
__ADS_3
Sunyi.
Suasana di dalam avanza Faisal terasa muram, mereka berdua sama-sama termangu mengingat penjelasan Indahsari tadi. Citra menenggelamkan wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kita temui Bara!" ajak Citra pada Faisal.
"Ta—tapi, apa mungkin Bara pelakunya?" tanya Faisal gugup.
"Jawaban itu akan kita peroleh setelah memastikan alibi Bara pada kejadian-kejadian pembunuhan dan penculikan itu!" tegas Citra. "Setidaknya kita tidak akan meragukan dia."
Avanza itu pun akhirnya menuju rumah sakit tempat Bara bekerja dengan perasaan tidak karuan, mereka tetap harus menjalankan tugasnya. Dalam hati, mereka berharap bahwa Bara yang Indahsari maksud adalah Bara yang lain.
Faisal memarkir mobilnya di pelataran parkir Rumah Sakit Bhayangkara, kedua orang ini urung untuk turun, masih ada keraguan sejenak yang muncul di hati mereka. Namun, tugas tetaplah tugas dan mereka harus memastikan keraguan mereka tersebut agar tidak berlarut-larut hingga akhirnya bisa mencurigai Bara.
"Bara! Anda ditahan atas dugaan percobaan pembunuhan kepada Pak Freddy E.Yosef!" tegas Citra ketika masuk ke ruang kerja Bara. Alis Bara naik sebelah, ia sangat terkejut dengan penangkapannya yang tiba-tiba ini.
"Tu—tunggu! Cara prank kalian ini tidak lucu! Kalian bercanda, 'kan?" tanya Bara tidak percaya.
"Anda bisa menjelaskan di kantor, semua keterangan yang Anda ucapkan bisa dijadikan bukti di pengadilan nanti. Anda berhak diam dan didampingi pengacara!"
"Borgol dia!" perintah Citra pada Faisal.
"Sorry, Bar! I have to do this!" sesal Faisal sembari memasangkan borgol kepada Bara. Mereka membawa Bara ke kantor polisi untuk diinterogasi sebagai terduga pelaku pembunuhan berantai itu. Dalam perjalanan, Bara diam saja, dia merasa sangat syok dengan tuduhan itu. Entah apa yang sedang terjadi dengan kasus ini, kenapa dirinya ikut terseret di dalamnya?
Apa karena aku adalah salah satu dari anak Panti Asuhan Benedict yang tidak berani membuka mulut tentang kekejaman dan kebejatan para pengurus panti itu, lantad psikopat ini menjadikanku sasarannya juga? Pikiran Bara terus berkecamuk.
"Atas dasar apa kalian menangkapku?" tanya Bara akhirnya, jika boleh jujur — dia merasa terkhianati oleh kedua sahabatnya itu.
Citra tidak menjawab, demikian pula dengan Faisal. Namun jari Citra menyodorkan foto pisau bedah milik ayah Bara, tatapan Bara penuh tanya saat menerima foto tersebut dan dengan kedua tangan yang diborgol.
"I—ini ...." Bara menatap Citra dan Faisal bergantian, ia meminta penjelasan tentang benda yang ada di dalam foto tersebut.
"Ya, itu pisau bedah milik ayahmu ...." lirih Citra. Bara terdiam, ia mulai mengerti sekarang kenapa mereka mencurigainya. Namun sebaiknya ia menjelaskan perihal pisau itu di kantor polisi nanti.
Mobil Faisal berhenti di dalam halaman kantor dan mereka pun membawa Bara masuk ke ruang interogasi lalu meninggalkannya sejenak. Ketika sendirian di ruangan itu — Bara membenamkan wajah di sela-sela lengannya. Sesekali ia membenturkan kepalanya pelan di pinggiran meja, dirinya sama sekali tidak menyangka akan jadi tersangka kasus ini.
__ADS_1
Bunyi derit pintu ruangan terdengar seiring masuknya Faisal dan Banyu Aji, sorot mata Bara berubah ketika melihat bukan Citra yang bersama Faisal.
"Saudara Bara? Bara Aldebaran, betul itu nama Anda?" tanya Banyu Aji memulai interogasinya. Bara mengangguk menjawab pertanyaan itu.
"Apa Anda mengenal pisau bedah ini?" tanya Banyu Aji lagi menunjukkan pisau bedah yang ada di dalam kantong bening.
Mata Bara melirik ke arah Faisal yang sibuk mengetik di laptop. "Pisau itu milik mendiang ayah saya," jawab Bara.
"Di mana Anda pada malam terjadinya penyerangan Pak Freddy? Dua malam yang lalu," lanjut Banyu Aji.
Bara tampak mengingat-ingat kegiatannya hari itu, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Dua malam yang lalu, saya libur. Jadi saya tinggal seharian di rumah dan minum bir sendirian," papar Bara.
"Ada saksi yang bisa menguatkan pernyataan Anda?" cecar Banyu Aji lagi.
Terdengar Bara menghembuskan napas pelan. Ia sudah tahu akan ada pertanyaan ini dan dia tidak memiliki saksi untuk menguatkan pernyataannya, ia menggeleng lemah menjawab pertanyaan Banyu Aji.
"Jika memang saya adalah tersangka, seharusnya kalian memiliki bukti yang kuat. Bukan hanya pisau bedah ini! Lagipula saya sudah lama tidak melihat pisau ini — sejak ayah saya wafat. Bukankah Polda yang menangani kasus bunuh diri ayah saya?" sindir Bara.
Banyu Aji tersenyum sinis. "Kami pasti akan mendapatkan buktinya, kepemilikan pisau bedah ini pun cukup membuat kami bisa menahan Anda!"
......................
Bara meringkuk di sudut sel, ia masih tidak paham dengan situasi ini. "Bar!" suara Faisal mengejutkan dirinya.
Ia mendongak melihat Faisal. "Kalian tidak menemukan bukti apapun kan di apartemenku?" tanya Bara penuh harap.
Di luar dugaan, Faisal menunduk. Temannya itu tidak menjawab sama sekali.
"Sal! Jawab aku!" desak Bara.
"Maaf, Bara ... semua bukti ditemukan di apartemen-mu. Pisau yang memiliki bekas darah Johan dan Valentino Arthasena. Lalu tambang digunakan untuk mencekik Kinanti juga Bella dan botol berisi cairan arsenik yang digunakan untuk membunuh Andre, semuanya kami temukan di apartemen-mu!" jawab Faisal lirih.
"Lebih baik kamu mengaku saja, siapa tahu itu bisa meringankan hukumanmu."
Lutut Bara lemas, dia yakin sedang dijebak! Pasti ada yang tidak beres dengan semua ini, kenapa bisa benda-benda yang tidak dia ketahui itu berada di dalam apartemennya.
__ADS_1
"Lalu kami memiliki bukti pemesanan karangan bunga duka cita yang kamu kirimkan ke Kinanti. Juga—"
"Apa kamu mau kena tindakan disipliner karena membocorkan penyelidikan kepada tersangka!?" tegur Banyu Aji tiba-tiba.
Melihat itu, Bara merasa pernah bertemu dengan Banyu Aji jauh sebelum kasus ini, tapi ia tidak ingat di mana. Pria ini membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.
"Siap! Maaf komandan!"
Banyu Aji mendekati Bara. "Semua bukti mengarah kepada Anda!" ujarnya dengan nada mengejek. Bara tidak bereaksi, dia memilih tidak melawan Banyu Aji yang akan mempersulit dirinya nanti.
Faisal dan Banyu Aji pergi meninggalkan dirinya, ia kembali duduk di sudut sel sembari berpikir bagaimana caranya lolos dari penjara ini dan mencari pelaku sebenarnya.
...-----------------...
Pintu itu akhirnya berhasil terbuka, Charles menyunggingkan seringai licik. Malam itu, ia menyelinap ke apartemen yang sepi ini — pemiliknya sedang ditahan menggantikan dia. Rencana yang mereka susun berjalan sangat mulus, Bara adalah target selanjutnya.
"Bara Aldebaran, salah satu pengecut dari Panti Asuhan Benedict. Malang untuk dirinya diadopsi oleh keluarga dokter yang memperjual-belikan bayi." Charles bergumam.
Dia memasukkan sebuah tambang plastik yang ia gunakan mencekik Kinanti dan Bella di sebuah laci meja kerja Bara dengan hati-hati. Kemudian menyimpan pisau yang dia gunakan memotong lidah Johan dan Menusuk Valentino di laci kabinet dapur, setelah itu ia meninggalkan foto-foto yang ia ambil saat menguntit korbannya di laci nakas Bara.
Charles menyapu seluruh sudut apartemen itu dengan tatapan puas. Dia sengaja melimpahkan tuduhan itu kepada Bara, sementara dia bebas untuk memburu mangsa terakhirnya, Sang Walikota!
"Orang itu pantas menjadi hidangan penutup, benar 'kan, Senja?"
Keesokan harinya — Citra, Faisal dan Banyu Aji pun menggeledah apartemen Bara dan menemukan semua benda yang ditinggalkan Charles di sana, itu menguatkan asumsi kepolisian jika Bara benar-benar pelakunya.
Bara kembali diinterogasi, ia bersikukuh bahwa dia sedang dijebak. Namun, karena bukti mengarah semua kepada dirinya, ia tidak bisa maksimal membela diri, Bara memilih untuk meminta bantuan pengacara keluarganya. Ia ditahan dan menunggu kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan, Citra masih tidak yakin dengan penangkapan Bara ini dan ia merasa ada yang janggal tentang betapa mudahnya bukti-bukti itu mereka temukan.
Ketika ia sedang berpikir, ia tidak sengaja melihat jaket angkatan yang sama dengan miliknya di salah satu kursi di ruangan reskrim, Citra memeriksa bagian kancing lengannya, masih utuh. Ia menarik napas lega, Citra tidak ingin mencurigai rekan satu divisinya.
"Komandan!" Faisal mengejutkan Citra.
"Saya masih tidak yakin kalau Bara adalah pria Tangan Tuhan itu ...." lirihnya. Citra mengendikkan bahu, ia sebenarnya juga ingin mempercayai bahwa Bara bukanlah pelakunya. Namun ia beberapa kali tidak bisa membuktikan alibinya, dan—senjata pembunuh itu semua ditemukan di apartemennya.
Faisal duduk di salah satu kursi, dia menyilangkan kedua lengan di belakang kepala dan memandang lurus ke langit-langit ruangan itu.
__ADS_1
...****************...
__ADS_2