
__ADS_3
"Baiklah kalau begitu, Tuan Muda."
Jawaban dari tiga pembantu rumah keluarga Van Der Linen itu membuat sang Tuan muda tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku menanti hasil kerja kalian. Sekarang aku harus mengurus pekerjaan lain, sampai jumpa," pungkas Cecilion seraya berlalu, pergi ke luar rumah tanpa menunggu respon dari ketiga pelayan rumahnya itu.
"Aduh, bagaimana ini? apa kita bisa membujuk Nyonya Van Doornik untuk bertemu dengan Tuan muda?" tanya Bibi Odah kepada dua rekannya yang lebih muda itu.
Kedua rekannya itu pun turut bingung, tak tahu harus bagaimana agar bisa mempertemukan Nyonya Van Doornik dengan Tuan muda mereka.
Cecilion van der Linen, pemuda itu adalah darah muda dengan tekad yang sangat tinggi bisa gawat kalau mereka bertiga tak mampu memenuhi permintaan sang Tuan muda.
Sementara itu, usai membuat tiga pelayannya kelimpungan serta kebingungan mencari cara agar dapat mempertemukan dirinya dan Nyonya Van Doornik, Cecilion melangkah dengan santai bertolak menuju rumah Kees yang kebetulan terletak tak begitu jauh dari rumahnya.
Berbeda dengan Mawar dan Cecilion yang berasal dari keluarga kalangan atas, Kees berasal dari keluarga yang tak terlalu kaya namun memiliki kehidupan yang cukup mapan. Kendati begitu, persahabatan mereka tetap erat tanpa memusingkan strata sosial.
Langkah Cecilion terlihat begitu mantap, selaras dengan angin yang berhembus lembut mengenai wajah rupawan serta helaian rambut sekelam langit malam miliknya.
Ketampanan Cecilion van der Linen yang amat memesona itu tentu saja menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya.
Beberapa gadis bahkan tak segan memandangi dari ujung rambut hingga ujung kaki Cecilion dengan penuh kekaguman, tak habis pikir bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk seindah Cecilion tanpa celah barang sedikit. Semua yang melekat pada Cecilion nampak begitu sempurna, membuat para kaum hawa tak kuasa membendung pesona feromon milik Cecilion yang amat memabukkan.
"Selamat sore, Paman. Apa Kees ada di rumah?" tanya Cecilion kepada seorang Jongos dengan santun setibanya ia di depan rumah Kees.
Jongos berusia separuh abad itu tersenyum meski agak kaget diperlakukan dengan begitu santun oleh seorang anak muda Eropa.
Pria itu lalu mengangguk, membuka pintu untuk Cecilion agar bisa masuk ke dalam rumah.
"Tuan muda Kees sedang ada di ruang tamu. Saya rasa Tuan bisa langsung masuk saja ke dalam," balas pria paruh baya itu kemudian.
"Baiklah. terima kasih Paman," sahut Cecilion sambil melangkah masuk ke dalam rumah Kees.
Agak sedikit berbeda dari rumah keluarga Belanda kebanyakan, rumah keluarga Kees memiliki banyak elemen berbau Tiongkok di beberapa sudut bangunan. Ya, Ibunya Kees adalah seorang wanita keturunan Tiongkok tak heran banyak aksen Tiongkok di dalam rumah itu.
"Apa yang membawamu kemari, Cecilion?" tanya Kees yang masih sibuk membaca buku sambil duduk dengan santai menghadap jendela ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
"Apa Mawar masih dihukum oleh Papanya?" tanya Cecilion langsung pada intinya, mengingat keluarga Kees cukup dekat dengan keluarga De Haas.
Kees menutup bukunya, memandang sahabatnya itu dengan prihatin. "aku kurang tahu. tapi saat aku dan Papa bertandang ke rumah keluarga De Haas kemarin aku tidak melihat Mawar."
Perasaan Cecilion kian terasa khawatir. Ia tahu, apa yang Mawar lakukan semata-mata demi kebaikan keluarga mereka berdua. Cecilion pun merasa bahwa permusuhan antara Tuan Van Der Linen Papanya dengan Tuan De Haas Papanya Mawar harus segera diakhiri.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kees kemudian.
Cecilion mendudukkan dirinya di atas kursi, mengusap dagunya dengan jari telunjuk nampak menimbang sebaiknya langkah apa yang bisa mereka ambil agar masalah ini tak semakin berlarut-larut.
Setelah beberapa saat berselang, Cecilion lantas menjentikkan jarinya.
"Ah! Aku terpikirkan satu cara, Apa kamu mau membantuku?"
Kees mengangkat kepalanya, memandang kepada Cecilion. "cara yang bagaimana?"
Cecilion tersenyum penuh arti. "cukup ikuti saja arahan dariku. ayo, kita harus segera membeli barang-barang yang kita perlukan sebelum tokonya tutup!"
...****************...
"Kenapa aku harus berada ditengah-tengah kalian dan mengalami ini semua, sih?!" tanya Kees sebal sambil melepaskan baju penyamarannya sebagai pedagang peralatan lukis keliling.
Pakaian khas Tiongkok yang dipakai oleh Kees nampak sangat lusuh dan tidak nyaman, membuat Kees buru-buru melepasnya.
Mawar dan Cecilion terkekeh geli, padahal penampilan Cecilion juga tak kalah menggelitik.
Bayangkan saja, wajah tampan milik Cecilion disulap dengan sedemikian rupa hingga menjadi dekil layaknya kebanyakan orang pribumi lengkap dengan pakaian lusuh dan sepeda yang membawa dagangan es limun.
Ya, hanya dengan cara itu mereka bisa bertemu dengan Mawar di taman belakang rumah keluarga De Haas yang sedikit jauh dari pengawasan para Jongos mau pub Babu.
"Maafkan aku, Kees. Hanya karena ingin bertemu denganku kalian sampai harus melakukan penyamaran yang menyusahkan seperti ini," Mawar berkata tulus dengan wajah sedih.
Tentu saja Mawar sedih karena kedua sahabatnya itu harus melakukan cara ini hanya demi bertemu dengannya. Sudah berhari-hari berlalu namun sikap Tuan De Haas masih juga belum melunak membuat Mawar merasa resah.
"Lupakan saja tentang penyamaran kami ini. Katakan padaku kapan kamu bisa kembali masuk sekolah?" Cecilion memandang Mawar lekat-lekat, menanti jawaban dari sang hawa.
__ADS_1
Cecilion tak mampu lagi menyembunyikan perasaan sayangnya kepada Mawar yang kian membesar. Kini, ia hanya ingin selalu berada di sisi Mawar sebagai pelindungnya yang juga bersedia mencintai Mawar dalam kondisi apa pun meski ia belum mengungkapkan hal itu langsung kepada Mawar.
"Aku akan mencoba meminta bantuan Mama untuk membujuk Papa nanti malam. Biar bagaimana pun aku harus lulus dengan nilai yang bagus, bukan? Aku tidak bisa terus menerus ketinggalan pelajaran seperti ini," kata Mawar dengan seulas senyum meyakinkan yang terbit di wajah eloknya.
Gadis itu menggamit tangan Cecilion, meremasnya lembut berusaha meyakinkan pemuda itu bahwa semua akan baik-baik saja. Bertemankan dengan es limun, mereka bertiga lantas mulai bertukar cerita membahas berbagai macam hal yang sudah terjadi di sekolah selama Mawar absen.
"Kees, menurutmu dengan siapa aku akan menikah?" tanya Mawar iseng setelah Kees menceritakan tentang rencana pertunangan salah satu teman sekelas mereka.
"Bagaimana kalau denganku?" goda Kees sambil menaik-turunkan alisnya genit.
Derai tawa Mawar yang terlepas dengan begitu alami dan cantik nampak sungguh berbanding terbalik dengan air muka Cecilion yang kini berubah menjadi sebal.
"Mawar mana mungkin mau menikah dengan laki-laki yang tidak pernah serius dan tak memiliki pendirian tetap sepertimu," bantah Cecilion kemudian.
Lihat? Karena rasa cemburunya Cecilion mulai berkata dengan ketus dan itu malah membuat tawa Kees ikut meledak.
"Bagaimana pun juga, Cecilion van der Linen inilah yang akan menikahi Mawar De Haas," ucap Cecilion dengan tenang, memusatkan pandangannya kepada sepasang netra biru milik Mawar tanpa menyiratkan niat bercanda.
Jantung Mawar menggila, berdegup dua kali lipat lebih kencang tak terkendali.
Darah yang mengalir dalam tubuh Mawar juga berdesir hebat kian membuat Mawar kesulitan untuk mengendalikan kesadaran dirinya untuk tidak mengecup bibir Cecilion sekarang juga.
"Apa kamu bercanda, Cecilion?" tanya Kees setengah derai tawanya mereda.
Cecilion tersenyum tipis memandang Kees.
"Aku serius, Kees. Kamu adalah saksi pertama yang harus menghadiri pernikahan kami meski aku tak tahu apakah hubungan kami akan direstui oleh kedua orang tua kami atau tidak."
Itu bukanlah hal yang mengejutkan bagi Kees.
Dia menyadari dengan jelas bahwa Cecilion dan Mawar memang saling tertarik satu sama lain meski mereka tak pernah saling mengungkapkannya.
Kees mengangguk dengan seulas senyuman tulus.
"Aku harap kalian berdua memang akan menjadi pasangan yang diberkati oleh Tuhan."
__ADS_1
__ADS_2