
__ADS_3
Citra memarkir mobilnya di depan gerbang gedung sekolah tempat Anto belajar. Beberapa anak berseragam putih hijau itu menghambur keluar gerbang, tapi dia tidak melihat Anto sama sekali.
Dia pun memutuskan untuk turun menghampiri para siswa itu dan bertanya tentang Anto. Satu persatu anak yang dia tanyai menggeleng tanda tidak tahu keberadaan Anto. Tiba-tiba, dia melihat beberapa anak yang sedang bermain bola di halaman sekolah.
“Adik kecil!” Citra memanggil anak laki-laki bertubuh sama kurusnya dengan Anto. Anak itu menghampiri Citra bersama keempat temannya.
“Kalian tahu Anto? Anak baru di kelas enam A.” Citra menanyakan perihal Anto dan mereka berempat saling bertukar pandang.
Salah satu dari mereka mengatakan kalau Anto tadi pergi bersama seorang om ganteng yang mengendarai mobil sedan hitam metallic. Anak tersebut juga bilang jika Anto terlihat tidak nyaman ikut dengan pria itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Citra segera kembali ke mobil dan memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Anto. Sudah cukup dia kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Rumah mungil itu terlihat sepi. Citra memarkir mobilnya di halaman rumah, tapi tidak ada tanda-tanda jika Anto ada di dalam. Ah, kenapa aku tidak membelikan Anto ponsel! Citra memukul-mukul pelan pelipisnya dengan kesal.
Citra mencoba membuka pintu dan memang masih terkunci. Rasa cemas meliputi hatinya, apalagi ada kemungkinan Anto adalah saksi kunci tentang peristiwa pembunuhan para tunawisma itu. Bagaimana jika dia ditangkap dan ketahuan oleh salah satu dari mereka? Banyak ketakutan yang muncul di dalam benak Citra.
Tidak lama kemudian, sebuah camri hitam metallic berhenti di depan rumahnya dan Anto terlihat turun bersama Christian. Ada rasa lega sekaligus kesal karena cemas dalam diri Citra.
“Kamu dari mana saja Anto? Kakak cemas ....”
“Sudahlah, ini salahku, aku tadi kebetulan lewat di depan sekolah dia dan kulihat anak ini sedang berdiri di trotoar. Aku pikir kau sibuk, jadi ....”
“Lain kali jangan mau ikut sama orang selain kakak, okay?” Citra tidak menghiraukan penjelasan Christian. Ia tahu benar jika Anto merasa sangat tidak nyaman di dekat pria ini.
Anto mengangguk dan berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Christian hanya tersenyum penuh misteri.
“Tuan Christian, tolong jangan seenaknya membawa Anto jalan-jalan tanpa sepengetahuanku. Anak itu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang!”
“Sorry, aku hanya berbaik hati ingin membelikannya ini.” Christian mengacungkan paper bag berisi chicken burger.
Citra mengambil bungkusan itu dengan kasar, lalu meninggalkan Christian dan masuk ke dalam rumah sambil menggerutu, “Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya membawa Anto tanpa meminta ijinku!”
__ADS_1
Di dalam rumah Citra menemukan Anto yang duduk termenung. Ia menghampiri bocah kelas enam itu dan menanyakan kenapa bisa dia pulang bersama Christian.
“Ta—di, anu ... Kak Citra, Anto lagi nunggu kakak, ta—tapi kak Christian kebetulan lewat.”
“Terus?”
“Anto diajak jalan-jalan sama kak Christian,” lanjut bocah ini menjawab dengan tatapan kosong.
Ada yang aneh dengan Anto, entah kenapa Citra merasa bocah ini sedang berbohong padanya. Namun, dia tidak ingin memaksanya bicara untuk saat ini. Citra hanya diam dan menyodorkan bungkusan dari Christian tadi pada Anto.
Dahi Anto mengernyit, “Kapan kakak beli ini buat Anto?” Bocah itu bertanya heran sembari menerima bungkusan berisi burger tersebut.
“Bukannya kamu bilang sama Christian kalau kamu suka burger?” Kali ini Citra menjadi curiga dengan pria yang merupakan anak dari sahabat papanya itu.
Anto menggeleng.
...----------------...
“Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan ....”
Ini adalah kesekian kali Citra menghubungi Jaka, tapi nomer petugas juniornya itu tidak bisa dihubungi. Haris juga sudah mengunjungi rumah rekannya tersebut dan hasilnya nihil. Sudah seminggu ini Jaka menghilang, ia sama sekali tidak memberi kabar.
Keberadaan Jaka yang belum ditemukan di mana rimbanya sampai hari ini, membuat mereka berdua khawatir. Takut jika terjadi apa-apa dengan rekan satu tim mereka tersebut, sementara keduanya tidak tahu jika rekan mereka itu sedang berjuang untuk melepaskan diri dari maut.
Ruang bawah tanah.
Tangan Jaka terikat ke atas oleh rantai besi, mulutnya pun disumpal dengan secarik kain, wajah inspektur dua ini babak belur karena luka. Sial bagi polisi muda ini karena nekat menyelidiki Dokter Hendrawan sendiri dan di sinilah ia berakhir.
Samar suara logam sedang beradu terdengar dari luar. Ruangan ini cukup gelap untuk melihat secara normal, satu-satunya cahaya adalah sinar bulan yang menyusup melalui celah-celah ventilasi.
Pintu ruang bawah tanah itu terbuka, seseorang muncul dari balik pintu. Perawakannya tinggi, tubuh tegap, hanya saja wajah orang itu tertutup riasan seperti tokoh Joker.
__ADS_1
Ia mendekat ke arah Jaka, tangan yang mengenakan kaos tangan hitam tersebut mencengkeram dagu polisi ini. Ada seringai mengerikan terlihat di wajahnya.
“Ini adalah hukuman untukmu, jika kau terlalu ingin tahu urusan orang lain, Opsir.” Suara orang itu melengking tajam. Tangannya menarik kain yang menyumpal mulut Jaka.
“Kenapa kalian lakukan hal kejam kepada para tunawisma tersebut?” Jaka meringis karena merasakan perih di bagian bibirnya yang terluka. Ia di hajar habis-habisan oleh para bodyguard yang berjaga di tempat dirinya terakhir menyelidiki Dokter Hendrawan.
Orang berkedok Joker itu berdecak sembari menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. Ia masih belum berniat kembali menyumpal mulut Jaka.
Dengan nada angkuh, dia pun berkata, “Kau tahu? Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang tidak memiliki sampah. Sampah membuat udara di sekitar kita menjadi bau serta merusak pemandangan, gembel dan gelandangan itu sama halnya seperti sampah, me—ru—sak pemandangan!”
“Punya hak apa kau menyamakan mereka dengan sampah? Kaulah yang sampah!”
Orang ini tertawa dengan sangat keras. Ia menoleh dan mendekat ke arah Jaka lagi, dia bertingkah bak pemain teater dan ruangan ini adalah panggungnya, sedangkan Jaka menjadi penonton tunggal.
“Kau pikir karena mereka miskin lantas mereka menjadi orang yang patut dikasihani? Kau salah, Opsir! Mereka mampu melukai orang lain untuk memenuhi hasrat mereka. Jadi ... bagiku para gelandangan itu hanyalah gerombolan anjing liar yang kelaparan!”
“Sin—hmmpphh ....” Mulut Jaka kembali disumpal dengan kain oleh orang tersebut.
Ia meninggalkan Jaka yang berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikatnya, meskipun tahu usahanya sia-sia. Saat ini dia hanya pasrah dan menghemat tenaganya.
...----------------...
Bau anyir tercium di setiap sudut ruang sempit dan gelap itu. Seorang pria berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahunan itu terbaring di atas meja stainless yang dingin. Matanya melotot tak berkedip dan mulutnya menganga lebar, menyiratkan rasa takut serta sakit yang teramat sangat.
Tubuh yang berbalut pakaian compang-camping itu sepertinya meregang nyawa dalam kengerian. Beberapa orang penjaga ruangan tersebut, memandang pria yang memakai riasan seperti Joker itu dengan sorot ketakutan, membayangkan merekalah yang terbaring di sana beberapa menit lalu.
Wajahnya semakin menakutkan dengan seringai lebar dan binar mata yang sangat keja. Dia berputar dan menari seolah sedang merayakan sesuatu.
Hanya satu kata yang terbersit dalam pikiran orang-orang di dalam ruangan ini sekarang, yaitu pria tersebut benar-benar seorang psikopat. Dokter Hendrawan memegang alat pemotong tulang yang berlumuran darah.
Rasa sesal atas kejadian masa lalu itu, menjelma menjadi sosok iblis yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Seharusnya dia tidak menceritakan tentang asal-usul mereka ketika masih kecil.
__ADS_1
...****************...
__ADS_2