
__ADS_3
"Selamat pagi, Nyonya. Anda mau ikut mandi ke sungai atau sarapan terlebih dahulu?" sapa Saritem hangat seperti biasanya setelah menyadari Mawar sudah duduk dengan tatapan kosong menghadap hamparan sawah tak jauh dari rumah tempat mereka tinggal.
Satu minggu sudah berlalu begitu saja, namun Mawar masih belum bisa terbiasa hidup tanpa ada lagi Cecilion van der Linen di sisinya.
Wanita itu seolah kehilangan semangat hidupnya, hari-harinya hanya ia isi dengan melamun.
Kendati tak lagi memiliki tempat bersandar dalam hidupnya, Mawar tetap berusaha bertahan demi sang buah hati yang tak lama lagi akan segera lahir ke dunia.
Dengan keyakinan yang sudah tak tersisa banyak di dalam hatinya Mawar terus berusaha mengumpulkan semangat untuk melanjutkan hidupnya tanpa sang suami.
"Saya akan ikut mandi ke sungai terlebih dahulu, Ibu," sahut Mawar dengan suaranya yang masih terdengar begitu lirih.
Saritem mengangguk, mengulurkan tangannya kepada Mawar.
"Kalau begitu mari, Nyonya. Saya akan bantu Anda membasuh rambut," kata Saritem seraya menyampirkan selembar kain di bahu Mawar.
Kedua wanita berbeda usia itu lantas berjalan beriringan menuju sungai yang letaknya tak jauh dari rumah. Sejauh mata Mawar memandang, ia hanya mendapati hamparan hijau persawahan dan pepohonan yang mengelilingi desa kecil itu.
Tempat yang sangat berbanding terbalik dengan tempat asal Mawar yang selalu ramai akan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.
Di desa ini, para warga beraktifitas dengan peralatan ala kadarnya, kemana pun mereka pergi mereka hanya akan berjalan kaki dan itu merupakan hal yang cukup asing bagi Mawar.
Tak ada kereta kuda, mobil mau pun sepeda di desa ini. Mereka benar-benar hanya berjalan kaki, bahkan untuk mengangkut komoditas pertanian dari desa mereka ke luar desa mereka hanya mengandalkan gerobak kayu yang ditarik oleh seekor kerbau atau sapi milik warga.
"Bagaimana kabar Anda, Nyonya Van der Linen?" tanya seorang wanita paruh baya ramah kepada Mawar, mengingat hampir semua warga desa kecil ini pernah bekerja di perkebunan milik keluarga Mawar.
"Saya sudah sedikit merasa lebih baik berkat bantuan Anda semua," jawab Mawar dengan seulas senyum yang ia paksakan agar nampak sebaik mungkin.
Walau hatinya tetap terasa begitu sakit sesakit tertusuk ribuan belati, ia tetap berusaha untuk menyembunyikan luka dan lara hatinya. Setidaknya, Mawar ingin ia dapat melahirkan anaknya di desa yang aman lagi tentram ini.
__ADS_1
Tiba di sungai, orang-orang menyambut kehadiran Mawar dengan senyuman ramah, jauh dari kesan kebencian.
Semua orang menerima Mawar dengan tangan terbuka, kembali teringat akan kebaikan mendiang Cecilion van der Linen.
"Jangan turun ke sungai, Nyonya. Biar saya ambilkan airnya. Anda duduk saja di tepian," ucap seorang gadis tatkala Mawar dengan perut buncitnya berusaha turun ke dalam sungai dangkal tersebut.
"Tidakkah itu merepotkan dirimu, Nona?" tanya Mawar merasa tak enak hati.
"Tidak masalah, Nyonya. Saya dan warga desa ini hanya mau anak Anda bisa segera terlahir dengan sehat tanpa kekurangan satu apa pun," balas si gadis seraya mencelupkan ember kayu miliknya ke dalam sungai agar bisa mengambilkan air untuk Mawar.
"Ini airnya, Nyonya. Mandilah agar tubuh Anda terasa lebih segar dan sehat," tambah si gadis sambil menyerahkan ember berisi air miliknya.
Mawar mengulurkan tangannya, meraih ember berisi air dari gadis itu seraya menjaga pijakannya agar tetap seimbang.
"Terima kasih banyak, Nona," kata Mawar.
"Tata krama Anda luar biasa sekali, Nyonya Van der Linen. Padahal saya ini hanya seorang rakyat jelata," ucap gadis itu, teringat kembali akan kata-kata kasar orang Belanda yang pernah begitu menyakiti hatinya.
"Saya hanya seorang janda yang ditinggal mati oleh suamiku. Bahkan semua harta yang kami kumpulkan sudah tak tahu bagaimana nasibnya," imbuh Mawar yang kembali teringat pada semua hasil kerja keras sang suami selama ini agar mereka dapat hidup dengan layak.
"Kami semua mengerti apa yang Nyonya rasakan," ucap Saritem lirih.
"Sekarang saya hanya memikirkan bagaimana nasib anak saya yang harus lahir tanpa kehadiran figur seorang Papa," Mawar berucap sendu, buru-buru membasuh wajahnya dengan air agar ia tak jadi menangis.
Orang-orang memandang iba kepada Mawar, tak tega membiarkan Mawar menerima takdir yang begitu kejam kepada wanita malang itu.
"Anda tak perlu merasa risau. Kami akan membantu persalinan Anda dengan sebaik-baiknya. Sekarang, kita hanya bisa terus berdoa agar Anda dan buah hati selalu sehat," hibur Saritem yang sedang membasuh rambut pirang panjang milik Mawar yang begitu elok.
Rambut indah itu memang sudah beberapa hari ini luput dari perhatian Mawar karena ia terlalu sibuk bersedih dan menangis sehingga ada bagian yang kusut dan menggumpal.
__ADS_1
Dengan sabar serta hati-hati, Saritem menggunakan jemarinya untuk menyisir rambut Mawar agar bisa kembali ke bentuk aslinya yang memukau.
"Saya jadi penasaran akan jadi warna apa rambut anak Tuan dan Nyonya nantinya," ujar Saritem yang masih dengan sabar membasuh rambut Mawar.
Mawar tergelak halus. "entahlah, Ibu. tapi jika Tuhan mengizinkan saya meminta maka saya ingin anak saya memiliki rambut yang hitam seperti milik suami saya."
Saritem merasa terenyuh, tentu saja, Cecilion van der Linen dan Mawar van der Linen adalah pasangan suami istri paling harmonis yang pernah ia jumpai sepanjang hidupnya.
Ia paham baik sang Tuan mau pun sang Nyonya sama-sama sangat saling mencintai.
"Atau kalau bisa, saya juga menginginkan anak laki-laki," imbuh Mawar dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya, teringat kembali masa saat ia dan Cecilion pertama kali bertemu di sekolah.
Masa-masa itu sangat indah yang tentunya tidak akan pernah lepas dari ingatan Mawar.
Rambut kelam milik Cecilion yang begitu memesona, sorot mata tajam namun teduh yang selalu sukses membuat Mawar jatuh cinta yang hanya ada dalam sosok Cecilion van der Linen, suami tercintanya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa Tuan dan Nyonya bertemu?" tanya si gadis seraya kembali mengisikan ember yang digunakan Mawar dengan air baru.
Senyum Mawar kembali merekah, mengenang masa-masa mudanya saat masih di Batavia bersama Cecilion.
"Dulu, saya dan Cecilion bersekolah di sekolah yang sama. Waktu itu Cecilion adalah murid pindahan dari Netherland karena Papanya saat itu baru saja dilantik menjadi gubernur Batavia," terang Mawar.
"Saat pertama beradu pandang dengan Cecilion, jantung saya rasanya seperti mau lompat dari tempatnya. Dia sangat tampan membuat saya salah tingkah," sambung Mawar yang kembali mengenang kebodohannya kala itu yang berani-beraninya jatuh cinta kepada Cecilion.
"Lantas bagaimana selanjutnya? Apa Anda menyatakan perasaan lebih dulu?" tanya wanita yang lainnya.
"Ada seorang sahabat saya yang bernama Kees, dia selalu berusaha agar saya dan Cecilion bisa menjadi sepasang kekasih sampai akhirnya Kees benar-benar berhasil membuat Cecilion menyatakan cintanya kepada saya. Cecilion memberikan saya cincin ini waktu itu," Mawar kembali bercerita sambil menunjuk kalung dengan sebuah hiasan cincin yang menggantung di lehernya.
"Kisah cinta Anda berdua sangat indah. Saya harap Tuan dan Nyonya bisa kembali bersatu di keabadian," si gadis menimpali.
__ADS_1
"Saya juga berharap begitu," balas Mawar dengan pandangan yang tertuju ke arah langit, berharap Tuhan mau mengabulkan barisan doa-doa yang telah ia untai hari ini.
__ADS_2