
__ADS_3
Alunan musik lembut yang terdengar begitu memanjakan telinga itu kali ini tetap saja tidak berhasil menenangkan hati Nyonya Van Der Linen.
Wanita cantik itu nampak begitu terpukul sejak pihak kepolisian menyatakan bahwa Cecilion van der Linen, putra semata wayangnya itu hilang dan sampai saat ini belum ada titik terang akan keberadaan pemuda itu.
"Pernikahanku sudah hancur, dan sekarang aku juga harus kehilangan putraku. Apa ini adil, Tuhan?" ratap sang Nyonya sambil menautkan kedua tangannya di depan dada, berdoa kepada sang Pencipta.
Sungguh malang nasibnya, bahkan setelah sang suami memutuskan untuk lebih memilih perempuan sundal itu ketimbang mempertahankan rumah tangga yang sudah diarungi selama belasan tahun tersebut, sang Nyonya lagi-lagi harus menghadapi kenyataan pahit nan menyakitkan seperti ini.
Suasana gereja yang sepi hari itu malah semakin menambah kesedihan Nyonya Van Der Linen, hingga ia memutuskan untuk menumpahkan semua kesedihan yang menderanya melalui tangis.
Kedua lutut sang Nyonya bersimpuh di depan altar, terus berdoa dengan derai air mata berharap bahwa putranya akan selalu ada dalam lindungan Tuhan sejauh apa pun ia melangkah.
"Tuhan, aku tak berharap engkau mengembalikan suamiku tetapi kumohon... Kembalikan saja putraku, satu-satunya yang aku miliki kepadaku. Hanya kepada-Mu aku bisa meminta, Tuhan..."
Pilu, itu yang dirasakan oleh Andreas van Berg, sang pianis yang sejak tadi memainkan lagu-lagu dengan begitu merdu dengan piano yang terletak di sudut kiri gereja.
Laki-laki berambut cokelat kemerahan itu memutuskan untuk menghentikan permainan pianonya, lantas beringsut mendekati sang Nyonya perlahan. Kedua manik matanya memandang iba wanita yang nampak begitu rapuh tersebut seraya melangkah pelan.
"Kenapa Anda terus menangis di gereja sepanjang hari, Nyonya?" tanya sang pianis kemudian dengan lembut dari sisi belakang tubuh Nyonya Van Der Linen.
"Oh, maafkan saya... Anda pasti merasa terganggu karena tangisan saya," jawab Nyonya Van Der Linen sambil buru-buru menghapus jejak air matanya dengan ujung lengan baju mahal lagi cantik miliknya.
Wajah cantik itu nampak tak termakan usia, dan meski nyaris semua kulit wajahnya memerah karena terlalu banyak menangis Nyonya Van Der Linen tetap sangat menawan membuat Andreas van Berg tercenung sesaat tatkala mata mereka bertemu.
Andreas cepat-cepat menggeleng.
"Saya bukannya merasa terganggu, tetapi saya merasa iba akan apa yang kini sedang menimpa Anda," sahut Andreas jujur.
__ADS_1
"Seharusnya saya tidak berdoa terlalu keras seperti tadi, ya ampun Maafkan saya," Nyonya Van Der Linen merasa tidak enak hati.
Keduanya lantas memutuskan untuk duduk di salah satu bangku gereja, bermaksud untuk berbagi cerita setelah sang Nyonya setuju.
"Jadi, suami saya memilih untuk meninggalkan saya setelah cukup lama berselingkuh dengan perempuan penghibur. Selama ini saya selalu bertahan demi putra kami, tetapi pernikahan itu tetap saja tak bisa dipertahankan..." tutur Nyonya Van Der Linen lesu.
Hal seperti ini bukanlah hal baru yang didengar oleh Andreas, ia sudah kerap kali mendengar kasus serupa di kalangan pebisnis elit atau para petinggi pemerintahan.
Semakin kaya seorang Tuan, semakin banyak pula wanita simpanan yang mereka miliki.
"Suami Anda sungguh keterlaluan, tak seharusnya dia meninggalkan istri yang berharga seperti Anda," timpal Andreas geram.
"Saya sudah merelakan wanita sundal itu mengambil suamiku, tapi kini saya dihadapkan lagi pada satu kenyataan pahit."
"Apakah itu mengenai putra Anda?"
...****************...
"Sampai kapan aku harus menunggu?!" tanya Tuan De Haas murka kepada para anak buahnya yang baru saja datang untuk memberikan laporan terkait misi pencarian mereka.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sungguh sudah menggeledah setiap sudut kota Batavia namun tetap saja kami tidak menemukan jejak kebenaran Nona De Haas," sahut sang ketua.
"Dasar bodoh! Cepat perluas pencarian dan berikan laporan kepadaku segera!" teriak sang Tuan sekali lagi, membuat mereka yang tadi menghampiri sang Tuan buru-buru mengambil langkah seribu.
Tuan De Haas kini nampak sangat mengerikan begitu berbanding terbalik dengan sikap normalnya yang begitu kalem, membuat orang-orang enggan untuk berurusan dengannya. Emosi pria itu selalu setiap hari meledak-ledak semenjak Mawar De Haas melarikan diri usai menolak perjodohan dengan William van de Beek.
"Tenangkan dirimu, suamiku..." ucap Nyonya De Haas seraya menyodorkan segelas kopi hangat kepada sang suami.
__ADS_1
"Aku tak bisa lagi berpikir jernih karena kehilangan anak kita, istriku..."
"Saat ini kita hanya bisa berdoa, suamiku. Tiada yang tahu di mana Mawar berada sekarang kecuali Tuhan jadi aku mohon bersabarlah dan terus berdoa semoga anak itu baik-baik saja," bujuk Nyonya De Haas dengan mata sayu.
Meski sebetulnya ia merasa sangat terpukul akan keputusan Mawar akibat kesalahannya, namun Nyonya De Haas tetap memilih untuk tegar dan berserah diri kepada Tuhan.
Tak putus, Nyonya De Haas terus mendoakan Mawar agar putri semata wayangnya itu selalu dalam lindungan Tuhan.
Lembayung senja di langit yang mulai menampakkan warna jingga keemasan itu menarik perhatian sang Nyonya, membuatnya terkenang pada satu hari di masa kecil Mawar.
Anak yang dulunya sangat riang dan tidak bisa diam tersebut kini sudah beranjak dewasa tanpa terasa.
"Melihat langit yang indah itu, aku jadi teringat saat Mawar masih sangat kecil. Bukankah dulu kamu pernah bertanya apa yang Mawar ingin lakukan kala itu?" tanya Nyonya De Haas seraya tersenyum tipis, mengenang kembali masa membahagiakan itu.
Tuan De Haas menundukkan kepalanya.
"Kau benar. dulu aku banyak bertanya mengenai impian anak itu namun tanpa aku sadari dia tak bisa melakukan satu pun dari semua impiannya karena keegoisanku sebagai seorang ayah."
Nyonya De Haas baru kali ini dapat melihat penyesalan yang amat dalam dari kedua manik biru nan indah milik suaminya.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau langkah besar yang diambil oleh Mawar dapat berpengaruh sebesar ini pada sikap Tuan De Haas yang terkenal sangat dingin dan kaku itu.
"Menyesal dan menyalahkan keadaan tak akan membuat Mawar kembali, suamiku. Kita harus terus berusaha dan berdoa dengan sabar," imbuh Nyonya De Haas dengan lembut, meraih punggung tangan sang suami seraya memberikan belai halus.
"Aku akan mencoba untuk lebih bersabar, semoga Tuhan mau mendengarkan doa kita," balas Tuan De Haas lesu.
"Iya, kamu harus melakukannya demi anak kita. Kalau begitu minumlah kopinya sebelum menjadi dingin," ujar Nyonya De Haas sambil menambahkan gula pada kopi panas yang telah dia sajikan di atas meja serambi rumah mereka.
__ADS_1
"Mawar De Haas... cepat atau lambat Papa harap kamu akan pulang, nak."
__ADS_2