
__ADS_3
Disaat orang penasaran melihat apa yang terjadi, mereka melihat Ning er sudah tidak ada ditempat.
"Waduh, hampir saja terlambat. Kau tidak sadar kalau kau hampir membunuh rekanku yah?"
Terlihat Qin Yan yang berada tidak jauh dari sana, dia berdiri sambil menggendong Ning er dipelukan.
'Apa!! Sejak kapan anak itu disana!' Wasit pun heran melihat keberadaan Qin Yan, meskipun begitu ia tetap tidak senang. Apa yang Qin Yan lakukan telah melanggar aturan.
Sementara itu, Ning er yang tengah digendong berbatuk perlahan. Meskipun mulutnya dipenuhi darah, namun ia tetap berusaha berbicara.
"Ma..... afkan aku.... tuan. Aku.... te... lah.. gagal."
Mendengar itu, Qin Yan hanya menggeleng ringan.
"Tidak apa, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Sekarang tidurlah dengan nyenyak." Qin Yan menjentikan jarinya kearah gadis itu. Kemudian, Ning er pun tertidur lelap.
"Hei!! Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya."
Berikutnya terdengar Nea yang berusaha melepaskan diri dari wasit. Ia terus menatap Qin Yan dengan tajam, seolah olah ingin membunuhnya.
Namun Qin Yan sama sekali tidak menggubris itu. Ia tersenyum ringan.
"Babak ini, kami menyerah."
Setelah mendengar pernyataan jelas itu. Wasit pun mengangguk.
"Skornya 1:1. Tentukan peserta kalian selanjutnya. Kali ini adalah pertarungan 2 vs 2."
Setelah wasit mengatakan itu, seorang berbadan kekar melompat ketengah lapangan. Lompatannya membuat pijakan ditanah menjadi retak. Dengan gada berduri ditangannya, ia memancarkan aura keganasan yang luar biasa.
"Kakak Cu!" Teriak Nea dengan penuh kegembiraan.
"Nona Nea, kau telah bertarung semampumu. Istrahatlah, biar aku yang urus sisanya." Ucap pria berbadan kekar itu dengan tegas.
"Tidak! Aku tidak akan pergi, sebelum aku membunuh mereka semua!!" Teriak wanita itu dengan mata memerah.
Wasit sendiri seperti salah mendengar perkataan itu, ia dengan cepat menegur Nea.
"Nona, ini adalah kompetisi. Bukan ajang untuk membunuh, kau harus menjaga haus darahmu."
"Diam!!!" Bentak wanita itu dengan tatapan penuh kemarahan. Namun wasit juga lebih marah lagi.
"Apa yang kau bilang tadi? Katakan sekali lagi agar aku mengeluarkanmu dari kompetisi ini."
Akhirnya wanita itu sadar, ia sudah berbuat diluar batas. Dia pun terdiam untuk waktu yang lama, namun tatapannya tetap tidak lepas dari Ning er yang digendong oleh Qin Yan.
'Aku adalah jenius dari klan Ular putih. Aku menguasai perggantian tubuh diusia muda yang tidak bisa dicapai oleh leluhurku. Aku telah ditakdirkan untuk menjadi penguasa sejak lahir!' Memikirkan itu, membuat Nea menatap ketua grub dengan tatapan penuh harap.
"Tolong bantu aku kakak Cu."
pria berbadan kekar tersebut mengangguk. Ia pun mengangkat tangannya.
"Wasit, kami berdua akan bertanding dalam babak ini." Ucapnya dengan tenang, sambil melirik Nea yang tersenyum puas padanya.
Untuk beberapa saat wasit berpikir sejenak, namun pada akhirnya mengangguk.
"Baiklah, karena pihak kerajaan Nerta telah memilih peserta mereka. Sekarang giliran kelompokmu untuk mengirim petarung." Wasit kemudian berbalik pada Qin Yan.
Qin Yan juga mengangguk, ia melihat dua orang lawannya tersenyum dengan penuh niat membunuh. Ia kemudian berbalik pada Lin Fin, mengangguk padanya.
wajah Lin Fin langsung bersemangat. Ia langsung melompat kelapangan. Rambutnya yang orange, serta tubuhnya yang atletis membuat Nea agak mengangkat alis. Karena tampang Lin Fin begitu lumayan untuk gadis sepertinya.
Kemudian Qin Yan memanggil De muer dengan telepatinya. Untuk beberapa saat, gadis itu tertegun. Namun ia juga sangat bersemangat sampai akhirnya tanpa sadar melompat gembira.
Setelah memilih mereka secara hati hati, Qin Yan pun berjalan pulang.
"Hei! Kau tidak bertarung?" Pria berbadan kekar tidak terima kalau Qin Yan meninggalkan lapangan ini.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Qin Yan berhenti sejenak, memandangnya sebelah mata.
Perlakuan Qin Yan sangat dingin dan cenderung meremehkan. Hal itu membuat pria tersebut mengepalkan tangannya erat erat. Karena tidak senang dia sebagai ketua tim harus berhadapan dengan anak buah musuh. Seharusnya ia harus berhadapan dengan ketua tim musuh agar pertarungan ini terlihat menarik.
Namun kenyataannya berbeda, pria itu menatap Qin Yan dengan tajam.
"Apa kau meremehkanku?" Tanyanya dengan geram.
"Tentu saja tidak, anak buahku belum mendapat giliran untuk bertarung. Kuijinkan saja mereka bertarung kali ini." Senyum Qin Yan kemudian berlalu.
"Sialan!! Kau pasti akan menyesal, karena mengirim anak lemah ini kesini!" Teriak pria berbadan kekar itu dengan marah. Namun matanya kemudian berkedut saat merasakan ada seseorang mencengkram bahunya yang penuh otot.
"Siapa yang kau bilang lemah." Ternyata Lin Fin berada disampingnya. Meskipun tinggi Lin Fin hanya sebatas dada orang itu. Namun, tak bisa dipungkiri kalau cengkraman anak itu membuat bahunya sakit.
"Lepaskan tangan kotormu." Ucap pria itu dengan dingin. Namun Lin fin malah tersenyum tipis.
"Kalau aku tidak mau?" Ia semakin mempererat cengkraman. Dalam hati, pria itu mendesis. Karena itu, ia mengangkat tinjunya, hendak meninju Lin Fin.
Namun wasit menahan tinjunya.
"Jangan bertarung sebelum aku memberi aba aba. Dan kau, lebih baik kau lepaskan tanganmu." Tatap wasit itu dengan tajam pada Lin Fin.
Dengan santai nya anak itu melepaskan tangannya. Ternyata cengkramannya meninggalkan bekas merah dipundak pria itu. Bahkan sedikit berasap karena tangan anak itu meresap kedalam.
'Apa apaan anak ini? Kenapa kekuatannya sekuat ini? Bukankah umurnya baru 18 tahun?' Setetes keringat keluar di pipi pria itu. Sekarang ia mengerti, mengapa Qin Yan sama sekali tidak menggubrisnya. Ternyata dia masih mempunyai satu orang terkuat yah.
Dipinggir lapangan, Qin Yan berpaspasan dengan De muer. Sambil menyerahkan kertas ledakan dan kertas kamuflase pada gadis itu. Qin Yan dengan tenang melewati mereka.
Dilapangkan pertarungan. Terlihat empat orang berdiri berhadapan.
"Kerajaan Nerta, Cu He."
"Kerajaan Nerta, Nea Ninggian."
"Kerajaan Sunmoon, Lin Fin."
Seketika mereka semua mengambil ancang ancang siaga.
"Mulai!!"
Setelah teriakan wasit, Lin Fin maju menghantam Nea. Sementara De muer mundur kebelakang.
"Bukh" Tinju Lin Fin ditangkis, Cu he datang melindungi wanita itu.
"Hei, kau sengaja mengincar wanita yah!!" Cu He mengangkat gadanya yang berduri. Menyerang Lin Fin, namun Lin Fin menghindar kebelakang.
"Hahaha.... Tentu saja tidak. Tapi, inilah yang namanya pertarungan!" Cincin Hitam Lin Fin bangkit dan menyala. Cu He yang melihat itu sampai membelakan matanya.
'Apa! Tingkat Elder? Pantas saja anak ini begitu kuat. Ternyata dia sudah berada ditingkat yang sama denganku. Tapi, Endah kenapa perasaanku tidak enak. Anak ini begitu muda, kenapa bisa mempunyai pencapaian setinggi ini.' Disaat Cu he tenggelam dalam lamunannya, Lin Fin sudah maju dan tinjunya hampir menyentuh wajah pria itu.
"Dimana pikiran mu hah!!!"
Pria itu menghindar, namun tidak lama kemudian ia melawan serangan itu. Mereka berdua saling beradu tinju.
Disaat mereka bertarung, De muer dibelakang mendapati dirinya telah diincar oleh Nea. Ia kemudian mengeluarkan tongkatnya, lalu mulai waspada.
"Hahaha.... Jadi kau seorang penyihir yah! Percuma, kau pikir bisa mengalahkan ku dengan ilmu sihirmu itu?" Tawa Nea diiring iring hembusan angin.
Saat De muer sangat fokus untuk melacaknya, Nea tiba tiba muncul dan menyerang secara membabi buta.
"Ptank ptank ptank"
Bentrokan antar tongkat sihir dan Cakar logam terdengar. Dalam hal bertarung, terlihat De muer yang berada diposisi kurang menguntungkan. Ia pun mundur menjauh, setelah itu tongkatnya menyala, disertai dengan cincin ungunya yang juga ikut menyala.
"Elemen cahaya, integrasi cahaya suci!!" Sebuah cahaya meliputi tubuh De muer, bukan hanya tubuhnya. Tapi tubuh Lin Fin merasakan hal yang sama.
Kekuatan cahaya ini meningkatkan kecepatan sekitar 10% , daya tahan 5% , dan kekuatan 7%.
__ADS_1
Dengan ini ia dapat menghindari serangan Nea yang dilakukan secara diam diam.
'Sial, meleset!!' Batin Nea kesal, ia kemudian melancarkan serangannya lagi.
"Kau tidak akan bisa......"
"Buakh" Sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Nea mendapati pipinya telah ditendang keras oleh Lin Fin, hingga terpental kesamping.
"Bajingan kau!!" Dibelakang Lin Fin, munculah Cu he dengan gadanya yang bersinar.
"Skill pertama! Gada pembunuh!!"
Lin Fin juga cepat berbalik.
"Skill pertama. Tinju penghancur!!"
Kedua serangan tersebut saling berhadapan dan berbentrokan.
"BOOOMM" dentuman keras terjadi, Cu he dan Lin Fin mundur beberapa langkah. Namun saat Cu he sadar, dua kertas pola telah menempel di pahanya.
"Apa! Inikan?" Sebelum ia bereaksi, ledakan terjadi. Saat berikutnya Lin Fin menerjang dan akhirnya terlihat bahwa Cu he terpental kebelakang dengan memuntahkan darah segar.
'Aku harus menargetkan gadis itu!' Ketika Cu he kembali bangkit. Ia melirik keberadaan De muer, namun gadis itu tidak ada disana. Bukan hanya itu, gadis tersebut tidak ada dimana mana.
'Huh, dimana gadis itu?' Batinnya dengan bingung.
"Kemana kau lihat, hah!!" Lin Fin akhirnya tiba, dan langsung melayangkan tendangan. Cu He menangkisnya, namun tetap saja ia tetap terpental.
'Kuat sekali.' Harus diakui, kekuatan Lin Fin bukan main main. Ternyata selama ini, Xu he terlalu meremehkan kekuatan anak itu. Ia pun berdiri, kali ini ia akan bertarung serius.
"Hiyaaah!!!" Disaat yang sama, Nea dengan penuh kemarahan menerkam kearah Lin Fin layaknya binatang buas.
"Hujan cahaya pembapstian!!" De muer yang berada di perlindungan kertas kamuflase tiba tiba mengeluarkan skillnya. Saat itulah, Nea gagal menyerang.
"Sialan kau wanita jalang!!" Raung Nea dengan marah. Namun tanpa sadar, Lin Fin berhasil meninjunya lagi. Namun kali Cu he datang menangkisnya dengan raut wajah serius.
Pertarungan terjadi cukup sengit, Qin Yan menonton di dalam Lobby. Kombinasi antara Lin Fin dan De muer cukup sempurna hingga lawan mereka sulit untuk melawan.
De muer sebagai penyihir tipe pendukung selalu mengirimkan kekuatannya kepada Lin Fin terus menerus. Sehingga kunci dalam pertarungan ini sebenarnya adalah dia. Namun, disaat bersamaan, Lin Fin yang begitu kuat mampu melawan mereka berdua sekaligus. Ditambah dukungan De muer dibelakang, sepertinya mereka berada diposisi menguntungkan.
Namun saat ini, tiba tiba Qin Yan merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada sosok misterius yang tengah mengamatinya.
Ia pun berbalik dengan waspada. Mata merah aktif, dan secara was was mendeteksi keberadaan sosok misterius itu.
"Ada apa Qin Yan?" Tang Liu dan lainnya yang merasakan itu, tidak tahan untuk bertanya. Mengapa wajah Qin Yan menjadi seserius ini.
"Tidak, tidak apa apa." Setelah memastikan kalau sosok itu sudah menghilang. Barulah ia kembali tenang.
'Apa tadi sebenarnya?' Perasaan Qin Yan menjadi tidak tenang.
Disaat bersamaan, Rong Qiyu yang tengah menikmati pertarungan. Tiba tiba seluruh tubuhnya gemetar hebat. Hingga membuat master lainnya jadi heran.
"Ada apa Master Rong?" Tanya mereka.
"Tidak, tidak apa apa. Aku hanya merasa pusing saja." Rong Qiyu memaksakan senyumnya. Masternya yang lain pun menanggapi itu sebagai gurauan.
"Hahaha.... Mungkinkah master Rong kelelahan? Entah kesibukan apa semalam hingga kau jadi seperti ini." Chi Tae melunakkan suasana dengan candaan, karena ia tahu. Kalau pria ini sedang dirasuki sosok itu.
Dalam batinnya, dibelakang Rong Qiyu sesosok misterius seperti asap sedang berbisik di telinganya tanpa disadari oleh siapapun.
"Siapa anak itu?" Tanya sosok itu, sambil menatap Qin Yan.
"Di-dia... Qin Yan tuan. Dialah anak yang kuceritakan itu." Jawab Rong Qiyu dengan penuh keringat. Namun ia diam diam tertawa senang. Setidaknya tuannya ini menargetkan keberadaan anak itu. Dia pun juga ikut menatap Qin Yan di bawah sana.
Siapa yang menduga kalau Qin yan juga menatap mereka berdua. Hingga Rong Qiyu dan sosok itu jadi tertegun.
Bahkan sosok itu, sedikit merasakan aura intimidasi dari anak itu.
__ADS_1
"Huh! Anak itu.... Menarik, bagaimana bisa ia menyadari keberadaanku dan bagaimana juga ia menekanku hanya dengan tatapannya."
__ADS_2