
__ADS_3
Tangan Citra menggenggam erat foto yang ada di meja tanpa tahu siapa yang mengirim. Dadanya terasa sesak, sampai untuk berdiri pun dia tidak sanggup. Hatinya memberontak berusaha melawan kenyataan yang ada di tangannya itu.
“Wajah ini ....” lirihnya tanpa sanggup mengatakan apapun lagi. Meskipun samar, dia bisa mengenali wajah seseorang yang familiar di balik topi hitam yang dikenakannya itu.
Citra bergegas keluar dari ruangan dan bertanya pada anak buahnya tentang siapa yang meletakkan surat serta berkas di atas mejanya. Karena tidak ada seorang pun yang tahu, Citra pun memutuskan bertanya pada petugas piket jaga.
“Ada yang datang mencari Anda tadi. Saya pikir mendiang papa Anda hidup lagi, karena wajah beliau sangat mirip.” Seorang polisi yang bertugas jaga saat itu menjelaskan pada Citra.
“Lantas?”
“Beliau mengaku bernama Yudi, saudara kembar papa Anda dan menunjukkan identitasnya juga. Jadi, saya minta beliau menunggu di depan ruang Reskrim tadi.” Petugas itu melanjutkan penjelasannya.
'Jadi, apakah yang datang dan meletakkan foto-foto tersebut di mejaku adalah Om Yudi atau papa?' Kepala Citra terasa berat. Berapa banyak teka-teki lagi yang harus ia jawab tentang pembunuhan tidak masuk akal ini?
Setelah kuburan massal itu, foto-foto di mana orang yang entah papa angkatnya atau kembaran papa angkatnya, sedang menggiring beberapa tunawisma masuk ke dalam sebuah mobil van dan seolah sengaja menunjukkan jika dia adalah penjahatnya.
'Apa hubungan dia dengan Evelyn? Lantas, apakah yang terbunuh kemarin adalah Om Yudi atau papa? Aku tidak sempat memperhatikan apakah ada luka di atas kelopak mata kirinya.' Lagi-lagi berbagai pertanyaan muncul dalam benak Citra.
Dia berjalan kembali ke ruangan sambil melamun memikirkan jawaban atas semua pertanyaan dalam benaknya. Haris dan Jaka serta beberapa anggota tim Citra, hanya saling bertukar padang melihat kondisi komandan mereka yang kacau.
“Dokter Bara mengatakan kalau komandan seperti membawa kutukan kematian.” Terdengar salah satu anggota berbisik pada anggota lain. Haris mendelik galak ke arah polisi yang menggosipkan Citra barusan.
Namun, tidak bisa dipungkiri jika Citra memang seolah dikelilingi oleh aura kematian. Ada gosip yang beredar, jika kasus pembunuhan yang sama pun terjadi ketika dia pertama kali ditugaskan ke divisi reskrim di Medan. Lantas, kedua orang tua, calon tunangan, juga adik angkatnya terbunuh.
Malam semakin larut, jawaban atas pertanyaan dalam benak mereka pun masih hitam. Motif apa yang sebenarnya mendorong para psikopat ini?
__ADS_1
...----------------...
Karena lelah, Citra tertidur di mejanya. Namun, tidurnya terusik karena suara gemerisik walkie talkie yang tergeletak di atas meja.
“Potongan tubuh manusia ditemukan terapung di kali antara!” Laporan petugas patroli itu malah membuat pagi Citra kacau. Dia pun bergegas ke mengajak timnya menuju TKP.
Ketika tiba di sana, tim forensik sudah tiba terlebih dahulu. Bara hanya sendirian, sama seperti tadi sore. Mungkin Rianti sedang sibuk.
“Selamat pagi, Komandan!” sapa petugas patroli yang pertama kali mendapat laporan warga.
Citra hanya mengibaskan jari pada petugas tersebut. Jujur saja, dia masih setengah sadar dari mimpi buruknya. Semalam dia seperti bermimpi melihat orang yang mirip papa angkatnya menjadi salah satu pelaku pembunuhan tunawisma itu. Atau mungkin malah menjadi pelaku tunggal.
Petugas polisi tadi menjelaskan detail kronologi penemuan potongan tubuh di dalam sebuah plastik hitam itu. Plastik hitam berisi potongan tubuh manusia tersebut ditemukan oleh salah satu penduduk sekitar Kali Antara, benda itu tersangkut pada tanaman eceng gondok yang tumbuh di pinggiran kali. Awalnya warga mengira itu hanya sampah biasa yang dibuang sembarangan dan dia akan membuangnya agar kali tidak kotor.
“Enam kaki, enam tangan. Kau pikir kita sedang berhadapan dengan iblis atau manusia?” Dokter ini malah balik bertanya tanpa menoleh.
“Sinting! Mereka membunuh tiga orang sekaligus dan membuatnya seperti ini!?” Haris memaki perbuatan sadis yang dilakukan pelaku.
“Mereka benar-benar sudah tidak waras. Membunuh dan mencincang sepertinya jadi kesenangan mereka,” tutur Bara. Dia menunjuk bagian-bagian sendi yang terpotong. “Lihat! Ini pekerjaan yang dilakukan dengan hati-hati dan sangat rapi.”
Memang benar, itu bukanlah suatu pekerjaan yang dilakukan dengan spontan. Seperti yang dikatakan Bara, cara memotong mereka sangat rapi.
Citra memasukkan tangan ke saku jaket dan jarinya seperti menyentuh sesuatu. Dia mengeluarkan kertas di dalam saku tersebut, kepalanya berdenyut keras. Ternyata dia tidak bermimpi, foto itu benar-benar nyata.
Ekor mata Jaka melirik sang komandan, dia bertekad untuk menangkap pelaku yang sudah membuat dia kehilangan satu tangan itu. Foto yang ada di tangan Citra menarik perhatiannya.
__ADS_1
“Komandan!” panggil Jaka tanpa sengaja membuat Citra tersentak dan foto di tangannya terjatuh.
Jaka memungut foto tersebut. “Orang ini yang melumpuhkan saya, hingga saya berhasil ditangkap,” tuturnya sembari mengamati foto tersebut.
Tidak aneh jika Jaka bisa dengan mudah dilumpuhkan entah itu Yudi atau Adi papanya. Kedua orang itu adalah pasukan khusus yang terlatih untuk medan perang. Meski sudah pensiun, Citra tahu benar kemampuan papa angkatnya itu.
Citra diam dan merebut foto itu dengan kasar dari tangan Jaka, kemudian mendekati Bara. “Kapan kira-kira —”
Gemerisik walkie talkie memotong pertanyaan Citra untuk Bara. Lagi-lagi laporan tentang penemuan potongan tubuh manusia, kali ini bagian dada hingga batas paha. Citra menyerahkan TKP pada Haris dan mengajak Jaka ikut dengannya, karena ada beberapa hal yang harus ia tanyakan pada Jaka.
Lokasi penemuan kedua itu sekitar dua puluh kilometer dari TKP yang sekarang, ban mobil itu terus menggerus aspal Manggala hingga menginjak jalanan rusak dan berbatu di pedalaman kota. Dalam perjalanan, Citra sempat menanyakan tentang ucapan Jaka beberapa waktu lalu.
“Kau bilang pria itu mirip mendiang papaku?” tanya Citra tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Jaka menoleh ke arah Citra dan menatapnya dengan sorot ragu.
“Siap! Benar, Ndan.” Nada bicara petugas polisi di samping Citra itu terdengar lirih dan tidak nyaman. “Akan tetapi, ada yang berbeda dari wajah pria itu. Namun saya tidak bisa mengingatnya.”
“Luka di atas kelopak mata kiri misalnya?” tebak Citra ketika memarkir kendaraannya di dekat TKP kedua mereka.
“Betul, Ndan. Orang itu memiliki bekas luka di atas kelopak mata kirinya!” seru Jaka.
Citra melangkah keluar dari mobil, dia diam dan terus membisu dalam kata, tapi benaknya terus saja bertanya tentang siapa pria itu. Apakah dia Om Yudi ataukah Adi papanya? Jika itu Adi, berarti yang terbunuh adalah Om Yudi. 'Mungkinkah pria itu juga terlibat dalam kematian orang tua angkatku?' Satu pertanyaan lagi muncul sebelum dia berhasil menjawab pertanyaan yang sudah menumpuk dalam benaknya sejak kemarin.
...****************...
Apakah Citra akan berhasil menemukan jawaban tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya? Apakah sosok itu adalah Adi atau Yudi?
__ADS_1
__ADS_2