
__ADS_3
Tama hanya menatap dengan seringai tipis di wajahnya, melihat Kepergian Maher dan kedua orang tuanya. Ingin rasanya tertawa melihat tingkah konyol seseorang yang hampir saja menjadi mertua Nissa.
"Tunggu !" ucap Tama yang juga ikut bangkit dari duduknya.
Ustadz Furqan dan yang lain tampak menoleh pada Tama yang terlihat tersenyum dengan wajah dingin.
"Saya harap setelah ini, anda tidak pernah datang lagi kemari, untuk mengusik ustadz Hamzah, atau Nissa" Ucap Tama ketus
"Ohya satu lagi, Untuk anda" Ucap Tama dengan mengangkat dagunya, mengarahkan pada Maher.
"Jaga pandangan anda itu pada Nissa, ingat ! karena setelah ini Nissa akan menjadi milik orang lain, tentunya bukan anda !" Ucap Tama dingin
Deg.
Mendengar hal itu Nissa pun merasa tertegun
Tidak hanya Nissa , Maher pun juga menatap Tama dengan tatapan kesal, ada rasa tidak percaya, namun dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Ingin rasanya membalas ucapan Tama, namun sadar hal itu justru akan memperkeruh keadaan, Maher memilih untuk diam dan berlalu.
"Maher ! , kau bisa mendapatkan yang lebih !" Kilah ustadz Furqan yang juga tidak terima.
Mendengar ucapan ustadz Furqan, ingin rasanya Tama tertawa terbahak "Iya Lebih Buruk " Batin Tama dalam hati
Setelah kepergian Ustadz Furqon dan keluarga, yang kemudian di susul oleh notaris dan pengacara Tama, kini menyisakan Nissa, ustadz Hamzah, ummi Nissa dan Tama yang berdiri di ambang pintu.
Ada perasaan lega yang seketika itu menyeruak di relung hati Tama, bahkan meski baru saja dia mengelontorkan dana cukup besar, namun tidak masalah baginya, asal semua dapat berada dalam kendali nya.
Tama hanya tersenyum senyum dalam lamunannya, dan hal itu mengundang tanya dari Nissa yang tanpa sengaja menatap sosok yang masih berdiri di dekat sang Abi.
Buka bahagia karena perjodohannya batal, lebih kepada nyatanya Maher bukanlah jodoh yang tepat untuk Annisa, dan ini baik. Namun Tama sendiri juga tidak menganggap dirinya baik, meski banyak keburukan dalam diri Tama, namun dia pun sadar akan hal itu.
Tama masih menatap lurus kedepan mengingat kejadian demi kejadian yang di alaminya. Tama merasa semua kejadian yang menimpa dirinya seperti telah di atur, dan semesta pun mendukung.
"Mari nak Tama kita masuk ke dalam " Ajak ustadz Hamzah yang seketika membuyarkan lamunan Tama.
"Oh, Iya" Jawab Tama dengan menganggukkan kepala, kemudian tersenyum pada sosok ustad Hamzah.
__ADS_1
Mereka kini kembali ke dalam rumah, Masih di posisinya semula, ustadz Hamzah tampak menatap Tama dengan senyum tipis di wajahnya.
"Nak Tama Abi sangat berterima kasih, atas bantuan nak Tama" Ucap ustadz Hamzah
Tama hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Entah apa yang akan terjadi jika nak Tama tidak datang tepat waktu" Ucap ustadz Hamzah dengan menghela nafas lega.
"Mungkin lebih tepatnya, saya sengaja datang" gumam Tama dalam hati
"Ohya omong-omong Nak Tama ada perlu apa ya, kok tiba-tiba dangat dan tidak memberi kabar" Ucap ustadz Hamzah yang mengingat kembali kedatangan Tama sebelumnya.
Karena merasa tegang akibat berselisih paham dengan sang sahabat, sampai ustadz Hamzah lupa menanyakan tujuan kedatangan Tama ke kediamannya.
Tama yang mendapatkan pertanyaan itu hanya bisa nyengir kuda, Sejujurnya dia juga bingung tujuannya datang untuk apa, yang dia tahu hanyalah dia sengaja datang, bukan untuk mengacau , lebih pada memastikan lamaran untuk Nissa.
Dan nyatanya apa yang terjadi justru di luar dugaannya, keluarga Maher akan meminta uang tebusan, atau bisa di bilang ganti rugi atau sejenisnya, dan hal itu di manfaatkan oleh Tama.
"Tidak Saya hanya kebetulan lewat" ucapan yang akhirnya keluar dari mulut Tama dengan canggung.
"Ohya nak Tama mengenai uang tadi, Abi akan menggantinya, namun tidak bisa langsung" Ucap ustadz Hamzah dengan Menundukkan wajah merasa malu.
"Jika nak Tama berkenan, Abi akan mencicilnya" ucap ustadz Hamzah lagi.
Mendengar hal itu Tama hanya mengulas sebuah senyum tipis di wajahnya.
"Tidak perlu Abi" ucap Tama masih dengan mengulas senyum di wajah tampannya.
Deg.
Tidak hanya ustadz Hamzah yang merasa terkejut mendengar jawaban Tama, Nissa dan sang ummi pun juga merasa sangat terkejut.
Bagaimana mereka tidak begitu terkejut, dengan jumlah uang sebanyak itu, dan Tama hanya mengatakan tidak perlu. Sungguh diluar dugaan ustad Hamzah.
Bukan merasa senang mendengar jawaban Tama, justru hal itu membuat Ustadz Hamzah merasa gusar, bukan apa-apa hanya saja ustadz Hamzah takut jika hal yang terjadi bisa terulang kembali
Mengingat dulu sahabatnya ustadz Furqan juga mengatakan hal yang sama, dan seolah itu menciptakan trauma pada diri ustadz Hamzah.
__ADS_1
"Tidak nak Tama ini tidak benar, Abi tetap akan menggantinya, Namun untuk itu Abi akan mencicilnya" Ucap ustadz Hamzah dengan perasaan tidak enak.
"Saya ikhlas Abi, Abi tidak perlu menggantinya, Lagi pula uang itu tidaklah seberapa bagi saya, dan lagi pula uang itu hanyalah titipan dari Allah yang di titipkan lebih pada saya" Ucap Tama bijak, berusaha membuat laki-laki di hadapannya tidak banyak berfikir tentang itu.
Karena jujur Tama tidak begitu suka membahas mengenai uang, yang sudah terjadi biarlah terjadi, begitu kira-kira prinsip Tama.
"Nak Tama " panggil ustadz Hamzah lirih.
Tama mendongakkan kepala, menatap sosok ustad Hamzah
"Meski nak Tama ikhlas, namun ini juga tidak baik untuk kita, jadi Abi tetap akan berusaha mengembalikan ya" Ucap ustadz Hamzah lagi , dengan wajah lebih tenang.
Mendengar hal itu Tama hanya menghela nafas panjang, tidak, nyatanya di dunia ini masih ada orang yang tidak mata duitan.
"Abi " panggil Tama juga pada ustadz Hamzah
Ustadz Hamzah pun menatap lekat pada Tama yang terlihat membetulkan posisi duduknya.
"Rencananya uang itu akan saya jadikan mahar" ucap Tama
Deg.
Lagi-lagi ustadz Hamzah harus menekan perasaan nyeri di hatinya.
Terlebih mendengar kenyataan uang yang baru saja di sumbangkan yang Tama bilang ikhlas untuk pesantrennya, nyatanya akan Tama gunakan sebagai mahar pernikahannya, ustadz Hamzah dan yang lain pun tampak merasa sangat sungkan.
"Mahar dari saya untuk Menikahi Putri Bapak Annisa" Ucap Tama tegas dan lantang
Mendengar hal itu Nissa merasa jantungnya bagai akan lepas dari tempatnya.
Menatap tidak percaya pada sosok di hadapannya, dan saat ini tatapan itu tengah beradu dengan segudang tanya pada diri Nissa.
Tidak hanya Nissa saja, nyatanya ustadz Hamzah dan sang istri pun juga tidak kalah terkejut. Sungguh ini sesuatu yang tidak pernah terpikirkan.
Tanpa terasa sudut mata Nissa mulai berembun, bukan sedih namun entah kenapa Nissa merasa ada sesuatu yang membuat hatinya bergetar.
***
__ADS_1
__ADS_2