Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 24 : Cinta Dua Sejoli


__ADS_3

Kees mengangguk dengan seulas senyuman tulus.


"Aku harap kalian berdua memang akan menjadi pasangan yang diberkati oleh Tuhan."


Cecilion tersenyum penuh, sementara Mawar menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.


Kedua belah pipi Cecilion dan Mawar nampak merah padam, Kees dapat melihatnya dengan sangat jelas membuat pemuda itu terkekeh geli.


Nampak sangat jelas bahwa sepasang sejoli itu saling menyukai satu sama lain, membuat Kees semakin ingin meledek mereka berdua.


"Kalian nampak seperti sepasang kucing yang sedang memasuki musim kawin," goda Kees kemudian, semakin membuat Mawar salah tingkah.


Mawar terkekeh. "apakah ada kucing yang jauh lebih manis dari Cecilion?"


"Lihatlah, Cecilion! Dia sangat menyukaimu apa yang seharusnya kamu lakukan?" ejek Kees berusaha memberi kode kepada Cecilion.


Cecilion mengerlingkan matanya, melirik sebal kepada Kees namun perkataan Kees memang ada benarnya kalau tidak mengatakannya sekarang bisa-bisa Mawar akan direbut oleh pemuda lain.


"Karena aku sudah keceplosan sebaiknya aku langsung saja mengakui perasaanku kepadamu, Mawar," ucap Cecilion mencoba menarik atensi Mawar yang masih berusaha menyembunyikan rona merah di wajah cantiknya.


Meski nampak malu-malu, Mawar menoleh ke arah Cecilion menunggu laki-laki itu mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Sepasang netra biru indahnya menatap Cecilion penuh minat.


"Mawar De Haas, aku sangat menyukaimu, ah tidak! Aku mencintaimu. Jadi maukah engkau menjadi kekasihku?" kata Cecilion lembut seraya menyodorkan sebuah kotak cincin berwarna biru kepada Mawar.


Cecilion berlutut, benar-benar memohon dengan tatapannya agar Mawar mau menerima perasaannya yang sudah tak bisa ia bendung lagi.


Kees sangat bahagia akhirnya Cecilion mampu mengungkapkan perasaannya secara terus terang kepada Mawar setelah sekian lama memendamnya.


Pemuda itu sangat hebat, meski ia terkenal dingin dan irit bicara ternyata dia mampu menciptakan suasana romantis.

__ADS_1


Tanpa sedikit pun keraguan, Mawar mengangguk dengan seulas senyum bahagia menghiasi wajah ayu miliknya. Gadis itu sungguh tak menyangka bahwa Cecilion akan balik menyukai dirinya seperti ini sungguh bagaikan sebuah mimpi yang tak pernah disangka-sangka.


"Iya. aku bersedia menjadi kekasihmu, Cecilion van der Linen."


"Terima kasih. Kalau begitu, bolehkah aku memasangkan cincin ini?" Cecilion bertanya sambil membuka kotak cincin yang hendak ia berikan kepada Mawar.


Sebuah cincin yang sangat indah berhiaskan berlian biru kualitas terbaik, membuat cincin itu semakin cantik dan sangat cocok untuk Mawar setelah Cecilion menyematkannya dengan senang hati.


Harga cincin itu tidak main-main, dalam sekali lihat pun semua orang tahu harganya sangat mahal tetapi Cecilion rela menabung demi dapat memberikannya kepada Mawar sebagai simbol rasa cintanya.


"Sudah kuduga ini sangat cocok untuk kamu, Mawar. lihatlah Kees, cincin itu semakin cantik setelah melingkar di jari Mawar!" Cecilion berseru girang, nampak sangat berbeda dengan sosok Cecilion yang biasanya selalu kalem dan tenang.


Sama bahagianya seperti Cecilion, air muka Mawar terlihat sangat cerah hari ini karena senyuman indahnya tak jua memudar kian meningkatkan kecantikan yang ia miliki. Dengan mata berbinar-binar, gadis itu memandangi cincin pemberian Cecilion pertanda mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


"Aku senang kalian akhirnya bisa menjadi sepasang kekasih. Sekali lagi aku berharap kalian bisa bahagia hingga hanya ajal yang dapat memisahkan kalian," komentar Kees dengan senyuman bahagia.


Meski siang itu semakin terik, namun tak menyurutkan kebahagiaan Cecilion dan Mawar yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih.


Senyuman Mawar kembali merekah dengan indah, begitu bersinar bahkan sampai mengalahkan sinar sang mentari yang tengah bersinar terik siang itu.


Sepasang anak manusia yang sangat bahagia itu nampak sangat rupawan, mirip dengan pasangan dari negeri dongeng.


"Tentu. Tetaplah mendampingi aku sampai kapan pun, Cecilion van der Linen," balas sang hawa dengan senyuman yang begitu menawan, membuat Cecilion merasa sangat bangga dapat menjadi kekasih dari gadis ini.


"Aku akan mengganti cincinnya menjadi lebih bagus setelah kita lulus sekolah dan bisa segera menikah," Cecilion berujar penuh tekad membuat Mawar terkekeh.


Aih, mereka berdua manis sekali membuat Kees hanya bisa tersenyum meski hatinya merasa sedikit iri akan keromantisan pasangan baru ini.


...****************...

__ADS_1


Seperti hari minggu biasanya, kediaman keluarga Van Der Linen nampak begitu lengang hanya terlihat beberapa Babu dan Jongos yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing sebab sudah kapok ketahuan bergunjing oleh sang Tuan Muda.


Tak nampak keberadaan Tuan dan Nyonya rumah itu, entah kemana perginya mereka hari itu namun Cecilion memiliki untuk tidak peduli.


Lagi pula, kalau mereka bertemu lagi yang ada mereka akan terus adu mulut dan membuat Cecilion makin pusing.


Entah sampai kapan rumah tangga yang kacau itu bisa bertahan, terlebih kedua belah pihak memutuskan untuk mempertahankan rumah tangga itu hanya demi kepentingan materi dan sosial.


Meski isu perselingkuhan yang dilakukan oleh Tuan Van Der Linen sudah menyeruak kemana-mana, nyatanya tidak ditanggapi serius oleh mereka.


Tak jarang hal itu menjadi perbincangan panas dikalangan orang-orang Belanda berstatus sosial tinggi saat mereka sedang berkumpul dalam sebuah pesta atau acara perjamuan.


Sebuah hal yang menyedihkan, namun Cecilion sudah tak mau ambil pusing dengan urusan kedua orang tuanya itu.


Cecilion memandang nanar ke luar jendela kamarnya, mengamati sepasang burung yang sedang asyik bercengkrama di atas dahan pohon besar tak jauh dari jendela kamarnya.


"Aku harap kehidupan asmaraku dengan Mawar akan selalu bahagia seperti sepasang burung itu," gumam Cecilion sambil terus memandang sepasang burung yang sedang kasmaran itu.


Seolah sadar diperhatikan oleh Cecilion, sepasang burung itu lantas terbang dengan beriringan ke angkasa membuat Cecilion mengulas seulas senyuman geli, merasa dipermainkan oleh sepasang burung kecil itu.


"Dasar pasangan burung yang kurang ajar, mereka sepertinya sadar sedang aku perhatikan."


Pemuda tampan itu sedang bersandar di dinding samping jendela besar kamarnya, menikmati semilir angin yang berhembus lembut menyapa dirinya.


Sejak ia dan Mawar resmi menjadi sepasang kekasih, Cecilion memutuskan untuk menaruh sekuntum bunga mawar merah di atas meja belajarnya setiap hari dan meminta para Babu untuk menanam semua jenis mawar yang ada di seluruh penjuru Hindia-Belanda di kebun belakang rumahnya.


Ya, Cecilion memang sebahagia itu setelah berhasil menjadikan Mawar De Haas sebagai kekasihnya sehingga melakukan hal-hal barusan.


Ia hanya ingin selalu berada dekat dengan Mawar sang terkasih, gadis pujaannya yang ingin segera ia jadikan sebagai pasangan hidupnya.

__ADS_1


Cecilion berdeham, melirik ke arah sekuntum bunga mawar yang ia taruh di dalam sebuah gelas di atas meja belajarnya.


"Mawar sedang apa ya? Belum apa-apa aku sudah merindukan dirinya."


__ADS_2