Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 39 : Cecilion, sang Kumbang di Perkebunan


__ADS_3

Suasana tenang masih melingkupi lingkungan tempat tinggal Cecilion dan Mawar pagi itu, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Cecilion untuk memulai hari ini.


Pria muda itu nampak sangat menikmati sarapan buatan istrinya, meski rasa masakan sang istri tidaklah selezat makanan yang biasa ia makan di rumahnya dulu.


Namun, meski begitu Cecilion tetap bersyukur dan menghargai usaha Mawar yang berusaha keras menyajikan makanan terbaik untuknya.


"Apa sarapannya lezat?" tanya Mawar ragu-ragu, merasa tidak percaya diri akan kemampuan memasaknya yang memang masih belum begitu piawai.


"Tentu saja lezat, karena istriku yang membuatnya dengan susah payah," Cecilion menjawab dengan lembut, menggamit tangan kanan sang istri lantas mendaratkan kecupan manis pada punggung tangan Mawar.


"Terima kasih sudah menyajikan sarapan yang lezat ini, istriku. Lain kali jika kamu merasa kesulitan tidak perlu memaksakan diri seperti tadi biarkan aku yang memasak," ucap Cecilion masih sama lembutnya, memandang Mawar penuh perhatian.


Cecilion dan Mawar belum sempat membeli kompor di pasar, membuat pasangan pengantin baru itu terpaksa memasak menggunakan kayu bakar di perapian ruang tamu rumah mereka.


Untung saja rumah pemberian Kakek dan Nenek memiliki perapian, kalau tidak mereka akan kebingungan harus memasak di mana.


Cecilion khawatir, mengingat memasak menggunakan kayu bakar di perapian cukup beresiko. Kapan saja Mawar bisa terluka kalau seperti itu terus menerus.


Berhubung rumah mereka terletak di pinggir kota, akses menuju pasar yang terletak di pusat kota memang agak sulit untuk dijangkau.


Hanya ada beberapa kereta kuda yang terkadang mau mengantarkan orang-orang yang tinggal di sini untuk pergi ke pusat kota, kereta kuda itu pun hanya ada di akhir pekan.


"Aku tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak usah terlalu khawatir," Mawar membalas dengan seulas senyuman merekah indah, begitu indah hingga Cecilion jadi berat hati meninggalkan istrinya untuk bekerja.


"Tetap saja aku merasa tidak tenang. Baiklah, hari minggu kita akan pergi ke pasar dan membeli kompor," final Cecilion, dibalas dengan anggukan patuh oleh Mawar.


Sepasang suami istri itu kemudian bergerak kompak merapikan kembali dapur setelah menyelesaikan sarapan mereka.


Diselingi canda tawa, Mawar dan Cecilion lantas menuju ruang tamu mengingat sebentar lagi jemputan Cecilion yang akan membawa sang kepala keluarga menuju perkebunan akan tiba.


Letak perkebunan dan tempat tinggal Cecilion memang agak jauh sehingga Kakek memutuskan untuk memberikan satu kereta kuda lengkap dengan kusir untuk mobilitas Cecilion dan Mawar setiap hari.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya Muhsin yang diutus oleh Tuan Goen untuk mengantarkan Tuan Van Der Linen menuju perkebunan," sapa seorang pria pribumi berambut ikal di ambang pintu rumah.


Cecilion dan Mawar lantas berdiri, menyambut Paman itu dengan seulas senyum ramah.

__ADS_1


"Apa kita terburu-buru, Paman Muhsin?" tanya Cecilion kemudian.


Paman Muhsin mengangguk. "ya, Tuan. perjalanan kita menuju perkebunan memakan waktu hampir satu jam jadi saya rasa kita harus segera berangkat."


"Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat," pungkas Cecilion.


Mawar tersenyum lembut memandang sang terkasih. "hati-hati di jalan, suamiku."


Cecilion lantas menghadiahi kecupan hangat di puncak kepala Mawar.


"Tentu sayangku, aku harus kembali karena istriku yang cantik ini pasti selalu menungguku."


...****************...


"Jadi ini adalah ruang kerja Anda, Tuan Van Der Linen. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kesulitan Anda bisa langsung menghubungi saya," kata Sao Qian lelaki keturunan Tionghoa berusia sekitar empat puluh tahunan, asisten Cecilion yang sudah bekerja di perkebunan itu sejak sepuluh tahun belakangan.


"Baiklah terima kasih, Tuan Sao. Saya akan langsung bekerja sekarang juga," Cecilion menyahut dengan santun, mulai menyusun dokumen yang harus ia tangani.


Sao Qian tak dapat menyembunyikan tatapan kagumnya, ia terkejut Cecilion langsung meraih dokumen tanpa ragu dan membacanya dengan cermat menggambarkan betapa cerdasnya lelaki Belanda di hadapannya itu.


"Itu semua adalah dokumen jual beli dan perjanjian sewa yang harus Anda pertimbangkan, Tuan Van Der Linen."


Ucapan Cecilion memang terdengar tenang, namun itu terlihat seperti sebuah teguran keras bagi Sao Qian membuat lelaki itu tersentak kecil, wajahnya pun nampak tegang.


Cecilion lantas mendudukkan dirinya di atas kursi meja kerjanya, kian memusatkan atensinya pada tumpukan dokumen yang ada di hadapannya.


"Bagaimana mungkin perjanjian jual beli ini malah merugikan pihakku selaku produsen?" Cecilion bergumam, membaca hingga selesai dokumen perjanjian jual beli itu.


Pintu ruang kerja Cecilion yang dibiarkan terbuka membuat beberapa pegawai admistrasi perkebunan yang kebetulan lewat sibuk curi-curi pandang, mengagumi ketampanan paripurna atasan baru mereka tersebut.


Meski mereka semua tahu bahwa Cecilion van der Linen adalah suami dari cucu pemilik pertama perkebunan ini, mereka tetap terang-terangan berani memandangi wajah tampan milik Cecilion.


Mereka semua berpikir, mana mungkin mereka mau melewatkan kesempatan untuk bertemu lelaki setampan Cecilion.


Pegawai admistrasi di kantor ini memang memiliki cukup banyak pegawai perempuan mulai dari mereka yang keturunan asli Eropa, campuran Indo-Eropa sampai keturunan Tionghoa dan pribumi juga bekerja di sini.

__ADS_1


"Bisakah saya mendapatkan nomor telepon perusahaan-perusahaan ini?" tanya Cecilion tegas seraya memisahkan beberapa dokumen jual beli yang ia rasa merugikan perkebunannya.


"Tentu, Tuan. Tunggu sebentar saya akan segera kembali," jawab Sao Qian sambil berjalan terburu keluar dari ruang kerja Cecilion.


"Kalau tidak segera aku tidak lanjuti, perkebunan ini pasti akan segera bangkrut," Cecilion kembali bergumam menandai dokumen-dokumen yang perlu diberikan sentuhan tambahan.


Cecilion jadi semakin yakin kalau Kakek memberikan perkebunan ini juga karena satu alasan lain.


...****************...


"Selamat siang, Tuan Van Der Linen," sapa salah seorang petugas akuntan perkebunan dengan nada centil tatkala ia berpapasan dengan Cecilion di depan tangga kantor menuju ruang kerja Cecilion.


"Ya. Ada perlu apa sampai kau berdiri menghalangi jalanku seperti ini?" Cecilion menyahut dingin, merasa jalannya dihalangi.


"Saya hanya ingin menyapa Tuan agar kita bisa lebih akrab," gadis itu masih menyahut dengan nada yang sama membuat Cecilion mendengus malas.


"Apa semua orang yang bekerja di perkebunan ini tahu kalau aku sudah beristri?"


"Saya rasa semuanya sudah tahu, Tuan."


"Kalau begitu minggirlah dan berhenti bersikap sok manis padaku seperti itu," tegas Cecilion sambil berlalu dengan cuek, membuat gadis keturunan campuran Indo-Eropa itu mencebik kesal.


Seumur hidupnya baru kali ini dia diperlakukan dengan begitu dingin oleh seorang pria.


"Kenapa dia sangat dingin pada gadis secantik diriku ini?" gadis itu bergumam kesal, membuat seorang rekan kerjanya yang sejak tadi memperhatikan dalam diam terkekeh geli.


"Kau merasa cantik di hadapannya? Itu artinya kau belum pernah melihat betapa cantiknya Nyonya Van Der Linen," cibir pemuda itu setengah mengejek.


Ya, setidaknya pemuda itu pernah beberapa kali bertemu langsung dengan Mawar, sang Nyonya Van Der Linen dan mengakui bahwa kecantikan istri dari atasannya itu memang sangat tidak manusiawi.


Gadis itu cemberut. "memangnya dia lebih cantik dariku?"


"Pertanyaanmu itu sangat bodoh. Nyonya Van Der Linen itu lebih dari sekedar cantik, pokoknya kau akan merasa akan sangat jelek jika bertemu langsung dengannya nanti."


"Benarkah? Oh, tapi aku jadi penasaran apakah aku bisa menjadi simpanannya Tuan."

__ADS_1


"Berhentilah memikirkan hal yang sia-sia begitu dan urus saja pekerjaanmu sebelum Tuan Van Der Linen memecat dirimu!" jawab pria itu ketus sambil berbalik arah menuju kantornya.


Gadis itu tersenyum licik kemudian, mulai menyusun skenario yang seharusnya tak ia lakukan di dalam otaknya.


__ADS_2