
__ADS_3
Mahira terlihat hanya menundukkan kepala.
"Bahkan untuk membayangkan sebuah pernikahan saja kakak merasa sangat takut Maryam" Ucap Mahira lirih
"Mungkin ini hukuman yang harus kakak terima atas semua dosa yang pernah kakak lakukan" Tukas Mahira kemudian
"Stttt... Kakak jangan berkata seperti itu, Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana diri kita di masa yang akan datang" Ucap Maryam.
"Mengenai jodoh percayakan semua Pada Allah, Tugas Kaka saat ini hanya lah memperbaiki diri" Ucap Maryam dengan suara lembut.
Allah itu ketika sudah mencintai seorang hamba, maka yang di berikan pertama kali bukanlah dunia, Namun ketika Allah mencintai seorang hamba maka yang di berikan pertama kali adalah pengampunan atas semua dosa yang pernah di lakukan -Ust. Adi Hidayat-
Mahira hanya semakin menundukkan kepala, dan sesekali menatap nanar pada Maryam yang berada di hadapannya.
"Kak , kalau Maryam boleh memberi saran, Tidak ada salahnya Kakak mencoba, Mungkin saja Anak dari sahabat Abi tersebut memang jodoh kakak" ucap Maryam
Mahira tampak menghirup nafas dalam.
"InshaAllah Maryam, kakak akan mencoba " Ucap Mahira dengan pandangan lurus pada Maryam, seketika Maryam mengulas sebuah senyuman manis di balik cadar yang dia kenakan.
Tidak di sangka Denis yang tengah mencari keberadaan Reza , tidak sengaja mendengar obrolan antara Mahira dan Maryam.
"Denis ! , Sejak kapan kau di sana ?" Tanya Maryam
"Ahh... Maaf nyonya , saya diperintah oleh Tuan Reza sebelumnya " Ucap Denis sopan. Maryam tampak menganggukkan kepala.
"Duduklah dulu, akan ku panggilkan mas Reza " Ucap Maryam lembut dengan beranjak dari duduknya. Denis tampak mengangguk sopan.
Setelah kepergian Maryam, Denis terlihat sedikit gugup ketika berdekatan dengan Mahira, meski masih berjarak lumayan jauh.
"Nona Mahira , Apa kabar ?" Tanya Denis sopan.
"Panggil Mahira saja kak, Alhamdulillah saya baik" Jawab Mahira kemudian . Denis tampak menganggukkan kepala.
"Apakah kalian akan menginap malam ini" Tanya Denis lagi.
"Mahira tidak tahu pasti, tapi sepertinya tidak" Ucap Mahira kemudian.
"Denis !" Suara panggilan Reza yang terdengar nyaring di telinga Denis
"Ya tuan !" Jawab Denis singkat.
"Aku tunggu di ruang kerja sekarang " Ucap Reza dengan berlalu. Denis menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Setelah kepergian Reza, Denis tampak menatap sekilas pada Mahira.
"Ohya, aku permisi Ma--Mahira" Ucap Denis terbata, dan mahira menjawab dengan anggukan kepala.
Berada di ruang kerja Reza.
Reza tampak meneliti semua barang yang telah di bawa oleh Denis, beberapa barang yang di minta Reza untuk Denis beli, sebagai buah tangan untuk Abi Hanif dan Ummi Maya saat pulang nanti.
"Apa kau sudah membeli semuanya?" Tanya Reza
"Sudah semua tuan!" Jawab Denis dengan pasti .Reza terlihat menganggukkan kepala.
"Baiklah, minta pelayan untuk mengemas semua kedalam mobilmu" Pinta Reza. Denis mengangguk sopan.
Ditempat lain, namun masih dalam satu atap. Terlihat Tama yang berjalan kearah Mahira yang tengah duduk sendiri di samping kolam renang.
"Ehem.."
"Kak Tama " Suara deheman dari Tama yang seketika membuat Mahira merasa kaget.
"Boleh aku duduk di sini" Ucap Tama.
"Silahkan" Ucap Mahira dengan anggukan kepala.
Mahira tampak memberikan jarak diantara keduanya, Meskipun masih dalam proses belajar memperbaiki diri, namun Mahira sadar jika dirinya tidak boleh dekat, meski hanya sekedar duduk bersama dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
"Kau Terlihat berbeda " Ucap Tama
"Maksut kak Tama ?" Tanya Mahira menundukkan pandanganya.
"Kau terlihat lebih baik dan lebih cantik ketika mengenakan hijab dan cadar" puji Tama kemudian
Mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Tama, seketika wajah Mahira menghangat dan bersemu merah, jika saja tidak sedang tertutup oleh Cadar yang di kenakan, mungkin saja Mahira akan merasa sangat malu.
"Begitu kah ?" Ucap Mahira.
"Tentu saja, dan aku kagum padamu" Jawab Tama dengan tatapan mengarah pada Mahira
"Sesungguhnya apa yang kakak kagumi hanyalah apa yang terlihat oleh pasang mata kak Tama" ucap Mahira dengan wajah menunduk
"Dan sungguh aku terlihat baik, hanya karena Allah masih menutup Aib aib ku" ucap Mahira dengan suara bergetar.
Tama terlihat sedang memahami kalimat yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Ohya bagaimana dengan pekerjaan kakak?" Tanya Mahira tampak mengalihkan pembicaraan
"Emm.. Seperti biasa, Menjadi idola, bertemu banyak orang, Memahami setiap masalah yang terjadi, dan memberikan solusi yang mungkin bisa ku berikan" Ucap Tama
Mendengar jawaban Tama yang terkesan konyol membuat Mahira terkekeh.
"Kakak Percaya diri sekali ya ternyata" Ucap Mahira dengan menahan tawa.
Suasana diantara Keduanya terlihat semakin mencair dengan canda tawa dan tingkah konyol dari Tama. Dan lagi lagi hal itu tidak luput dari pandangan Denis yang tidak sengaja melintas.
"Ada hubungan apa Dokter Tama dengan Mahira" Batin Denis dalam hati.
Namun belum juga rasa penasaran Denis terjawab, kembali Reza memanggil dirinya untuk menyelesaikan tugas dan perintah yang telah di berikan.
Denis segera berlalu dan menuju halaman depan kediaman Reza, memastikan semua barang yang sebelumnya dia beli sudah semuanya masuk kedalam mobil.
Nyatanya Barang yang telah di beli oleh Denis tidak akan cukup jika hanya dimuat di dalam mobil Denis saja. Mau tidak mau mobil Abi Hanif pun juga terpaksa menjadi mobil untuk memuat semua batang.
Kali ini Reza sengaja membeli banyak barang seperti beberapa sembako, mainan, dan juga beberapa pakaian dan juga Snack. Karena sebelumnya Reza telah mengatakan pada Abi Hanif jika ingin sedikit berbagi dengan anak yatim yang ada di panti asuhan yang dekat dengan komplek kediaman Abi Hanif.
Panti asuhan yang dulu sering Maryam kunjungi sebelum menikah dengan Reza. Hal itu Reza lakukan atas wujud syukur atas kehidupan baru yang di titipkan Allah dalam rahim sang istri.
Hari semakin sore, Abi Hanif bersama Ummi Maya berniat untuk segera undur diri, kerena Abi Hanif merasa tidak nyaman jika berkendara pada malam hari.
Abi Hanif yang merasa pandanganya tidak begitu baik pada malam hari, tidak ingin membahayakan dirinya dan keluarga memilih untuk segera pamit.
Mahira yang melihat begitu banyaknya barang yang di muat kedalam mobil Abi Hanif, tidak hanya di bagian bagasi saja namun juga sampai ke bagian tengah mobil.
Mau tidak mau Mahira akan menumpang pada mobil yang akan di kemudiaan Denis.
Setelah melaksanakan sholat Ashar dan segera berpamitan pada Maryam Abi Hanif dan Ummi Maya segera bersiap untuk perjalanan pulang.
"Nak, jago dirimu baik-baik , Jangan lupa ber doa, Ummi Pulang dulu, InshaAllah Ummi akan berkunjung lagi" Ucap ummi Maya dengan usapan lembu di puncak kepala Maryam.
"Baik Ummi, Jaga diri ummi dan Abi , Maryam akan merindukan kalian" Ucap Maryam
Suasana menjadi sangat emosional , bagaimana tidak Maryam yang sebelumnya di beri pengarahan oleh dokter Anita Untuk menjaga kandungannya dan untuk sementara dilarang bepergian dengan jarak yang jauh. Sudah dapat di pastikan jika Maryam dalam waktu beberapa bulan tidak akan dapat mengunjungi orang tuanya.
Bab Selanjutnya Spesial Denis Dan Mahira
***
Bersambung
__ADS_1
***
Terimakasih untuk para Reader yang sudah setia menantikan cerita Pesona Maryam Albatul Rahmah. Sehat dan Bahagia Selalu ☺️🙏
__ADS_2