PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
145. Bimbang


__ADS_3

Setelah berpamitan pada kedua orang tua Nissa dan juga pada Nissa sendiri, Tama bergegas kembali untuk melaksanakan tugasnya sebagai dokter.


Ketiganya menatap mobil Tama yang semakin menjauh, dan setelahnya ustadz Hamzah mengajak istrinya, dan Nissa kembali ke dalam rumah.


"Nissa " Panggil Ustadz Hamzah dengan wajah lesu.


Tidak seperti biasanya sang Abi terlihat tidak bersemangat seperti itu "Ya Abi ?" jawab Nissa, dengan menautkan kedua alisnya.


Ustadz Hamzah masih saja diam dengan pikirannya yang entah apa saat ini. Bimbang itu mungkin yang tengah dia rasakan, bagaiman akan mengatakan pada sang putri tentang apa yang baru saja sahabatnya katakan.


"Abi, Ada apa?, Abi Sedang ada masalah ?" Tanya Nisa lagi dengan suara lirih, karena mendapati ustadz Hamzah hanya tetap diam.


"Oh, Maaf nak " Ucap ustadz Hamzah yang menang sebelumnya dia tengah melamun


Nisa hanya menatap sang Abi Dengan menautkan kedua alisnya. Ada rasa heran, namun Nissa memilih diam dan menunggu sang Abi yang berbicara.


Karena posisi ketiganya berdiri, Nissa pun mengajak sang Abi dan ummi untuk duduk di ruang tamu Yanga ada di dalam rumah.


"Nissa" Ucap Ustadz Hamzah lirih.


Nissa diam, hanya mendengarkan dan menunggu apa yang akan di katakan oleh Abi nya.


"Kamu ingat ustadz Furqon?" Tanya Ustadz Hamzah lirih. Nissa menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Ustadz Furqan berencana menjodohkan Putranya -- " Ucap ustadz Hamzah tertahan


"Menjodohkan dengan siapa Abi?" Sergah Nissa


Ustadz Hamzah tampak menghela nafas dalam, dan menghembuskan perlahan.


"Menjodohkan dengan mu nak " jawab ustadz Hamzah dengan wajah tertunduk.


Nissa pun membelalakkan mata nya, mengingat jika dirinya pernah melakukan penolakan terhadap rencana tersebut, karena saat di Kairo Nissa sempat di beri tahu oleh sang ummi mengenai hal ini.


Namun dia tidak menyangka jika ustadz Furqan kembali untuk mengatakan hal itu, dan masih berencana menjodohkannya dengan Maher.


Sikap dan sifat Maher telah menjadi rahasia umum, sampai Nissa yang berada di Kairo pun tahu bagaimana laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Abi" Lirih Nissa


Ustadz Hamzah pun hanya mendongakkan wajahnya.


"Abi tahu bukan bagaimana Mas Maher, Nissa pernah katakan jika Nissa tidak bisa menerimanya Abi" Lirih Nissa dengan sudut mata yang mulai meremang.


Ustadz Hamzah pun menganggukkan kepala, memahami ucapan sang putri.


"Apa kali ini ustadz Furqan juga mengancam Abi dengan permasalahan pembebasan lahan ?" tanya Nissa dengan terisak, Nissa yang sudah tidak lagi dapat menahan air mata yang seketika membasahi pipi nya.


Nissa tahu jika sang Abi pun sejujurnya tidak menyetujui hal itu, namun Nissa juga sadar jika Abi nya tidak memiliki pilihan lain, karena untuk mengambil kembali tanah itu sudah dapat di pastikan jika membutuhkan biaya yang sangat besar.


Namun untuk merelakan pesantren yang sudah di besarkan dengan susah payah itu pun rasanya juga sulit.


Mengingat banyaknya santri yang belajar dengan secara suka rela, tak jarang juga gratisan, karena memang niatnya untuk menuntut ilmu, sementara kondisi tidak mampu.


Berat


Sudah pasti, mengingat hal itu saja membuat otak Nissa terasa pening.


Sementara sejak pesantren berdiri hingga saat ini, ustadz Hamzah banyak menggratiskan santri-santri yang ingin mondok namun dengan kondisi ekonomi kurang mampu.


Karena sepengetahuan Nissa Ustadz Furqon itu selain dirinya seorang ustadz, dia juga merupakan pebisnis yang handal, sudah dapat di pastikan dalam hal apapun pasti tidak ingin rugi.


Kembali Nissa memijat pelipisnya yang terasa begitu berdenyut saat ini.


Uang kas yang di kumpulkan bertahun-tahun,dimana yang rencana nya akan di pergunakan untuk menambah sarana di pesantren, jika di gunakan untuk menebus tanah tersebut pasti lah tidak akan cukup.


"Lalu kapan ustadz Furqan dan Mas Maher akan datang melamar Abi ?" Tanya Nissa dengan sudut mata yang sudah mulai tumpah karena menahan air mata.


"InshaAllah lusa. Ustadz Furqan dan Maher akan datang" Jawab Ustadz Hamzah lirih.


Deg.


Mendengar hal itu seketika tumpah lah air mata yang memang sedari tadi tidak dapat Nissa tahan.


Nissa pun menyadari, jika mau tidak mau dirinya harus menerima perjodohan ini, perjodohan yang di lakukan sepihak oleh keluarga ustadz Furqon terhadap dirinya.

__ADS_1


Sebuah Lamaran yang selalu menuntut untuk di terima, dan di setujui.


Mau menolak pun rasanya sudah tidak mungkin, dan untuk menolak pun Nissa dan keluarganya mungkin memang tidak memiliki pilihan itu.


Ummi hanya mengusap punggung sang putri dengan tatapan nanar, sebagai seorang ibu sakit hatinya melihat putrinya yang bersedih seperti itu.


"Jadi seperti itu "


Tanpa disadari oleh ketiganya Tama telah berdiri di balik dinding rumah ustadz Hamzah, yang terbuat dari ukiran kayu jati tersebut.


Mendengarkan setiap ucapan dari ustadz Hamzah yang di sampaikan pada Nissa, dan tanggapan Nissa setelahnya. Tama dengan rasa tidak percaya menggelengkan kepala nya.


Awalnya Tama kembali hanya untuk mengambil handphone miliknya yang tidak sengaja tertinggal di kursi. Tempat dimana dia duduk sebelumnya, namun saat di tempat tersebut, tidak sengaja Tama mendengar perbincangan antara Ustadz Hamzah dan Nissa yang begitu serius.


Tama yang penasaran pun menajamkan pendengarannya, dengan menempelkan telinganya di bagian dinding ukiran kayu tersebut. Hingga Tama mengetahui semua permasalahan yang terjadi.


Tama pun memilih segera pergi meninggalkan kediaman Ustadz Hamzah sebelum aksinya di ketahui oleh keluarga tersebut.


Tama sebelumnya memang tidak memarkirkan mobilnya di halaman rumah , mengingat dia yang hanya kembali untuk mengambil handphone, memilih memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Sehingga kedatangan Tama saat itu tidak di ketahui oleh keluarga ustadz Hamzah maupun Nissa.


Tama kembali ke mobil dengan berjalan, langkah kaki jenjang membuatnya cepat sampai di tempat diaman dia memarkirkan mobil sebelumnya.


Sepanjang perjalanan Tama kembali di suguhkan dengan ucapan-ucapan ustadz Hamzah yang sebelumnya dia dengar


Karena Tama belum tahu permasalahan apa yang terjadi, ta pun masih menerka-nerka, hanya yang dia dengar adalah Nissa yang sejujurnya menolak lamaran tersebut.


Namun Alasan di balik penolakan Nissa tersebut belum Tama ketahui.


Jujur ada rasa sakit, mengingat kembali dirinya akan merasakan hal yang sama seperti sebelumnya.


Namun kali ini Tama merasa berbeda, ada sesuatu yang mengusik hatinya untuk mencari tahu, sebab apa orang tua Nissa menjodohkan Nissa dengan laki-laki yang tidak di inginkan oleh Nissa.


Tama hanya terus berfikir tentang Nissa Nissa dan Nissa, Bergelut dengan perasaan yang dia rasakan.


Yang Tama tahu saat ini belum ada janur melengkung, dan Tama pun juga akan bergerak cepat, seperti apa yang pernah Reza katakan padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2