Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 56 : Jatuhnya Hati sang Dokter


__ADS_3

Oh, lihat? Anda memanggilku dengan nama depan! Ya Tuhan, apakah aku masih secantik itu sampai-sampai dokter muda dan tampan ini mau menjadi kekasihku?" Mawar berujar sambil tertawa.


Meski Dokter Nathan menghela napasnya frustasi, namun seulas senyuman menawan kemudian terbit di wajah apas miliknya.


"Tentu saja, dirimu masih terlalu indah untuk dianggap sebagai seorang janda," balas Dokter Nathan seraya menggiring langkah Mawar untuk mengikutinya menuju seorang Paman penjual bunga segar.


"Paman, menurutmu bunga mana yang paling cocok untuk menggambarkan kecantikan istri saya ini?" tanya Dokter Nathan sekonyong-konyong kepada Paman penjual bunga.


Paman penjual bunga itu tersenyum, lalu memandang kepada Dokter Nathan dan Mawar bergantian.


"Astaga, Tuan! Istri anda benar-benar secantik malaikat sampai saya bingung harus menggambarkannya dengan bunga apa," sahut si Paman apa adanya.


Pria paruh baya itu sungguh tidak berbohong, baru kali ini ia bertemu dengan perempuan Eropa secantik Mawar yang sedang berdiri di hadapannya tersebut.


Mawar tertunduk malu, ia memang sering mendapatkan pujian dan perhatian karena kecantikan miliknya sejak kecil namun baru kali ini dia dipuji secara terang-terangan seperti itu dengan kalimat yang lugas.


"Kamu dengar? Jadi berhentilah bersikap rendah diri seperti itu," kata Dokter Nathan, menyodorkan setangkai bunga mawar merah yang begitu cantik kepada Mawar.


"Pilihan anda sangat tepat, Tuan. Bunga mawar merah itu memang sangat cantik begitu sesuai dengan kecantikan istri anda," puji Paman penjual bunga.


Dokter Nathan mengangguk setuju, memberikan uang kepada Paman penjual bunga. "ya, sepertinya pilihanku tidak pernah salah. terima kasih, Paman."


Dokter Nathan kembali memimpin jalan, membuat Mawar mencubit pelan pinggang sang adam lantaran sebal atas apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


"Apa maksudnya anda menyebutku sebagai istri seperti itu?" tanya Mawar dengan pandangan setajam bilah pedang.


Dokter Nathan menghela. "saya hanya sedang berusaha melindungi anda, apa anda tidak sadar bagaimana pandangan orang-orang kepada anda sejak kita datang kemari?"


"Memangnya kenapa?" tanya Mawar yang tidak menyadari apa-apa.


"Anda terlalu menarik perhatian semua orang karena kecantikan anda. Saya hanya khawatir akan ada orang yang berniat jahat kepada anda," jawab Dokter Nathan, menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya sejak tadi.

__ADS_1


Orang-orang memang terlalu intens memandangi Mawar sejak tadi, membuat Dokter Nathan merasakan perasaan yang tak biasa namun sungguh membuat pria itu merasa tidak nyaman.


Mawar memandang lurus sepasang netra setenang danau tak beriak milik Dokter Nathan. "sejak kecil saya sudah biasa dipandangi seperti itu, jadi saya merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Dokter Nathan melengos, tak sanggup berlama-lama bersitatap dengan dua buah bola mata indah milik Mawar. "ah, sudahlah, Mawar. Saya tahu apa yang ada di dalam pikiran para lelaki seperti mereka. Mari jalan, kita harus beli banyak makanan."


Keduanya sepakat untuk menyudahi perdebatan tidak penting itu lantas melanjutkan perjalanan mereka berkeliling pasar guna mencari makanan apa saja yang sedang Mawar ingin makan.


Tak seperti di kota besar yang pernah Mawar tinggali dulu, pasar di desa cenderung lebih sering menjual bahan makanan ketimbang makanan yang sudah siap makan.


Jarang sekali ada pedagang yang menjual makanan siap makan.


"Jadi bagaimana? tidak ada yang jual makanan jadi di sini," keluh Dokter Nathan.


"Ya sudah, beli saja bahan makanan apa yang ingin anda makan biar saya yang masak nanti," Mawar menyahut dengan santai.


"Anda sungguh bisa memasak?"


Dokter Nathan tersenyum penuh. "kalau begitu anda tunggulah di sini biar saya beli bahan makanan yang harus anda hidangkan spesial untuk saya."


......*****......


Asap tipis transparan nampak mengepul dari panci yang sedang diaduk-aduk oleh Mawar sejak beberapa saat yang lalu.


Aroma yang menggugah selera juga menyebar di segala penjuru rumah, membuat Dokter Nathan yang sejak tadi duduk di meja makan sambil menggendong Oliver bangkit.


"Apakah ini aroma masakan dari surga?" tanya Dokter Nathan setengah bercanda membuat Mawar tertawa kecil.


Ya, wanita itu benar-benar harus memasak di rumah Dokter Nathan akhirnya seperti rencana mereka saat masih di pasar tadi.


"Makanan sudah siap, Tuan. Silakan duduk biar saya yang menyajikan untuk anda," sahut Mawar balas mengejek.

__ADS_1


"Tentu saja. terima kasih, istriku," goda Dokter Nathan membuat tawa Mawar kembali pecah.


"Hentikan itu, Dokter Nathan. Saya merasa sangat geli mendengarnya," komentar Mawar dengan sisa tawanya.


"Memangnya suamimu dulu tak pernah memanggil anda dengan panggilan seperti itu?"


Mawar meraih mangkuk yang sudah disiapkan oleh Dokter Nathan di atas meja sejak tadi. "anda salah, mendiang suami saya adalah pria yang sangat hangat dan romantis walau ia agak pendiam."


Dengan perlahan serta hati-hati, Mawar mengisi mangkuk porselen bermotif bunga tulip cantik tersebut dengan soto ayam masakannya.


Aroma lezat nan menggugah selera semakin tajam menyapa indera pembauan Dokter Nathan membuat sang adam merasa perutnya seketika menjadi keroncongan.


Dokter Nathan mengangguk. "mendengar anda yang sangat tergila-gila kepadanya sampai detik ini, sepertinya itu benarlah sebuah fakta."


"Sepertinya Oliver mengantuk, sini biar saya menyusuinya dulu sampai tidur. Anda bisa makan lebih dulu," ucap Mawar yang menyadari mata sayu sang putra yang sedang digendong oleh Dokter Nathan.


"Anda tidak keberatan?" tanya Dokter Nathan sambil memberikan Oliver kepada Mawar.


"Tidak masalah, anda pasti sudah lapar. Saya akan menyusui Oliver di bangsal rawat anda, permisi," tukas Mawar sambil berjalan tergesa menuju ruang periksa Dokter Nathan.


Dokter Nathan memandang nanar kepada soto ayam yang masih panas di hadapannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Nathan? Apa kau sungguh akan mengejar-ngejar seorang wanita yang sudah pernah menikah? Ah, kau pasti sudah gila," gumam Dokter Nathan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


Menikahi seorang wanita yang sudah pernah menikah memang bukanlah hal yang salah, namun stigma negatif yang begitu besar terhadap tindakan itulah yang membuat Dokter Nathan jadi bimbang akan perasaannya kepada Mawar.


Disisi lain, ia ingin sekali bisa menjadikan Mawar sebagai Nyonya Nathan Otto Reins alias istrinya tetapi dia juga dibuat bimbang oleh stigma negatif itu.


"Tuhan, apa aku sungguh sudah gila? Bagaimana bisa aku ingin menikahi seorang wanita keturunan Belanda yang sudah pernah menikah?" Dokter Nathan bergumam sekali lagi sambil meraih mangkuk soto ayamnya, menyendok hasil karya Mawar itu dengan perlahan ke dalam mulutnya.


Setelah nikmatnya soto ayam masakan Mawar menyapa lidahnya, mata Dokter Nathan terbelalak tak percaya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku menarik kembali kata-kataku barusan. Aku akan mengejar wanita itu sampai dapat tak peduli apa kata orang!"


__ADS_2