Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 38 : Melodi Indah Menuju Altar


__ADS_3

Langit biru bertemankan cerahnya sinar mentari pagi itu kian membuat senyum di wajah tampan milik Cecilion van der Linen merekah dengan indahnya.


Pemuda itu nampak semakin mempesona dengan balutan jas hitam formal yang membalut tubuh proporsional miliknya, bersiap untuk segera masuk ke dalam gereja tempat pemberkatan pernikahannya dengan Mawar de Haas akan dilangsungkan.


Semerbak harum parfum yang dipakai Cecilion pun semakin menambah pesona sang mempelai pria.


Suasana khidmat terasa begitu kentara tatkala Cecilion melangkah masuk ke dalam gereja hendak menuju altar, menanti pengantin pilihan hatinya untuk mengucap janji suci pernikahan bersama di rumah Tuhan hari ini.


Kaki Cecilion melangkah mantap, meniti setiap langkah menuju altar dengan degup kencang yang mengusik dadanya.


Rasa bahagia meluap-luap amat tergambar jelas di wajah rupawan itu, namun di sisi lain Cecilion juga merasa gugup karena akan segera melepas masa lajangnya diusia yang masih begitu muda.


Tiba di atas altar, para hadirin kompak merasakan kagum yang luar biasa setelah dapat melihat dengan jelas wajah sang mempelai pria.


Sungguh, di kota ini hanya Cecilion van der Linen lah laki-laki yang tertampan yang pernah mereka lihat secara langsung.


Suara merdu denting piano mengalun lembut mengiringi, membawa suasana syahdu ke dalam gereja itu berbarengan dengan kehadiran Mawar yang sudah melangkah perlahan masuk ke dalam gereja ditemani oleh sang Kakek sebagai pendampingnya.


Sementara sang Nenek tersenyum bangga meski air mata haru sudah mulai merembes perlahan dari kedua pelupuk matanya.


Tubuh molek milik Mawar dibalut dengan sebuah gaun pengantin indah berwarna putih, yang ia beli dengan tabungan miliknya sendiri meski Nenek dan Kakeknya sudah memaksa gadis itu untuk membeli baju pengantin menggunakan uang mereka. Ya, Mawar memang keras kepala.


Hampir semua persiapan pernikahan yang digelar hari ini ia siapkan hanya berdua saja dengan Cecilion sang calon suami.


Mereka benar-benar gigih ingin menikah membuat Kakek dan Nenek akhirnya memutuskan untuk membelikan mereka cincin kawin di toko perhiasan terbaik di dalam kota ini secara diam-diam kemarin dan memberikannya kepada Cecilion.


Langkah Mawar terhenti tepat di sebelah kanan tubuh Cecilion, pertanda bahwa pemberkatan pernikahan akan segera dilaksanakan.

__ADS_1


Mereka berdiri menghadap pendeta, memberikan sinyal kepada sang pendeta agar segera memulai prosesi pemberkatan pernikahan.


Keduanya saling melempar senyuman terbaik, pertanda bahwa mereka sudah siap untuk membina rumah tangga bersama.


Pendeta pun memulai melakukan prosesi pemberkatan, meresmikan Cecilion van der Linen dan Mawar de Haas sebagai pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama.


"Dengan ini, kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Mempelai pria, silakan mencium istri Anda," titah sang Pendeta dengan seulas senyum.


Dengan gerakan yang ragu-ragu, Cecilion berbalik sedikit untuk mengecup bibir Mawar yang kini telah resmi menjadi istrinya.


Namun karena mereka tak pernah melakukan sentuhan seperti itu sebelumnya, pasangan suami istri baru itu nampak begitu kaku hingga membuat beberapa hadirin yang hadir merasa gemas.


"Cium saja sekilas," bisik Mawar yang kini wajahnya sudah nampak merah bak udang rebus.


Cecilion mengangguk paham, pria itu lantas mendaratkan bibirnya beberapa saat di atas bibir sang istri seraya mencoba mengendalikan rasa malunya.


Sorak-sorai para hadirin kemudian terdengar heboh setelah menyaksikan Cecilion yang memberikan kecupan manis kepada Mawar, menyoraki pasangan pengantin baru yang nampak seperti sepasang malaikat yang jatuh dari surga itu.


...****************...


Langit telah bertukar menjadi gelap, jam berbahan kayu jati besar yang menghiasi ruang tamu rumah itu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mawar terlihat melangkah pelan menuju ruang kerja suaminya dengan seulas senyum mengembang.


"Kamu sedang apa?" tanya Mawar lembut kepada Cecilion sang suami yang sejak tadi nampak sibuk sendiri dengan beberapa dokumen dikedua tangannya.


Lentik jemari Mawar membawa sebuah gelas porselen berisi teh manis hangat untuk sang suami yang ia buat sendiri.


Meski kini hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu serba dilayani oleh para Babu dan Jongos menjadi harus mengerjakan semuanya sendiri, namun Mawar tetap merasa bersyukur karena dapat menghabiskan sisa hidupnya bersama lelaki yang ia cintai.

__ADS_1


"Aku harus mempersiapkan banyak hal sebelum mulai bekerja besok. Dokumen-dokumen ini adalah kunci dari pekerjaanku yang harus aku pahami dengan cepat," balas Cecilion dengan seulas senyum lembut, menyodorkan tangannya untuk mengambil teh dari tangan istrinya tak lupa mengucapkan terima kasih.


Cecilion dan Mawar kini menempati salah satu rumah milik Kakek yang terletak di pinggir kota, mereka sebenarnya sudah beberapa kali menolak tapi Kakek dan Neneknya malah bersikeras dan sepakat bilang bahwa rumah itu adalah kado pernikahan untuk mereka berdua.


Rumah itu tidak terlalu besar seperti rumah milik orang Belanda kebanyakan, namun sudah sangat nyaman untuk mereka tempati berdua.


Bahkan, beberapa jam setelah resmi menjadi pasangan suami istri mereka langsung bertolak menuju rumah ini untuk segera berbenah sekalian membersihkan rumah ini.


"Kamu harus istirahat setidaknya satu hari dulu, bukankah melelahkan setelah mengurus persiapan pernikahan? bahan makanan yang diberikan oleh Kakek dan Nenek bahkan bisa cukup untuk kita makan selama lebih dari satu bulan ke depan," rutuk Mawar sedikit sebal karena Cecilion langsung memutuskan untuk langsung mulai bekerja besok.


"Kakek dan Nenek sudah memberikan kita begitu banyak kepercayaan, aku tidak mau membuat mereka kecewa," sahut Cecilion kalem, mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut mencoba memberikan pengertian.


Mawar mengerucutkan bibirnya. "Kakek bahkan bilang kamu tidak harus langsung bekerja."


"Walau begitu aku harus tetap bekerja keras untuk memberikan hidup yang lebih baik untukmu," balas Cecilion.


Mendengar jawaban seperti itu, Mawar hanya bisa menghela napasnya sebal.


Kalau sudah begitu Mawar tidak bisa lagi membantah ucapan suaminya.


Kakek memang mempercayakan beberapa hektar kebun karet kepada Cecilion untuk dikelola guna menyambung hidup mereka berdua kedepannya setelah melihat bakat berbisnis Cecilion yang memang sangat mengagumkan.


Meski lahir dan tumbuh besar dari keluarga yang bergelimang harta, Cecilion tidak manja dan begitu suka bekerja keras hal itu membuat Kakek dan Nenek semakin yakin untuk menerima Cecilion sebagai suami Mawar.


"Ya sudah. Pulanglah paling lambat jam empat sore besok," sahut Mawar pasrah sambil beringsut masuk ke dalam kamar.


Cecilion hanya terkekeh geli melihat sang istri merajuk, namun ia memutuskan untuk kembali membaca beberapa berkas penting yang diberikan oleh Kakek tadi.

__ADS_1


"Aku harap setelah menjadi suamimu, aku dapat memberikan kehidupan yang lebih dari sekedar layak untukmu istriku," gumam Cecilion setelah meneguk teh manis buatan Mawar.


__ADS_2