamanan penduduk sedang terancam. Lantas kemana para petugas kepolisian?” Seorang reporter berita kriminal menutup liputannya dengan kalimat yang menohok kepolisian.
Media cetak maupun elektronik sedang gencar-gencarnya mengkritik kepolisian. Apalagi semenjak mendiang Faisal dan Banyu Aji diketahui sebagai pelaku pembunuhan berantai. Citra selesai makan siang dan akan kembali ke kantor saat Christian datang ke rumahnya.
Mata pria itu memicing ketika melihat Anto. Ia menatap kedua orang tua Citra dengan penuh tanya. “Anak ini ....”
Rita memegang bahu Anto yang hanya berani mengintip dari balik punggung Citra. “Ini Anto, Antonius Hutabarat. Anak angkat kami, baru saja kami adopsi dari panti asuhan atas permintaan Citra.”
Melihat Christian, bocah itu semakin mengkerut dan memegang erat baju kakak angkatnya. Dia bahkan menolak untuk disuruh berjabat tangan dengan pria tersebut.
Tingkah Anto aneh, itu memicu kecurigaan Citra, sehingga ia berbalik dan berjongkok di hadapan bocah yang terus menundukkan kepalanya ini. Kedua tangan Citra memegang bahu Anto. “Itu teman kakak, namanya Kak Christian, kamu takut sama Kak Christian?” Ia bertanya sambil melirik dengan curiga ke arah pria yang sebenarnya sangat menyebalkan itu.
Anto diam, tapi kemudian dia membisikkan sesuatu kepada Citra yang membuat dirinya tertegun. “Ma, Pa, aku kembali ke kantor dulu. Anto ikut bersamaku.” Ia menggandeng tangan Anto dan mengajaknya ikut dengannya.
Dalam perjalanan, Citra kembali penasaran dengan apa yang Anto bisikkan kepadanya tadi. “Kamu pernah liat kakak itu dimana?” Citra bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
__ADS_1
“Di sekitar kontainer tempat aku, Bu Maryam dan teman-teman disekap.” Bocah ini menjawab dengan nada lirih, jarinya memainkan ujung baju yang ia pakai.
Kening Citra berkerut, untuk apa Christian ada di sana? Sedangkan ketika tim mereka datang ke sana, tempat itu sudah kosong. Tampaknya mereka tahu jika polisi sudah mencium jejak mereka, pihak kepolisian hanya bisa menemukan alat-alat medis serta beberapa baju seragam pelabuhan palsu. Selain dari itu, mereka tidak menemukan barang bukti sama sekali.
Citra terus saja bertanya dalam hati. Apa dia ke sana sebagai seorang jaksa? Ataukah dia ada hubungannya dengan kasus ini? Lantas jika dia berhubungan, maka apa yang membuat gelandangan jadi korbannya?
“Kak, Kak Citra! Awas kak!” Ia tersadar ketika mendengar teriakan Anto. Namun terlambat, rush itu menabrak bagian belakang sebuah mobil lancer berwarna merah yang berhenti karena lampu merah.
Ia pun segera turun dari mobil dengan panik, pemilik lancer tersebut juga terlihat turun dari mobil. Sekilas Citra merasa tidak asing dengan pria pengemudi mobil sedan merah itu. Ia menatap Citra dengan marah.
“Aarghh! Sial!” Pria itu memaki ketika melihat bumper mobil belakangnya penyok. “Kau bisa mengemudi tidak!?”
Citra menangkupkan tangan di dadanya penuh penyesalan. Saat melihat kondisi bagian belakang Lancer itu, ia maklum jika sang pemilik marah besar. Dia mengeluarkan secarik kartu nama dan ia berikan kepada pria pemilik mobil sedan tersebut.
“Cih, polisi! Pantas saja kau seenaknya di jalanan!” Ia menyindir Citra dengan kasar setelah membaca kartu nama itu.
Ketika ia memunggungi pria tersebut, ada sensasi aneh yang ia rasakan. Orang itu seperti tidak asing baginya. Pria dengan tubuh tidak terlalu tinggi namun memiliki otot yang kekar, usia pria itu mungkin sebaya dengan papanya.
Wajahnya penuh cambang yang sudah memutih sebagian dan tampak tidak terawat. Dari bentuk wajah, pria itu adalah keturunan etnis tionghoa. Akan tetapi, kenapa ia merasa tidak asing dengan orang itu.
Citra dan Anto larut dalam pikiran masing-masing. Bocah itu masih terlihat tidak nyaman setelah pertemuannya dengan Christian. Apalagi ketika ia tahu jika orang itu adalah teman dekat kakak angkatnya ini.
Akhirnya rush itu parkir di pelataran parkir Polres. Citra mengajak Anto turun, seisi kantor heran melihat ia bersama seorang anak kecil.
“Komandan! Komandan!” Seseorang berteriak dari arah belakang, ternyata itu adalah Jaka.
Ia terengah-engah karena mengejar Citra dari parkiran. Di tangannya ada amplop coklat. Amplop itu disodorkan Jaka kepada Citra yang menerimanya dengan wajah heran.
__ADS_1
“Dari Dokter Bara.” Jaka menjawab reaksi heran komandannya itu. Ia tidak sadar jika Citra sedang bersama seorang bocah.
“Anto, kamu tunggu di ruangan sana ya, cari Ipda Haris. Minta dia antar kamu ke ruangan kakak.”
Bocah kecil ini mengangguk gembira, mengingat dia bercita-cita jadi polisi saat dewasa nanti. Kakinya setengah berlari menuju arah yang ditunjuk Citra.
Meskipun tumbuh besar di jalanan, Anto termasuk sangat cerdas. Citra ingat, bocah ini pernah bercerita jika diajarkan oleh mendiang Bu Maryam mengenal huruf. Sejak saat itupun ia mulai belajar membaca sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia mulai melahap tiap koran dan juga buku-buku yang ia temukan di pembuangan sampah.
“Ini hasil visum dari ketiga korban? Apa Dokter Bara melakukan pemeriksaan kembali?” Jaka hanya mengendik. Pada kenyataannya dia hanya diminta untuk menyampaikan amplop ini pada sang komandan.
...----------------...
Lantai kamar Citra berserakan kertas dan foto kasus tunawisma yang sedang ia tangani. Dia takut ada sesuatu yang ia lewatkan saat penyelidikan. Tali yang digunakan untuk mengikat dan menggantung korban itu sangat menarik perhatiannya.
“Dia menganggap gelandangan sebagai anjing liar, Kak.” Anto tiba-tiba muncul dengan senyuman lebar dan mengejutkan Citra. Bocah ini jadi lebih bersih sejak tinggal bersamanya.
Anto menggaruk kepalanya. Raut wajah itu menunjukkan rasa bersalah karena mengejutkan kakak angkatnya itu. “Maaf, Kak. Tadi Anto sudah ketuk pintu, tapi kakak tidak menyahut. Karena pintunya terbuka, Anto masuk saja.”
Citra hanya tersenyum tipis dan kembali konsentrasi pada kertas-kertas di lantai itu. Ia sedikit tertarik dengan ucapan Anto yang mengatakan jika pembunuhnya menganggap mereka seperti anjing liar. Ternyata bocah ini sependapat dengan dia, Haris dan Jaka.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa mengira pembunuh itu menganggap kalian seperti anjing liar?” Akhirnya dia tidak bisa menahan rada penasaran atas ucapan bocah ini.
“Anto dengar sendiri percakapan para penjaga itu kalau bos mereka katanya menganggap gelandangan itu merusak pemandangan seperti anjing liar. Mereka tidak pantas memiliki tangan karena hanya digunakan untuk mengemis.”
Citra tertegun. Apakah hanya karena alasan yang sepele itu sehingga sang pelaku merasa harus membersihkan gelandangan dengan cara membunuhnya?
...****************...
__ADS_1
Bersambung....
__ADS_2