
__ADS_3
"Sebenarnya, apa yang membawamu kemari sampai rela jauh-jauh datang dari pulau seberang, Mawar cucuku?" tanya Tuan Goenawan dengan air muka serius, menuntut jawaban dari Mawar.
Mawar dan Cecilion lantas bertukar pandangan, bingung hendak menjelaskan dari mana perihal keberadaan mereka di sini.
"Kakek, Nenek, sejujurnya aku bingung harus menjelaskannya dari mana tapi hanya di sinilah tempat yang dapat kami tuju," ucap Mawar dengan air muka sendu.
"Memangnya apa yang terjadi, sayangku?" tanya sang Nenek sambil mengusap lembut punggung Mawar.
"Mama dan Papa bermaksud menjodohkan aku dengan salah satu kolega bisnis mereka tanpa meminta persetujuan dariku terlebih dahulu, Nenek. Aku sangat terkejut saat mereka tiba-tiba saja sudah berdiskusi mengenai tanggal baik pernikahan disaat aku masih tidak tahu apa-apa," jelas Mawar yang mendapatkan atensi penuh dari pasangan berusia senja itu.
"Selama kami menjalin hubungan, saya dan Mawar memang tidak begitu mengumbar hubungan kami karena beberapa pertimbangan. Namun, saya tidak akan rela jika Mawar sampai menikah dengan laki-laki yang suka mabuk-mabukan itu," timpal Cecilion dengan sepasang matanya yang berkilat memancarkan emosi.
"Jadi kami tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri bersama lalu menikah di sini, Nenek, Kakek. Papa dan Papanya Cecilion mana mungkin mau menyetujui pernikahan kami jika mereka mengetahui ini, tapi kalian berdua harus tahu betapa kami sangat saling mencintai," tambah Mawar dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung kebawah, menandakan kesedihan.
"Cecilion van der Linen, apa benar kamu putranya gubernur Batavia yang masih menjabat sampai saat ini?" tanya Kakek dengan penuh selidik.
Cecilion mengangguk. "betul, Kakek. Christopher van der Linen memang benar merupakan Papa kandung saya."
"Pantas saja. Menantu saya dan Tuan Van Der Linen memang tidak pernah akur sejak masih muda bahkan sebelum mereka masing-masing menikah entah apa sebabnya," ucap sang Kakek sambil menyalakan cerutu miliknya, mencoba menghangatkan diri di tengah hujan deras yang mengguyur malam itu.
"Kami bahkan hingga saat ini tidak tahu apa yang membuat mereka sampai bermusuhan seperti itu," Cecilion berujar seraya menghela napas panjang, pasrah sekaligus kesal dengan sikap sang Papa yang seolah enggan berdamai dengan Tuan De Haas.
"Setiap kali aku ingin membuka pembicaraan terkait Tuan Van Der Linen, Papa selalu mengalihkan pembicaraan," Mawar juga menyiratkan kekecewaan di wajah cantiknya.
"Kakek sudah mengerti situasinya. Kalau begitu, silakan kalian berdiskusi untuk saling memantapkan hati karena menikah bukanlah hal sepele. Mengerti?"
Mawar memandang lurus kepada sang Kakek.
__ADS_1
"Tentu, Kakek. Aku dan Cecilion akan berdiskusi berdua setelah makan malam nanti. Tapi sebelum itu apakah Nenek dan Kakek merestui jika kami mantap untuk menikah?"
Pasangan suami istri renta itu mengangguk dengan kompak, memberikan sinyal bahwasanya mereka memang merestui hubungan cucu mereka dengan pemuda tampan tersebut.
Biar bagaimana pun, bagi Tuan dan Nyonya Goenawan kebahagiaan cucu mereka adalah hal yang paling utama.
...****************...
Suara gemuruh hujan masih belum mereda, namun hal itu tetap tidak menyurutkan niat Cecilion dan Mawar untuk berdiskusi berdua menyangkut rencana pernikahan mereka.
Bertemankan dua gelas porselen berisi teh manis hangat yang tersaji bersama camilan buatan sang Nenek di atas meja serambi rumah, kedua sejoli itu duduk berhadap-hadapan saling memandang lurus satu sama lain.
Kepulan asap transparan tipis nampak menguar dari gelas porselen yang ada dalam genggaman tangan Mawar. Dengan perlahan, Mawar meniup permukaan gelas untuk menyeruput teh manis lagi hangat itu.
"Jadi, apa kamu benar-benar yakin mau menikah denganku dalam keadaan sulit seperti ini?" tanya Cecilion malam itu ditengah derasnya guyuran hujan yang membasahi bumi Sriwijaya.
Mawar sudah tidak lagi mempedulikan soal martabat keluarga mau pun harta, ia hanya ingin mementingkan kebahagiaan atas dirinya sendiri apa pun resiko yang akan ia tanggung kedepannya pun gadis itu sudah tidak mau ambil pusing.
Diusia yang masih sangat muda, Mawar dan Cecilion sudah harus menghadapi situasi yang tidak mudah seperti ini.
Namun baik Cecilion mau pun Mawar memutuskan untuk memantapkan hati menjalani pilihan besar yang sudah mereka pilih sendiri yaitu menikah muda di sini.
"Aku sudah memantapkan hati, walau kedepannya tidak akan mudah aku percaya kita dapat melewati semuanya dengan baik bersama," jawab Mawar dengan yakin, memandang lekat wajah sang terkasih.
Cecilion tersenyum lembut. "baiklah kalau begitu kita harus mulai mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan, apa kamu membawanya?"
Mawar mengangguk. "tentu saja, aku sudah mempersiapkan semuanya jauh sebelum kita mengambil langkah ini."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Dengan lengkapnya semua berkas yang kita perlukan, kita bisa segera mendaftar pernikahan ke gereja terdekat," Cecilion menyahut masih dengan senyuman yang belum memudar.
Setelah melalui perjalanan panjang dan pergumulan batin yang melelahkan, sepasang sejoli itu memutuskan untuk mantap menikah dalam waktu dekat.
Meski kehidupan setelah menikah bukanlah hal yang mudah, namun Cecilion tetap yakin ia mampu menjaga Mawar sang calon istri hingga sisa napas terakhirnya.
"Aku harap kehidupan kita setelah ini bisa menjadi lebih baik, Cecilion."
"Kuharap juga begitu, Mawar. setelah kita menikah aku akan bekerja keras untuk memberikan kamu nafkah yang cukup," Cecilion berujar penuh tekad membuat Mawar tersenyum meski hatinya merasa iba.
Cecilion van der Linen, pemuda yang biasa hidup nyaman dengan gelimang harta itu kini tengah bertekad untuk bekerja keras meski ia belum pernah hidup dalam kesusahan sepanjang umurnya membuat Mawar merasa tersentuh.
Bagaimana tidak, Cecilion bahkan rela meninggalkan kehidupan nyamannya di kota Batavia demi menikahi Mawar yang ia cintai.
"Iya, Cecilion. terima kasih sudah mencintaiku dengan setulus hati seperti ini," balas sang hawa sambil menyeka bulir air matanya.
Cecilion merentangkan kedua tangannya, merengkuh tubuh Mawar dengan penuh kasih mencoba memberikan sandaran kepada kekasihnya.
"Aku tidak melakukan hal yang sulit, kamu tidak perlu berterima kasih. Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu rela mengambil langkah sejauh ini," Cecilion berbisik lembut, mengusap puncak kepala Mawar dengan penuh cinta.
Air mata Mawar yang menggenang di kedua pelupuk matanya tak terbendung lagi.
Gadis itu menangis dalam perasaan bahagia sekaligus haru, perasaan campur aduk membingungkan yang begitu mengacaukan hati Mawar. Disisi lain ia merasa bahagia, namun satu sisi lainnya dia merasa bersalah telah meninggalkan kedua orang tuanya tanpa sempat duduk dan berbicara bersama dengan tenang.
"Kembali kasih, Lio. Aku sudah memutuskan untuk menerima dirimu sebagai pasangan hidupku untuk kini, nanti, dan selamanya."
"Aku tidak akan membuat kamu kecewa, Mawar De Haas yang akan segera menjadi Mawar van der Linen."
__ADS_1
Cecilion kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis lagi hangat yang sarat akan cinta di puncak kepala Mawar, sebuah tanda janji setia yang tak ia utarakan secara lisan.
__ADS_2