Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 27 : Pure Love en Cecilion


__ADS_3

"Jika sampai hubungan kita diketahui oleh Papaku dan kita dipaksa untuk berpisah, apa boleh aku mengajakmu kabur?" tanya Cecilion tiba-tiba setelah membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada hubungan mereka.


Mawar tersenyum, meski ia tahu Cecilion tak dapat melihatnya.


"Aku tahu cepat atau lambat itu akan terjadi, maka dari itu aku memiliki cukup tabungan yang bisa saja kita pakai untuk kabur kapan saja," Mawar menyahut dengan tenang seolah tanpa beban membuat Cecilion cukup kaget.


Agaknya dia tidak menyangka kalau Mawar menyukai dirinya sampai sedalam itu bahkan ia menjawab tanpa keraguan untuk kabur bersama-sama.


Cecilion tak menyangka bahwa ada seseorang yang rela mencintai dirinya sampai seperti ini.


"Kamu yakin? Bukankah kamu tahu kalau melewati perjalanan yang panjang itu tidaklah menyenangkan seperti saat kita sedang bertamasya?" tanya Cecilion lagi mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Cecilion van der Linen, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku harusnya kamu tahu itu. Aku tak akan mengubah pikiranku hanya karena kamu mengatakan hal bodoh seperti itu," tukas Mawar sebal, membuat Cecilion tergelak.


Inilah sisi lain dari Mawar De Haas yang tak banyak diketahui oleh orang lain, gadis yang begitu menggemaskan dan lucu dibalik semua sikap diam serta anggun yang selalu ia tunjukkan.


Sikap tak terduga inilah yang membuat Cecilion semakin jatuh hati kepada Mawar.


Mawar meneguk es cendolnya hingga tandas, berusaha menghalau rasa haus sekaligus kesalnya kepada Cecilion sementara sang adam hanya bisa tersenyum salah tingkah seraya sibuk mengikat rambut Mawar. Oh, Cecilion akhirnya berhasil mengepang rambut Mawar dengan sangat indah!


"Maafkan sikapku yang tidak romantis, Mawar. Terkadang aku juga bingung mau mengatakan apa saat sedang bersama kamu seperti ini," Cecilion mengakui sambil tersenyum puas, bangga dengan hasil karyanya yang begitu menawan bermodalkan rambut Mawar.


"Tapi ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan dengan rambutku?" tanya Mawar penasaran, mengaduk isi tasnya mencari cermin.


Ia sangat penasaran apakah Cecilion benar-benar bisa mengikat rambutnya atau tidak.


Setelah berhasil menemukan cermin yang ia cari, Mawar langsung memperhatikan pantulan dirinya dari cermin namun betapa terkejutnya dirinya saat tahu hasil pekerjaan Cecilion justru lebih bagus dari pada saat ia mengikat rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Apa ini benar-benar diriku? Hei, kenapa kamu bisa mengikat rambutku dengan sangat cantik?" Mawar bertanya-tanya bagaimana Cecilion bisa melakukannya dengan sangat baik meski baru pertama kali mengikat rambut seorang wanita.


"Itu bukanlah hal yang sulit, rambutmu memang sudah indah dari sananya," jawab Cecilion santai, kemudian meneguk es cendol miliknya sampai habis.


Minuman serta makanan asli Nusantara ternyata memiliki cita rasa unik yang sangat enak, Cecilion baru mengetahui semuanya setelah ia dan Mawar sering menghabiskan waktu bersama.


"Kamu memang sudah sangat cantik tanpa memerlukan bantuan apa pun, Mawar. Tetaplah jadi seperti itu tanpa mempedulikan perkataan menyakitkan dari orang lain."


...****************...


Pagi itu Tuan De Haas nampak berdiri mematung di depan lemari, terlihat bingung membuat Nyonya De Haas bertanya-tanya agaknya apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nyonya De Haas seraya menyentuh dengan lembut bahu tegap suaminya.


"Ah, aku sedang bingung harus pakai baju apa untuk menghadiri acara pemberkatan pernikahan Greg kali ini," jawab Tuan De Haas dengan senyuman kikuk.


Tuan Van Marwijk memang mengundang keluarga De Haas untuk menghadiri pernikahan Greg, putranya sekaligus sahabat Mawar sejak kecil semenjak jauh hari. Pria paruh baya itu datang dengan sangat gembira menyampaikan kabar itu, membuat semua anggota keluarga De Haas yang tidak tahu tentunya terkejut.


Ya, setinggi apa pun status sosial seorang istri pribumi dari pria Belanda mereka tetap tidak diperkenankan berdandan layaknya orang Eropa.


Itu sudah merupakan sebuah peraturan tak tertulis yang mutlak.


"Kamu 'kan memiliki banyak setelan, suamiku. Mari aku bantu pilihkan," jawab Nyonya De Haas kalem, mulai membuka lemari pakaian milik suaminya guna memilihkan pakaian terbaik untuk suaminya.


"Wah, kenapa Mama dan Papa selalu romantis begitu? Aku 'kan jadi iri," goda Mawar yang menyaksikan interaksi antara Mama dan Papanya dari depan pintu kamar.


Mawar sudah nampak sangat cantik dengan gaun berwarna merah, senada dengan kebaya milik sang Mama. Rambut pirang Mawar yang indah ia gelung dengan elegan, selayaknya wanita Belanda yang hendak menghadiri acara pada umumnya.

__ADS_1


Tuan dan Nyonya De Haas tergelak menanggapi ucapan anak semata wayang mereka yang tanpa terasa kini sudah beranjak dewasa.


Dalam waktu dekat, Mawar akan lulus sekolah dan cukup umur untuk menikah.


"Aku jadi tidak sabar untuk menikah juga," Mawar berucap spontan sambil berlalu menuju ruang tamu membuat Mama dan Papanya kini saling bertukar pandangan.


"Memangnya kamu sudah memiliki calon yang tepat untuk anak kita, suamiku?" tanya Nyonya De Haas sambil memasangkan dasi kupu-kupu di leher jenjang suaminya.


"Bagaimana dengan putra kedua dari keluarga Van Dijk? dia adalah pemuda yang sangat tampan dengan sopan santun yang tinggi," sahut Tuan De Haas sambil mengingat-ingat kolega bisnisnya yang memiliki anak laki-laki.


"Aku tidak yakin dia akan cocok dengan Mawar, suamiku. Pemuda itu memang tampan tetapi sangat kaku, bagaimana dengan William van de Beek? Dia masih muda namun sudah memiliki usaha sukses miliknya sendiri," Nyonya De Haas menimpali ucap suaminya.


William van de Beek memang merupakan seorang pengusaha muda yang paling sukses di Hindia-Belanda. Bisnis yang ia miliki bahkan tak main-main, sebuah bisnis raksasa pengolahan batu mulia yang tidak sembarangan bisa dikelola.


"Sebelum itu kurasa kita harus membiarkan Mawar memilih sendiri lebih dulu. Aku ingin pernikahan anak kita menjadi pernikahan yang berhasil," kata TuanDe Haas seraya menyelipkan anak rambut istrinya yang terlepas dari ikatannya.


Nyonya De Haas mengangguk setuju.


"Itu benar. biarkan Mawar memutuskan kebahagiaan untuk dirinya sendiri."


Sepasang suami istri itu lantas menghampiri Mawar yang sudah menunggu mereka di ruang tamu dengan senyuman sumringah menghiasi wajah mereka.


"Ayo berangkat, Mawar. Greg pasti bahagia sekali hari ini kita harus memberikan ucapan selamat sekaligus hadiah," kata Tuan De Haas sambil merangkul bahu Mawar, mengajak gadis itu menuju pekarangan depan.


Paman Darijo yang sudah selesai menyalakan mesin mobil lantas berjalan terburu, seperti hendak mengambil sesuatu mengikuti arahan dari Nyonya De Haas.


"Apa Papa dan Mama sungguh akan memberikan hadiah sebesar ini?" tanya Mawar kaget sekaligus tak habis pikir.

__ADS_1


"Ya, sebab Greg dan keluarganya adalah sahabat kita. Siapa tahu nanti mereka juga akan memberikan hadiah sebesar ini kepadamu di hari pernikahanmu," balas Tuan De Haas membuat Mawar hanya bisa tersenyum masam.


Mawar bahkan tidak yakin apakah ia bisa menikah dengan damai serta meriah seperti yang dilakukan oleh Greg nantinya.


__ADS_2